Part 9 (Chef Gendeng)

3026 Kata
(Tiga Tahun yang Lalu) Plak! Al mengusap salah satu pipinya yang baru saja tertampar. Ia menatap benci seorang wanita paruh baya di depannya. "Jangan pernah anggap aku ini ibumu lagi. Aku sudah bercerai dengan Hanafi enam bulan lalu. Sekarang kamu tiba-tiba datang, dan membuat kekacauan di rumahku. Menuduhku selingkuh, dan memaki-maki suamiku. Apa kamu pikir, kamu adalah anak yang baik, Alrescha?" Alya menatap datar seorang pemuda yang tiga puluh lima tahun lalu telah ia lahirkan. Tak ada tatapan hangat seperti sebelum-sebelumnya. Alya dan Hanafi bercerai tanpa sepengetahuan Al. Saat pemuda itu tengah berada di Jepang untuk urusan studi, Al tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada kedua orangtuanya. Yang ia selalu tahu, Alya dan Hanafi adalah pasangan yang romantis. Dan Al sangat memimpikan suatu saat dirinya bisa seperti orangtuanya. Menjadi pasangan harmonis seperti yang ia kira. Kepulangan Al satu minggu lalu adalah titik awal dari kehancuran yang baru saja menyapa. Ia sangat terpukul dengan kondisi lumpuh sang ayah. Hanafi mengalami kecelakaan parah satu tahun lalu. Dan mengakibatkan pria paruh baya itu lumpuh. Sehari-harinya Hanafi hanya duduk pasrah di atas kursi roda. Selama satu minggu itu, Al merasa ada yang kurang. Ia tak mendapati sang ibu di rumahnya. Sampai akhirnya Hanafi mau membuka mulut, setelah sekian lamanya pria itu memendam luka itu sendiri. Luka paling mendalam yang Hanafi alami ketika Alya tiba-tiba meminta cerai darinya. Sang istri yang sehari-harinya selalu terlihat tegar dan tabah merawatnya, nyatanya sudah tidak kuat dengan kondisi lumpuh yang dialami Hanafi. Hanafi makin sakit saat Alya jujur atas kebohongan yang tidak ia tahu selama ini. Alya rupanya sudah berhubungan dengan pria lain, jauh sebelum Hanafi kecelakaan dan lumpuh seperti sekarang. Di sinilah Al. Ia mencari-cari ibunya. Sampai pencarian itu berhasil mempertemukan dirinya dengan sang ibu. Di rumah suami baru Alya, Al justru membuat gaduh. Pemuda itu sama sekali tidak terima dengan apa pun yang sudah Alya lakukan padanya. "Sejak kapan Mama berubah menjadi iblis? Sejak kapan Mama menjadi pecundang untuk kami?!" Dengan lantang Al membentak ibunya. Disaksikan oleh suami baru Alya dan beberapa pelayan rumah. Alya masih menatap datar sang putra, meski pemuda itu terlihat sangat murka padanya. Kasih sayang yang sedari dulu senantiasa Alya berikan pada Al, kini tak ada lagi. Tak tersisa. Hanya karena cinta butanya pada suami yang sekarang, ia sampai tega tak mau mengakui Al lagi. Semua atas dasar permintaan sang suami--yang tidak mau Alya berurusan lagi dengan mantan suami beserta anaknya. "Pulanglah, Al. Untuk apa kamu datang ke sini? Hanya amarah yang kamu dapat. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan kalian." Al menggeleng-gelengkan kepala cepat. Kata-kata dingin ibunya, nyatanya bagai bola api yang baru saja membakar dadanya. Panas dan perih, meninggalkan bekas luka yang sampai kapan pun terasa sulit untuk terobati. Jika perceraian orangtuanya adalah jalan yang sudah terlanjur dipilih, Al sangat menyesalkan dengan sikap ibunya--yang tiba-tiba tak mau mengakui dirinya sebagai anak lagi. Apakah Al memang tak pantas dianggap sebagai anak lagi? Apakah Alya malu memiliki putra sepertinya? Al hanya sanggup berdebat dengan hatinya. Beberapa bodyguard yang berjaga di rumah Alya lantas menyeret Al untuk keluar. Pemuda itu jelas berontak. Al sama sekali tidak mau diperlakukan serendah ini. "Ma! Jangan pernah Mama sedikit pun menyesal dengan keputusan Mama sekarang. Al nggak akan lupa semuanya! Al akan membenci Mama. Al benci wanita seperti Mama!" Wanita dengan blouse putih itu mengulas senyum getir ketika sang putra mulai diseret dengan kasar oleh anak buah suaminya. Sumpah serapah senantiasa Al lontarkan untuk dirinya. Alya jelas dengar. Alya mencoba tegar, meski dalam hati, ia tak kalah hancurnya seperti Al. Pemuda dengan kemeja hitam itu merasa tubuhnya terlempar dengan kasar. Bodyguard-bodyguard berbadan sangar itu baru saja mengempaskannya ke aspal depan pagar. Sesekali mereka melempar makian pada Al, lalu kembali memasuki istana milik suami baru Alya. Al meringis kesakitan. Ia perlahan mencoba bangun. Berdiri kemudian mengepalkan tangan saat melihat rumah megah di depannya. Al sama sekali tak paham dengan jalan pikiran ibunya. Keluarga Hanafi jelas mapan. Selama ini hidup Alya sangat kecukupan. Apa karena Hanafi tengah lumpuh, sampai Alya malu memiliki suami seperti Hanafi dan lebih memilih mencari laki-laki lain? Al merasa makin pening memikirkan perubahan ibunya. Pria itu memilih pulang dengan tangan hampa. Kekecewaan pada sang ibu jelas membuat Al menjadi benci pada Alya. Sampai di rumah pun, Al mendapati Hanafi tengah duduk di kursi roda sambil melamun. Tak ada ucapan yang Al lontarkan setelah tatapan mereka bertemu. Bunyi pecahan gelas yang baru saja Hanafi dengar adalah salah satu bentuk kemarahan Al padanya. Dada pemuda itu bergerak naik turun. Segala amarah telah berhasil menguasainya. Meja kaca ruang tengah kini nyatanya sudah Al hancurkan. Ia menjerit depresi di hadapan sang ayah. "Aarggghhh ...! Watashi wa watashinojinsei ga kiraidesu!" (Aku benci hidupku!) Al memutuskan untuk duduk kemudian menjambak rambutnya frustrasi. Ia lantas memukul-mukul kepalanya sendiri. Seiring dengan luapan emosi yang tak bisa dibendung, Al mengaku kalah. Ia perlahan menangis. Memaki-maki dirinya dalam hati. Merasa bahwa ia tak pantas dilahirkan. 'Aku sampah. Mama menganggapku sampah! Aku benci dilahirkan!' Tangisan yang tadi tak bersuara, kini perlahan terdengar menyayat hati. Kehancuran itu jelas bukan Al yang mengalami sendiri. Ada Hanafi yang sudah hancur terlebih dahulu. Namun, lelaki itu sama sekali tak memiliki kekuatan untuk membuat Al tenang saat ini. Satu-satunya orang yang mampu menenangkan Al adalah ibunya, tapi sekarang justru sang ibu sudah tak sudi mendengar keluh kesahnya lagi. "Papa ...," panggil Al setelah ia berani menatap seorang pria lemah di atas kursi roda itu. Hanafi masih terdiam. Ia dengar, tapi ia tak punya rasa yang pantas untuk berbicara. "Papa kenapa jadi pengecut, Pa?! Papa kenapa biarkan Mama pergi?!" Al meminta penjelasan dari ayahnya. Tetapi air matalah yang Hanafi berikan sebagai jawaban. Sejatinya Hanafi sudah tidak ada harapan lagi. Jika Alya memang tidak lagi mencintainya, mau ia jungkir balik pun, rumah tangga yang nyaris hancur itu belum tentu bisa kembali utuh seperti dulu. "Kenapa selama ini kalian tega membohongi Al?! Kenapa Papa dan Mama bercerai tanpa memberitahu Al?!" Kembali pertanyaan menyesakkan itu Al lontarkan. Berharap ia mendapat jawaban yang sedikit membuatnya tenang. Akan tetapi, Hanafi masih belum memiliki nyali untuk memberi penjelasan sepenuhnya. Hanya sebatas meminta maaf pada putranya, tanpa mau berbagi lara yang sudah lama ia telan sendiri. Al merasa hidupnya benar-benar kacau. Sikap tertutup sang ayah justru membuatnya makin naik pitam. Beberapa pajangan bingkai foto keluarga yang tertata rapi di meja bufet, seketika ia jatuhkan. Ia injak-injak dengan penuh murka bingkai foto dirinya dengan kedua orangtua. Ia menatap ayahnya sekali lagi. Tatapan benci seorang anak nyatanya mampu membuat batin Hanafi makin sakit. "Otōsan! Watashi wa anata no co-byō ga kiraidesu! Dōshite okāsan no mendō o yoku mi rarenai no?! Watashi wa chichi to haha ga kiraidesu!" (Ayah! Aku benci sikap pengecutmu! Kenapa Ayah tidak bisa menjaga Ibu dengan baik?! Aku benci Syah dan Ibu!) Al bergegas pergi meninggalkan sang ayah yang kini makin hancur atas perkataan yang baru saja ia lontarkan. *** "Chef, kopinya diminum dulu." Amaya meletakkan secangkir kopi di atas meja ruang tamu. Saat petang tiba, mereka memutuskan pulang ke apartemen. Al pulang dengan perasaan lega. Segala masalah dan beban telah ia curahkan kepada Amaya--seorang gadis yang berjanji akan menjadi pendengar setianya. Baru kali ini Al terbuka dengan orang lain. Selama ini ia menjadi pribadi yang tertutup. Menutup masalah dalam hidupnya rapat-rapat. Al berperan sebagai seorang pria mapan yang bahagia memiliki banyak wanita. Tapi di sisi lain, Al hanyalah seorang lelaki rapuh. Ia butuh sandaran. Ia membutuhkan seorang teman untuk berkeluh kesah. Bagi Al, baru dua hari mengenal Amaya, tapi gadis itu nyatanya lebih pintar dari para wanitanya. Pintar mencuri hati, serta perhatiannya. Mungkinkah Al akan menambatkan hati pada Amaya? Setelah sekian lama ia berkelana, nyatanya baru sekarang Al merasakan debaran aneh ketika gadis itu berada di dekatnya. "May." Lelaki dengan kaus putih itu menepuk-nepuk sofa yang tengah ia duduki. Memberi isyarat pada Amaya untuk duduk di sebelahnya. Karena sedari tadi gadis itu hanya diam berdiri di depan sai. "Gimana, Chef?" "Sit here," perintah chef tampan itu. Amaya dengan rasa ragu akhirnya menuruti perintah tuannya. Memposisikan duduk di sebelah Al. Senantiasa menatap ke arah televisi--alih-alih ia belum siap bertatap muka dengan lelaki itu. Tentang rasa, Amaya berulang kali menepis rasa baru dalam hatinya. Saat dari awal ia hanya patuh menjalankan tugas dari Hanafi untuk mendekati Al, tapi apa yang terjadi, ketika hati menginginkan yang lebih dari ini? Saat Al bercerita tentang masalah hidup padanya, saat itu pula, Amaya menyadari, ia tak sendiri. Ia pun pernah hancur sama seperti Al. Sama-sama pernah kehilangan. Sama-sama pernah dicampakkan oleh orangtua. "Sekarang, di mana ayahmu?" Al membuka obrolan, setelah sebelumnya ia hanya fokus memandangi wajah manis Amaya dari samping. Amaya menggeleng lemah. Ia tak tahu menahu di mana keberadaan sang ayah saat ini. Orangtuanya sudah lama bercerai. Dan selama bertahun-tahun, Amaya bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga. "Aku nggak tau, Chef. Beliau masih hidup atau nggak, aku juga nggak tau." Amaya menjawab dengan suara bergetar. Ia tengah menahan agar tidak menangis. Sejatinya, jika mengingat kembali segalanya yang telah ia alami, saat kedua orangtuanya bertengkar hebat, adik-adiknya menangis melihat sang ayah pergi, Amaya ingin sekali menjerit sekuat tenaga. Ia tertekan dengan keadaan menyakitkan itu. "May." Al mengusap punggung yang tampak bergetar itu. Gadis di sampingnya kini baru saja menatapnya. Terlihat jelas, wajah Amaya yang dua hari ini selalu tampak ceria di hadapan Al, kini berubah murung, redup. "Udah enam tahun aku nggak ketemu Ayah. Beliau mungkin udah bahagia sama keluarga barunya. Sampai tega menelantarkan anak-anaknya." Amaya memilih menunduk. Ia ingin sekali menangis. Tapi sekuat tenaga ia tahan. "Kalau mau nangis, nangis aja, May. Kan, tadi kamu sendiri yang bilang, masalah jangan dipendam sendiri. Keluarkan semuanya. Jika menangis itu bisa membuatmu sedikit lega, menangislah. Aku ada di sini. Aku tau betul rasanya jadi kamu." Lelaki itu membelai lembut helaian rambut panjang Amaya. Sebatas menenangkan--menyalurkan rasa tenang. Bibir gadis itu tampak bergetar. Amaya mengaku kalah. Kali ini ia memilih menangis. Menumpahkan segala lara dengan lelehan air mata. Sampai ada tangan yang tiba-tiba meraihnya. Membawa tubuhnya jatuh dalam pelukan. Al mendekap Amaya dengan hangat. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya di sana. Ia baru sadar, nyatanya ada orang lain yang bernasib sama sepertinya. Rapuh, kesepian, merindukan kehangatan di dalam keluarganya. *** "Emmm, enak banget, Chef." Amaya baru saja melahap satu potong tamagoyaki. Setelah puas menangis, gadis itu diajak memasak bersama oleh majikannya. Mereka memilih masakan Jepang untuk menu makan malam mereka. Untuk kali ini Al memutuskan membuat menu yang simpel. Nikujaga (Japanese beef stew) dan juga tamagoyaki (omelette Jepang). Amaya begitu lahap menyantap dua menu itu secara bergantian. Kebetulan, gadis itu juga menyukai budaya-budaya Jepang. Mulai dari makanannya, sampai Amaya juga sangat ngefans dengan salah satu grup musik dari negeri sakura tersebut. "Besok gantian aku yang makan masakan kamu, ya?" Al sedari tadi tak pernah bosan melihat betapa menggemaskannya Amaya ketika sedang mangan. Lahap dan kelihatan begitu menikmati hasil masakannya. "Eum, boleh, Chef. Tapi aku nggak bisa masak makanan Jepang." "Yang minta dimasakin makanan Jepang, siapa? Aku udah bosen, May. Tiap hari masak ginian, nggak perlu makan, kadang aku udah kenyang duluan." Amaya tertawa kecil. Terkadang lucu, orang yang sehari-harinya bekerja memasak, justru sudah tidak memiliki nafsu lagi untuk menyantap masakannya. "Terus, Chef, mau dimasakin apa?" "Aku udah lama banget nggak makan sayur asem. Buatnya juga aku nggak bisa. Besok buatin, ya?" Amaya lagi-lagi menertawakan kepolosan Al. Bisa-bisanya, seorang chef handal seperti Al, tidak bisa memasak sayur asam. "Oke, oke. Besok pagi aku bikinin sayur asem buat Chef. Kebetulan, besok aku masuk siang, jadi paginya bisa ke sini dulu." Al merasa sangat senang dengan kesanggupan Amaya yang mau memasakkan sayur asam untuknya. Terakhir ia memakan sayur asam ketika sang ibu masih ada bersamanya. Mereka pun makan sambil diselingi obrolan-obrolan ringan. Keduanya makin akrab saja. Al tidak pernah menyangka kalau ada gadis se-asyik Amaya. Yang enak diajak bercanda, ceplas-ceplos, dan ada saja bahan humornya. Selesai makan, Amaya mengambil alih membereskan dapur dan mencuci piring bekas makan mereka. Sementara Al memilih duduk di ruang tamu sambil memainkan ponsel. Pukul sembilan malam, Amaya baru saja selesai menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum pulang, ia sempatkan ke kamar mandi dahulu untuk buang air kecil. Ia lalu meraih tas slig bag miliknya, dan menemui Al di ruang tamu. "Chef, kerjaanku udah kelar. Aku pulang dulu, ya?" Al lantas melirik Amaya. "Aku antar, ya, May?" tawarnya. "Nggak perlu, Chef. Aku udah manggil kang gojek langganan aku, kok." Amaya menolak secara halus. "Oh, gitu. Eum, May, sini dulu, deh." Dahi Amaya mengernyit ketika Al menyuruhnya mendekat. "Kenapa, Chef?" "Ke sini, May." Dengan ragu, Amaya perlahan berjalan mendekat. Ia pun berhenti ketika sudah sampai di hadapan Al. "Ada apa, Chef?" Al kembali menatap Amaya. Ia justru menarik tangan gadis itu. Sehingga membuat Amaya jatuh di atas pangkuan. "Oy, Chef?! Chef mau apa?!" Amaya jelas panik. Berusaha berontak. Tetapi lelaki itu menahan tubuhnya sekuat tenaga. "Chef jangan macam-macam, ya! Aku bisa hajar Chef detik ini juga!" ancam Amaya. Al lantas tertawa. "May, May. Kamu berani hajar aku, May?" "Beranilah. Aku nggak takut sama siapa pun! Lepasin!" Amaya menggerak-gerakkan tubuhnya. Hal itu justru makin membuat Al tertantang. "Chef, lepasin ...!" "Oke, oke, aku lepas." Al lantas melepaskan Amaya. Ia hanya cengengesan melihat wajah merengut gadis di pangkuannya. "Jangan berani macem-macem, ya, Chef. Di sini aku kerja. Dan aku harap, Chef bisa profesional jadi orang." Amaya berniat berdiri, tetapi Al langsung mencekal lengannya, sehingga membuat Amaya kembali duduk di atas pangkuan dan menatap Al dengan sebal. "Apalagi, sih?!" Kali ini Al menatap Amaya dengan serius. Gadis itu lantas terpaku saat Al mulai membelai rambutnya. "Makasih, May, untuk hari ini," ucap Al lirih. Amaya yang tadi sudah marah-marah tak jelas, kini mendadak meleleh. Ia justru membiarkan Al mulai menyentuh salah satu pipinya. "Makasih, kamu udah bersedia jadi pendengar setiaku. Kamu orang pertama, yang tau bagaimana caranya bikin aku tenang, May. Dan, menceritakan masalah hidupku sama kamu, adalah salah satu cara yang bisa membuat aku tenang dan lega." Amaya tertegun dengan ucapan Al. Ia pun sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama. Hari ini, Amaya merasa sangat lega, karena ia telah menangis dan menceritakan sedikit masalahnya pada orang lain. Namun, rasa malu dan sungkan lantas membuatnya tetap bungkam. Ia pun memilih turun dari pangkuan Al saat lelaki itu sudah membebaskannya. "Sama-sama, Chef. Aku senang, bisa membuat Chef sedikit lega." Ia menyuguhkan senyum manis untuk pria di sebelahnya. Amaya berpamitan pulang karena di depan apartemen sudah ada kang ojek langganannya yang telah menunggu. Setibanya di rumah, gadis itu memutuskan untuk mandi. Membasuh diri dengan air dingin lantas membuat tubuh Amaya kembali segar setelah seharian ia menghabiskan waktu untuk menemani Al. Gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. Amaya menuju meja rias. Duduk di kursi kayu yang terletak di depan meja. Ia menatap wajahnya sendiri dari balik cermin. Semakin ditatap, Amaya justru dapat melihat kalau kedua pipinya kini berubah warna. Warnanya menjadi memerah. Amaya lantas tersenyum geli. Seharian ini ia telah menghabiskan waktu dengan Al. Mereka saling berbagi, saling bercerita, dan mulai saling mengenal lebih jauh lagi. Amaya mengembuskan napas kasar. Ia sadar, tak sepantasnya ia terlena akan semua sikap manis Al. "May, ingat, May. Al itu Boyo. Laki-laki nggak bener. Kamu nggak boleh suka sama dia." Amaya menasihati dirinya sendiri. Ia menatap sebal wajah yang masih menampakkan pipi merona itu. "Huft. Harus inget dengan rencana awal. Deketin, taklukin, kerjaan beres, out." Dari awal, rencana Amaya memang seperti itu. Tapi ia sama sekali tidak sadar, kalau Al tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Gadis dengan baju tidur bermotif bunga sakura itu berpindah posisi duduk di tepi ranjang. Ponsel di meja nakas tiba-tiba berdering nyaring. Pertanda ada panggilan telepon dari seseorang. "Siapa, sih, malem-malem gini nelponin orang?" Amaya meraih benda pipih berwarna putih itu. Rupanya yang menelpon adalah Fino. "Ngapain, si anak rentenir nelponin gue malem-malem gini? Mau bikin susah hidup gue lagi?" Ia mengabaikan panggilan telepon dari Fino. Gadis itu memutuskan untuk menyisir rambutnya. Wherever you are, I'll always make you smile Wherever you are, I'm always by your side Whatever you say, kimi wo omou kimochi I promise you forever right now .... Lagu milik band Jepang One Ok Rock berjudul Wherever You Are yang Amaya jadikan nada dering pada ponselnya, kembali terdengar karena ada panggilan telepon lagi. Gadis itu makin sebal saja. Ia sudah mengira kalau yang menelepon dirinya berkali-kali itu adalah Fino. "Huh, Fino bangke!" umpat Amaya lalu meraih ponselnya. "Ada apa, sih, Fino?! Lo mau apalagi?! Belum puas bikin hidup gue susah, hah?!" Amaya mengangkat telepon itu sambil marah-marah. "May." Yang terdengar justru bukan suara Fino. Amaya lantas kaget. "Kamu kenapa marah-marah? Aku bukan Fino, May." "Waduh." Amaya mengecek ponselnya. Yang tertera di layar ponsel itu adalah nama Chef Al. "Eh, Chef, maaf. Aku pikir, si Fino." Amaya merasa tak enak karena tadi ia sudah marah-marah pada Al. "Fino itu siapa? Mantan kamu?” "Eum, bukan, Chef. Bukan mantan aku, kok.” "Kalau ada telepon dari mantan, jangan diangkat, ya." "M-memangnya kenapa, Chef?" Amaya heran. "Ya, jangan aja. Kalau mau angkat telepon dari cowok, harus izin aku dulu." "Hah? Izin?" Amaya makin dibuat heran. "Hu um. Kamu lagi apa?" "Eum, aku abis mandi." "Kamu merasa ada barangmu yang ketinggalan di sini?" "Nggak tau, Chef. Emang apa yang ketinggalan?" Amaya sama sekali tidak ingat dengan barang miliknya yang tertinggal di apartemen Al. "CD-mu ketinggalan?" "Hah?!" "Iya, May. Tadi aku liat ngegantung gitu di kamar mandi luar." "Haduh ...." Amaya menepuk jidatnya. Ia benar-benar malu. Bisa-bisanya dalamannya tertinggal di kamar mandi apartemen Al, dan pria itu malah menemukannya. "Ma-maaf, Chef. Aku tadi lupa nggak kebawa pulang. Besok aku ambil, Chef." “Jadi kamu pulang dalam keadaan nggak pake CD, dong?” “Eh, pake, Chef. Aku tadi ganti dulu. Tapi yang udah dipake tadi siang, malah ketinggalan. Besok aku ambil, deh.” "Nggak perlu, May." "Loh?" "Buat aku aja, ya?" "B-buat, Chef?" "Iya. Aku simpan, buat kenang-kenangan." "Hah?!" "Udah malem, May. Kamu tidur, gih. Jangan lupa besok bikinin aku sayur asem, ya. Bye." "C-Chef?!" Tut ... tut ... tut ... Panggilan baru saja terputus. Amaya merasa makin muak saja dengan tingkah gila majikannya. "Ih ... Chef Gendeng ...!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN