Episode 13

1622 Kata
“Del, lu kenapa sih?” tanya Rinrin dan Milla yang berjalan menyamai langkah Adel. “Gue gak apa-apa, gue baik-baik saja,” seru Adel. “Lu berubah sih menurut gue, hari ini lu kelihatan murung,” seru Milla. “Gue sungguh baik-baik saja,” ucap Adel. “Udah kali jangan pada kepo, mungkin Adel mood nya lagi jelek,” seru Raka menghentikan pertanyaan dan kecurigaan dari sahabatnya. “Kalau gitu kita jalan ke mall yuk, siapa tau mood lu kembali baik,” seru Rinrin. “Yah, gue gak bisa,” seru Milla. “Kenapa?” tanya Rinrin. “Gue di jemput someone,” kekeh Milla. “Cieee pacar baru lu itu yah,” seru Rinrin yang di angguki Milla. “Lu udah punya pacar?” tanya Dendi dengan nada sedikit meninggi. “Iya dong, emangnya lu yang betah ngejomblo,” kekeh Milla dengan wajah polosnya tanpa menyadari perubahan raut wajah Dendi. “Dasar gak peka,” gerutu Rinrin pelan seraya menepuk jidatnya sendiri. “Kita aja, gimana Del?” tanya Rinrin. “Gue lagi gak mood kemana-mana, Rin. Gue pengen istirahat saja,” seru Adel. “Yah...” “Lu ke mall sama gue aja, yuk?” ajak Jeta. “Kagak ah, lu mah pelit. Jarang jajanin gue kalau jalan-jalan,” seru Rinrin. “Fitnah lu, fitnah lebih nyesek dari pada di selingkuhin,” seru Jeta dengan nada gemulai membuat yang lain terkekeh mendengarnya. “Yang ada juga lu yang suka selingkuh, dasar kadal,” seru Rinrin. “Yah cicak teriak kadal,” ucap Jeta tak mau kalah. “Sesama kadal jangan saling baku hantam,” seru Milla dengan kekehannya. “Adel.” Panggilan itu membuat mereka menghentikan candaan mereka dan menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari mereka, Bara tampak berjalan menghampiri mereka semua. “Kamu kemana saja sih, seharian ini aku cari kamu gak ada terus. Kamu seperti sedang menghindariku,” seru Bara yang kini sudah berada di antara mereka dan berdiri berhadapan dengan Adel. Tatapan Raka jelas sekali menyiratkan kebencian pada Bara dan rasanya ia ingin sekali ia meninju wajahnya itu. Raka bersumpah, satu tetes saja air mata jatuh dari pelupuk mata Adel karena pria di depannya itu, maka Raka tak akan menahan dirinya lagi untuk meninju wajahnya yang sangat menyebalkan. “Aku sibuk, dan ada beberapa tugas yang perlu di kerjakan di perpustakaan,” dusta Adel. Para sahabatnya saling beradu pandang, mereka tau kalau Adel tengah berbohong. Dan tidak biasanya Adel berbohong, bahkan Adel termasuk paling sering berkata jujur di antara yang lain. Tetapi kali ini dia berbohong dan sahabatnya yakin kalau terjadi sesuatu di antara Adel dan Bara. “Begitu yah, kamu mau pulang? Ayo aku antar,” ucap Bara. “Emm itu...” Adel menatap ke arah Raka yang jelas sekali ketidaksetujuan di matanya. Tetapi Adel sedang tidak ingin bertengkar dan berdebat baik dengan Bara maupun dengan Raka. “Baiklah.” Jawaban Adel jelas sekali membuat Raka kecewa, tetapi Raka tidak bisa berbuat apapun. Itu adalah pilihan dan hak Adel untuk tetap bersama Bara. Tak lama terlihat sebuah mobil berhenti di dekat mereka semua dan seorang pria menuruni mobil itu. “Milla,” panggil pria itu membuat Milla tersenyum merekah dan merasa begitu senang. “Guys kenalin ini Andrew, dia pacar gue,” seru Mila tersenyum merona. Andrew berkenalan dengan semuanya kemudian berpamitan pada semuanya dan pergi bersama Milla. “Astaga apa itu berarti cuma gue yang jomblo di sini?” ucap Rinrin setelah kebergian Milla dan Andrew. “Makanya terima ajakan gue buat jadi pacar ketiga gue,” seru Jeta. “Dih ogah,” seru Rinrin. “Oke guys, gue juga balik duluan yah,” seru Adel. “Ayo Bar.” Bara dan Adel pun berpamitan dan berlalu pergi meninggalkan mereka semua. “Ka, lu gak bareng si Desi?” tanya Dendi. “Males!” Raka kemudian berlalu pergi begitu saja membuat Rinrin, Jeta dan Dendi saling pandang. Ꙭ Sepulang dari kampus, Adel pulang lebih cepat. Ia bahkan tak menunggu Bara dan mengabari siapapun. Adel pergi menggunakan taxi online. Saat itu Raka melihat Adel yang pergi menggunakan taxi online, ia langsung menaiki motor sportnya dan membuntuti Adel. Arah yang di tuju Adel bukanlah rumahnya, melainkan sebuah pemakaman umum. Adel turun dari dalam mobil dan Raka menghentikan motornya cukup jauh dari posisi Adel turun. Raka kemudian memarkirkan motornya begitu saja dan berjalan mengikuti Adel yang masuk ke area pemakaman umum itu. Adel duduk di samping salah satu makam yang terawat itu. Dari batu nisannya tertulis nama Sarah Maulida Hatmaja. Itu adalah makam Ibunda Adelia. Adel duduk rengkuh di samping makam dan mengusap nisan sang Ibu. “Hallo Ma, apa kabar? Maaf Adel datang tidak membawa bunga kesukaan Mama,” ucap Adel. Raka terlihat berdiri tak jauh dari posisi Adel yang memunggunginya. Raka berpura-pura duduk di salah satu makam dengan posisi memunggungi Adel sehingga Adel tak menyadari keberadaannya dan Raka mampu mendengar apa yang ingin di sampaikan Adel kepada Ibu nya. “Entah bagaimana dan apa yang harus aku katakan. Ma, sesungguhnya aku sangat ketakutan, aku sangat takut. Setiap mau meminum obat, rasanya begitu sesak dan aku selalu bertanya-tanya apa aku masih bisa bertahan hingga esok dengan meminum obat. Setiap malam aku merasa takut untuk memejamkan mata ini, aku takut tak mampu membuka mata lagi. Apa dulu Mama juga merasakan ketakutan seperti ini?” seru Adel dan tanpa terasa air matanya semakin luruh membasahi pipi. “Sebenarnya aku tidak takut mati, karena aku tau semua orang pasti akan mati. Hanya saja aku takut meninggalkan semua orang yang aku sayangi di dunia ini, terutama Papa. Bagaimana perasaan Papa kalau dia mengetahui penyakit ini, penyakit yang juga telah merenggut Mama dari sisinya. Bahkan hingga sekarang Papa masih sangat mencintai Mama, sampai dia memilih hidup sendiri tanpa ingin mencari pendamping lagi.” Raka menundukkan kepalanya dengan mata yang memerah, ia mengusap matanya yang basah. Sebenarnya bukan hanya Adel yang ketakutan, Rakapun di sangat amat ketakutan, mendengar kabar penyakit yang di derita Adel, terus saja menghantui Raka. Bayangan saat Ayahnya meninggal dulu karena penyakit jantung membuat Raka terus merasa sangat ketakutan. Ia belum siap dan tidak ingin kehilangan Adel. “Setiap hari, rasa sakit di kepalaku semakin sering dan semakin menjadi. Entah sampai kapan aku mampu bertahan dan menahan rasa sakit ini. Sungguh Ma, Adel sangat takut... Hikzz....” Adel menangis tersedu-sedu di sana seakan meluapkan semua beban di dalam hatinya. Raka pun masih setia menunggunya di sana. Tiba-tiba hujan turun dengan deras membuat Raka segera berdiri dari duduknya, dan menoleh ke arah Adel yang terlihat mengusap nisan Ibunya. “Adel pulang dulu yah Ma, terima kasih sudah mau mendengarkan curahan hati Adel. Nanti Adel datang lagi,” ucap Adel mengecup nisan itu dan berdiri dari duduknya. Gerakan Adel terhenti saat ia berbalik badan karena Raka sudah berdiri di hadapannya dengan merentangkan jaket miliknya di atas kepala Adel. Keduanya saling bertatapan satu sama lain cukup lama. Adel mengalihkan pandangannya ke atas kepalanya dimana jaket Raka terbentang di kepalanya, melindungi dirinya juga kepala Raka dari air hujan. “Lu...” “Ayo kita pulang,” ucap Raka kini berpindah posisi di samping tubuh Adel dengan masih melindungi kepala Adel. Adel tak berkata apapun, ia menuruti Raka dan berjalan bersama keluar dari area pemakaman. Mereka berlindung di di salah satu warung kelontongan yang berada di luar area pemakaman. “Gue pesankan taxi online,” ucap Raka dan mengotak atik iphone nya. Adel menatap Raka yang fokus berbicara melalui telpon dengan sopir taxi online, kemudian tatapan Adel teralihkan ke jaket Raka yang terongok di atas kursi dalam kondisi basah. ‘Kenapa lu begitu perhatian dan perduli sama gue, Ka?’ batin Adel merasa sangat terharu. “Sudah gue pesankan,” ucap Raka menyadarkan Adel dari lamunannya. “Lu naik taxi saja, gue akan mengikuti lu dari belakang menggunakan motor.” Adel menganggukkan kepala. Raka berbalik ke arah warung dan mengambil gelas teh hangat yang tadi ia pesan sebelumnya. “Minum ini supaya tubuh lu hangat,” ucap Raka menyodorkan gelas teh ke arah Adel. Adel menerimanya dan meneguknya sedikit. Raka pun meneguk kopi panas yang ia pesan juga. “Raka, thanks karena lu udah begitu perduli sama gue,” ucap Adel. “Lu ngomong apa sih, gue gak butuh terima kasih dari lu. Dan jangan pernah mengatakan kata itu lagi, gue gak suka,” ucap Raka. Adel hanya diam saja. “Dan Del,” ucap Raka membuat Adel menengadahkan kepalanya menatap ke arah Raka. “Jangan bersikap dingin lagi seperti beberapa hari ini dan berusaha menghindari gue juga yang lainnya. Jangan buat kami merasa kehilangan lu,” seru Raka membuat Adel menatap manik mata tajamnya. “Lu berarti buat gue dan yang lainnya. Jangan pernah berubah,” ucap Raka membuat mata Adel berair dan air mata itu kembali luruh membasahi pipinya. “Maafin gue, gue sungguh merasa sangat ketakutan dan gue gak mau buat kalian khawatir dan mengasihani gue. Please Ka, jangan mengasihani gue,” seru Adel. “Gue sama sekali gak mengasihani lu, gue tulus menyayangi lu. Gue ingin selalu ada buat lu, bukan berarti gue kasihan sama lu. Gue benar-benar tulus perduli dan sayang sama lu, Del. Lu sangat berarti buat gue,” seru Raka terlihat begitu tulus hingga membuat Adel sangat terharu di buatnya. “Gue juga sayang banget sama lu,” ucap Adel tersenyum. “Jangan hilangkan senyuman ini, oke.” Raka mengusap air mata di pipi Adel dan mencubit pipinya. “Aww... ih lu!” keduanya terkekeh. ‘Tawa lu seperti udara sejuk yang mampu membuat gue selalu hidup. Jangan pernah menghilangkan itu semua, Del. Gue akan lakuin apapun juga buat mempertahankan tawa itu selalu ada di bibir lu.’ Batin Raka. Tatapan mereka terputus karena suara klakson mobil. Raka membantu Adel menaiki mobil, setelahnya ia membayar minuman mereka dan beranjak menaiki motornya. Membuntuti mobil yang di naiki Adel. Ꙭ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN