COUNTING THE DAYS

1225 Kata
Setelah mendiskusikan semuanya dengan Dante secara transparan dan telah menghubungi pihak-pihak yang nanti akan membantu mereka dalam pernikahan dadakan mereka, sekarang Inggrid sibuk mendistribusikan undangan pernikahannya. Tak terkecuali teman-teman kampusnya. "Wahh selamat ya! Kamu segera menikah! Gak pernah kelihatan kok calon suami kamu?" tanya Nola. "Selamat ya Inggrid! Aku usahakan datang!" ucap Bram. "Eh-eh ada apa ini ramai sekali?" Tika tiba-tiba menyerobot di dalam kerumunan. "Eh Inggrid minggu depan menikah loh!" pekik Nola bahagia. "Hah? Kamu mau menikah? Ada yang mau sama kamu? Aku kira gak ada" Tika mengibas sombong tangannya. "Ya kalo gak ada mana mungkin undanganya di cetak begini? Bodoh juga dia" Bram memukul sikut Tika cukup keras dengan undangan Inggrid. "Coba sini aku lihat?" tanya Tika penasaran. Di bukanya undangan pernikahan berwarna jingga tersebut. Mata melotot tidak percaya melihat kenyataan Inggrid akan lebih dulu melepas masa lajangnya. "Ehem, undangan untukku mana?" tanya Tika dengan gaya angkuhnya. "Undangan?" tanya Inggrid yang membuat Tika langsung memalingkan wajahnya. "Pernikahanku itu seumur hidup sekali. Dan aku tidak ingin ada pengacau di pernikahanku nanti!" tegas Inggrid dan meninggalkan Tika. *** "Ciee seminggu lagi nikah" Donny menggoda kakaknya. Dante hanya melirik malas adiknya yang masih duduk di bangku SMA itu. "Wah gue bakal punya kakak ipar lagi nih hmm titip keponakan satu yah! Lebih juga boleh kok, lebih bagus malah!" goda Donny makin menjadi. Hah?! Keponakan? Berpikiran untuk menyentuhnya saja tidak, apalagi memberikan keponakan untuk adiknya itu. "Bisa diam gak? Atau mau gue lempar remote tv itu ke kepala lu?" balas Dante. "Hush! Kamu itu kerjaannya godain kakakmu terus! Lebih baik kamu cari kampus yang bagus di internet!" Asri datang sambil membawakan kue kering yang baru saja ia buat sebagai kudapan sore. "Lebih baik juga lu belajar! Tiga bulan lagi UN! Masih santai saja, gue zaman mau ujian dulu mana bisa santai macam lu begini?" tambah Dante. "Ahhh kan seminggu lagi kakakku mau menikah, nanti kalau dia menikah aku sudah tidak bisa lagi meledek dia. Nanti Kak Inggrid bisa marahin aku maa" Donny bermanja. Hmm Inggrid? gumam Dante. "Jadi setelah menikah, kamu dan Inggrid mau tinggal dimana?" tanya Asri dengan nada tenang, namun pertanyaannya tentu saja serius. "Di sini ma" jawab Dante serius. "Inggrid juga setuju untuk tinggal di sini" tambahnya menghela napas. "Gue gak tahu reaksi Kak Inggrid kalau melihat isi kamar lu" Donny bergidik ngeri. "Benahi kamarmu dulu, lalu benahi hidupmu selanjutnya" Asri menepuk-nepuk paha putranya. Dante hanya mengangguk. "Gue ke kamar dulu ya, gue baru ingat gue nugas" Donny beranjak dan mencomot beberapa kue. "Nah dari tadi saja kenapa sih?!" Dante berdecak. "Dante ada yang ingin mama bicarakan denganmu" Asri menatap tenang putranya. "Ada apa ma?" Dante mulai serius karena ia bisa membaca raut wajah serius dari sang mama. "Mama tahu ini bukan yang kamu ingin kan" ucap Asri. "Tapi kamu harus ingat, papa melakukan ini semua karena tuntutan dari kamu sendiri". "Sekarang kalau kamu tidak memaksa mama dan papa untuk menerima Venna menjadi menantu kamu, mungkin papa tidak akan melakukan ini padamu" jelas Asri. Dante hanya terdiam merenungi kata-kata mamanya. "Mama tahu kamu sangat mencintai Venna, mama tidak bisa melarang kamu jatuh cinta, itu hal wajar. Semua orang pasti pernah jatuh cinta. Tapi kamu jangan sampai di butakan oleh cinta" tambah Asri. "Jika kamu ngotot menikah dengan Venna, mau taruh di mana wajah keluarga kita?" tanyas Asri dengan nada paling pasrah. Dante tidak bisa menjawab, karena memang benar semua kata-kata mamanya. "Ma, aku minta maaf karena hanya bisa membuat mama dan papa malu dan makin pusing memiliki anak sepertiku" Dante akhirnya bersuara. "Tapi jangan salahkan aku jika nanti aku tidka bisa mencintai Inggrid" tambahnya. "Paling tidak jika kamu tidak bisa mencintainya, hargailah dia nak. Dia memang bukan dari kalangan atas seperti kita, tetapi sikapnya dan pendidikannya yang membuat mama setuju untuk dijodohkan denganmu" Asri tersenyum. "Sudahlah, nikmati sisa masa lajangmu ini, jangan sampai hal yang tidak di inginkan terjadi" Asri meninggalkan putranya tersebut. H-4 Dengan hitungan jari, Dante sebentar lagi akan menjadi suami orang alias kepala keluarga. Ia memutuskan untuk pergi ke sekolahnya dulu saat ia masih bersekolah, dari TK, SD, SMP hingga ia SMA. Terlebih ia juga sudah mengajukan cuti ke kakaknya, bahkan kakaknya memberinya jatah cuti lebih setelah menikah nanti. "Baiklah, mari kita berkelana" Dante menyalakan mesin mobilnya tersebut. Dan mulai memacu mobilnya menuju sekolah-sekolahnya tempat ia menimba ilmu dulu. Dante memarkirkan mobil pada sebuah parkiran mobil di sebuah sekolah dasar. Iya, ini adalah sekolah dasar tempat Dante menamatkan pendidikan dasarnya. Ia melangkahkan kaki menuju pintu gerbang sekolahnya. Ia menyapa satpam yang berjaga, lalu masuk ke dalam sekolahnya. Tidak banyak yang berubah, hanya ebebrapa fasilitas baru yang di tambahkan. Beberapa anak sekolah yang bermain sepak bola dengan keringat berkucuran sana sini membuatnya teringat saat ia masih seumurna mereka. Ia juga hobi bermain sepak bola saat sekolah dulu. Mamanya sering megeluh karena seragam sekolah selalu basah karena keringat. Hmm apa nanti Inggrid juga akan mengeluh jika anak laki-laki mereka kelak seperti ia dulu? "Selamat siang bapak, maaf bapak orang tua murid dari siswa kelas berapa ya?" tanya seorang guru paruh baya. "Bukan saya bukan orang tua murid, saya alumni dari SD ini dulu" jawab Dante ramah pada seorang wanita yang sepertinya seorang guru yang tengah menjalankan tugas piketnya. "Oh alumni sini toh" jawab wanita tersebut. "Anaknya mau masuk sekolah ya?" tanya wanita tersebut lagi. "Enggak, saya baru menikah malahan, cuman mau lihat-lihat aja. Mungkin jadi bahan referensi dengan istri saya nanti hehe" jawab Dante ramah. Waktu berjalan begitu cepat. Ia dulu bocah laki-laki yang tidak selalu menurut perkataan mamanya, sering luka ringan hingga berat sana sini, sering bermain hujan-hujanan dengan teman-temannya sebentar lagi akan menikah. Ahh cepatnya waktu .... Sementara itu .... Inggrid menatap kalender yang tergantung di kamarnya. Menghitung hari ia akan menjadi istri orang. Teman-temannya sibuk menggoda dirinya seputar malam pertama, andai saja mereka tahu yang sebenarnya terjadi. Mama. Itulah yang ada di pikirannya sekarang. Ia rindu mamanya. Ia rindu semua tentang mamanya, bahkan saudara perempuan mamanya yang wajarnya sebelas dua belas dengan mamanya pun tidak mampu mengobati rasa rindu Inggrid pada mamanya. "Kakak" Tiara masuk ke dalam kamar Inggrid yang pintunya setengah terbuka. "Iya?" tanya Inggrid. Tiara, sebentar lagi ia tidak bisa setiap hari memperhatikan Tiara. "Kakak sebentar lagi menikah ya?" tanya Tiara polos, Inggrid mengangguk. "Lalu setelah menikah, kakak tinggal dimana nanti?" tanya Tiara. "Kakak ikut dengan Kak Dante" jawab Inggrid. "Kakak tidak tinggal di sini lagi dong?" tanya Tiara sedih. Oh Tuhan, rasanya Inggrid tidak mampu menahan air matanya. "Kapan pun kamu mau bertemu kakak, silahkan saja sayang" Inggrid menarik Tiara ke dalam pelukannya. "Kakak, Tiara bakal kangen berat sama kakak" Tiara mulai terisak. "Sudah jangan menangis yah" Inggrid mengusap wajah cantik adiknya. Pandanganya teralihkan pada foto mendiang ibunya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sekarang di sini Inggrid berada, tempat peristirahatan terakhir ibundanya. inggrid tersenyum melihat pusara ibunya. "Halo bu, ini Inggrid" sapanya. Inggrid mencabut beberapa rumput liar di sekitar makam ibunya. "Bu, empat hari lagi Inggrid menikah" ucapnya pada batu nisan bertuliskan nama ibunya. "Ma, andai ibu tahu Inggrid kangen berat sama ibu. Semua tentang ibu buat Inggrid rindu buu" Inggrid mulai menitikkan air mata. "Inggrid tahu ini berat, tapi ini lebih baik bu" ujarnya sambil terisak. "Iya, Inggrid sedih karena mama tentu tidak bisa melihat siapa menantu ibu, ibu juga nanti tidak bisa melihat cucu-cucu ibu kelak. Tapi percaya ya bu, yang Inggrid pilih ini yang terbaik Tuhan jodohkan untuk Inggrid" ucapnya seraya tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN