Episode 12

3393 Kata
Raka memperhatikan Adel yang berjalan dengan tatapan kosong menyusuri lorong rumah sakit. Ia bahkan melupakan keberadaan Raka di dekatnya. Setelah keluar dari ruangan Dokter tadi dan mendengar fakta yang sangat mengejutkan, Adel tidak membuka suara sama sekali. Raka pun tidak berani membuka suara, karena ia pun sama syock nya mendengar kabar itu. Adel berjalan terus menyusuri trotoar saat sudah keluar area rumah sakit dan Raka dengan setia mengikutinya. Cukup jauh mereka berjalan hingga tubuh Adel merosot dengan berpegangan pada pagar besi salah satu rumah. “Del!” Raka ikut duduk rengkuh di hadapan Adel dengan tatapan terluka dan iba. “Kenapa Ka,” gumam Adel tak kuasa lagi menahan tangisannya hingga air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh membasahi pipinya. “Lu harus kuat, gue ada di sini buat lu. Lu gak sendirian Del, kita akan sama-sama hadapi semua ini. Gue yakin lu akan sembuh,” ucap Raka memegang tangan Adel memberinya kekuatan. “Gue takut...” isaknya. Raka membantu Adel berdiri dan memapahnya, ia membawa Adel masuk ke salah satu taman yang ada di dekat sana. Raka mendudukkan Adel di salah satu kursi taman dan ia ikut duduk di sampingnya. “Gue ada di sini buat lu, lu gak perlu takut.” Raka menarik kepala Adel untuk bersandar di bahunya. “Gue akan selalu bersama lu,” ucap Raka dengan penuh keyakinan. Walau di dalam hatinya ia pun merasa sangat ketakutan, ia takut kehilangan sahabat tersayangnya. Ia rela kehilangan seribu Desi dalam hidupnya, tetapi ia tidak akan pernah rela dan akan sangat hancur kalau sampai kehilangan seorang Adelia. “Lu akan sembuh, Del. Gue akan selalu menjaga lu,” bisik Raka. Adel hanya mampu menangis tersedu-sedu di d**a bidang Raka yang kini memeluknya. --- Setelah sedikit tenang, Adel mengangkat kepalanya hingga tatapan mereka beradu. “Berjanjilah Raka, Papa... jangan sampai Papa mengetahui semua ini,” isak Adel. Raka hanya menatap mata merah dan sembab itu tanpa membuka suara. “gue tidak mau Papa khawatir dan akan sangat sedih mengetahui penyakit gue ini. Penyakit yang juga merenggut Mama dari hidup kami, hikz...” Raka hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Adel yang menangis tersedu-sedu. Jelas sekali ketakutan dan kehancuran dari mata Adelia. Raka memohon kepada Tuhan, biarlah dirinya yang sakit dan menanggung ujian itu. Ia tidak sanggup melihat Adel menangis dan hancur. Ꙭ Seharian itu Adel menghindari sahabatnya dan juga Bara. Ia seakan ingin menyendiri dan menenangkan hatinya. Saat ini Adel tengah duduk di perpustakaan, ia membaca salah satu buku mengenai kedokteran dan beberapa buku tentang penyakit kanker. Ia ingin mengetahui seberapa ganasnya kanker yang tumbuh di dalam tubuhnya dan seberapa lama ia akan bertahan hidup menahan rasa sakit ini. “Serius sekali.” Seruan itu membuat Adel menoleh dan terlihat seorang pria tinggi dengan wajah tampan dan kulit sawo matang. Pria berkacamata minus itu tampak memakai kemeja putih bergaris dengan bagian tangannya yang di lipat hingga siku. “Ah kamu pasti bertanya-tanya siapa saya, bukan?” serunya membuat Adel semakin mengernyit bingung. “Perkenalkan namaku Damar, aku dosen baru di sini,” serunya membuat Adel tersenyum kecil. “Saya Adelia, Pak.” “Kamu asyik sendiri di sini, sejak tadi saya perhatikan kamu nampaknya begitu serius dan sangat antusias dengan apa yang sedang kamu baca,” serunya kemudian matanya beralih ke sampul buku yang di pegang Adel. “Kamu mahasiswi kedokteran?” tanyanya. “Bukan Pak, saya mahasiswi hukum,” jawab Adel. “Seorang mahasiswi hukum tertarik dengan buku mengenai penyakit kanker. Menarik,” serunya. “Saya hanya ingin menambah wawasan saja,” dusta Adel. Tak lama terdengar suara dering handphone Adel da nama Raka muncul di layar iphone nya. “Ya kenapa?” tanya Adel mengangkat telpon. “....” “Gue ke kelas sekarang,” jawab Adel kemudian memutuskan sambungan telpon. Adel beranjak dari duduknya dan membereskan buku buku yang sudah ia baca. “Senang bisa berkenalan dengan Bapak, kalau begitu saya permisi dulu Pak.” Adel berlalu pergi meninggalkan Damar. Damar terus memperhatikan Adel yang berjalan menjauh darinya. “Dia mirip sekali dengannya,” gumam Damar tersenyum simpul. --- Adel baru saja masuk ke dalam kelasnya dan Raka langsung menghampirinya dengan penuh rasa khawatir. “Lu darimana saja sih?” tanya Raka. “Gue dari perpustakaan,” jawab Adel. “Lain kali kasih tau gue kalau mau kemana-mana, biar gue temenin,” seru Raka. “Gue bukan anak kecil yang harus selalu di kawal,” jawab Adel terlihat tidak suka. Adel beranjak meninggalkan Raka yang hanya terdiam dan duduk di bangkunya menyapa singkat sahabatnya yang lain dengan senyuman singkat membuat teman-temannya sedikit kebingungan. Adel tidak biasanya seperti ini. Belum sempat mereka bertanya, seorang pria tinggi masuk yang mereka ketahui sebagai Dosen. Para mahasiswa pun mengambil duduk di bangku masing-masing dan mulai hening. “Selamat siang semuanya,” ucap pria itu membuat suasana kelas kembali ribut karena pria yang berdiri di depan mereka tampak asing bagi mereka semua. Adel mengernyit menatap pria itu, dia adalah pria yang beberapa menit lalu menyapanya di perpustakaan kampus. “Perkenalkan saya Damar Putra Hutomo, Dosen mata kuliah Pengantar Hukum Indonesia. Pengganti Mrs. Sahila.” “Ganteng banget ih.” “Masih muda.” “Hot Dosen.” Terdengar kasak kusuk di antara para mahasiswa, membuat Damar menahan senyumannya. Ia sudah terbiasa mendapatkan pujian seperti itu, hingga tatapan Damar terarah pada Adel yang hanya terdiam sendiri dan fokus dengan catatan di depannya. Ia seakan tidak memperdulikan apapun yang ada di sekitarnya. “Baiklah, apa ada yang perlu di tanyakan?” tanya Damar mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tatapan Damar pada Adel tadi tertangkap oleh Raka. Raka kini melihat ke arah Adel yang terlihat acuh dan fokus dengan pulpen dan catatan di depannya. “Mr. Damar usianya berapa tahun?” “Mr. Apa sudah menikah?” “Boleh minta no whattsapp nya, atau instagramnya, atau twiternya, boleh juga akun media sosial lainnya.” Pertanyaan itu satu per satu terlontar jelas dari bibir para mahasiswi membuat Damar tersenyum. “Usia saya 30tahun dan saya belum menikah. Saya memiliki akun i********:, kalian bisa ikuti,” serunya dan dengan santai menuliskan akun instagramnya di papan tulis. Pandangan Damar sesekali tertuju pada Adel yang terlihat acuh saja dan tidak perduli dengan keramaian sekitarnya. Entah kenapa Damar merasa begitu penasaran dengan sosok Adel itu. ‘Mereka berdua sangat mirip,’ batin Damar. Ꙭ SPoiler Dua minggu telah berlalu, dan kehidupan kembali berjalan seperti sedia kala. Sudah seminggu juga Desi pindah ke rumah mertuanya. Dan Adel sendiri sudah terlihat lebih baik dan mengikhlaskan Bara. Kini ia lebih sibuk dengan kuliahnya juga perawatannya. Raka yang senantiasa menemaninya setiap saat. Sore itu kuliah telah usai dan para mahasiswa yang satu kelas dengan Adel telah berhamburan keluar meninggalkan kelas. “Guys, gue duluan yah. Biasa gue mau jemput dulu si Sena, kekasih baru gue,” seru Jeta sangat bersemangat. “Ya udah sana, lagian lu di sini juga hanya bikin sesek,” canda Raka. “Ciee syirik lu yah, mblo...” ejek Jeta. “Ogah banget deh syirik sama kadal model lu,” seru Raka. “Ya udah ah gue pergi dulu, bye...” Jetapun berlalu pergi. “Dasar kadal... semangat banget. Nyebelin,” gerutu Rinrin. “Kenapa lu Rin, menggerutu aja,” goda Adel. “Tau nih, lagian kalau mau ngomel kenapa gak pas lagi ada orangnya sih,” timpal Milla. “Hawa hawa nya ada yang cembokur nih,” goda Dendi. “Dih siapa yang cemburu, kagak level gue harus cemburu sama pacar barunya si kadal,” seru Rinrin dengan nada kesal. “Gak cemburu tapi kenapa kesal gitu,” seru Raka. “Ih kalian ini pada kerjasama yah godain gue! Kompakan bener,” seru Rinrin semakin kesal. Rinrin memang memiliki perasaan pada Jeta. Telah lama ia memendam perasaan itu, tetapi ia tidak pernah berani mengungkapkannya. Bahkan ia menjadi seorang playgirls dengan banyak kekasih karena ingin mencari pelarian dari Jeta. Tetapi sayangnya semua itu percuma saja, perasaannya tetap tertuju pada Jeta seorang. Dan sekarang ia memilih sendiri saja, karena ia sendiripun mulai lelah dengan meladeni kekasih kekasihnya yang sama sekali tidak ia sukai. “Udah ah, gue juga balik,” seru Rinrin beranjak pergi diikuti yang lain yang masih terkekeh karena menggoda Rinrin. Mereka berjalan bersama menyusuri lorong kampus sambil bercanda. Tatapan Rinrin menangkap Jeta yang terlihat berjalan dengan merangkul seorang wanita tak jauh di depannya. Rinrin yang awalnya ikut bercanda berubah menjadi bad mood dan memilih berjalan memisahkan diri dari para sahabatnya. “Lagian kenapa menyiksa perasaannya sendiri,” seru Adel. “Kalau suka kenapa gak bilang jujur aja yah,” ucap Raka. “Dia terlalu gengsi, tau sendiri gimana si Jeta. Dia pan paling demen bully si Rinrin,” seru Milla. “Ya tapi kalau begini malah nyiksa perasaannya sendiri,” seru Adel. “Biarin ajalah, semoga si kunyuk Jeta bisa lebih peka,” seru Dendi. “Adel,” panggilan itu menghentikan langkah mereka. “Pak Damar?” seru Adel dan para sahabatnya ikut berhenti berjalan dan menoleh ke arah Damar yang berjalan di belakangnya. “Ada yang ingin aku bicarakan, apa kamu bisa ikut ke ruanganku?” tanya Damar. Adel menatap para sahabatnya, kemudian mengangguk ke arah Damar. “Baik Pak,” seru Adel. “Ayo mari,” seru Damar. “Kalian duluan saja yah,” seru Adel berjalan mengikuti Damar. Raka terus menatap ke arah mereka dengan tatapan kesal juga terbakar cemburu. “Cemburu lu,” seru Dendi. “Kayaknya pak Damar suka deh sama si Adel, akhir-akhir ini dia deketin Adel terus,” ucap Milla. Raka teringat ucapan Damar saat itu, apa ini maksud ucapannya bahwa dia akan merebut Adel dari dirinya? “Ka, kalau lu emang suka dan jatuh cinta sama si Adel, sebaiknya jujur aja. Keburu keduluan tuh Dosen,” ucap Dendi. Raka menoleh ke arah Dendi dan hanya terkekeh garing. “Apa sih maksud lu,” serunya berusaha mengabaikan perasaannya dan berlalu pergi membuat Dendi dan Milla saling beradu pandang. “Perasaan kenapa semua sahabat kita lebih memilih memendam daripada mengungkapkannya yah,” seru Milla membuat Dendi berdehem kecil karena merasa tersindir. Ꙭ “Adel, ini nomor seorang tabib yang membuat obat tradisional, dia juga memiliki obat untuk penyakit kanker. Dulu Kakakku juga meminum obat darinya, ada perkembangan baik, tetapi sayangnya Kakak terlambat datang kemari dan mengkonsumsi obatnya. Dia telah melakukan kemoterapi berkali-kali sampai imun tubuhnya tak bisa menahan lagi,” seru Damar tampak sedih mengingat itu. “Yang jelas kamu coba saja hubungi dia atau datang ke alamat itu,” seru Damar menyerahkan kartu nama itu ke tangan Adel. “Ini di Bogor?” tanya Adel. “Iya, kalau kamu tidak keberatan aku bisa mengantarmu kesana.” Adel melihat ke arah Damar. “Aku takut merepotkan Bapak,” seru Adel. “Sama sekali tidak, Del. Aku senang membantumu,” ucap Damar tersenyum manis. “Kalau begitu baiklah, kapan kita akan kesana?” “Bagaimana kalau weekend ini?” tanya Damar. “Baiklah Pak.” Ꙭ Keesokan harinya Adel datang dengan membawa makanan. “Pagi guys, nih gue bawain sarapan buat kalian semua,” seru Adel yang baru saja datang bersama Raka. “Wah asyik nih, lu tau aja kalau gue lagi laper,” seru Jeta. Adel membuka bekal makanannya dan terlihat ada beberapa potong sandwich di sana. Semuanya mengambil bagian dan menikmatinya. “Enak banget,” seru Milla. “Kalau soal masak memasak kan si Adel jagonya,” seru Rinrin. “Ini penuh banget mozarellanya. Emmm...” “Oh iya Del, Rin, siang ini kan jadwal kita kan sedikit. Pulangnya anterin gue ke mall yah, gue pengen nyari baju buat ngedate besok malam.” Ucap Milla. “Emmm yang mau kencan di malam minggu, senengnya,” seru Rinrin. “Makanya nyari pacar jangan jomblo,” ucap Jeta dengan nada acuh seraya menggigit sandwichnya. “Tapi di sana lu jamin perut kita berdua yah,” canda Adel. “Ashiap.” Seru Milla. “Kalau bisa sih sama belanjain,” kekeh Rinrin. “Ck... di beri hati minta jantung lu,” keluh Milla membuat yang lain terkekeh. “Jadi hanya para cewek saja, kita para cowok gak di ajakin?” tanya Raka. “Males ah, kalian yang ada bikin ribet dan hanya bisa mengkritik,” seru Milla. “Sebenernya kritik para cowok cowok ini di butuhin lho, kalau menurut mereka oke, maka di mata cowok lu juga oke,” seru Adel. “Pinter pan si Adel,” seru Jeta. “Ck, bilang saja kalau kalian pengen ikut. Tapi boleh juga sih biar rame,” ucap Milla. “Nah pan enak kalau begitu,” seru Raka bersemangat. “Bilang aja lu pengen deket terus sama Adel,” seru Jeta. “Syirik aja lu,” jawab Raka tampak acuh. “Tapi sorry nih guys, gue kayaknya gak bisa ikut. Gue ada acara sama cewek gue,” seru Jeta. “Tiap hari banget barengannya, apa gak bosen.” Celetuk Rinrin. “Kenapa emang Rin? Kan namanya baru awal awal jadian, masih hangat hangatnya. Lu cemburu yah?” goda Jeta. “Cemburu? Sama lu? Idih mimpi!” Rinrin memalingkan wajahnya dan mengalihkan perhatiannya ke layar iphone nya. Para sahabatnya hanya memilih diam. Ꙭ Siang itu Rinrin, Milla, Adel, Raka dan Dendi pergi ke mall. Sebenarnya ini sangat tidak di sukai oleh seorang Raka, tetapi ia harus tetap bersama Adel untuk melindunginya. Sesampainya di sana mereka langsung memasuki beberapa butik untuk memilih gaun yang cocok. Raka dan Dendi memilih duduk di bagian depan butik, dan para wanita sedang asyik memilih baju dan mencobanya. Sudah tabiat seorang wanita, niat awalnya hanya mengantar Milla, eh malah ikutan memilih gaun dan saling mencoba. “Ini nih yang paling malesin kalau punya pacar, ribet dan lama kalau belanja,” seru Dendi membuat Raka terkekeh. “Jadi mau jomblo aja nih?” tanya Raka. “Ya enggak, gue mau taaruf aja. Jadi gak usah pacaran, langsung di ajak nikah aja,” seru Dendi. “Emm laga lu,” seru Raka mengeluarkan Iphonenya. “Ka, lu yakin gak akan nembak si Adel?” tanya Dendi. “Apa harus?” tanya Raka terlihat acuh. “Gue serius nih nanya, lu jatuh cinta gak sih sama si Adel?” tanya Dendi. “Gue...” Raka terdiam dan seakan ingin meyakinkan hatinya sendiri. “Gue hanya ingin dia selalu bahagia, mau itu sama gue atau tidak gue gak masalah,” jawabnya. “Kalau ternyata pak Damar lebih dulu nembak si Adel gimana?” tanya Dendi dan Raka kembali terdiam sesaat. “Kalau Adel juga menyukai pak Damar, gue gak apa-apa,” ucap Raka menatap nyalang layar iphone nya. “Yakin?” “Kenapa lu nanya gue terus sih? Lu sendiri gak mau jujur sama Milla?” tanya Raka. “Kenapa ngalihin ke gue?” seru Dendi merasa salah tingkah. “Mendadak salting,” kekeh Raka. “Gue suka dia, jujur saja. Tetapi gue tidak mau jadi duri dalam hubungan dia dan Andre. Biarkan dia bahagia, kalau mereka sampai menikah berarti Milla bukan jodoh gue. Dan gue ikhlas,” seru Dendi. “Kata-kata lu sok bijak,” kekeh Raka. “Bentar, nih si kunyuk Jeta w******p,” seru Dendi. “Apa katanya?” tanya Raka. “Dia mau kesini,” seru Dendi. “Abis nganterin ceweknya?” tanya Raka yang di angguki Dendi. Di sisi lain, saat sedang memilih gaun, para wanita pun sambil asyik bergosip. ”Rin, lubeneransuka sama si Jeta?” tanya Adel. ”Gue…emmp…” Rinrin terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan dari Adel. ”Jujur saja sama kita,Rin.Janjideh gak bakalanbilang-bilang ke yang lain,” seru Milla terlihat penasaran. ”Janji lho yah jangan sampai bocor!” ancam Rinrin yang di angguki Adel juga Milla. “Iya gue suka sama si Jeta,” jawab Rinrin dengan wajahnya yang memerah karena malu. “Sejak kapan?” tanya Adel. “Sudah sangat lama,” jawab Rinrin. “Serius? Kenapa lu bisa suka sama dia?” tanya Milla tidak menyangka. “Konyol sih kalau dengar alasan kenapa gue suka sama dia,” jawab Rinrin menutup wajahnya dengan gaun yang dia genggam. “Udah bilang aja, tanggung penasaran nih,” seru Adel. “Iya, jangan bikin kita mati penasaran,” seru Milla. “Jadi begini, gue suka dia pas liat dia telanjang d**a di depan gue waktu kita liburan ke puncak,” jawab Rinrin. “Apa?” tawa geli Adel dan Milla pecah membuat Rinrin mengerucutkan bibirnya. “Astaga! Lu konyol banget Rin, sumpah,” kekeh Adel. “Hanya karena liat si kunyuk Jeta telanjang d**a, lu langsung suka sama dia?” kekeh Milla. “Gue curiga, setiap ada cowok yang telanjang d**a di depan lu. Lu akan suka dia, begitu?” seru Adel. “Ck... otak kalian tuh yah.” Rinrin menepuk jidatnya. ”Gue tuhsuka sama diakarenangerasadiabeda sama kelakuannyaygsukaeror.Guengeliatkalau di balik ke erorannyaitudia juga penyayang dan bertanggungjawab.Ketambah dia ngejaga badannya banget,” seru Rinrin. “Sebenernya alasan lu gak masuk akal sih,” kekeh Milla. “Ck, serah ah. Intinya gue suka sama dia, tapi dia udah punya cewek baru lagi dan kayaknya sama yang ini dia lebih sayang,” seru Rinrin. “Jangan pesimis dong, lu harus perjuangin cinta lu,” ucap Adel. “Nah ngomong-ngomong soal perjuangin, lu sendiri gimana sama Raka, Del?” tanya Milla. “Bener tuh, lu jangan mendem perasaan lu sendiri,” seru Rinrin. “Setidaknya lu dan Raka sama-sama jomblo, dan gak akan ada halangan apapun kalau kalian sama-sama jujur. Jangan sampai kayak gue, sadar suka sama si Kunyuk pas dia udah punya cewek.” “Kalian ini ngomong apa sih?” tanya Adel. “Gue dan Raka?” Adel melihat ke arah Raka yang sedang mengobrol dengan Dendi tak jauh dari mereka. “Gue sayang sama dia sebagai sahabat, gak lebih dari itu,” seru Adel kembali menoleh ke arah sahabatnya Rinrin dan Milla. “Yakin? Sebaiknya lu pikir-pikir lagi, apa perasaan lu ke Raka hanya sebatas sahabat atau lebih. Jangan sampai lu nyesel nantinya.” Ucap Milla membuat Adel terdiam. Ꙭ Setelah puas memilih baju, mereka ke toko sepatu. Jeta datang menghampiri mereka membuat Rinrin kaget sekaligus senang. Setelah puas berbelanja, mereka semua menikmati makan siang bersama di salah satu cafe. Dan suasana semakin seru saat mereka semua berkumpul dan bercanda bersama. --- Setelah menghabiskan makan siang, mereka memasuki sebuah permainan di mall. Dan bermain sepuasnya di sana. Mereka bertanding memasukkan bola basket ke dalam ring. Posisi mereka berpasangan, dimana Adel bersama Raka, Rinrin dengan Jeta dan Milla bersama Dendi. Setelah puas bermain itu, mereka bermain bom bom car dengan masih berpasangan. Tawa mereka begitu lepas dan seakan melupakan semuanya. ‘Ya Allah terima kasih karena masih memberiku kesempatan untuk menikmati kebahagiaan ini,’ batin Adel menatap satu per satu wajah sahabatnya yang tertawa riang. Setelah bermain beberapa permainan, mereka masuk ke dalam studio foto mini dan berfoto bersama di sana. Keceriaan dan kekompakan mereka terlihat jelas dalam foto yang mereka ambil. Waktu terus bergulir tanpa terasa, dan haripun sudah berganti malam. Mereka semua pulang, ke rumah masing-masing. Dendi bertugas mengantarkan Milla pulang, Rinrin di antar Jeta dan Raka mengantarkan Adel dengan mobilnya. Dalam perjalanan pulang, Raka fokus menyetir dan Adel terus saja menatap foto yang di ambil tadi, foto mereka berenam yang saling merangkul satu sama lain dan tersenyum lebar. “Gue sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kalian,” seru Adel membuat Raka menoleh dan tersenyum. “Gue juga seneng, sepertinya kita harus sering sering menghabiskan waktu bersama,” ucap Raka yang di angguki Adel. “Bersama kalian, gue lupa akan rasa sakit dan ketakutan gue,” ucap Adel. “Jadi setidaknya gue bisa mati dengan damai.” “Lu ngomong apa sih!” seru Raka sedikit sinis. “Tapi Ka, usia gue...” “Hanya Allah yang tau usia seseorang akan sampai kapan. Berhentilah membahas itu, gue gak suka!” Adel terdiam, ia paham dengan perasaan Raka. “Baiklah.” Jawab Adel. Keduanya sama-sama terdiam dan melihat ke depan. “Del,” “Hmm...” “Pak Damar ada apa memanggil lu kemarin?” tanya Raka. “Oh itu, dia nyaranin gue buat berobat tradisional,” seru Adel. “Dia tau penyakit lu?” tanya Raka mengernyitkan dahinya. “Iya, dia tidak sengaja menemukan obat gue yang terjatuh,” seru Adel. “Bagaimana bisa dia tau itu obat untuk penyakit kanker?” tanya Raka. “Karena dia memiliki pengalaman dengan kanker otak. Kakaknya juga mengidap penyakit kanker otak,” seru Adel. “Serius?” “Hmmm... makanya dia menyarankan gue untuk coba berobat tradisional. Mungkin saja bisa sedikit membantu,” seru Adel. “Begitu yah,” seru Raka. Ꙭ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN