Part 8 (Broken)

1339 Kata
Jantung Amaya serasa ingin lepas dari tempatnya. Ini pertama kali Al berani membentak dirinya tanpa sebab. Padahal, dari awal kenalan, pria itu selalu bersikap lembut dan ramah. Tapi kali ini, Amaya seperti melihat kehancuran pada diri Al. Wajah chef muda itu terlihat merah padam. "Aku cuma nanya, Chef. Kenapa mesti marah-marah begitu, sih?" Al lalu mengusap wajahnya kasar. Ia tak sadar kalau tadi sudah membuat Amaya ketakutan. Lelaki itu memutuskan untuk duduk. Menyugar rambutnya frustrasi. "Maaf, May." Hanya kata itu yang Al ucapkan setelahnya. Ia masih belum memiliki keberanian untuk belajar terbuka pada orang lain. Amaya perlahan duduk di samping Al. Ia menatap album foto milik Al yang tergeletak sembarang di lantai. Tatapannya beralih untuk seseorang di sebelahnya. "Aku nggak tau Chef ada masalah apa sama wanita itu. Tapi, kalau butuh teman curhat, aku siap dengerin, kok, Chef." Al lantas menoleh Amaya. Gadis itu menyambut dengan senyum manis. Tanpa Al sadar, ada debaran aneh yang ia rasakan di dalam dadanya. "Kalau punya masalah, jangan diempet sendiri. Kita hidup di dunia ini nggak sendirian. Ada orang lain yang bisa kita jadikan tempat untuk bersandar." Al tersenyum getir. Apa yang dikatakan oleh Amaya, ia pun membenarkan. Sejauh ini, Al selalu menyimpan masalahnya sendiri. Tanpa berniat membagi bebannya dengan orang lain. "Chef udah nggak ada kerjaan lagi, kan?" Amaya membuka obrolan kembali. Lelaki itu menjawab dengan gelengan lemah. "Kalau nggak ada, aku mau ajak Chef ke suatu tempat." "Ke mana, May?" Al mulai bersuara. Ia seketika tertarik saat Amaya akan mengajaknya pergi. "Ada, deh." Gadis itu justru pergi meninggalkan Al dan kembali duduk di kursi kerja pria itu. Rupanya Amaya ingin menghabiskan jusnya dulu. Al yang melihat Amaya tengah asyik menyedot minuman pun lantas tergoda lagi. Tergoda pada bibir mungil gadis itu. Al sudah tidak sabar ingin mulamatnya. Satu gelas jus alpukat telah Amaya habiskan. Ia membawa gelas kosong tersebut, kemudian menghampiri majikan tampannya kembali. "Ayuk!" ajak Amaya sambil mengulurkan tangan pada Al. “Kamu mau ajak aku ke mana, May? "Ada, deh. Pokoknya ayo ikut. Nggak boleh nolak." Amaya mulai memerintah seenak jidat. Bibir pria itu seketika melengkung ke atas. Al sangat menyukai pribadi Amaya yang menyenangkan. "Ya, udah. Aku nggak bakal nolak ajakan Tuan Putri." Al menyambut uluran tangan Amaya. Ia pun menggandeng gadis itu keluar dari ruang kerjanya. Mereka berjalan beriringan sambil terus bergandengan tangan. Sebenarnya Amaya sudah minta tangannya dilepaskan sejak tadi. Tapi Al sama sekali tidak mau melepaskan genggaman hangat gadis itu sedetik saja. "Chef, bisa dilepasin dulu nggak? Nggak enak dilihat banyak orang. Nggak melulu gandengan terus, kali." Amaya merasa menyesal karena tadi ia dulu yang mengulurkan tangan pada Al. Imbasnya, lelaki itu tak mau melepaskan tangannya meski ia sudah meminta berkali-kali. Al tetap cuek dengan permintaan Amaya. Ia pun juga tak peduli dengan beberapa pelayan yang mendapati dirinya tengah menggandeng seorang gadis. Mereka keluar dari gedung resto kemudian menuju mobil milik Al di parkiran. "Kita mau ke mana?" Al bertanya lagi setelah menghidupkan mesin kemudi. "Pokoknya jalan dulu. Lurus aja. Nanti aku kasih tau arah-arahnya." Amaya memasang seat belt. Ia tidak sadar kalau saat ini Al mulai mendekati wajahnya. "Chef?!" Amaya jelas kaget saat wajah tampan Al kini berada sangat dekat dengannya. Al hanya sebatas mengusap helaian rambut gadis berpipi tirus itu. Ia pun mulai melajukan roda empatnya. Tanpa tahu kalau saat ini Amaya tengah gelisah karena sikap lembutnya tadi. *** "Taraaa ... ini tempatnya!" Amaya mengajak Al ke pantai Parangtritis. Tempat yang biasa ia kunjungi saat sedang suntuk. Al menatap kagum keindahan pantai di sore hari ini. Apalagi saat gulungan ombak di jauh sana tengah saling berkejaran. Ia lantas teringat dengan masa kecilnya yang juga sering menghabiskan waktu di pantai. "Kamu sering ke pantai, May?" Al menoleh pada Amaya yang kini tengah memejamkan kedua mata, menikmati sapuan angin. "Kadang, sih. Kalau lagi stres, aku suka ke sini." Al justru terkekeh mendengar jawaban polos Amaya. Gadis itu menatap Al dengan kening berkerut. Dadanya justru berdebar ketika melihat lelaki itu tengah tertawa. 'Huft. Bisa dikondisikan, nggak? Kalau lagi ketawa begitu napa jadi tambah cakep aja, sih? Duh, May, eling, May. Jangan sampai tergoda dengan pesonanya si Boyo.' Amaya menggeleng-gelengkan kepala cepat. Ia merasa heran sendiri kenapa dewi batinnya begitu memuja-muja ketampanan Al. "Ada aja kamu kalau ngomong. Emang kamu sering stres? Stres karena apa? Kayak mikirin negara aja." "Stres mikirin cowok!" jawab Amaya ketus. Al justru menertawakannya lagi. Hal ini justru membuat Amaya makin heran saja. "May, May. Ngapain kamu pake acara stres segala cuma karena mikirin cowok? Kalau cowok nyakitin, ya, tinggal cari yang baru lagi, May." Amaya mengangguk-anggukkan kepala pertanda ia lumayan setuju dengan pendapat Al. "Kamu memangnya udah punya cowok?" tanya Al yang ingin tahu status Amaya saat ini. Gadis itu tak lantas menjawab. Ia justru menatap ombak pantai di jauh sana. Amaya langsung teringat dengan Doni. Mereka sering menghabiskan waktu senja di sini dengan saling berkejaran di bibir pantai. Sakit hati pada Doni jelas masih terasa. Tapi Amaya tak memungkiri kalau ia masih memiliki rasa pada Doni. Mengingat kembali mereka sudah cukup lama berhubungan. "May." Al tiba-tiba merangkul Amaya. Tatapan mereka lantas bertemu. "Jangan mau disakitin sama cowok. Buktiin, kalau kamu bisa dapat yang lebih baik dari cowok kamu itu." Al berusaha menyemangati Amaya. Gadis itu mengulas senyum sebagai ucapan terima kasih. Tetapi ia sangat tidak suka dengan sikap Al yang seenak jidat merangkulnya. "Chef, bisa nggak, nggak perlu ngerangkul aku begini? Aku bisa berkelahi, loh, Chef. Jangan macem-macem, ya." Amaya mulai menyombongkan bakat beladirinya. Al kembali terkekeh kemudian melepas rangkulannya. "Kamu jago berantem juga, May? Kapan-kapan, boleh lah, kita tanding," tantang Al. "Eum, boleh-boleh aja. Eh, Chef, kenapa tadi pas di resto, Chef bilang aku ini Tuan Putri? Maksudnya apa, sih?" Al menggaruk kepalanya, bingung. Ia pun tadi hanya nyeletuk saja soal dirinya tiba-tiba menyebut Amaya dengan sebutan Tuan Putri. "Eum, anu ... ya, karena kamu cantik, ya, kupanggil Tuan Putri." Dahi Amaya kembali berkerut. Ia merasa belum puas dengan jawaban Al. Mereka memilih duduk berdampingan di atas pasir hitam itu. Menatap indahnya langit sunset di jauh sana. Menikmati sapuan angin sore yang terasa makin menyejukkan. Amaya memilih duduk dengan posisi kedua kaki terjulur lurus ke depan. Rambut panjangnya yang sedari tadi tergerai kini tengah beterbangan karena ulah angin. Al tiba-tiba melakukan hal yang sama sekali tidak Amaya duga sebelumnya. Pria itu menaruh kepalanya di atas paha Amaya. Sang gadis pun menatapnya heran. "Chef?! Chef, ngapain?" tanya Amaya dengan nada protes. Al lantas menatapnya. "Aku ngantuk, May. Pinjam pahanya bentar, ya, buat bantal." Amaya memutar bola mata malas. Ketika berada di dekat Al, gadis itu sering kali tak bisa berkutik atau melawan saat Al bertindak seenaknya. Padahal sebelumnya, Amaya selalu galak pada setiap lelaki yang berniat menyentuh atau macam-macam padanya. Al memilih memejamkan mata sambil melipat kedua tangan di atas d**a. Ia merasa nyaman dengan posisi seperti ini. Tidur di atas pangkuan Amaya--seorang gadis yang entah kenapa, sejak semalam membuat tidur pria itu tak nyenyak. "Chef?" panggil Amaya. Al hanya tersenyum tipis menanggapi panggilannya. "Chef masih mau nyimpen masalah Chef sendiri? Seenggaknya, beban akan sedikit berkurang, kalau kita mau berbagi dengan orang lain." Amaya kembali membujuk Al untuk mau terbuka dengannya. Pria itu membuang napas kasar. Ia pun beranjak duduk dengan kondisi wajah kembali murung. Perlahan Al menatap Amaya. Seperti biasa, ia kembali terpaku ketika gadis itu menyambutnya dengan senyum manis. Amaya merasa ada sentuhan hangat mendarat pada tangannya. Ia mendapati Al tengah menggenggam salah satu tangannya. Al lalu menunduk. Dadanya tiba-tiba sesak saat mengingat kembali siapa wanita dalam album foto yang senantiasa Amaya tanyakan. "Wanita itu ... dia pernah menjadi mamaku." Suara Al terdengar lirih. "Pernah menjadi mamanya Chef? M-maksudnya? Bukankah seorang ibu itu akan tetap menjadi seorang mama bagi anaknya?" Al menggeleng lemah. Ia tak setuju dengan pendapat Amaya kali ini. "Itu menurutmu, May. Tapi faktanya, beliau udah nggak mau jadi ibuku lagi." Amaya semakin tertarik untuk mendengar cerita selanjutnya. "Beliau membuangku, May. Menatap aku dengan jijik, layaknya aku ini adalah sampah di matanya." Kedua mata Al tampak berkaca-kaca. Ia kembali mengingat kenangan pahit tiga tahun silam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN