Sepulang dari kampus, Adel pulang lebih cepat. Ia bahkan tak menunggu Bara dan mengabari siapapun. Adel pergi menggunakan taxi online.
Saat itu Raka melihat Adel yang pergi menggunakan taxi online, ia langsung menaiki motor sportnya dan membuntuti Adel.
Arah yang di tuju Adel bukanlah rumahnya, melainkan sebuah pemakaman umum.
Adel turun dari dalam mobil dan Raka menghentikan motornya cukup jauh dari posisi Adel turun. Raka kemudian memarkirkan motornya begitu saja dan berjalan mengikuti Adel yang masuk ke area pemakaman umum itu.
Adel duduk di samping salah satu makam yang terawat itu. Dari batu nisannya tertulis nama Sarah Maulida Hatmaja.
Itu adalah makam Ibunda Adelia. Adel duduk rengkuh di samping makam dan mengusap nisan sang Ibu.
“Hallo Ma, apa kabar? Maaf Adel datang tidak membawa bunga kesukaan Mama,” ucap Adel. Raka terlihat berdiri tak jauh dari posisi Adel yang memunggunginya. Raka berpura-pura duduk di salah satu makam dengan posisi memunggungi Adel sehingga Adel tak menyadari keberadaannya dan Raka mampu mendengar apa yang ingin di sampaikan Adel kepada Ibu nya.
“Entah bagaimana dan apa yang harus aku katakan. Ma, sesungguhnya aku sangat ketakutan, aku sangat takut. Setiap mau meminum obat, rasanya begitu sesak dan aku selalu bertanya-tanya apa aku masih bisa bertahan hingga esok dengan meminum obat. Setiap malam aku merasa takut untuk memejamkan mata ini, aku takut tak mampu membuka mata lagi. Apa dulu Mama juga merasakan ketakutan seperti ini?” seru Adel dan tanpa terasa air matanya semakin luruh membasahi pipi.
“Sebenarnya aku tidak takut mati, karena aku tau semua orang pasti akan mati. Hanya saja aku takut meninggalkan semua orang yang aku sayangi di dunia ini, terutama Papa. Bagaimana perasaan Papa kalau dia mengetahui penyakit ini, penyakit yang juga telah merenggut Mama dari sisinya. Bahkan hingga sekarang Papa masih sangat mencintai Mama, sampai dia memilih hidup sendiri tanpa ingin mencari pendamping lagi.”
Raka menundukkan kepalanya dengan mata yang memerah, ia mengusap matanya yang basah.
Sebenarnya bukan hanya Adel yang ketakutan, Rakapun di sangat amat ketakutan, mendengar kabar penyakit yang di derita Adel, terus saja menghantui Raka. Bayangan saat Ayahnya meninggal dulu karena penyakit jantung membuat Raka terus merasa sangat ketakutan. Ia belum siap dan tidak ingin kehilangan Adel.
“Setiap hari, rasa sakit di kepalaku semakin sering dan semakin menjadi. Entah sampai kapan aku mampu bertahan dan menahan rasa sakit ini. Sungguh Ma, Adel sangat takut... Hikzz....”
Adel menangis tersedu-sedu di sana seakan meluapkan semua beban di dalam hatinya. Raka pun masih setia menunggunya di sana.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras membuat Raka segera berdiri dari duduknya, dan menoleh ke arah Adel yang terlihat mengusap nisan Ibunya.
“Adel pulang dulu yah Ma, terima kasih sudah mau mendengarkan curahan hati Adel. Nanti Adel datang lagi,” ucap Adel mengecup nisan itu dan berdiri dari duduknya.
Gerakan Adel terhenti saat ia berbalik badan karena Raka sudah berdiri di hadapannya dengan merentangkan jaket miliknya di atas kepala Adel.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain cukup lama. Adel mengalihkan pandangannya ke atas kepalanya dimana jaket Raka terbentang di kepalanya, melindungi dirinya juga kepala Raka dari air hujan.
“Lu...”
“Ayo kita pulang,” ucap Raka kini berpindah posisi di samping tubuh Adel dengan masih melindungi kepala Adel.
Adel tak berkata apapun, ia menuruti Raka dan berjalan bersama keluar dari area pemakaman.
Mereka berlindung di di salah satu warung kelontongan yang berada di luar area pemakaman.
“Gue pesankan taxi online,” ucap Raka dan mengotak atik iphone nya.
Adel menatap Raka yang fokus berbicara melalui telpon dengan sopir taxi online, kemudian tatapan Adel teralihkan ke jaket Raka yang terongok di atas kursi dalam kondisi basah.
‘Kenapa lu begitu perhatian dan perduli sama gue, Ka?’ batin Adel merasa sangat terharu.
“Sudah gue pesankan,” ucap Raka menyadarkan Adel dari lamunannya. “Lu naik taxi saja, gue akan mengikuti lu dari belakang menggunakan motor.”
Adel menganggukkan kepala.
Raka berbalik ke arah warung dan mengambil gelas teh hangat yang tadi ia pesan sebelumnya.
“Minum ini supaya tubuh lu hangat,” ucap Raka menyodorkan gelas teh ke arah Adel.
Adel menerimanya dan meneguknya sedikit. Raka pun meneguk kopi panas yang ia pesan juga.
“Raka, thanks karena lu udah begitu perduli sama gue,” ucap Adel.
“Lu ngomong apa sih, gue gak butuh terima kasih dari lu. Dan jangan pernah mengatakan kata itu lagi, gue gak suka,” ucap Raka.
Adel hanya diam saja.
“Dan Del,” ucap Raka membuat Adel menengadahkan kepalanya menatap ke arah Raka. “Jangan bersikap dingin lagi seperti beberapa hari ini dan berusaha menghindari gue juga yang lainnya. Jangan buat kami merasa kehilangan lu,” seru Raka membuat Adel menatap manik mata tajamnya.
“Lu berarti buat gue dan yang lainnya. Jangan pernah berubah,” ucap Raka membuat mata Adel berair dan air mata itu kembali luruh membasahi pipinya.
“Maafin gue, gue sungguh merasa sangat ketakutan dan gue gak mau buat kalian khawatir dan mengasihani gue. Please Ka, jangan mengasihani gue,” seru Adel.
“Gue sama sekali gak mengasihani lu, gue tulus menyayangi lu. Gue ingin selalu ada buat lu, bukan berarti gue kasihan sama lu. Gue benar-benar tulus perduli dan sayang sama lu, Del. Lu sangat berarti buat gue,” seru Raka terlihat begitu tulus hingga membuat Adel sangat terharu di buatnya.
“Gue juga sayang banget sama lu,” ucap Adel tersenyum.
“Jangan hilangkan senyuman ini, oke.” Raka mengusap air mata di pipi Adel dan mencubit pipinya.
“Aww... ih lu!” keduanya terkekeh.
‘Tawa lu seperti udara sejuk yang mampu membuat gue selalu hidup. Jangan pernah menghilangkan itu semua, Del. Gue akan lakuin apapun juga buat mempertahankan tawa itu selalu ada di bibir lu.’ Batin Raka.
Tatapan mereka terputus karena suara klakson mobil. Raka membantu Adel menaiki mobil, setelahnya ia membayar minuman mereka dan beranjak menaiki motornya. Membuntuti mobil yang di naiki Adel.
Ꙭ
Adel berjalan di lorong kampus dengan memeluk dua buah buku dan menenteng tasnya. Saat sedang asyik berjalan, matanya menangkap sesuatu hingga langkahnya terhenti.
Tak jauh di depannya dimana lorong menuju fakultas Bara, terlihat Desi dan Bara tengah berbincang akrab. Adel memperhatikan mereka dengan memperlambat langkahnya. Mereka berdua tampak tertawa bersama dan terlihat layaknya sepasang kekasih. Bahkan Bara sempat membenarkan anak rambut Desi yang mengenai wajahnya. Menurut Adel itu sudah berlebihan.
Adel merasa kepalanya terasa pening dan sangat sakit sampai ia tidak mampu berdiri tegak lagi. Ia berjalan perlahan dan berpegangan ke dinding. Ia mengernyit melihat kembali ke arah Desi dan Bara.
“Ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka?” gumam Adel.
Adel semakin kaget saat matanya menangkap sosok Raka yang berada tak jauh di depannya. Raka tampak juga tengah melihat ke arah Desi dan Bara. Mengetahui Raka melihat kejadian itu, ada keresahan di dalam hati Adel. Ia takut Raka emosi dan menyakiti Desi. Ya, Raka adalah tipikal pria yang tidak suka menahan amarahnya, walau tidak sampai main tangan. Dan Raka juga tipikal pria yang sulit memaafkan setelah dia tersakiti.
“Ya Tuhan...” gumam Adel saat tubuhnya oleng dan kepalanya terasa seperti di pukuli palu besar hingga rasanya sangat sakit. Semakin lama rasa sakit itu semakin kuat dan Adel tak mampu menahannya hingga merenggut kesadarannya.
Adel membuka matanya dan yang pertama ia lihat adalah cahaya lampu yang bersinar hingga membuat matanya sakit. Ia kembali menutup matanya dan memijit pelipisnya saat terasa pening.
“Bagaimana keadaan lu?” pertanyaan itu membuatnya membuka matanya kembali dan menoleh ke sampingnya. Di sana terlihat Raka duduk tenang walau matanya menyiratkan kekhawatiran.
“Gue baik-baik saja,” ucap Adel dan berusaha untuk bangun, Raka bergegas membantunya dan menyandarkannya ke kepala ranjang dengan sandaran bantal.
“Minumlah,” ucap Raka menyodorkan sebotol air mineral dengan sedotannya. Adel menyeruput air itu cukup banyak.
“Menurut Dokter klinik sebaiknya lu periksa ke rumah sakit,” ucap Raka setelah menyimpan kembali botol air mineralnya.
“Buat apa? Gue baik-baik saja, ini mungkin karena darah rendah gue kambuh, atau karena semalam tidur terlalu malam,” jawab Adel.
“Lu tau, dalam seminggu ini lu sering sekali mengeluh sakit kepala bahkan tak jarang sampai pingsan. Sebaiknya kita ke rumah sakit,” ucap Raka.
“Gue baik-baik saja,” jawab Adel. “Ka, yang tadi di lorong itu-“
“Tidak perlu di bahas!” jawab Raka dengan tegas. “Kalau lu sudah lebih baik, kita pergi ke rumah sakit. Gue akan pesankan taxi online, kita pergi bersama.”
“Tapi gue-“
“Tidak ada tapi-tapian!” ucap Raka jelas sekali tersirat nada tak ingin di bantah. Akhirnya Adel pun mengalah dan menyetujui keinginan Raka, walau sejujurnya ia merasa yakin kalau pusing di kepalanya karena anemia.
---
Sudah dua jam mereka menunggu hasil pemeriksaan Dokter yang di lakukan pada Adel. Mereka menunggu di depan pintu ruangan Dokter dengan sabar. Raka terlihat mondar mandir dan Adel duduk dengan bersandar ke sandaran kursi karena merasa tubuhnya begitu lemas dan kepalanya pusing.
Tak lama seorang suster keluar dari ruangan tersebut dan memanggil mereka untuk masuk ke dalam ruangan Dokter karena hasilnya sudah keluar.
Raka segera membantu Adel berdiri dan memapahnya untuk masuk ke dalam ruangan Dokter.
Mereka duduk berdampingan di hadapan Dokter pria berkacamata itu. Dokter pria itu melihat ke arah Adel dan Raka secara bergantian dan menghela nafasnya perlahan.
“Bagaimana Dok? Tidak ada yang serius kan?” tanya Adel.
Dokter itu menatap ke arah Adel, kemudian membenarkan posisi kacamata yang di gunakannya. Ia kembali menghela nafasnya membuat Adel dan Raka saling pandang.
“Begini,” ucap sang Dokter mulai membuka suaranya. “Dari hasil pemeriksaan ini, Nona Adelia positif terkena penyakit kanker otak stadium lanjut.”
Deg
Ꙭ
“Hai kak Adel,” sapa Desi masuk ke dalam kamar Adel. Adel yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Desi yang berjalan ke arahnya.
“Kenapa Des?” tanya Adel.
“Tadi kemana? Kak Bara mencari Kakak lho,” seru Desi.
“Tadi Kakak ada keperluan,” jawab Adel.
“Oh iya tadi aku di traktir makan lho sama kak Bara,” seru Desi yang duduk di sisi ranjang yang berada tak jauh dari posisi Adel duduk di kursi meja belajarnya.
“Oh ya?”
“Heem, tadi kan ada kumpulan senat dulu. Terus Raka juga udah pulang duluan, jadi aku pulang bareng kak Bara. Kebetulan kami lewat kedai ramen, jadi makan ramen dulu. Itu di bungkusin buat Kakak. Kata kak Bara, kakak suka yang rasa seafood,” celoteh Desi.
Adel tersenyum, dan kecurigaannya selama ini sedikit berkurang. Kenyataannya hubungan Bara dan Desi tidak seserius itu. Mereka dekat karena Desi adik sepupu Adel.
“Mau di makan sekarang? Biar aku panaskan,” ucap Desi.
“Tidak perlu, Kakak belum lapar. Simpan saja dulu,” seru Adel yang di angguki Desi.
“Ya sudah, kalau gitu aku tidur duluan yah,” ucap Desi yang di angguki Adel.
Desi pun beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan kamar Adelia.
“Ah syukurlah ternyata kecurigaanku ini hanya ketakutan belakang. Ternyata Bara masih memikirkanku,” gumam Adel.
Ꙭ