Pagi ini Amaya bangun lebih semangat. Semangat untuk menagih di mana keberadaan CD kesayangan yang tertinggal di apartemen Al. Hampir semalaman ia pusing memikirkan nasib benda itu. Takut saja kalau Chef Gendeng yang sudah menyita CD-nya akan berbuat nekat. Membawa CD itu dukun, sebagai sarana untuk menjampi-jampi dirinya agar tergila-gila dengan pesona Al.
Gadis itu merutuki kebodohannya sendiri. Semalam, sebelum pulang dari apartemen, niatnya Amaya hanya sebatas mengganti pakaian dalam saja karena ia merasa risih. Tapi, Amaya justru lupa meninggalkan bekas CD-nya di kamar mandi apartemen milik Al. Dan imbasnya, pria itu justru menemukan benda itu. Padahal sebelum-sebelumnya Al tidak pernah masuk ke kamar mandi luar.
"Huft, ini namanya kebetulan yang memalukan." Amaya menepuk jidat saat tengah bercermin. Ia baru saja menyisir rambut lurusnya.
"Awas aja kalau si Boyo berani macem-macem sama barang kesayangan gue. Gue takutnya dibawa ke dukun, terus gue dipelet, kan takut ...." Amaya justru mulai berpikir yang tidak-tidak.
Gadis itu berniat datang ke apartemen pagi ini. Semalam ia pun sudah janji akan membuatkan sayur asam untuk tuannya. Dan niatnya Amaya akan ke pasar terlebih dahulu untuk membeli bahan-bahan membuat sayur asam.
Amaya tengah memakai sepatu kets di ruang tamu. Sahabatnya--Vira--yang sudah bersiap berangkat kerja pun menghampirinya.
"May, awakmu, kan, masuk siang? Iku kamu mau ke mana, isuk-isuk wes rapi ngunu?"
"Gue mau ke pasar pagi. Mau belanja bahan-bahan masakan."
"Lah, tumben? Awakmu mau masak opo to, May? Biasane juga nggak pernah masak di rumah." Vira tampak heran.
"Gue mau masak buat Chef Al." Amaya meraih ponsel lalu mengirim pesan pada tukang ojek langganannya.
"May, awakmu mau masakin koki Boyo itu?" Vira tertarik dengan obrolan Amaya kali ini. Ia yang tadinya mau berangkat bekerja, malah duduk di samping Amaya karena penasaran akan kelanjutan ceritanya.
"Masa, sih, seorang koki minta dimasakin? Jangan-jangan, May ...?"
"Jangan-jangan apa?" Kini giliran Amaya yang dibuat penasaran.
"Jangan-jangan si koki Boyo itu pengen kamu jadi tukang masake tiap hari, May, alias dadi bojone, eciye ...." Vira justru meledek. Amaya tidak sadar kalau kedua pipinya kini telah memerah.
"Lo ngada-ngada banget, deh, Vir. Kan, gue jadi ART di sana. Ya, wajar, dong, kalau gue masakin tiap hari." Amaya membela diri.
"Etapi aku, kok, mulai mencium aroma benih-benih cinta mulai tumbuh, ya, May? Iki, loh, awakmu, tadi pagi mandi sambil nyanyi-nyanyi. Iki dandane wes ayu, wes wangi. Koyo lagi kasmirun wae, May."
"Hadeh, kasmaran yang bener, Vir. Dah, ah, gue mau ke pasar dulu. Ntar keburu siang, takut si Chef keburu kelaparan." Amaya melenggang pergi meninggalkan rumah. Rupanya di depan pagar, tukang ojek online-nya baru saja datang.
"Pagi-pagi begini, mau ke mana, Neng? Bukannya hari ini jadwal kerja Neng masuk jam dua siang, ya?" tanya Kang Ojek yang sudah paham dengan jadwal kerja penumpangnya.
"Anterin aku ke pasar, ya, Kang. Aku mau belanja. Abis itu, anterin aku ke apartemen biasa. Aku, kan, kerja part time di sana." Amaya baru saja memakai helm kemudian duduk di jok belakang.
"Si Eneng rajin banget. Udah kerja di RS, sekarang punya kerjaan tambahan di apartemen. Barokah dan lancar rejekinya, ya, Neng." Kang Ojek menstater kembali motornya.
"Aamiin, Kang, aamiin. Ayo, Kang, lets go. Keburu kesiangan ntar."
Motor Scoopy Kang Ojek mulai melaju menembus jalanan pagi. Mereka senantiasa melakukan obrolan ringan di sela-sela perjalanan.
***
Amaya menekan tombol password untuk membuka pintu apartemen Al. Sebelumnya Amaya memang sudah dipercayakan oleh tuannya masalah password apartemen. Setelah pintu terbuka, gadis itu bergegas masuk sambil menenteng belanjaan di tangan.
Suasana di dalam apartemen masih sepi. Bahkan Al belum kelihatan batang hidungnya. Amaya beranggapan kalau majikannya itu masih tidur.
Ia lalu meletakkan dua kantung keresek berisi sayuran di meja dapur. Amaya berinisiatif untuk membangunkan Al.
"Chef." Gadis itu mengetuk-ngetuk pintu kamar tuannya.
"Chef belum bangun? Mau aku buatin kopi sekarang?"
Tok ... tok ... tok ...
"Chef ...."
Pintu perlahan terbuka. Tetapi yang Amaya dapati bukanlah Al. Ia mendapati seorang wanita cantik yang hanya mengenakan handuk saja di dalam kamar tidur pria itu. Wanita itu bukan Elisa atau pun Maurin, tetapi wanita koleksi Al yang lain.
"Kamu siapa?" tanya si wanita.
Amaya mulai berpikir yang tidak-tidak pada Al.
"Ka-kamu kapan datang? Chef Al mana?" Kini giliran Amaya yang bertanya.
"Semalam. Si Al lagi mandi. Kamu siapanya Al? Kok, tau-tau di sini?" Wanita itu bertanya lagi.
Amaya perlahan tersenyum getir. Ia sudah paham dengan apa yang terjadi di kamar ini semalam.
"Oh, a-aku cuma ART, kok, di sini. Bukan siapa-siapanya Chef Al." Amaya bergegas meninggalkan kamar Al. Ia merasa sudah menjadi seorang pengganggu di sana.
Amaya memutuskan untuk memulai memasak sayur asam. Ia tengah memotong-motong sayuran dengan perasaan kacau. Rasa kecewa pada Al tiba-tiba menjalar pada hatinya. Ia masih ingat, hari kemarin Al begitu manis padanya. Tapi pagi ini, Amaya semakin yakin kalau Al memang bukan pria baik-baik. Mudah sekali bergonta-ganti wanita. Padahal semalam Amaya sudah dibuat klepek-klepek dengan sikap lembut pria itu.
"Huh, yang namanya Boyo tetep aja Boyo! Aw!" Amaya tak sengaja terkena pisau saat ia tengah memotong labu siam.
"Haduh, gara-gara si Boyo, kan?!" Ia lalu menyalakan air wastafel untuk mencuci jarinya yang tengah berdarah.
Tiba-tiba saja ada yang meraih jari Amaya. Memasukkan jari itu ke dalam mulut, kemudian mengulumnya.
Amaya tertegun mendapati Al yang tengah mengisap jarinya yang tadi terkena pisau. Lelaki itu seketika menatapnya. Amaya lagi-lagi dibuat terpesona dengan senyum menawan tuannya.
"Hati-hati, dong, May. Kalau lagi megang pisau itu jangan melamun. Bahaya."
"Ish! Biarin! Tangan-tanganku, kok, situ yang repot?! Urusin cewek Chef aja sana!" Amaya justru mencak-mencak. Ia menarik kasar jarinya yang sedari tadi dipegang oleh Al. Gadis itu meraih slig bag-nya untuk mengambil plester di sana.
Al hanya geleng-geleng kepala melihat kejengkelan gadis itu. Ia tidak keberatan dengan sikap jutek Amaya. Al justru senang. Gelagat Amaya terlihat seperti orang yang tengah cemburu.
"Chef?! Apalagi, sih?!" Amaya lagi-lagi dibuat jengkel. Saat ia akan menempelkan plester pada jarinya yang terluka, Al tiba-tiba merebut plester itu. Chef muda itu mengecup jari Amaya terlebih dahulu, sebelum ia mengambil alih menempelkan plester di jari gadis yang detik ini tengah salah tingkah.
Amaya jelas salah tingkah dengan semua kebaikan serta sikap manis Al padanya. Apalagi saat lelaki bertubuh kekar itu tengah menatapnya, semakin dekat, Amaya tak bisa menolak rasa hangat pada kedua pipinya.
"Al."
Momen saling tatap antara dua insan itu seketika terganggu dengan kehadiran seorang wanita yang baru saja memanggil Al.
Amaya lantas menjauh, ketika wanita yang tadi ia temui di kamar, kini tengah menghampiri Al.
"Aku pulang dulu, ya, Al. Hari ini aku ada rapat penting sama klien."
"Oh, oke. Thanks, ya, buat tadi malam."
Cup!
Amaya melihat dengan mata kepala sendiri, ketika wanita dengan blouse putih itu mencium bibir Al tiba-tiba. Al pun tidak menolak sama sekali.
Al menarik kursi meja makan setelah wanita yang menjadi teman tidurnya semalam itu berlalu dari apartemen. Ia pun duduk lalu menatap meja makan yang detik ini masih tampak kosong.
"May, kopiku mana?"
Aktivitas Amaya yang tengah memotong sayuran kembali terganggu karena pertanyaan Al.
"Kenapa ente nggak minta buatin kopi sama ceweknya aja tadi, Bang? Masa, iya, melihara cewek cuma buat temen esek-esek, doang. Sihan bener." Amaya menjawab dengan songongnya. Pagi ini ia benar-benar dibuat muak dengan tingkah Al dan juga wanita tadi.
"Kan, aku punya kamu, May. Yang wajib buatin aku kopi, ya, cuma kamu. Ayo, cepat buatin."
Amaya yang detik ini tengah meracik bumbu sayur asam pun kini berbalik badan kemudian menatap majikannya sebal. Yang ditatap pun malah menyuguhkan senyum tanpa dosa.
"Tolong bikinin Chef ganteng kopi, ya? Please, Amaya." Al justru memohon. Amaya merasa makin bete saja.
"Iye, iye. Aku buatin kopi sianida sekalian! Rese banget jadi majikan!" gerutunya. Kemudian meraih cangkir untuk membuatkan sang tuan kopi hitam.
Secangkir kopi hitam baru saja Amaya letakkan di atas meja makan. Pandangan mereka kembali bertemu.
"Chef."
"Hem?"
"Balikin CD-ku," tagih Amaya sambil berkacak pinggang. "Ayo, cepetan balikin!"
Al hanya senyam-senyum tak jelas menanggapi kejengkelan Amaya.
"CD yang kemaren ngegantung di kamar mandi dapur?" Al belaga pikun.
"Iyalah, yang mana lagi. Cepetan balikin!"
"No."
"Hah?!"
"Siapa suruh ditinggal, ya, aku simpan lah." Al menjawab dengan entengnya. Sedangkan Amaya makin geregetan.
"Ih ... tapi itu punyaku, Chef. Aku nggak sengaja ngegantungin di kamar mandi. Aku mohon, balikin!" Gadis itu merengek layaknya anak kecil. Dalam hati, Al justru menertawakan tingkah Amaya.
"Nanti aja, ya, kalau aku udah mau balikin. Kalau sekarang, belum."
Darah Amaya seketika mendidih. Ia ingin sekali menjambak habis rambut majikannya, tapi Amaya sama sekali tidak punya keberanian sejauh itu.
"Huh, terserah situ, deh! Karepmu! Aku pusing, pusiiiingggg ...!" teriak Amaya kesal.
Gadis itu kembali mengerjakan tugas masaknya tanpa mau lagi berdebat lagi dengan Al. Percuma saja ribut dengan pria itu. Tidak ada kata menang untuknya.
Sementara Al memilih memainkan ponsel sambil menunggu Amaya selesai memasak. Sesekali ia memerhatikan tubuh Amaya dari belakang. Rasa-rasanya Al ingin sekali memeluk tubuh ramping itu, dan menghadiahkan kecupan-kecupan kecil pada tengkuk Amaya.
Al selalu berfantasi liar ketika berada di dekat Amaya. Padahal semalam ia sudah melampiaskan segala nafsunya pada wanita yang tadi Amaya temui di kamarnya. Tapi rasa ingin menyentuh tiap inci dari tubuh Amaya makin hari makin menyiksanya.
Al memutuskan untuk menyeruput kopinya perlahan. Bau sayur asam seketika menggoda indera penciumannya.
"Baunya enak banget, May. Udah mateng belum?"
"Bentar, dikit lagi." Amaya tengah mencicipi kuah sayur asam. Dan ia pun benar-benar terkejut dengan rasanya.
Satu mangkok sayur asam baru saja Amaya hidangkan di atas meja makan. Ada udang goreng tepung, sambal terasi, dan nasi yang menjadi teman pelengkap. Gadis itu menarik kursi kemudian menyiapkan piring makan untuk tuannya.
"Duh, aku jarang banget sarapan nasi, May. Tapi kali ini aku bener-bener nggak sabar pengen sarapan sama nasi dan sayur asem buatan kamu. Sayur asem buatan kamu aromanya benar-benar menggoda banget, persis kayak yang buat."
Amaya yang tengah mengambil nasi untuk Al pun mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia menatap tuannya dengan sebal. Amaya sudah cukup kenyang digombali oleh chef muda itu.
"Udah, mending makan. Jangan ngegombal terus." Amaya berdiri kemudian meninggalkan Al di meja makan. Ia kembali mengerjakan pekerjaan dapur.
"Kamu nggak ikut sarapan juga, May? Atau, temenin aku makan dulu gitu." Al merasa Amaya mulai menjaga jarak dengannya.
"Aku masih banyak kerjaan, Chef," jawab Amaya seperlunya. Gadis itu tengah mencuci piring dengan perasaan tak menentu.
Jelas saja Amaya masih kecewa dengan Al. Saat melihat ada seorang wanita berada di dalam kamar pria itu, rasa cemburu seketika datang. Amaya selalu menepis jauh-jauh perasaan itu. Ia senantiasa sadar kalau Al memang sudah biasa memperlakukan semua wanita dengan manis.
Al mulai menyantap makanannya sambil sesekali melirik Amaya. Sayur asam buatan gadis itu memang benar nikmat dan pas di lidahnya. Ingin sekali memuji masakan Amaya, tapi melihat sikap Amaya yang tiba-tiba dingin padanya, sesaat Al urungkan karena ia tidak mau membuat apoteker muda itu makin bete padanya.
Al sadar dengan apa yang ia lakukan. Pria itu tahu kalau Amaya cemburu. Tapi Al belum sepenuhnya siap meninggalkan kehidupan bebasnya. Ia butuh kemantapan. Dan, satu-satunya yang bisa membuat Al mantap meninggalkan kehidupan bebasnya adalah orang yang benar-benar bisa mencuri hati chef muda itu.
"May," panggil Al setelah ia menghabiskan sarapannya.
Amaya menoleh sekilas. Gadis itu kembali sibuk dengan cucian piring di wastafel dapur.
"Sarapanku udah abis. Masakanmu enak, aku suka," pujinya. Amaya belum mau menanggapi.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani cuek padanya. Dan hal itu justru membuat Al bingung.
"Besok, masakin aku lagi, ya?"
Hening
"Kalau masakin aku seterusnya, mau nggak?"
Amaya menoleh lagi. Tetapi tatapan datar itu sontak membuat Al tak nyaman.
"Kata temen-temenku, diamnya perempuan itu artinya dia setuju. Kamu setuju, kan, May, masakin aku seterusnya? Ya ... maksudku, jadi istriku gitu, May."
Amaya tersenyum kecut. Ia benar-benar sudah muak dengan segala rayuan murahan yang senantiasa dilontarkan oleh tuannya.
Al memilih membuang napas kasar. Ia pun garuk-garuk kepala. Ia lebih suka Amaya marah-marah padanya, ketimbang mendiamkannya seperti ini.
Amaya mendengar suara kursi ditarik dan langkah seseorang mendekatinya.
"May." Al berdiri di samping Amaya. Ia senantiasa menatap wajah masam gadisnya.
Amaya mematikan air wastafel kemudian mengelap tangannya yang basah. Ia beranjak meninggalkan Al. Seolah-olah tak menganggap kehadiran pria itu.
Al bergerak mengikuti ke mana perginya Amaya. Rupanya gadis itu menuju ke kamar untuk membereskan tempat tidur yang semalam Al tiduri bersama wanita lain.
Lelaki itu duduk di tepi ranjang saat gadisnya tengah menata bantal. Al lantas meraih lengan Amaya. Seketika tatapan mereka kembali bertemu.
"Kamu cemburu, kan, May?"
Amaya tertawa miris dalam hati. Ia jelas tidak mau mengakui kalau sebenarnya dirinya cemburu pada wanita itu.
"May, ak--"
"Chef, bisa nggak, bersikap se-profesional mungkin sama aku?! Aku cuma pembantu di sini. Jangan bersikap berlebihan sama aku. Aku nggak pernah cemburu. Chef punya perempuan banyak, itu hak Chef. Aku nggak punya hak apa-apa buat melarang, apalagi cemburu. Aku sadar diri, kok, aku ini siapa. Cuma pembantu, kan?" Amaya tanpa sadar melontarkan kalimat seperti itu. Ia hanya ingin meluapkan rasa kecewanya.
"Tapi, bagiku kamu bukan sekedar pembantu, May. Aku menganggap semua yang kerja sama aku itu temen. Aku nggak pernah membeda-bedakan. Dan aku menganggap kamu lebih dari seorang pembantu. You are like o***m to me. You can make me laugh. You are my place to complain. And you, you are special to me."
Amaya merasa lututnya melemas. Ia sempat tak percaya dengan pengakuan pria itu.
Amaya mencoba memantapkan hati. Dirinya tak mau jatuh dan tersakiti lagi. Ia menganggap, Al dan Doni tidak ada bedanya.
"Maaf, Chef, kerjaanku masih banyak, permisi." Amaya pamit setelah sebelumnya ia meraih baju-baju kotor milik tuannya. Meninggalkan Al yang detik ini tengah bingung menghadapi sikap diamnya.
*********