Sebelum benar-benar keluar, Raka kembali menoleh ke dalam dimana Damar sudah duduk di bangku yang baru saja di tempati Raka. Adel dan Damar tampak begitu akrab, mereka langsung berbincang dengan saling senyum. Hawa panas terasa menyelubungi tubuh Raka. Kepalan tangan Raka terlihat sampai memutih saat ia memutuskan untuk keluar dari ruangan dengan perasaan sakit juga panas. Raka menyandarkan punggungnya di dinding dengan berusaha mengatur nafasnya yang panas juga emosi. Suara tawa Adel terdengar hingga keluar. ‘Apa Adel menyukai Pak Damar?’ batin Raka. “Apa dulu Kakak Bapak juga menderita seperti ini? Menahan rasa sakitnya?” tanya Adel yang terdengar oleh Raka. Damar terdiam cukup lama sebelum menjawabnya. “

