Tibalah hari kelahiran dari Papa Adelia. Semua sahabat dan keluarga sudah berkumpul di restaurant. Begitu juga dengan anak-anak yatim piatu dan pengurusnya. Hanya Adel dan Fram yang belum ada.
Adel ingin memberikan kejutan pada Papa tersayangnya itu.
Saat ini Adel sedang berada di dalam mobil bersama Fram.
“Kita mau makan siang dimana?” tanya Fram.
“Tempat langganan kita saja, Pa.”
“Kamu yakin Desi dan Tante tidak mau ikut?” tanya Fram.
“Mereka ada acara,” jawab Adel tersenyum kecil. Padahal Tantenya itu juga Desi sudah berada di tempat acara.
Tak lama, mereka sampai di restaurant.
“Tumben sekali terlihat sepi,” seru Fram.
“Mungkin sedang sepi aja, Pa.” Jawab Adel seenaknya.
Mereka berjalan menuju pintu masuk restaurant. Seperti biasa seorang pelayan menyambut mereka di depan pintu dan mengarahkan mereka ke bagian outdoor dimana berada di lantai dua. Sesuai keinginan Adel.
“Happy Birthday!!!”
Mereka di sambut dengan teriakan semua orang dan suara kembang api juga hiasan kertas berwarna yang di tembakan ke arah mereka berdua.
“Apa ini?” kekeh Fram yang tak menyangka ada sebuah kejutan untuk dirinya.
“Selamat ulang tahun My Hero,” seru Adel memeluk manja Fram seraya mencium pipinya.
“Sayang, putri kecil Papa. Terima kasih,” ucap Fram sangat terharu dan mencium puncak kepala Adel.
Setelahnya mereka semua mengucapkan selamat ulang tahun pada Fram bergiliran.
“Kalian di sini juga ternyata,” seru Fram memeluk Desi dan tersenyum ke arah adiknya.
“Kan kejutan, Pa,” kekeh Desi.
Fram di giring ke meja utama dimana sudah tersedia kado ulang tahun di sana. Fram mulai meniup lilin dan memotong kue ulang tahun. Ia juga menyuapkannya kepada Adel dan Desi juga adiknya.
“Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian semua. Terutama untuk putriku yang cantik,” seru Fram seraya merangkul Adel yang tersenyum. “Untuk semua orang yang sudah hadir dan terlibat dalam kejahilan putriku ini. Terima kasih banyak, ini sungguh sangat berkesan.”
“Terima kasih Sayang, kamu adalah anugrah terbesar buat Papa. Kamu sudah bisa menjadi seorang anak, istri dan semuanya untuk Papa, sehingga Papa tidak membutuhkan yang lain lagi.” Fram tampak berkaca-kaca menatap Adel yang tersenyum ceria.
“Papa sudah menjadi My Hero aku. Papa mengurusku dari aku kecil, mengusap air mataku saat aku sedih. Papa sudah menjadi seorang Ibu juga Ayah untukku sampai aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari Papa. Jangan menangis,” seru Adel mengusap air mata Fram dan ia juga ikut menangis.
“Tak ada tangisan,” seru Fram menghapus air mata Adel.
“Ini untuk Papa,” seru Adel menyerahkan sebuah kado kecil ke Fram.
“Apa ini?”
“Buka saja,” seru Adel.
Fram membukanya dan terlihat sebuah jam tangan mewah dan elegant di sana.
“Papa suka?” tanya Adel.
“Sangat, terima kasih.” Fram mencium kepala Adel dengan rasa haru dan bahagia.
Setelahnya acara doa bersama, kemudian mereka semua menyantap makanan dengan santai seraya menikmati hiburan dan berbincang-bincang.
Ꙭ
Pagi-pagi sekali Fram mengetuk pintu kamar Adel. Pintu tampak tidak di kunci hingga Fram bisa masuk dan Adel terlihat baru bangun tidur.
“Anak gadis baru bangun jam segini?” seru Fram membuat Adel tersenyum seraya mengucek kedua matanya.
“Pagi Pa,” sapa Adel.
“Pagi sayang.”
Adel mengernyit menatap Fram masuk dengan sebuah nampan di tangannya.
“Apa itu?” tanya Adel.
“Ini Papa masakin kamu sarapan, cuci muka dan gosok gigi kemudian makanlah,” ucapnya menyimpan nampan di atas meja nakas.
“Bau nya harum,” seru Adel. “Papa yang masak?”
“Menurutmu?” seru Fram dengan nada bangga.
Adel terkekeh. “Sudah lama Papa tidak memasakkan makanan untuk Adel, waktu kecil Papa hampir tiap hari memasak. Pasti sangat enak,” serunya.
“Cuci muka dulu, jangan jorok!” tegur Fram saat Adel hendak mengambil piring.
Adel hanya terkekeh dan beranjak dari duduknya menuruni ranjang.
Tak lama Adel keluar dari kamar mandi dengan lebih segar. Ia melihat sang Papa sudah menata makanannya di atas meja kecil dan menyimpannya di atas ranjang.
“Kemarilah dan makanlah,” ucap Fram.
“Tanpa di mintapun akan langsung ku lahap,” kekeh Adel.
Adel duduk di atas ranjang dan langsung melahap naso goreng yang menggugah selera hingga hendak membuat air liurnya keluar.
“Emmmm tidak ada yang berubah dan tetap sangat enak,” seru Adel mengacungkan jempolnya.
Fram tersenyum senang seraya mengusap kepala Adel. Adel tetaplah putri kecilnya yang menggemaskan. Walau sekarang putri kecilnya itu telah beranjak dewasa, dan mungkin sebentar lagi akan menemukan tambatan hatinya dan menikah. Adel akan pergi meninggalkan dirinya.
Memikirkan Adel yang akan menikah dan meninggalkan dirinya, membuat Fram merasa sedih. 21 Tahun ia membesarkan dan mengurus Adel seorang diri tanpa istri. Ia harus merangkap menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu untuk Adelia.
“Ada apa Pa?” tanya Adel saat Fram terlihat memalingkan wajahnya dan mengusap sudut matanya.
“Tidak apa-apa,” ucap Fram.
“Papa, Adel tau Papa sedang menyembunyikan sesuatu. Katakan Pa,” seru Adelia.
Fram kini duduk di hadapan Adel dan tersenyum penuh kehangatan. Tampak sekali keriput dan wajah lelah di wajah tampan Fram.
“Papa hanya tidak menyangka kalau putri kecil Papa kini sudah dewasa, dan mungkin sebentar lagi akan menikah dan meninggalkan Papa,” seru Fram.
“Papa...” Adel merasa sedih mendengarnya. “Adel masih tetap putri kecil Papa sampai kapanpun juga.”
“Itu pasti Sayang,” seru Fram.
“Dengar yah Papa.” Adel mengambil tangan Fram dan mencium punggung tangan cinta pertamanya itu. “Adel tidak akan menikah sebelum Papa menikah.”
“Apa?” seru Fram. “Kamu ini sedang berbicara apa sih Adel.”
“Dengar yah Papaku tersayang, Adel ingin Papa bahagia dan tidak kesepian. Jadi Adel tenang kalau sudah menikah dan di ajak pergi oleh suami Adel kelak. Papa harus ada yang mengurusi Papa dan menemani masa tua Papa.”
“Ck kamu ini, sudah berapa kali Papa bilang, Papa tidak tertarik untuk menikah lagi dan mencari wanita pengganti Ibu kamu,” seru Fram.
“Memangnya Papa tidak merasa kesepian?” tanya Adel.
“Kesepian bagaimana? Papa merasa baik-baik saja.”
“Seperti merindukan kehangatan dan perhatian seorang istri. Papa kan masih muda dan sangat tampan, dan sangat jelas sekali banyak fansnya. Apa tidak ada yang menggetarkan hati Papa?” tanya Adel hingga membuat Fram terkekeh.
“Hanya Mamamu yang bisa menggetarkan hati Papa, Del.” Seru Fram menerawang jauh ke masalalu dan tersenyum membayangkan wajah mendiang istrinya.
“Sampai kapanpun, Mamamu tidak akan tergantikan. Papa tidak bisa melupakannya, apalagi mencari penggantinya. Dia adalah wanita pertama dan terakhir dalam hati Papa. Papa tidak ingin ada yang menggantikannya sampai kapanpun juga.”
“Terkadang aku tidak paham cinta seperti apa yang Papa miliki untuk Mama. Tetapi aku berharap, suatu saat aku bisa bertemu dengan pria yang akan mencintaiku sebesar cinta Papa ke Mama,” ucap Adel.
“Sudah pasti kamu akan mendapatkannya. Karena Papa tidak akan rela menyerahkanmu pada pria yang hanya akan menyakitimu,” seru Fram membelai kepala Adel membuatnya tersenyum dan memeluk sang Papa,
Ꙭ
Spoiler
“Lho kamu datang?” tanya Adel saat membuka pintu rumahnya dan terlihat Bara berdiri di depan pintu dengan menggenggam sebucket bunga.
“Aku ingin mengajakmu keluar,” seru Bara tersenyum merekah seraya menyerahkan bunga itu ke tangan Adel.
“Terima kasih,” seru Adel menerima bunga dari tangan Bara. “Ayo masuk dulu.”
“Om Fram kemana?” tanya Bara seraya duduk di sofa.
“Papa sedang ada pekerjaan di luar kota,” seru Adel. “Sebentar yah aku akan ganti baju dulu.”
Bara menganggukkan kepalanya dan Adel berlalu pegi.
5 menit setelah kepergian Adel, Desi menghampiri Bara.
“Des?”
“Kamu mau kemana sama kak Adel?” tanyanya melipat kedua tangannya di d**a.
“Aku ingin mengajaknya berjalan-jalan di salah satu mall.”
“Kamu ini kenapa sih, kamu mengabaikanku terus?” seru Desi tampak kesal.
“Maksudmu apa sih Des, bukankah sudah jelas segalanya.”
“Aku menyukaimu, apa kamu tidak paham juga, Kak?” seru Desi tampak kesal.
“Aku ini kekasih Adel, kamu harus sadar itu,” seru Bara tampak kesal dan berusaha memalingkan wajahnya.
“Lalu apa yang kamu lakukan padaku di malam itu, Kak? Kalau kamu tidak menyukaiku? Kamu hanya ingin mempermainkanku, bukan?” pekiknya.
“Aku sudah katakan, malam itu adalah kesalahan!” Bara berdiri dari duduknya. “Tolong jangan di bahas di sini, aku takut Adel mendengar.”
“Aku tidak perduli! Aku ingin kak Bara bersamaku!” seru Desi mulai menangis. “Beberapa hari terakhir Kakak menghindariku dan semakin lengket dengan kak Adel. Kamu mengabaikanku setelah mengambil semuanya dariku!”
“Aku tidak memaksanya, kamu yang memberikannya!”
“Kamu jahat Kak!” seru Desi. “Kamu harus bertanggung jawab!”
“Tanggung jawab apa, kita melakukannya karena suka sama suka.”
“Kalau begitu kamu menyukaiku juga, bukan?” tanya Desi.
“Aku menyukai Adel,” jawab Bara.
Plak
“Des!” Bara tampak kesal karena Desi menampar pipinya.
“Kamu b******n!” Desi beranjak pergi dengan tangisannya dan berpapasan dengan Adel.
“Des, kamu kenapa?” tanya Adel kaget melihat Desi menangis. Desi mengabaikan Adel dan terus berlari menaiki tangga.
Adel menoleh ke arah Bara dan berjalan mendekatinya. “Desi kenapa?” tanya Adel penuh kecurigaan.
“Tidak apa-apa, dia hanya bercerita mengenai Raka. Kamu sudah siap? Ayo kita pergi,” seru Bara.
Adel kembali menoleh ke arah tangga sebelum akhirnya berjalan bersama Bara keluar rumah.
Ꙭ
Dua minggu sudah berlalu, hubungan Adel dan Bara semakin dekat. Sedangkan Desi lebih banyak menyendiri dan mengacuhkan semua orang membuat Adel bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya.
Adel masih terlihat menjaga jarak dengan Raka walau mereka tak lagi bermusuhan. Tetapi Raka masih terus mengawasi Adel dari kejauhan. Kadang diam-diam Raka menyimpan makanan sehat untuk Adel di mejanya. Dan ia selalu menyiapkan air dan juga obat saat penyakit Adel kambuh. Adel tau semua itu di lakukan Raka, tetapi Adel tetap tidak bisa kembali dekat seperti dulu karena ia tidak ingin menyakiti hati Bara lagi. Adel menghargai semua bentuk perhatian dari Raka, hingga tak pernah ia membuang apapun yang di berikan Raka.
Sore itu Adel melihat Bara bertemu dengan Desi di belakang gedung olahraga yang sepi dan jarang di lalui orang. Karena rasa penasaran, Adel memutuskan untuk mengikuti mereka.
“Ada apa lagi Des? Sudah aku katakan jangan menggangguku lagi!” ucap Bara tampak kesal.
“Aku hamil.”
Deg
“Apa?”
Seruan itu membuat Bara dan Desi menoleh ke sumber suara.
“Adel?”
“Kak Adel?”
Baik Desi maupun Bara keduanya sama-sama kaget melihat keberadaan Adel di sana.
“Apa yang baru saja kamu katakan, Des?” tanya Adel.
“Kak, itu aku...”
“Katakan sejujurnya!” seru Adel penuh penekanan.
Desi menangis menatap ke arah Adel, kemudian ia menundukkan kepalanya. “Maafkan aku Kak, aku... aku... hikzzz” Desi menangis tersedu-sedu. “Aku hamil anaknya kak Bara.”
Deg
“Maafkan aku Kak, hikzz...” Desi langsung duduk rengkuh memegang kaki Adel.
“Adel, aku bisa jelaskan,” seru Bara.
Plak
Tamparan Adel mendarat di pipi Bara. Adel menatap Bara dengan tatapan terluka, air matanya luruh membasahi pipi.
“Teganya kalian mengkhianatiku,” seru Adel dengan tatapan yang hancur dan terluka.
“Dan kamu Bara, kamu sungguh b******k!” pekik Adel.
“Selesaikan masalah kalian!”
Adel berlalu pergi dan mengabaikan Desi yang masih duduk rengkuh. Ia mengusap air mata di pipinya dan terus berjalan. Hatinya sangat sakit dan hancur.
“Hikzz....”
Setelah melewati belokan, Adel menghentikan langkahnya dengan berpegangan pada dinding di sampingnya.
“Kenapa mereka melakukan ini padaku?” isaknya.
Adel menengadahkan kepalanya saat melihat sepasang sepatu sport mahal di depannya.
“Raka...” gumamnya dengan tatapan yang sangat terluka. “Kenapa mereka tega melakukan ini padaku,” isaknya.
Tanpa berkata apapun, Raka menarik tubuh Adel ke dalam pelukannya.
“Kenapa mereka melakukan ini padaku? Adik yang sangat aku sayangi dan begitu aku percaya, hikzz......”
Adel menangis terisak dalam pelukan Raka yang hanya ]bisa membelai punggung Adel untuk menguatkan.
“Adel!” seru Raka saat tubuh Adel tampak lunglai dan kedua tangannya yang berada di pundak Raka jatuh lunglai. “Adel!” Raka menarik Adel menjauh dari pelukannya dan terlihat Adel sudah tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang lagi, Raka membopong tubuh Adel dan meninggalkan tempat itu.
Ꙭ
Adel membuka matanya dan melihat sekeliling. Ia melihat Raka duduk di sisi blangkar.
“Gue dimana?” tanya Adel memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Lu di rumah sakit, lu butuh apa. Mau minum?” tanya Raka dan Adel menggelengkan kepalanya.
Ingatan Adel kembali melalang buana ke kejadian beberapa jam lalu.
“Bara dan Desi,” gumamnya.
“Sudah jangan lu pikirkan lagi masalah itu, sebaiknya lu istirahat,” ucap Raka.
“Tapi kenapa mereka tega melakukan ini sama gue. Desi adik gue sendiri tega mengkhianati gue.”
“Bahkan Desi sampai hamil, kenapa? Kenapa mereka melakukan ini?” seru Adel masih tidak percaya dengan semua ini.
“Gue udah pernah bilang sama lu, tapi lu gak pernah mau percaya sama gue,” ucap Raka.
“Maafin gue Ka, gue terlalu mempercayai mereka. Gue malah menjauhi lu demi menjaga perasaan mereka. Dan Desi, gue pikir kemurungannya selama ini karena putus dari lu. Tetapi ternyata...”
“Sudahlah, mereka tidak pantas untuk lu tangisi,” ucap Raka menghapus air mata Adel yang kembali luruh dari pelupuk matanya.
“Kita ambil hikmah dari semua kejadian ini, begitu mempercayai seseorang juga tidak baik,” ucap Raka.
“Lu bener, karena begitu percaya dengan mereka, kini gue terkhianati dan kecewa. Dan sekarang gue harus merasakan sakit yang lebih dalam. Apalagi wanita yang jadi selingkuhan Bara adalah adik gue sendiri,” ucap Adel.
“Kenapa semua ini harus menimpa gue, Ka? Gue harus menanggung sakit ini juga di khianati adik gue sendiri,” isaknya.
Raka menggenggam tangan Adel dan mengusap kepalanya seakan ingin menguatkannya dan mengatakan kalau dia akan selalu ada untuknya.
“Luapkan saja semua yang ada di hati lu, kalau lu mau nangis. Nangis saja sekarang, karena setelah ini gue gak mau lihat lu nangis lagi. Apalagi karena mereka berdua,” ucap Raka dan Adel hanya bisa menangis.
Ꙭ
Adel kembali ke rumahnya setelah menginap di rumah sakit semalam. Ia berpapasan dengan Desi yang baru saja menuruni tangga.
“Kak Adel,” seru Desi tampak merasa bersalah.
Adel mengabaikannya dan berjalan menaiki tangga.
“Kak Adel, maafkan aku,” ucap Desi.
Adel tak meresponnya dan terus berjalan menaiki undakan tangga. Desi merasa sangat sedih dan begitu merasa bersalah menatap ke arah Adel.
Di dalam kamarnya, Adel termenung menatap pigura foto dirinya bersama Desi, Bara dan Raka saat mereka jalan berempat. Adel masih tidak habis pikir kenapa mereka berdua tega melakukan ini pada dirinya juga Raka. Entah sejak kapan mereka memiliki hubungan? Mungkinkah saat Desi masih bersama Raka?
Dan sekarang Desi hamil, mau tidak mau Bara harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan bisakah Adel menerima Bara sebagai adik iparnya?
Adel memegang kepalanya saat rasa sakit di kepalanya tak tertahankan.
“Ya Tuhan...” Adel menjambak rambutnya dengan kedua tangannya karena rasa sakit. Keringat sebesar biji jagung sudah memenuhi kening dan seluruh tubuhnya.
“Awww.... Sakit sekali...!”
Adel beranjak dari duduknya dan berjalan oleng mendekati meja sudut untuk mengambil obatnya di dalam laci.
Belum mencapai meja, tubuh Adel sudah ambruk ke lantai karena sudah tidak kuat lagi. “Ahhhh!” ringisnya memegang kepalanya dengan kuat.
Adel bergerak perlahan menuju meja sudut, tetapi sebelum tangannya mencapai laci meja, tubuhnya sudah ambruk di lantai dan kehilangan kesadarannya.
Ꙭ