Keesokan harinya, Adel dan yang lainnya kembali pulang ke Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Adel bersama ketiga sahabatnya langsung menuju ke kampus untuk menyambut kedatangan sahabatnya yang juga pulang setelah berkemah. Mereka di jadwalkan akan kembali hari ini.
Tak lama terlihat bus datang, dan behenti di parkiran kampus yang luas. Tampak para mahasiswa juga guru yang berada di dalam bus keluar satu persatu dari bus. Tak lama terlihat Rinrin dan Dendi turun, Milla juga Jeta memanggil mereka hingga membuat mereka senang dan langsung mendekati Milla, Jeta, Adel dan Raka yang berdiri di dekat area masuk kampus. Selang beberapa menit, Desi turun bersama Bara di belakangnya. Melihat Rinrin yang berteriak memanggil Milla dan Adel, membuatnya menyadari keberadaan Kakaknya itu. Desi berjalan mendekati mereka dan langsung memeluk Raka dengan manjanya. Raka adalah kekasih Desi dalam 6 bulan ini.
“Hallo semuanya, Hallo Sayang,” sapa Bara yang kini berdiri di hadapan Adel.
Adel tersenyum merekah dan menjawab sapaan Bara.
“Kalian terlihat sangat lelah,” seru Adel.
“Lumayan Del, perjalanan panjang,” seru Rinrin.
“Raka, Kak Adel, kalian tau. Aku menderita di sana,” seru Desi dengan nada manja.
“Kenapa?” tanya Adel sedikit bingung.
“Aku jatuh terus aku juga sempat di gigit ular,” keluhnya seraya menunjukkan luka bekas gigitan ular.
“Kok bisa? Lalu gimana? Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?” tanya Adel terlihat khawatir.
“Tidak Kak tidak perlu, aku sudah lebih baik. Untung ada kak Bara di sana yang lindungin aku. Kak Bara juga yang bantu ngeluarin bisa ularnya jadi gak sampe bengkak dan menyebar ke area yang lain,” jelas Desi panjang lebar tanpa menyadari raut wajah Raka yang mengernyit dan tampak muram.
“Kita balik aja yuk,” seru Jeta yang menyadari ketidaknyamanan Raka. Jeta juga memang tidak begitu suka pada Desi yang merupakan adik sepupu Adel.
“Iya, kita juga mau balik. Cape banget dan badan lengket banget rasanya,” seru Dendi.
“Ya sudah,” jawab yang lain.
Adel ikut bersama Bara menuju ke rumah Bara. Bara memaksa Adel untuk ikut ke rumahnya dengan alasan masih kangen.
---
Sesampainya di rumah Bara, mereka di sambut hangat oleh Ibunya Bara. Bara meninggalkan Adel bersama Ibunya dan ia menuju ke kamarnya untuk mandi.
“Bagaimana kabarmu, Sayang?” tanya Mama Bara.
“Alhamdulillah kabarku baik, Tante. Tante dan Om bagaimana?” tanya Adel.
“Kami juga sangat baik. Sudah lama kamu tidak berkunjung kesini,” serunya.
“Aku sibuk kuliah, Tante.” Kekeh Adel dan mengalirlah pembicaraan mereka.
“Ah sebentar, Tante sampe lupa bawain minuman untuk kamu. Saking kangennya jadi kita kebablasan ngobrol,” kekehnya.
Adel hanya tersenyum menanggapinya. Mama Bara pamit pergi ke dapur dan meninggalkan Adel sendirian.
Adel menoleh ke tas ransel Bara, Bara lupa membawa tasnya ke dalam kamar. Karena sudah terbiasa, Adel pun membuka tas Bara dan mengeluarkan semua pakaian kotornya untuk di bersihkan. Tak ada sesuatu yang aneh, hampir semuanya pakaian kotor yang di kenakan Bara di sana.
“Aduh,” keluh Adel saat sesuatu menggores lengannya. Ia melihat salah satu kaos milik Bara, dan memeriksa apa yang barusan menggoresnya.
“Anting?” gumamnya. Ia melihat sebuah anting menempel di bagian d**a kaos tersebut. Dan Adel mengenali anting itu. “Ini anting milik Desi.”
Derap langkah kaki menyadarkan Adel dari lamunannya, ia menoleh dan terlihat Bara baru datang dengan setelan rumahannya. Bara tampak sudah segar dengan rambut basahnya.
“Maaf yah buat kamu nunggu lama,” serunya dan mengambil duduk di samping Adel.
“Tidak apa-apa.” Jawab Adel tersenyum. “Emm Bar,”
“Kenapa?” tanya Bara.
“Kok anting Desi bisa tersangkut di kaos kamu?” tanya Adel menunjukkan kaos dan juga antingnya.
Bara terlihat kaget dan sedikit termangu. Tetapi hanya sekilas dan kembali normal raut wajahnya. “Oh mungkin tersangkut saat aku berusaha nolong Desi saat di gigit ular.”
Adel hanya ber-oh saja untuk menanggapi penjelasan Bara.
“Sudahlah Yank, biarkan si Bibi saja yang membereskan pakaian kotorku. Sebaiknya kita makan siang saja yuk. Mama sudah siapkan makanan untuk kita di meja makan,” ajak Bara yang di angguki Adel.
Ꙭ
Saat ini Adel, Raka, Milla, Rinrin, Jeta dan Dendi tengah menikmati makan siang mereka di kantin kampus.
“Guys, akhir pekan ini Bokap gue ulang tahun. Gue pengen kasih kejutan, kalian bisa bantu siapin kan?” seru Adel.
“Selalu siap dong,” seru yang lain kompak membuat Adel terkekeh.
“Rencananya mau buat acara gimana? Dan tempatnya dimana?” tanya Raka.
“Booking tempat makan kesukaan Papa saja, acaranya gak perlu mewah banget. Papa kurang menyukai acara pesta party begitu,” seru Adel.
“Sekretaris siap mencatat,” seru Milla dengan kekehannya seraya mengeluarkan pen dan buku catatannya.
“Selalu sigap,” kekeh Dendi.
“Kalau nanti kerja, Milla bisa jadi sekretaris kesayangan bosnya,” kekeh Rinrin.
“Yang penting Bos nya itu tampan, masih muda dan so cool kayak di novel novel gitu,” seru Milla membayangkan dia menjadi tokoh utama dalam sebuah novel cinta.
“Ck, korban novel. Yang ada juga bos nya g***n atau yang udah punya bini,” kekeh Jeta.
“Isshhh merusak khayalan saja,” cibir Milla. “Jadi apa saja yang di butuhin? Kita atur saja dulu tugas tugasnya.”
“Lu bener,” ucap Adel.
Merekapun sibuk berbincang mengenai persiapan yang akan mereka lakukan.
Ꙭ
Sore itu sepulang dari kampus, Adel dan Raka pergi menuju sebuah restaurant yang akan mereka booking untuk acara Papa nya nanti menggunakan motor sport milik Raka.
Mereka bertemu dengan manager restaurant dan berdiskusi mengenai acara yang akan mereka selenggarakan di sana.
30 menit sudah berlalu dan pembicaraan mereka selesai. Adel dan Raka berjalan keluar restaurant menuju parkiran.
“Lu yakin segitu gak kebanyakan?” tanya Raka saat mereka sudah berada di sisi motor.
“Nggak sih, soalnya kan kita juga mengundang anak yatim piatu. Kalau ada sisa, bisa kita bungkusin untuk mereka bawa pulang,” ucap Adel yang di angguki Raka.
“Sekarang kemana?” tanya Raka.
“Gue pengen cari kado buat Papa. Lu ada acara?” tanya Adel yang di jawab gelengan kepala oleh Raka.
“Gue temenin lu, nih pakai,” ucap Raka menyodorkan helm ke arah Adel.
“Isshhh, aduh!” Tubuh Adel mendadak oleng dan hampir jatuh kalau Raka tidak segera merengkuh pinggangnya.
“Lu kenapa? Lu baik-baik saja kan?” tanyanya sedikit khawatir.
“Entahlah, rasanya kepala gue pusing,” ucap Adel memegang kepalanya.
“Muka lu juga pucat, apa sebaiknya kita ke rumah sakit?” tanya Raka.
“Tidak perlu, mungkin asam lambung gue naik karena tadi siang makan mie ayam saja.”
“Lu sih selalu gak jaga makanan, harusnya makan nasi dulu atau roti,” seru Raka. “Ayo sebaiknya kita pulang saja, kado buat bokap lu bisa kita beli besok atau lusa.”
Adel mengangguk setuju.
“Mau gue pesankan taxi online? Gue khawatir lu jatuh kalau naik motor, mana cuaca nya sedang panas,” seru Raka.
“Terserah lu saja,” ucap Adel yang terlihat sudah tidak kuat lagi karena rasa pusing melanda.
Raka menggandeng Adel untuk duduk di kursi restaurant bagian luar. Ia mengeluarkan Iphone nya dan memesankan taxi online. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam restaurant untuk memesan air.
Raka kembali keluar dan menyodorkan air ke arah Adel. Ia juga membantu Adel untuk meminum airnya.
“Masih sangat pusing?” tanya Raka yang kini duduk berjongkok di sisi kursi Adel.
“Nggak, sudah lebih mendingan,” jawab Adel.
Tak lama, taxi online yang di pesan Raka datang. Raka langsung menggendong tubuh Adel ala bridal dan membantunya menaikkan ke dalam mobil.
“Hati-hati yah, Pak.” Seru Raka pada sopir taxi.
Raka segera menuju mobilnya dan membuntuti taxi online di belakangnya.
---
Sesampainya di rumah Adel, Raka bergegas memarkirkan motornya di pinggir jalan begitu saja. Ia langsung menuju mobil dan membantu Adel turun dari mobil.
“Gue gak apa-apa kok, Ka.”
“Diamlah,” seru Raka. “Terima kasih, Pak.”
Sopir taxi itu menggangguk dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Mau gue gendong lagi?” tanya Raka.
“Nggak usah, gue masih sanggup jalan,” ucap Adel.
Raka menggandeng Adel memasuki rumah mereka dan terlihat Desi yang membuka pintu.
“Lho kak Adel kenapa, Sayang?” tanya Desi.
“Dia pusing, ayo bantu aku bawa dia ke kamar,” seru Raka yang di angguki Desi.
Sesampainya di kamar Adel, Raka merebahkan tubuh Adel di atas ranjang dan melepaskan sepatu flat yang di gunakan Adel.
“Lu perlu sesuatu?” tanya Raka menyentuh kening Adel.
“Tidak perlu, gue hanya perlu istirahat.”
Desi memperhatikan perhatian Raka pada Adel yang menurutnya tidak seperti sahabat. Walau sebenarnya dia sadar kalau Raka memang pria yang penuh perhatian dan kehangatan apalagi pada wanita yang menurutnya berharga dalam hidupnya. Dan dia akan selalu bersikap dingin dan acuh pada wanita kebanyakan yang menurutnya tidak penting.
Raka hidup hanya bersama Ibu nya. Dan Raka begitu menyayangi dan menghormati Ibu nya itu. Karena itu Raka selalu melindungi dan penuh kehangatan kepada wanita yang berarti dalam hidupnya. Begitu juga pada Desi yang merupakan kekasihnya. Tetapi terhadap Adel, entah kenapa rasanya terlihat berbeda. Kadang Desi merasa cemburu karena itu.
Ꙭ