Part 7 (Tuan Putri)

2385 Kata
"Selamat pagi, Chef," sapa Amaya ramah pada majikan tampannya. Pagi-pagi sekali gadis itu sudah mendarat di apartemen Al. Tentunya ia selalu ingat pesan tuannya semalam--yang harus membuatkan kopi untuk pria itu. "Pagi banget kamu, May? Nggak kerja?" Al menarik kursi kemudian duduk di kursi meja makan. "Hari ini kebetulan aku libur. Kalau libur, aku harus bangun pagi, biar nggak males. Soalnya kalau bangunnya kesiangan dikit, ujung-ujungnya males ngapa-ngapain nantinya." Amaya meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja. Ia pun lalu duduk di depan Al. Meraih dua lembar roti tawar di sana. "Mau pake selai apa?" Di depannya ada beberapa varian selai. "Nutella aja." Amaya pun mengangguk sambil mengulas senyum. Roti tawar itu lalu ia oles dengan selai Nutella pilihan tuannya. Satu tangkap roti isi Nutella baru saja Amaya hidangkan di depan Al. Ia pun mempersilakan tuannya untuk menikmati sarapan. "Dimakan, Chef." Gadis itu lantas berdiri, berniat pergi untuk melakukan pekerjaan yang lain, seketika ia urungkan saat Al tiba-tiba menahannya. "Mau ke mana kamu?" "A-aku mau beresin kamar Chef." "Nanti aja. Sekarang, duduk lagi, temani aku sarapan, nggak boleh nolak." "Hah?" Amaya melongo. Ia lagi-lagi tak bisa berkutik dengan permintaan tuannya kali ini. "Please, sit down again, Sweetie." Amaya memutar bola mata malas. Majikannya yang playboy itu kembali menggombalinya. Apoteker muda itu kembali duduk dengan perasaan canggung luar biasa. Berada di dekat Al setiap hari adalah hal terberat. Amaya tak mau munafik, Al memang pria karismatik, ramah, dan enak diajak ngobrol. Baru dikasih senyum saja, Amaya sudah klepek-klepek tak karuan. Tetapi gadis itu selalu menyangkal jika ia tertarik dengan pria tersebut. Amaya hanya sebatas terpesona saja, tidak lebih. Gadis yang pagi ini mengenakan tunik berwarna peach itu sama sekali tidak paham dengan tingkah Al yang tiba-tiba memotong roti isi Nutella itu menjadi dua--menaruh satu potong roti tersebut di atas piring, dan menyajikan piring itu di depannya. "Ini maksudnya apa?" "Aku, kan, minta kamu temani aku makan. Masa, iya, aku makan sendiri?" "T-terus?" "Makan rotinya.” “T-tapi, Chef—“ “Makan, atau kamu yang akan aku makan, hem?" Amaya tak bisa mengelak lagi. Kali ini ia harus menurut pada tuannya. Al memerhatikan dengan intens ketika Amaya mulai menyantap roti itu. Fokusnya justru pada bibir gadis itu yang tengah bergerak-gerak mengunyah. Sialnya, Al merasa tidak beres pada sesuatu yang berada di dalam celana jeans-nya. 'Ck, sial! Kenapa bibirmu begitu menggoda, Amaya?!' Lelaki itu mengumpat dalam hati saat ia merasa miliknya yang sedari tadi anteng di dalam celana, kini tiba-tiba saja mengeras dan membuat Al tersiksa. Bayang-bayang kenikmatan ketika bibir mungil Amaya tengah menciumi miliknya kini benar mengganggu pikiran saja. Al memilih mengalihkan pandangan. Menghindari kontak mata dengan Amaya demi mengontrol nafsunya yang tengah bergejolak. "Ekhem, May. Hari ini kamu ada acara?" Al akhirnya membuka obrolan demi mengobati rasa canggungnya saat berdekatan dengan Amaya. Gadis itu menggeleng lemah. "Mau ikut aku aku ke resto, nggak?" "Ikut ke resto?" "Iya. Aku pengen seharian ini habisin waktu sama kamu, May." Jawaban Al sontak membuat Amaya gagal menggigit rotinya. "Apa kerjaan ART harus begitu, ya?" Gadis itu merasa keberatan dengan ajakan Al. "Kalau jadi ART-ku, kamu memang wajib nurutin apa pun perintahku, May." "Apa pun? Apa pun dalam ha--" "Dalam hal nyenengin aku. Udah, jangan kebanyakan protes. Pokoknya hari ini kamu harus ikut aku ke resto." Nada bicara Al terdengar memaksa. Sementara Amaya hanya mengangguk pasrah, tanpa ada mood lagi untuk berdebat dengannya. *** Restoran pada siang ini lagi-lagi ramai pengunjung. Hampir tiga tahun, 'The Food' berdiri, dan tahun ini mungkin sedang jaya-jayanya. Pengunjung silih berdatangan, terlebih ketika weekend. 'The Food Resto' adalah sebuah usaha kuliner yang Al bangun saat sedang patah arah. Dulunya, sebelum memilih membuka resto, Al sempat tinggal di Jepang selama beberapa tahun untuk urusan studi-nya. Ketika pulang ke tanah air, kehidupan indahnya mendadak berubah karena ulah sang ibu. Alya, nyatanya sudah bercerai dari Hanafi, dan telah menikah lagi dengan pria lain tanpa sepengetahuan Al. Tak sampai di situ, saat pertemuan terakhir mereka, Alya tiba-tiba berubah pada Al. Wanita itu tak mau mengakui Al sebagai anaknya lagi. Hanya karena waktu itu Hanafi tengah lumpuh, Alya tergoda dengan pesona pria lain, kemudian memutuskan bercerai, Alya pun sampai tega membuang Al yang sampai kapan pun akan tetap menjadi darah dagingnya. Sejatinya, cinta pertama seorang anak adalah pada ibunya. Namun, ketika seorang ibu tega menggoreskan luka pahit pada hati sang anak, jangan salahkan dunia, jika sang anak lantas akan membencinya setengah mati. Di sinilah Al, seorang pria yang tiga tahun terakhir ini memutuskan untuk hidup sendiri, mandiri, tak mau sedikit pun berurusan lagi dengan kedua orangtuanya. Al marah, murka, dan benci pada Alya. Sedangkan pada Hanafi, ia hanya sebatas kecewa atas sikap pengecut pria itu--yang hanya diam dan membiarkan Alya pergi. Tanpa Al tahu, Hanafi bukannya diam. Hanafi merasa kala itu sudah tidak pantas lagi bersanding dengan Alya, karena kondisi lumpuh yang dialaminya. Luka itu yang membuat Al melangkah sejauh ini. Menjadi pribadi yang mandiri. Waktu dan tenaga ia pertaruhkan untuk usaha restonya. Lalu, di sisi lain, ia pun meluangkan waktu untuk mengencani dan menyakiti para wanita. Tentunya, untuk melampiaskan dendam atas sakit hatinya pada Alya. "Waw. Dapurnya gede banget." Amaya menatap takjub betapa luasnya dapur utama di ‘The Food Resto'. Restoran ini memiliki tiga dapur. Dapur utama untuk mengolah makanan. Di sebelahnya ada dapur khusus untuk membuat minuman, jus, dan semacamnya. Dan satunya lagi, di bagian belakang ada dapur yang khusus untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Di dapur utama ada beberapa chef yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Al baru saja memakai apron (celemek) dan hat cook yang justru makin menambah sisi ketampanannya saja. Chef di 'The Food' kebetulan laki-laki semua. Amaya senantiasa mengikuti Al yang kini tengah mempersiapkan sawi untuk dipotong-potong. Di dapur ini terdapat meja yang panjang sebagai tempat untuk memotong-motong bahan masakan. Amaya mulai mengedarkan pandangan. Ada beberapa chef yang tengah memerhatikannya. Kemudian melempar senyum ramah pada Amaya saat pandangan mereka bertemu. "Idih, di sini chef-nya pada ganteng-ganteng semua, murah senyum lagi," gumam Amaya, tetapi Al masih dapat mendengarnya. "Jangan genit, May. Chef yang paling ganteng di sini cuma aku. Catet, ya, Chef Al, the most handsome chef at The Food." Amaya lagi-lagi ingin muntah saja, karena tingkat kenarsisan Al sudah sangat melebihi batas. 'Gue pengen gumoh beneran ini,' batin Amaya yang tiba-tiba merasa mual. Memiliki majikan yang super narsis terkadang membuat perut Amaya mual tak karuan. "Aku boleh bantuin nggak?" Amaya menawarkan diri. Lelaki itu langsung menatapnya. "Cukup bantuin ngelapin keringatku aja nanti, oke?" Al menjawab dengan jurus gombalnya. "Ogah mah kalau itu!" tolak Amaya mentah-mentah. Sedangkan Al hanya geleng-geleng kepala. "Kamu bisa tunggu di ruang kerjaku, May. Takut kamu bosen di sini." "Ruang kerjanya di mana?" Amaya sama sekali tidak tahu di mana ruang kerja Al berada. Chef muda itu menengok kanan dan kiri. Ia mencari salah satu karyawannya. "Abeng!" teriak Al memanggil seorang pelayan pria yang baru saja mendarat di dapur utama. "Siap, Chef!" Abeng berlari kecil menghampiri bosnya. Pelayan itu tersenyum canggung pada Amaya. Abeng adalah seorang pelayan yang kemarin sempat ribut-ribut dengan Amaya karena gadis itu tidak bisa membayar makanan. Sekarang Abeng merasa tak enak hati. Rupanya Amaya adalah teman dekat bosnya. "Tolong anterin Tuan Putri ke ruangan saya. Sekalian, bikinin dia minum, ya." Amaya lantas melongo saat Al menyebutnya Tuan Putri. Ia memberi isyarat lewat tatapan agar pria itu mau menjelaskan soal ucapan tadi, tetapi Al kembali fokus dengan bahan-bahan masakan di atas meja. "C-Chef, m-maksudnya tad--" "Udah sana tunggu di ruanganku. Jangan kebanyakan tanya." Al seolah-olah tidak memberi kesempatan pada Amaya untuk bertanya. Gadis itu pun beralih menatap Abeng dengan bingung. "Mari Tuan Putri, saya antar ke ruangannya Chef Al." Abeng pun sepertinya sudah kongkalikong dengan Al. Pelayan itu lalu mengajak Amaya meninggalkan area dapur. Mereka menuju ruang kerja Al yang berada di lantai atas. Restoran ini memiliki dua lantai. Abeng meraih kunci dari saku celana saat ia sampai di depan ruangan bos-nya. Amaya memerhatikan sekeliling. Di lantai atas ini terdapat beberapa ruangan selain ruang kerja Al. Ruangan lainnya itu adalah gudang untuk menyimpan bahan-bahan kering yang nantinya akan digunakan untuk keperluan resto. "Mari Tuan Putri, silakan masuk." Abeng mempersilakan Amaya masuk setelah pintu baru saja ia buka. Amaya tampak takjub dengan isi ruang kerja Al yang lumayan cukup luas. Ruangan bernuansa krem itu difasilitasi dengan kursi kebesaran untuk bos, meja kerja berbentuk persegi panjang yang di atasnya lengkap dengan laptop, bingkai-bingkai foto, serta berkas-berkas penting yang jelas tertata rapi di sana. Ada pun dua kursi yang terletak di seberang meja. Kursi ini biasa diduduki oleh karyawan saat tengah menghadap bos-nya. Tak hanya itu, sofa empuk berwarna hitam juga tersedia di sana. Di depan sofa sudah tersedia televisi yang diapit oleh lemari pendingin dan juga rak buku. Ruangan ini juga sudah sepaket dengan toilet. Pun terdapat lukisan-lukisan alam yang indah terpajang rapi di dinding bercat krem itu. "Ekhem. Ngomong-ngomong, Tuan Putri, apakah tidak haus? Mau saya buatkan minuman, Tuan Putri?" Abeng tanpa sengaja menggugah lamunan Amaya yang tengah menatap kagum seisi ruangan ini. "Eh, eum, tunggu-tunggu. Aku dari tadi bingung, deh. Kenapa kalian pada manggil aku Tuan Putri, sih? Nggak salah?" Amaya kembali mempertanyakan hal yang sedari tadi membuatnya penasaran. "Tidak salah, kok, Tuan Putri. Justru saya yang salah. Kapan lalu, saya sempat marah-marah dan memaki-maki Tuan Putri. Saya sangat menyesal. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak tahu kalau Tuan Putri ini calon istri Chef Al." "Hah?! A-aku calon istri Chef Al?!" Amaya kaget setengah mati. "Iya, Tuan Putri. Waktu itu, saat Chef Al merayakan ulang tahunnya di sini, kami sempat meledek, kira-kira kapan Chef Al akan menikah. Dan Chef Al bilang, 'nanti kalau ada gadis yang saya bawa ke resto dan saya panggil Tuan Putri, itu yang akan saya nikahi', begitu." Amaya sama sekali tidak percaya dengan ucapan Abeng. Apakah Al benar pernah berkata seperti itu sebelumnya? Kenapa seolah-olah penghuni resto tidak ada yang tahu kalau pria itu sering main perempuan? "Memangnya, Chef Al belum pernah bawa pacarnya ke sini?" Amaya mengorek informasi tentang pria itu dari karyawannya. "Setahu saya, Chef Al itu tidak punya pacar. Memang banyak gadis di luar sana yang mengejar-ngejar, tapi sejauh ini, Tuan Putri adalah gadis pertama yang Chef Al bawa ke sini." Amaya menyimpulkan kalau karyawan di resto memang tidak ada yang tahu siapa Al sebenarnya. 'Bagus juga mainnya tuh cowok. Di resto kelihatan kayak cowok baik-baik, tapi di luar, kerjaannya nidurin anak orang.' Amaya justru makin muak saja dengan pribadi Al--yang pandai menyembunyikan bangkai busuk dari jangkauan orang-orang sekitar. "Tuan Putri mau minum apa? Biar saya buatkan." "Eum, apa, ya? Jus alpukat aja, deh." Amaya menjawab dengan riang. "Baik, Tuan Putri. Akan saya buatkan. Silakan, Tuan Putri duduk dulu." Abeng undur diri dari hadapan Amaya. Sementara gadis itu masih senantiasa berdiri. Tatapannya tertuju pada kursi hitam empuk yang menjadi kursi kebesaran si Chef. Ia menuju kursi itu kemudian duduk di sana. "Hem, jadi bos ternyata enak, ya? Dihormati seluruh karyawan. Punya ruangan bagus dan serba komplit begini." Amaya memilih duduk bersandar. Ia mengamati satu per satu bingkai foto yang tertata rapi di atas meja. Kebanyakan foto Al dari zaman SMA sampai sekarang. Tetap saja, lelaki itu memang sudah tampan dari kecil. Maka tak heran, jika banyak kaum hawa di luar sana yang rela antre demi bisa berkencan Al. Perhatian Amaya terbagi pada album foto yang terletak di sebelah kiri laptop. Ia perlahan meraih album foto tersebut. Ada rasa ingin membukanya. Amaya sekilas melihat pintu. Jaga-jaga kalau tiba-tiba Al masuk. "Pengen liat sebentar doang, ya, Chef." Amaya berbicara sendiri seolah-olah tengah meminta izin pada Al. Perlahan album foto itu Amaya buka. Melihat satu per satu foto keluarga Al. Amaya tersenyum geli mendapati foto-foto majikannya sewaktu kecil. Di situ Al tampak gendut dan menggemaskan. "Nggak nyangka banget, ternyata si Boyo dulu persis kayak Bombom. Sekarang kok bisa six pack gitu badannya, ya?" Amaya memerhatikan foto Al sewaktu kecil dengan seorang wanita. Al tengah duduk di pangkuan wanita tersebut. Keduanya tampak tengah tertawa. Di situ terlihat jelas, chef tampan itu benar-benar sangat bahagia. 'Al berubah karena mamanya. Mamanya sudah tidak mau mengakui Al sebagai anak lagi.' Amaya teringat dengan ucapan Hanafi kapan lalu. Ia mengusap foto tersebut. Seketika rasa nyeri pada dadanya terasa. Apa bedanya ia dengan Al? Amaya juga pernah diperlukan sedemikian rupa oleh ayahnya. "May." Al membuka pintu sambil membawa segelas jus alpukat untuk Amaya. Gadis itu segera meletakkan album foto tersebut di tempat semula. Ia segera berdiri, rasa-rasanya agak sungkan karena ia sudah lancang duduk di kursi kerja Al. "I-iya, Chef?!" Al mengulas senyum simpul. Ia lalu meletakkan gelas jus di atas meja kerjanya. "Ngapain berdiri, May? Duduk lagi aja. Santai aja lagi, May. Aku nggak pernah melarang kamu duduk di situ, kok." Amaya garuk-garuk kepala. Ia lagi-lagi dibuat grogi dengan sikap ramah Al. "I-iya, Chef." Dengan malu-malu, gadis itu pun duduk kembali. "Itu jus pesanan kamu, kan? Diminum, gih." Al memutuskan duduk di sofa--tanpa sekali pun ada rasa curiga dengan gelagat Amaya yang terlihat gugup. Gadis itu perlahan meraih gelas jusnya. Sesekali melirik Al di depan sana, Amaya mulai menikmati jus alpukat kesukaannya. Al memilih duduk bersandar. Lalu membuka dua kancing kemejanya paling atas. Ia pun mulai mengutak-atik ponsel yang baru saja mendarat di tangan. "Chef." "Hem?" Al melirik sekilas gadis yang kini tengah asyik menikmati segelas jus. "Aku boleh nanya?" Al mengangguk sambil terus fokus dengan ponselnya. Jus alpukat itu tinggal separuh. Ia meletakkan gelas jus itu kembali di atas meja. Amaya memutuskan menghampiri Al sambil membawa album foto keluarga milik majikannya. "Ini Chef sama ibunya Chef, kan?" Amaya memperlihatkan foto Al kecil yang tengah dipangku oleh seorang wanita. Lelaki yang memiliki lesung pipi di pipi sebelah kanan itu lantas meletakkan ponselnya. Ia menatap datar foto dirinya sewaktu berumur delapan tahun—yang tengah duduk di atas pangkuan sang mama (Alya). "Chef?!" Amaya sangat kaget saat Al tiba-tiba merebut album foto tersebut dan langsung melemparnya dengan kasar. Lelaki itu lantas berdiri. Senyum ramah yang senantiasa Al sunggingkan pada Amaya kini sudah tidak ada lagi. Amaya seketika takut ketika Al menatapnya dengan marah. "Jangan pernah kamu perlihatkan gambar wanita k*****t itu di depanku, May! Aku benci!" bentaknya. *********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN