Beban Anak Pertama
Shakira mendengar suara sindiran ibu dari kamarnya. Ibu sedang memarahi adiknya yang ingin minta didaftarkan kuliah. Menghela napas lemah, dengan denyutan rasa sakit yang berhasil menumpahkan air matanya.
Sebagai anak pertama, dia benar-benar tidak bisa dijadikan contoh oleh adik-adiknya. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun, dia masih menjadi pengangguran. Tidak punya pacar, teman juga tidak punya, sedang berusaha sebaik mungkin untuk tidak meminta uang pada orangtuanya.
Dulu dia pernah bekerja sebagai penulis, tapi karena dituduh curang, dia diberhentikan. Tidak memiliki kepercayaan diri lagi sebagai penulis, setelah namanya tercoreng.
Selama dua tahun ini, dia menggunakan sisa gajinya untuk membeli kebutuhannya sendiri. Karena terlalu malu untuk membebani orangtuanya. Bahkan sebenarnya dia merasa keberadaannya sendiri adalah beban bagi keluarga.
Saat anak-anak lain sudah memiliki pekerjaan, menikah dan punya anak, tapi dirinya masih saja lajang dan pengangguran. Kadang Shakira juga merasa bersalah pada orangtuanya. Karena dia masih tinggal di keluarga, saat Teman-temannya sudah membangun keluarga kecil mereka sendiri. Apalagi saat Sepupu-sepupu yang lebih muda darinya saja sudah menikah dan memberikan cucu pada paman dan bibinya.
"Aku gak mau kalau hidupku jadi kayak mbak. Kesepian dan tidak punya uang. Kuliah adalah fasilitas untuk masa depanku nanti!"
"Anak kurang ajar! Ibu berusaha sebaik mungkin agar kalian tidak pernah kurang makan dan punya kehidupan yang lebih baik dari kami. Apakah menurutmu ibu ingin kalian tidak punya masa depan. Tapi lihat ayahmu, dia sampai jam segini belum pulang dan belum makan. Tapi kamu malah bertengkar dengan ibu dan membicarakan masa depanmu sendiri. Ibu dan ayah memiliki tiga anak yang harus dihidupi. Dua puluh delapan tahun hidup kami dihabiskan untuk keluarga ini agar tetap hidup, jadi jangan bicara seolah-olah kami menghambat masa depanmu!" Ibu bicara panjang hingga napasnya habis. Dia bahkan terbatuk di akhir kalimat.
Lian hanya menangis memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah sang ibu. Dirinya kecewa, marah dan sedih, karena memang keadaan tidak memungkinkannya untuk melanjutkan pendidikan.
"Aku gak lapar!" Lian meletakkan sendok sop dan meninggalkan sop yang belum matang itu kembali ke kamarnya.
"Ya jangan makan, sana makan saja buku-bukumu jika itu mengenyangkan!" Ibu kesal, karena Lian pergi tanpa menyelesaikan pekerjaan di dapur. Padahal dia hanya menyuruhnya untuk memasukkan sayuran dan beberapa pentol bakso ke kuah yang sedang di masak.
Shakira melihat adiknya masuk ke kamar dengan wajah marah dan air mata yang mengalir.
Mereka berada di kamar yang sama, sangat canggung untuk Shakira tetap berada di kamar sekarang. Dia baru selesai mandi dan sedang ganti baju, saat mendengar pertengkaran ibu dan Lian. Sengaja tidak buru-buru keluar, agar tidak malu. Tapi sekarang, karena Lian kembali ke kamar, dia harus segera keluar untuk membantu ibu memasak.
Dengan rambut yang diikat asal, wajah polos tanpa make up setelah mandi. Tampil segar dengan perasaan yang tidak karuan.
Shakira berpura-pura tidak mendengar apapun, dia langsung membantu untuk menggoreng tempe. Mencoba terlihat fokus, mengabaikan wajah kusut ibunya.
"Bagaimana dengan menulis? Masih belum mulai kerja lagi?" Ibu bertanya dengan suara lirih, tanpa ada jejak kehangatan.
"Belum!" Shakira menjawab pendek. Tidak berniat untuk membicarakan lebih lanjut.
Dia ingin menjelaskan apa yang dia rasakan tentang menulis, dan kenapa dia kesulitan untuk melanjutkan menulis lagi, tapi mungkin ibunya tidak akan mengerti. Bagi ibunya apakah dia punya pekerjaan lagi atau tidak.
"Cobalah lebih keras. Lumayan kan uangnya bisa buat kamu jajan, seneng-seneng. Ibu cuma pengen kamu punya kegiatan. Liat adikmu, dia terus bicara kasar tentangmu. Tidak enak didengar!"
"Emh, iya!" Shakira menjawab dengan sedikit linglung.
Apakah dia tidak sakit hati dengan ucapan adiknya barusan? Tentu saja dia terluka. Tapi bagaimana lagi, apa yang dikatakan adiknya adalah fakta. Dia memang gadis kesepian yang tidak punya uang.
Saat makan malam, Lian tidak keluar dari kamar. Ibu menyisakan seporsi untuknya di laci dapur.
Suasana sedang buruk. Rian melihat kakak perempuan dan ibunya yang terus makan sambil diam. Dia tahu kalau tidak baik jika dia membuat kesalahan sekecil apapun sekarang. Jadi dia buru-buru menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar untuk main game.
Rian dua tahun lebih tua dari Lian. Dia tidak lanjut kuliah setelah SMA, tapi pergi membantu ayahnya mengurus kebun dan sawah mereka. Di banding kakak perempuan dan adiknya yang sering berselisih, dia seperti hantu. Keberadaannya tidak terlalu diperhatikan.
"Panggil ayahmu. Dia pasti mampir untuk mengobrol dengan pak Basuki!" Ibu menyuruh putranya yang sudah selesai makan.
Rian akan mengangguk, tapi buru-buru disela oleh kakak perempuannya.
"Aku aja!" Shakira buru-buru menyelesaikan makannya.
Ibu melihat tanpa bicara apapun. Karena dia tahu diantara anak-anaknya, Shakira adalah yang paling dekat dengan ayah mereka.
Shakira berjalan keluar rumah dengan membawa handphone. Karena ada jalanan yang gelap nanti.
Dadanya terasa sesak. Dan saat akhirnya bisa menghirup udara segar, hatinya tidak lagi kesakitan.
Di tengah perjalanan, Shakira bertemu dengan ayahnya yang sedang berjalan pulang. Menghirup napas dalam-dalam, mencoba agar suaranya tidak terdengar aneh saat berbicara dengan ayahnya nanti.
"Loh, mau kemana nak?" Ayah tidak berpikir putrinya akan pergi menjemputnya.
"Ibu nyuruh manggil ayah untuk makan!" Shakira juga langsung berbalik, berjalan di samping ayahnya.
"Ayah tadi ngobrol dulu dengan pak RT. Pria tua itu menyebalkan sekali. Menyombongkan betapa baik anaknya yang akan menikah dengan seorang tentara. Huh, dia membicarakan hal-hal itu dengan lancar, tanpa membicarakan tentang hutangnya pada ayah!"
"Yang dua juta itu?"
"Iya, padahal ayah sudah menagih sejak sebulan lalu. Itu untuk nanti bayar uang kelulusan adikmu!"
Shakira tidak lagi menyahuti. Dia hanya menghela napas tanpa suara. Menatap langit dengan perasaan sedih.
"Ayah, maaf ya!"
"Kenapa?" Ayah terkejut dengan permintaan maaf putrinya. Dia melihat dari samping wajah putrinya yang tidak terlihat baik-baik saja dan langsung menebak apa yang terjadi.
"Bertengkar dengan ibumu?"
Shakira menggelengkan kepalanya. Dia hanya menundukkan kepalanya, memperhatikan jalannya seolah-olah takut tersandung. Bahkan jika matanya kabur oleh air mata, dia masih akan baik-baik, karena sangat hapal dengan jalanan menuju rumah.
Ayah tidak lagi menanyakan alasan permintaan maaf itu. Dia menebak-nebak dengan pikirannya sendiri. Sebagai seorang ayah, dia paling tahu sifat putrinya dan orang-orang di keluarganya. Istrinya yang selalu bermulut kejam pasti mengatakan sesuatu yang menghancurkan hati sang putri. Dan mungkin hal ini juga dipicu oleh permasalahan anak-anak lain di keluarganya.
Sebagai kepala keluarga, Rohmat selalu memperhatikan masalah dalam keluarganya. Dia merasa paling berat pada Shakira, putri sulungnya. Merasa tidak mampu untuk mendukung putrinya dengan baik. Setiap kali anak-anak bertengkar, istrinya akan selalu menyalahkan Shakira sebagai anak tertua, tapi tidak baginya. Shakira adalah belahan jiwanya yang lahir di bulan Mei. Sikapnya yang paling mirip dengannya, jadi dia paling tahu kalau saat ini Shakira pasti merasa bersalah.
"Nak, apapun yang terjadi, ayah bangga padamu. Yakinlah, Tuhan akan memberikan jalan untukmu. Dan ayah akan selalu mendukungmu. Bahkan jika kamu ingin seumur hidupmu menjadi putri ayah di rumah, ayah pasti mampu dan senang!" Rohmat berusaha keras meyakinkan putrinya, dan menahan diri agar suaranya tidak tidak bergetar.
Ayah dan putrinya sama-sama menangis dalam gelap. Berpikir kegelapan berhasil menyembunyikan kesedihan mereka.
Shakira, putri pertama kesayangan ayahnya.