"Ayo masuk, May," ajak Al setelah ia membuka pintu apartemen.
Dengan ragu, gadis bertubuh ramping itu menuruti kemauan Al. Perlahan melangkah memasuki apartemen milik Al. Ia tak sadar kalau sedari tadi lelaki itu tengah memerhatikan lekuk tubuhnya dari belakang.
'Lumayan juga body-nya,' batin pria itu sambil membayangkan kalau saat ini dirinya tengah menjamah setiap inci tubuh Amaya.
Apoteker muda itu mengedarkan pandangan. Apartemen milik Al ini termasuk apartemen tipe studio. Apartemen seluas 36 m² ini memiliki 6 ruangan, yaitu satu kamar tidur milik Al sekaligus dengan kamar mandinya, dapur mini, sebelah dapur ada kamar mandi untuk tamu, ruang makan, dan di bagian depan ada ruang tamu minimalis.
Termasuk tipe apartemen yang minimalis, tetapi uniknya apartemen ini memiliki desain furnitur yang multifungsi. Salah satunya, di kamar Al terdapat lemari pakaian yang terbuat dari kayu. Lemari tersebut bisa difungsikan sebagai dinding sekaligus tempat penyimpanan buku dan tentunya pakaian.
"Duduk, May." Al mempersilakan Amaya duduk di sofa empuk ruang tamu.
Dua insan itu kini tengah duduk saling berhadapan. Al mulai melepas kedua sepatunya.
"Ini apartemenku. Di sini, aku tinggal sendiri. Tugas kamu cuma bersih-bersih sama nyuci bajuku aja, May. Kalau makan, aku biasa makan di resto. Paling, kalau pagi, cukup bikinin kopi sama roti aja buat aku." Al mulai menjelaskan pekerjaan yang harus Amaya kerjakan di sana.
Amaya mendengarkan penuturan Al dengan saksama. Tetapi terkadang ia merasa risih. Sedari tadi pria itu tak lepas menatapnya.
"Kamu udah punya pekerjaan tetap sebelumnya?"
"Ah, eum, aku punya kerjaan tetap jadi apoteker di sebuah rumah sakit. Jadi, kalau kerja part time di sini, boleh, kan? Kalau pas masuk pagi, nanti siangnya, aku ke sini. Begitu pun sebaliknya, kalau aku masuk siang, paginya aku ke sini dulu."
"No problem, May. Senyamannya kamu aja. Lagian, kerja di sini nggak bakal nyita waktu, kok. Kalau udah kelar, ya, kamu boleh pulang."
Amaya kembali memamerkan senyum palsunya pada Al, sebagai tanda gadis itu sangat berterima kasih dengan kebijakan yang Al berikan padanya.
"Btw, kamu kerja di rumah sakit mana? Aku perhatikan, aku kayak pernah ketemu kamu di salah satu rumah sakit, kalau nggak salah."
'Mampus!' Amaya mengumpat dalam hati. Ia panik, jangan sampai Al tahu kalau dirinya bekerja di rumah sakit ayah Al. Dan, mencurigai kalau Amaya tiba-tiba datang karena suruhan Hanafi.
"Eum, di rumah saki--"
"Nah, aku ingat. Siang itu, kalau nggak salah, aku lagi mengunjungi Papaku di rumah sakit. Dan aku nggak sengaja nabrak seorang cewek pake seragam medis. Aku ingat-ingat lagi, ceweknya itu kamu, ya?" Al kembali teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Amaya.
"Eum, a-aku lupa-lupa ingat. Mungkin iya, mungkin juga nggak, hehe." Amaya nyengir kuda. Bingung setengah mati harus mengelabui pria yang teliti seperti Al.
"Kamu kerja di rumah sakit Jogja Healthy Hospital, kan? Kebetulan, Papa aku jadi direktur di sana. Namanya Pak Hanafi." Rupanya Al masih menganggap Hanafi sebagai ayahnya. Meski hubungan mereka tengah renggang.
"Oh, i-iya, bener. Aku kerja di sana, hehe." Amaya memilih garuk-garuk kepala. Ketahuan juga akhirnya.
"Nah, aku jadi ingat, waktu itu kamu tiba-tiba marah ke aku, pakai acara nangis, lagi. Kamu lagi kenapa, tuh?" Al kembali mengingatkan Amaya pada seseorang. Seseorang yang sudah membuat Amaya hari itu patah hati kemudian menangis.
"Nggak kenapa-kenapa. Lagi ada masalah aja. Aku minta maaf, kalau waktu itu aku marahin kamu. Nggak sengaja itu."
"Nggak apa-apa kali, May. Santai aja. Hari ini, kamu bisa langsung kerja. Nanti tolong cuciin bajuku, ya. Aku mau mandi dulu." Al membuka dua kancing kemejanya paling atas tepat di hadapan Amaya. Hal ini justru membuat apoteker muda itu makin canggung saja.
"Oke, Chef. Aku ikut-ikutan manggil Chef kayak yang lain, nggak apa-apa, dong?" tanya Amaya.
“Nggak apa-apa, May. Senyamannya kamu aja,” jawab Al yang masih senantiasa menatap Amaya tanpa bosan.
***
Pukul delapan malam, Amaya masih berada di apartemen Al. Ia sudah mulai bekerja hari ini. Gadis itu niatnya akan mencuci pakaian tuannya. Ia pun menuju kamar tidur Al untuk mengambil baju kotor di sana.
"Chef Al," panggil Amaya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar berwarna cokelat pekat itu.
"Chef, aku mau ambil baju kotor. Boleh masuk nggak?"
Tok ... tok ... tok ...
Tak ada jawaban dari Al. Amaya lantas menekan gagang pintu kamar pria itu, ternyata tidak dikunci.
"Chef, aku masuk, ya?" Amaya perlahan masuk. Ia mendengar suara percikan air dari arah kamar mandi.
"Oh, mandinya belum kelar dari tadi."
Saat memasuki kamar milik chef muda itu, Amaya hanya geleng-geleng kepala ketika mendapati kondisi kamar tersebut. Berantakan. Bantal serta selimut pun berserakan di lantai.
"Mentang-mentang cowok, kamar mirip kapal pecah gini."
Apoteker muda itu mulai membereskan kamar tuannya. Saat tengah menebahi kasur, ia tak sengaja menemukan dua benda aneh di atas ranjang.
"Ini, kan ...."
Amaya menemukan c*****************a beserta bra di tempat tidur majikannya.
'Al itu sering membawa wanita ke apartemennya.'
Ia lagi-lagi teringat dengan ucapan Hanafi soal kehidupan Al. Gadis itu langsung beranggapan kalau dua barang itu adalah milik wanita yang menjadi teman tidur Al.
"Idih. Gue lama-lama ilfeel juga sama tuh cowok." Amaya melempar sembarang dua benda itu ke dalam keranjang pakaian kotor. Ia tak sengaja menoleh ke sebelah kiri. Kedua matanya langsung terpaku. Rupanya Al sudah selesai mandi. Detik ini juga lelaki itu tengah melangkah menuju Amaya hanya dengan memakai handuk saja.
"Kamu lagi ngapain, May?" tanya Al santai. Ia membuka lemari pakaian dan mengambil kaus rumahan serta celana pendek.
"Eh, eh, eh! Chef mau apa?!" Amaya mendadak panik saat Al berniat melepas handuknya.
"Ya, mau pakai bajulah. Memangnya mau apalagi?"
"Duh, jelas-jelas di sini ada orang. Main sembarangan mau pake baju di sini. Nanti kalau nganu-nya keliatan, gimana?"
Al menatap Amaya yang detik ini tengah memasang wajah canggung. Lelaki itu perlahan melangkah mendekati asisten rumah tangganya. Amaya refleks mundur.
"No. Chef mau ngapain? Jangan macem-macem, ya?!" Amaya lantas mengepalkan kedua tangan. Kalau chef muda itu berani berbuat macam-macam, ia sudah siap memberi bogem mentah.
"Ini, kan, kamarku, May. Jadi, aku mau pake baju di sini, itu hak aku, dong."
"Iya, aku tau. Udah, ah, aku mau keluar dulu." Amaya menjadi salah tingkah. Ia melenggang pergi keluar dari kamar Al sambil membawa keranjang pakaian kotor.
"May," panggil Al saat Amaya baru saja membuka pintu.
"Apalagi?"
"Tolong bikinin aku kopi, ya. Jangan manis-manis tapi. Yang manis, cukup aku aja."
Gadis itu memutar bola mata malas. Mendengar lelaki itu yang dengan seenak jidat memuji diri sendiri, sontak membuat Amaya ingin muntah detik ini juga.
'Gayanya si Boyo sok kecakepan. Rasa-rasanya pengen gumoh gue.' Amaya membatin sambil memasang wajah sebal pada Al.
"Nggih, Chef Boyo. Perintah akan segera saya laksanakan." Ia menutup pintu kamar Al rapat-rapat. Melangkah menuju dapur. Memasukkan baju-baju kotor milik majikannya ke dalam mesin cuci.
Sambil menunggu cucian selesai, gadis penyuka tontonan sepakbola itu bergegas membuatkan kopi pesanan Al. Saat tengah asyik mengaduk kopi sambil bersenandung kecil, tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu.
"Iya, sebentar!"
Ting ... tong ...
Suara bel kembali terdengar. Amaya makin bete saja.
"Tamu, tapi nggak sabaran. Gue siram pake air kopi, tau rasa lo!" Gadis itu meletakkan secangkir kopi milik Al di atas meja makan. Ia bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
Amaya mendapati seorang wanita cantik nan seksi tepat di depan pintu apartemen Al. Sudah dipastikan, wanita itu adalah salah satu teman tidur tuannya.
"Mba siapa? Ngapain malam-malam datang ke apartemen orang pake baju kurang bahan begitu? Mau minta sumbangan?"
Wanita bernama Maurin itu jelas sangat tidak terima dengan ucapan Amaya yang terdengar songong dan tidak tahu sopan santun.
"Kamu emang siapa, berani ngomong lancang sama aku?! Kamu ngapain di apartemennya Al?!" Bukannya menjawab, Maurin malah ngegas.
"Siapa, May?!" teriak Al dari dalam apartemen.
Maurin yang mendengar suara lelaki itu, langsung bergegas masuk dan sedikit mendorong tubuh Amaya yang sedari tadi menghalangi jalannya.
"Minggir!" ketus Maurin, kemudian melangkah memasuki ruang tamu.
"Idih, nenek lampir, lo!" maki Amaya tak mau kalah.
Maurin mendapati Al yang baru saja mendarat di ruang tamu dengan keadaan tengah menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Al ...." Wanita berambut panjang itu langsung memeluk Al.
"Kamu ke sini nggak ngabarin aku dulu?" tanya Al setelah Maurin melepaskan pelukannya.
"Aku udah keburu kangen sama kamu," jawab wanita yang malam ini mengenakan baju model off-shoulder berwarna putih itu—dipadukan dengan rok mini hitam yang makin mengekspos paha mulusnya.
Mendengar jawaban manja dari mulut mungil Maurin, lantas membuat Al membelai salah satu pipi wanita itu. Maurin adalah wanita yang baru tiga bulan ini Al kencani. Sekali lagi, mereka tidak terikat hubungan pacaran atau apa pun. Maurin yang dengan rela mau menjadi teman tidur Al. Karena sejak pertemuan pertama, ia sudah jatuh hati pada chef tampan itu.
Serasa dunia milik berdua, mereka hanyut dalam tatapan. Al sedikit membungkuk dan mendekatkan wajah. Seketika, bibir mereka menyatu dalam ciuman penuh gairah.
Mereka tak sadar kalau di sana masih ada Amaya. Gadis itu ingin sekali menonjok pasangan m***m yang tidak tahu malu itu.
"Ekhem, ekhem. Helo, epribadeh. Please, ya, aku di sini bukan kambing congek, apalagi obat nyamuk. Kalau mau m***m, di kamar aja sono!" Amaya terang-terangan tidak terima mereka memamerkan kemesraan di hadapan jomblowati sepertinya.
Al dan Maurin jelas kaget dan langsung menyudahi ciuman mereka. Lelaki itu menatap Amaya dengan saksama. Ada rasa senang pada diri Al saat melihat wajah masam Amaya. Ia beranggapan kalau gadis itu sudah mulai tertariknya padanya. Wajah cemberut itu mungkin menandakan Amaya tengah cemburu.
"Kopiku mana, May? Bawa sini, dong." Al baru saja duduk di sofa ruang tamu. Tentunya ada Maurin yang senantiasa bergelayut manja pada lengannya.
Amaya kemudian mengambil secangkir kopi yang tadi ia letakkan di meja makan, kini ia pindahkan ke meja ruang tamu--tepat di depan Al. Gadis itu ikut duduk di sofa satunya lagi. Menyalakan televisi--bersikap cuek dengan tatapan tidak suka yang sedari tadi Maurin berikan padanya.
"Cewek ini siapa, Al?" Maurin mulai memasang wajah cemburu.
"Oh, ini Amaya. Asisten rumah tanggaku."
"Loh, kamu punya ART, sekarang? Kok nggak bilang-bilang ke aku dulu?" Maurin mulai protes.
"Masa iya, mau punya ART harus minta izin dulu? Biar apartemenku selalu rapi kalau ada ART, Rin."
Maurin tampaknya tidak begitu setuju dengan sikap Al yang tiba-tiba memperkerjakan seorang ART di sini. Apalagi asisten rumah tangganya itu masih muda. Meskipun body Amaya terlihat seperti triplek, sangat-sangat jauh berbeda dengan kemolekan tubuh yang dimiliki oleh Maurin, tapi wanita itu tetap khawatir saja kalau nantinya Al akan tergoda dengan Amaya.
"Kamu kenapa duduk di sini terus, sih?! Babu itu kerjanya di belakang. Ngapain enak-enakan duduk di sini?!" Maurin makin risih saja karena Amaya masih betah duduk di sofa satunya. Ia jadi tidak leluasa bermesraan dengan Al.
Sedangkan Al tengah sibuk dengan ponsel di tangan. Sesekali pria itu melirik ke arah Amaya. Ia justru lebih tertarik mengamati wajah imut Amaya secara diam-diam.
"Eh, babu, dengerin aku ngomong, kan?!" Maurin makin kesal saja karena Amaya terkesan cuek. Gadis itu malah lebih fokus ke acara televisi.
"Iya, aku denger. Aku nggak tuli," jawab Amaya malas.
"Kamu kenapa enak-enakan duduk di sini? Kerja sana!"
"Aku itu tinggal nunggu cucian kelar. Daripada bengong, ya, aku duduk di sini sambil nonton, dong. Lagian, Chef Al juga nggak keberatan kalau aku duduk di sini. Iya, kan, Chef?" Amaya menantikan Al membelanya di depan Maurin.
Lelaki itu seketika menatap Amaya. Seperti biasa, Al senantiasa tersenyum manis saat pandangan mereka bertemu.
"Kalau mau duduk, ya, duduk aja, May. Bebaslah di sini. Anggap aja rumah sendiri." Jawaban santai yang terlontar dari mulut Al sontak membuat Maurin mati gaya. Sedangkan Amaya tengah berseru senang dalam hati. Ia berhasil membuat Al takluk kali ini.
"Ya, udah, sana. Kamu bikinin aku minum. Aku haus." Maurin berlagak sok ratu di sini. Amaya pun mau tak mau harus menurutinya.
Gadis itu bergegas menuju dapur untuk membuatkan Maurin orange juice. Sesekali ia mengintip ke arah ruang tamu. Ia kembali melihat Al dan Maurin tengah berciuman. Rasa-rasanya Amaya ingin melempar gelas jus itu ke wajah Maurin.
"Haduh ... pengen gumoh aku. Pengen gumoh!" Suaranya terdengar lumayan keras. Membuat Al kembali menyudahi ciumannya dengan Maurin.
Amaya membawa segelas orange juice ke ruang tamu. Ia berniat meletakkan gelas tersebut di atas meja. Tapi, ide jahil tiba-tiba datang. Amaya dengan sengaja menumpahkan jus itu ke baju Maurin. Seketika Maurin murka padanya.
"Aw! Nyebelin banget, sih, jadi babu?! Bawa minuman aja nggak becus! Ini bajuku jadi kotor ...!" Maurin nyaris menangis karena sudah dipermalukan oleh Amaya.
"Duh, maaf, Mba. Maaf. Nggak sengaja tadi aku tuh." Amaya memasang wajah pura-pura bersalah. Padahal dalam hati ia tengah menertawakan Maurin. 'Kawus. Sukurin. Mudah-mudahan malam ini kalian nggak jadi na-ena.'
"Al ... ini gimana?" rengek Maurin.
Sementara Al terlihat masih sibuk dengan ponselnya.
"Kamu pulang aja, Rin. Ganti baju terus tidur. Kebetulan, malam ini aku lagi nggak mood sama kamu."
Maurin nyaris tak percaya dengan ucapan Al yang seolah-olah sudah menolak kedatangannya. Ia melirik sinis ke arah Amaya. Gadis itu tengah mengulum bibir menahan tawa.
"Ih ... kalian berdua bener-bener nyebelin!" maki Maurin kemudian meraih tasnya, dan melenggang pergi meninggalkan apartemen dengan kesal.
Setelah Maurin berlalu, Amaya lalu membersihkan bekas jus yang tumpah tadi sambil sesekali tertawa--menertawakan keapesan Maurin. Al yang melihatnya pun hanya geleng-geleng kepala. Pria itu sudah paham kalau Amaya memang sengaja melakukannya.
"Bahagia bener kamu, May?"
"Ya, lagian. Dia dateng-dateng langsung jutekin aku. Ya, aku kerjain aja sekalian." Amaya kembali tertawa. Dan hal ini membuat Al semakin tertarik padanya.
Pekerjaan Amaya sudah selesai. Baju Al yang tadi ia cuci pun sudah ia jemur. Amaya berniat akan pulang karena waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih.
"Chef Al, aku izin pulang, ya. Kerjaanku udah kelar." Amaya menemui Al di ruang tamu yang kini tengah sibuk dengan laptop di meja.
"Ya, sampai ketemu besok, May. Makasih, ya, buat hari ini." Al masih senantiasa menatap layar laptop.
"Iya, Chef. Sama-sama. Permisi." Amaya mulai berbalik badan.
"May," panggil Al saat Amaya akan membuka pintu apartemen.
Amaya membalikkan tubuhnya kembali. Ia langsung mendapati Al yang kini sudah berdiri di depannya.
"Iya, Chef?" Amaya tak bisa berkutik ketika lelaki tampan itu kini bergerak makin mendekat.
Al mengusap helaian rambut lurus Amaya. Ia seketika merasa damai dan tenang. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dengan wanita lain.
"Besok pagi jangan lupa buatin aku kopi, ya. Besok kopinya yang manis, semanis kamu," bisik Al tepat di telinga Amaya.
Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata, tak percaya. Rupanya Al adalah seorang playboy yang sudah mahir. Baru dibisikkan kalimat begitu saja, sukses membuat lututnya terasa lemas.
Al lalu membuka pintu. Ia menatap hangat seorang gadis yang detik ini tengah mematung di depannya.
"Jadi pulang nggak, May? Nanti kemalaman. Maaf, aku nggak bisa antar kamu pulang. Aku banyak kerjaan malam ini."
Amaya menjawab dengan anggukan kecil. Dua detik kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia mendadak kehilangan kontrol dengan situasi ini.
'Waduh, Amaya. Bangun, May, bangun. Jangan mudah terlena dengan rayuannya si Boyo. Nanti kamunya yang akan hancur, May.' Dewi batinnya mulai berontak. Amaya perlahan sadar dari kelengahannya. Ia pun menghampiri Al yang kini tengah berdiri di dekat pintu.
"Aku pulang dulu, Chef. Babay." Gadis itu berlari kecil meninggalkan apartemen majikannya.
Sedangkan Al masih senantiasa menatap punggung gadis itu yang makin ke sini makin tak terlihat. Al kembali mengurai senyum kecut. Rasa-rasanya ia sudah tidak sabar untuk membuat Amaya tak berdaya dalam kungkungannya.
"Gadis yang unik. Kamu harus aku dapatkan, Amaya."