"Semangat, hari pertama deketin si Boyo. Harus sukses." Amaya menyemangati dirinya sendiri setelah turun dari taksi. Ia tengah berdiri tepat di depan resto 'The Food'. Restoran ini milik Al--seorang pria yang baru saja ia beri julukan si Boyo. Dan ia niatnya akan menemui pria itu.
Akan tetapi, Amaya masih bingung dan belum menemukan cara bagaimana mendekati pria itu. Jelas tidak mungkin jika Amaya tahu-tahu masuk dan langsung minta kenalan dengan Al. Ia merasa makin pening saja memikirkan hal ini.
Sambil berjalan sambil berpikir, Amaya memutuskan untuk memasuki gedung restoran tersebut. Suasana di dalam resto lumayan padat pengunjung. Amaya berjalan sembari tengak-tengok seperti orang bingung. Pada dasarnya ia memang bingung. Amaya tengah mencari keberadaan Al--si empunya resto.
"Duh, si Boyo, kok, nggak kelihatan batang idungnya, ya? Apa karena Boyo itu bos di sini, jadi nggak keliatan?"
Daripada makin pusing, Amaya memutuskan untuk duduk. Meja nomor 16 kebetulan kosong. Amaya menaruh tas slig bag-nya di atas meja kayu jati itu. Kedua matanya jelalatan mencari keberadaan Al.
"Boyo, Boyo, huft. Gara-gara elo, hidup gue jadi susah."
"Selamat siang, Mba." Seorang pelayan pria menyapa Amaya ramah.
Gadis itu membalas menyapa ramah dengan memamerkan senyum manisnya.
"Mba mau pesan apa? Silakan dibuka buku menunya, Mba." Pelayan itu memberi tahu Amaya untuk mengambil buku menu yang sudah tertata rapi di atas meja.
Mau tidak mau Amaya pun mengambil buku menu tersebut. Membukanya kemudian memilih menu yang akan ia pesan.
Gadis itu merasa pusing saja membaca nama-nama menu aneh yang tertulis di sana. Ia lantas menutup buku menu tersebut.
"Bagaimana, Mba?"
"Eum ... saya mau pesan menu spesial di sini, Mas. Apa aja, deh. Pokoknya menu yang paling enak di sini."
"Baik, Mba. Menu andalan di sini, ada beberapa macam. Mba mau pesan semuanya?"
Amaya kembali berpikir. Sepertinya jika memesan beberapa menu itu akan menyenangkan.
"Eum ... boleh."
"Minumnya, Mba?"
"Minumnya yang seger dan yang enak, Mas. Pokoknya saya pesan yang enak-enak."
"Baik, Mba. Akan segera kami siapkan." Pelayan tersebut undur diri dari hadapan Amaya.
Sambil menunggu pesanan datang, Amaya gunakan waktu untuk membuka pesan chat-nya yang baru saja masuk. Ia lagi-lagi dibuat kesal dengan beberapa pesan dari Vira.
Mak Lampir
[May, kamu pulang kerja kok nggak langsung pulang? Ngelayap ke mana, hayo?]
[Oy, May]
[Aku nungguin awakmu pulang. Takut dikau diculik]
[Ndang balio, May]
"Haduh ... rempong banget, sih, Mak Lampir. Orang gue lagi ada kerjaan tambahan, juga."
Amaya meletakkan ponsel di atas meja dengan memasang wajah cemberut. Tatapannya lalu beralih menatap seisi restoran. Ia menghela napas berat ketika sosok Al tak kunjung muncul di hadapannya.
"Hidangannya sudah siap, Mba." Pelayan resto yang tadi datang kembali dengan membawa dua temannya untuk membantu menyajikan menu-menu pesanan Amaya.
Mulut gadis itu seketika menganga. Amaya menatap takjub pada beberapa hidangan lezat yang baru saja tertata di atas mejanya.
Ada bruschetta tuna pedas, sup miso, ramen, lobster saus tiram, nasi kari Jepang, cumi goreng tepung, salad, jus alpukat, hot tea, serta milkshake karamel. Menu-menu lezat itu memenuhi seisi meja. Amaya berkali-kali menelan ludah karena sudah tidak tahan ingin menyantap makanan itu sampai habis.
"Semua makanan ini sering dipesan oleh pengunjung kami, Mba. Selamat menikmati." Pelayan itu dan kedua temannya undur diri. Meninggalkan Amaya yang detik ini tengah bingung harus memakan yang mana dulu.
"Ah, daripada gue bingung mau makan yang mana dulu. Gue mau makan yang dari sebelah kanan dulu."
Amaya memilih bruschetta tuna pedas untuk ia santap terlebih dahulu. Tampilan makanan jenis seafood itu sangat menggoda. Menu andalan di resto ini adalah makanan yang berasal dari seafood serta makanan khas Jepang. Dan Amaya tidak tahu, yang membuat bruschetta tuna pedas untuknya adalah si empunya restoran--yang tidak lain adalah orang yang sedari tadi ia cari.
"Emmm ... enak banget." Amaya makan dengan lahap. Ia sudah tidak sabar ingin menghabiskan semua makanan lezat di mejanya. Masa bodoh dengan urusan timbangan. Toh, Amaya adalah tipikal orang yang makan banyak, tapi body tetap kerempeng saja. Dan ia sangat bersyukur diberi anugerah seperti itu.
"Haaah ... gila! Perut gue begah." Gadis yang memakai cardigan rajut berwarna krem itu duduk bersandar sambil mengusap-usap perutnya. Semua makanan telah ia santap habis. Kini Amaya sangat kekenyangan. Berkali-kali ia bersendawa nikmat. Tak peduli dengan lirikan aneh dari orang-orang yang duduk tak jauh darinya.
Amaya jelas sangat puas. Baru kali ini ia makan seenak dan sekenyang ini. Ia sama sekali tidak sadar kalau makan sebanyak itu bayarnya juga mahal.
"Permisi, Mba. Sepertinya Mba sangat menikmati hidangan kami. Ini bill-nya, Mba."
Amaya menerima selembar kertas yang berisi totalan pesanannya dan juga jumlah yang harus ia bayar.
"Hah?! Sembilan ratus lima puluh ribu?!" Kedua mata Amaya melotot ketika melihat jumlah yang harus ia bayar.
Jumlah sebanyak itu biasanya bisa Amaya gunakan untuk jatah makan selama satu minggu. Tapi di restoran ini, cukup sekali makan saja. Dan Amaya tiba-tiba merasa pening.
"Iya, Mba. Mba-nya pesannya banyak. Jadi, bayarnya juga banyak." Pelayan pria tersebut masih senantiasa sabar menghadapi Amaya.
"Sebentar, ya, Mas." Amaya meminta izin untuk mengintip isi dompetnya. Dan, kesialan itu kembali menimpanya.
'Modyar,' umpat Amaya dalam hati setelah mengintip isi dompetnya.
Yang ada di dalam dompet berwarna merah itu hanya seratus ribu saja. Amaya ingin sekali melarikan diri dari restoran ini.
"Bagaimana, Mba? Pembayaran bisa lewat kasir di sana." Pelayan itu menunjuk ke arah meja kasir yang terletak di pojok kiri depan.
Amaya hanya nyengir kuda ke arah pelayan tersebut. Menurutnya ini adalah trik yang paling konyol. Amaya sengaja memesan makanan yang banyak meski kantongnya sedang kering. Ia berharap Al datang dan tiba-tiba membantunya, seperti di film-film. Lalu setelah itu Amaya bisa berkenalan dengan Al. Tapi sampai sekarang, batang hidung Al tak kunjung terlihat. Amaya merutuki kebodohannya sendiri.
"Mba. Kenapa Mba melamun? Mba berniat membayarnya, kan?" Si pelayan terus saja mendesak. Amaya justru makin bingung.
"Hehe, nganu, Mas. Uang saya cuma seratus ribu."
"Hah?!" Sang pelayan sangat terkejut. Bisa-bisanya ada tamu yang sok-sokan memesan banyak makanan, tapi ternyata tamu tersebut tidak ada uang untuk membayar.
"Iya, Mas. Boleh nggak, kalau saya ngutang dulu?" tawar Amaya. Pelayan resto itu jelas tidak setuju.
"Mba kalau tidak punya duit, jangan sok-sokan makan di restoran, Mba. Gayanya pesan yang banyak, tapi nyatanya wong kere!" maki si pelayan. Apoteker muda itu merasa terhina saja.
"Mas, kalau ngomong, ati-ati, dong. Saya mana tau, kalau di dompet saya isinya cuma seratus ribu!"
"Bisa-bisanya Mba sampai tidak tau isi dompet Mba ada duitnya apa tidak?! Saya tidak mau tau, Mba, pokoknya Mba harus bayar lunas. Atau saya akan laporkan Mba ke polisi, karena Mba seenaknya makan di sini, tapi tidak mau bayar!" Ancaman pelayan tersebut justru membuat Amaya makin muak saja.
"Nggak bisa gitu, dong, Mas. Sembarangan aja mau laporin saya ke polisi. Saya biasa ngutang ke warung makan langganan saya, nggak masalah tuh." Amaya malah curhat.
"Ini restoran berkelas, Mba, bukan warung makan murahan langganan Mba. Cepat bayar, atau saya panggil polisi sekarang juga?!" gertak si pelayan lagi. Kedua orang itu kini terlihat saling tatap dengan sengit.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Datang seorang pria dengan kemeja biru dongker yang tidak lain adalah si empunya restoran.
Amaya lantas menoleh ke arah pria tersebut. Ketika pandangan mereka bertemu, Al senantiasa menyuguhkan senyum manisnya. Ia terkenal ramah dan murah senyum pada setiap pelanggan. Maka tak heran jika Al banyak dikagumi oleh kaum hawa. Namun, sekali lagi, senyum itu hanya kedok untuk memikat mangsanya.
"Begini, Chef. Mba ini sudah pesan banyak menu, tapi Mba-nya tidak mau bayar." Pelayan itu mengadu pada atasannya. Amaya jelas merasa malu.
Gadis itu tiba-tiba menunduk ketika Al lagi-lagi menatapnya.
"Eum, dia biar jadi urusan saya. Kamu bisa kembali bekerja." Al memberi isyarat lewat tatapan--memerintahkan si pelayan untuk pergi meninggalkan dirinya berdua dengan gadis itu.
Setelah karyawannya berlalu, Al lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Amaya. Tatapan mereka kembali bertemu. Amaya pun membalas melempar senyum manisnya pada Al.
'Ingat, Amaya. Jangan mudah terlena dengan pesona dan kebaikan Al. Dia itu, licik.'
Gadis itu kembali teringat akan wejangan Hanafi kapan lalu. Hampir saja Amaya dibuat terlena dengan senyum manis pangeran tampan di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
Amaya tergugah dari lamunan ketika lelaki itu mengeluarkan suaranya.
"Ah, eum ... a-aku--"
"Nggak bisa bayar makanan kamu? Nggak masalah. Aku nggak akan laporin kamu ke polisi, kok."
Amaya yang tadinya gugup kini perlahan merasa lega. Rupanya si empunya restoran tidak mempermasalahkan perkara tersebut.
"Tapi, ada syaratnya."
Gadis itu menatap Al dengan curiga. Amaya mulai berpikir yang tidak-tidak.
"S-syarat?"
"Iya. Syaratnya, cukup sebutin nama kamu aja. Biar kita lebih akrab ngobrolnya kalau saling tau nama masing-masing."
Apoteker muda itu menatap Al dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam hati, Amaya tengah memaki-maki lelaki tersebut. ‘Boyo cap lobster. Pinter banget gombalin cewek. Amit-amit jabang kebo, gue nggak bakalan tergoda sedikit pun!'
"Oh, eum ... aku Amaya. Panggil May aja," jawab Amaya dengan suara lembutnya.
"Aku Al. Senang bertemu denganmu, May. Eum, oke, karena tadi aku udah janji akan bebasin kamu, sekarang, kamu bisa pulang. Lain kali, kalau mau makan di restoran, cek isi dompet dulu, ya." Kembali mengumbar senyum, Al lalu berdiri dan meninggalkan Amaya seorang diri di sana.
Sedangkan Amaya kehabisan akal untuk kembali mendekati pria itu. Ia ingin ngobrol-ngobrol lebih lama dengan Al. Mencari tahu tentang kelemahan chef muda itu, tetapi Al sepertinya belum memberi kesempatan pada Amaya untuk bertindak lebih jauh.
***
Saat petang tiba, Al keluar dari restoran kemudian menuju parkiran. Dahi lelaki itu seketika mengernyit, ketika mendapati ada seorang gadis tengah berdiri di samping mobil sport-nya. Gadis yang baru beberapa jam lalu Al kenal, kini tengah memamerkan senyum manis untuknya.
Al sudah paham dengan gerak-gerik gadis seperti ini. Itu pertanda bahwa gadis itu tertarik padanya.
"Kamu ... ngapain di sini?"
"Eum, aku lagi nungguin kamu."
"Kamu tau mobilku dari mana?"
Amaya bingung harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menjawab kalau dirinya tahu segalanya tentang Al dari Hanafi.
"Ta-tadi, aku iseng aja nanya ke security."
Al mengangguk-anggukkan kepala pertanda percaya pada ucapan Amaya.
"Ada perlu apa? Mau minta dianterin pulang?" Al langsung pada intinya.
"Ah, enggak. Jadi gini, aku mau bahas soal tadi. Aku ngerasa nggak enak aja langsung dibebasin gitu aja sama kamu. Aku pengennya bayar semua makanan yang udah aku pesan. Boleh, nggak, aku bayarnya pake tenaga? Aku kerja di restoran kamu, ya? Please ...." Amaya memohon. Ini adalah trik kedua yang ia gunakan untuk mendekati Al kembali.
"Sory banget, May. Kebetulan, resto udah nggak butuh karyawan lagi. Aku udah nggak mempersalahkan masalah kamu nggak bisa bayar, kok. Santai aja." Lelaki itu meraih kunci mobil dari saku celana. Saat akan membuka pintu roda empatnya, gadis itu tiba-tiba menahannya.
"Eh, tunggu. Eum, kalau jadi asisten rumah tangga kamu, masih ada lowongan nggak?"
Al mengurungkan niat untuk masuk ke mobil. Ia lantas berbalik badan menghadap Amaya. Mendapati gadis itu tengah menatapnya dengan penuh harap.
"Aku nggak biasa pake jasa ART. Lagian aku cuma hidup sendiri di apartemen, jadi--"
"Jadi, please, tolong terima aku jadi ART kamu, ya. Aku janji akan kerja dengan baik. Aku lagi butuh uang buat bayar utang. Sebulan aja, please ...." Amaya lagi-lagi memohon sambil memasang wajah memelas. Sesekali mengedip-ngedipkan mata manja untuk merayu Al. Lelaki itu jelas makin tertantang.
Al memerhatikan penampilan Amaya dari atas sampai bawah. Ia langsung bisa menebak kalau Amaya adalah gadis tomboi. Bentuk tubuh Amaya pun jika dilihat dari mata normal seorang pria, Amaya memiliki bentuk tubuh yang jarang sekali akan dilirik oleh kaum adam. Tinggi, terlalu ramping seperti triplek, serta bagian d**a pun tidak terlalu menonjol. Namun, Al justru makin penasaran dengan gadis ini.
Kebanyakan wanita yang pernah ia kencani selalu memiliki kemolekan tubuh yang aduhai. Untuk kali ini Al justru mulai tergoda untuk menjamah tubuh gadis seperti Amaya.
Al tersenyum kecut saat Amaya masih senantiasa memasang wajah memohon padanya. Malam ini ia mendapatkan mangsa baru yang berbeda dari mangsa-mangsa sebelumnya. Al tidak akan melepaskan Amaya begitu saja.
"Eum, oke. Aku terima kamu jadi ART-ku. Ayo, ikut aku ke apartemen."
'Yes, berhasil!' Amaya berseru dalam hati karena persetujuan Al yang menerimanya menjadi asisten rumah tangga pria itu.
Amaya tanpa rasa ragu masuk ke dalam mobil sport berwarna merah itu, setelah si empunya mobil mempersilakannya masuk dan memintanya untuk duduk di sebelah jok kemudi.
Roda empat itu melaju menembus padatnya lalu lintas. Di dalam mobil, dua insan itu berbincang-bincang hal ringan. Amaya terlihat sangat antusias berbicara dengan Al yang pandai mencairkan suasana dan pintar memilih bahan obrolan. Tanpa Amaya sadar, ia telah masuk ke dalam perangkap buaya licik seperti Al.
**********