Wanita cantik dengan selimut tebal itu mengerjap-ngerjapkan mata. Ia lantas mendapati ada tangan kokoh tengah memeluk pinggangnya dari belakang. Elisa menyunggingkan senyum manis. Ia paling suka diperlakukan seperti ini oleh lelakinya.
"Al ...," panggil Elisa manja. Wanita itu lalu mengubah posisi menghadap pria yang telah memberinya kehangatan semalam. Menatap lelaki tersebut dengan hangat, saat pandangan mereka bertemu.
Bangun tidur langsung disuguhi dengan wajah cantik serta senyum manis Elisa, Al lantas menghadiahkan kecupan singkat pada bibir ranum wanita itu.
Al dan Elisa, dua insan manusia yang sering menghabiskan waktu bersama. Saling mengisi kekosongan hati dan hasrat, tetapi tidak ada ikatan di antara mereka.
Boleh dikatakan, Elisa adalah wanita pertama yang menjadi teman tidur Al. Mereka tak sengaja dipertemukan di sebuah club, saat keduanya tengah patah arah. Keduanya pun berkenalan, meminum bersama, berakhir dengan menghabiskan waktu malam indah mereka di kamar hotel.
Al hanya sebatas menganggap Elisa sebagai teman tidur. Datang, saat ia butuh kehangatan. Lalu pergi, saat dirinya telah merasa puas.
Berbeda dengan Al, Elisa justru menganggap Al adalah lelaki impiannya. Saat wanita itu rapuh dan tak percaya lagi pada pria, karena sebelumnya Elisa pernah menikah lalu dikhianati oleh suaminya, setelah bertemu dengan Al, kemudian saling mengenal, senantiasa menghabiskan waktu bersama, lama kelamaan Elisa memiliki rasa lebih pada Al.
Sejauh ini, Elisa tahu betul bagaimana kelakuan Al di belakangnya. Pria itu kerap kali membawa wanita lain ke dalam apartemen, saat Elisa tak ada, terlebih tak bisa melayani Al. Kebetulan, Elisa memiliki pekerjaan tetap di Jakarta. Ia ditunjuk sebagai seorang General Manajer di perusahaan yang dipimpin oleh ayahnya. Pekerjaan menjadi seorang wanita karier mengharuskan Elisa hanya bisa menemui Al saat memiliki waktu libur saja, atau sudah tidak tahan membendung rasa rindu terhadap pria itu.
Petang kemarin Elisa sampai di Jogja. Ia pun langsung mendarat di apartemen pria itu. Dan semalaman, mereka menghabiskan waktu untuk saling memuaskan, melepas rindu setelah satu bulan ini tidak bertemu, terlebih saling menyentuh. Bagi Al, Elisa adalah wanita paling spesial, dari sekian banyak wanita yang pernah Al kencani.
Tapi sayang, se-spesial apa pun Elisa, Al tidak ada niat untuk membalas perasaan wanita itu. Meski Al tahu, terlebih Elisa sering kali mengungkapkan perasaan padanya. Toh, sampai detik ini, Al hanya menanggap Elisa sebagai pemuas nafsunya saja, tidak lebih dari itu.
"Al, jam sepuluh nanti, aku harus udah siap balik ke Jakarta." Elisa membuka obrolan, setelah beberapa menit yang lalu, mereka larut dalam cumbuan mesra.
Posisi wanita itu kini dalam dekapan hangat pria di sebelahnya. Jari lentiknya sedari tadi tengah bermain-main di d**a Al, seolah-olah menggoda lelaki tersebut untuk kembali menyentuhnya.
Sedangkan tangan kanan Al senantiasa membelai helaian rambut wangi Elisa. Sesekali ia hadiahkan kecupan singkat pada pucuk kepala wanita yang sudah menjadi teman tidurnya selama tiga tahun itu.
"Aku masih kangen, El. Nggak bisa ditunda, ya?"
Elisa lantas terkekeh. Ia paling suka Al seperti ini. Lelaki itu memang tak bisa jauh-jauh terlalu lama darinya.
"Udah sebulan, loh, kita nggak begini."
"Kamu, kan, ceweknya banyak, Al. Nggak ada aku, masih ada Elisa-Elisa yang lain."
"Tapi, Elisa yang bisa bikin aku mau lagi dan lagi, ya, cuma kamu doang, El," rayu pria itu. Elisa lantas menatap Al.
Wajah tampan yang selalu Elisa gilai kini tengah menatapnya hangat. Elisa kembali terbuai saat Al meraup bibirnya. Mereka kembali hanyut dalam pagutan mesra.
"Temenin aku mandi, yuk. Udah lama, kan, nggak mandi bareng?" ajak Al sambil membelai bibir Elisa yang senantiasa menggoda di matanya.
Elisa mengangguk patuh. Wanita itu selalu menuruti apa pun keinginan Al.
Elisa beranjak duduk. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun itu terpampang jelas di hadapan Al. Meski sudah puluhan kali Al menjamah tubuh Elisa, tetapi lelaki itu selalu terpukau dengan kemolekan tubuh wanita yang tengah merapikan rambut itu.
Al lalu membopong tubuh Elisa menuju bathroom. Lelaki itu menurunkan wanitanya setelah mendarat di lantai kamar mandi. Ia lalu menyalakan air shower. Membiarkan air dingin itu membasahi tubuh polos keduanya.
Di dalam kamar mandi itu mereka kembali b******u. Niat awal memang Al mengajak Elisa menemaninya mandi. Toh nyatanya, Al kembali tergoda lagi untuk mereguk kenikmatan surga dunia itu kembali bersama Elisa.
Mereka lantas larut dalam percintaan panas. Air dingin yang mengalir dari shower pun nyatanya tak mampu membuat mereka kedinginan. Peluh penuh kenikmatan bercucuran deras membasahi tubuh polos mereka.
Al kembali membalikkan tubuh Elisa sehingga kini berhadapan dengannya.
Pria itu menatap wajah merona wanitanya. Desahan manja yang senantiasa lolos dari mulut mungil Elisa, nyatanya membuat Al makin tidak karuan. Mereka kembali mereguk kenikmatan surga dunia, tapi kali ini Al melakukan dengan tempo pelan. Elisa mulai menikmati percintaan mesra di bawah guyuran air shower itu. Menikmati setiap gerakan Al yang lembut. Wanita itu mulai membelai d**a bidang pria itu dengan s*****l.
"Aku nggak akan biarin kamu pergi dengan cepat, El. Kamu balik ke Jakarta, besok aja, oke?"
Elisa terkekeh. Ia sangat senang, Al terang-terangan tidak mau berpisah darinya. Tapi di sisi lain, hati Elisa merasa teriris. Mau sampai kapan Al akan menjadikannya sebagai teman tidur saja? Padahal Elisa senantiasa berharap, pria itu kelak akan menjadi suaminya.
"Al ...!" Elisa kembali menegang ketika Al mempercepat tempo percintaan mereka.
Keduanya nyaris mencapai puncak. Mereka mendesahkan nama masing-masing, kemudian mengerang bersama saat keduanya mencapai k*****s bersamaan.
Mereka senantiasa berpelukan. Percintaan panas itu Al akhiri dengan menghadiahkan kecupan singkat pada bibir ranum Elisa.
Sedangkan Elisa membalas dengan mengusap salah satu pipi Al. Membalas mencium bibir lelakinya. Elisa membisikkan satu kalimat di telinga Al. "I love you, Al."
Tubuh Al mendadak kaku. Hal ini terjadi lagi. Elisa kembali mengatakan hal yang paling tidak ia sukai.
Satu bulan yang lalu, setelah mereka selesai b******a, Elisa pun membisikkan kalimat yang sama. Meski Elisa bukan satu-satunya wanita yang mengungkapkan rasa padanya, tapi entah kenapa, Al merasa tak memiliki daya untuk menatap wanita itu kali ini.
Al memutuskan meneruskan acara mandinya, tanpa memedulikan kehadiran Elisa yang senantiasa berdiri di sampingnya. Biasanya, mereka akan mandi bersama setelah selesai melakukan percintaan panas di dalam bathroom. Al selalu meminta Elisa untuk menyabuni tubuhnya. Tapi tidak untuk kali ini. Lelaki itu seolah-olah tidak menganggap adanya Elisa di sampingnya. Dan itu makin membuat hati Elisa sakit.
Pria itu meraih handuk yang tersampir di jemuran kecil di sana. Menyeka tubuh polosnya yang tampak basah kuyup, lalu melilitkan handuk itu untuk menutupi tubuh bagian bawah.
Al sekilas melirik Elisa yang masih berdiri di bawah shower. Elisa tak melakukan apa pun sedari tadi. Wanita itu lantas menunduk saat Al menyuguhkan tatapan datar.
"Mandilah. Jam sepuluh, kamu harus udah siap, kan?" Al melenggang pergi meninggalkan Elisa sendiri di sana. Tanpa memedulikan isak tangis wanitanya yang kini terdengar menyayat hati.
***
Pria dengan kaus putih itu tengah duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambutnya. Sekitar dua puluh menit, ia menantikan Elisa keluar dari kamar mandi, tetapi wanita itu tak kunjung keluar. Al mulai merasa panik.
Tak biasanya teman tidurnya itu bersikap seperti ini. Apakah Elisa marah padanya? Al rasa Elisa tak pernah marah akan segala sikapnya.
Puluhan detik telah berlalu, Al makin tak kuasa membiarkan Elisa berlama-lama di dalam kamar mandi tanpa ada suara apa pun dari dalam sana.
Lelaki itu pun bergerak menuju pintu kamar mandi. Mengetuk, memanggil-manggil nama Elisa.
"El ...! Kamu lama banget mandinya? Jam sepuluh udah harus siap, kan?!"
Tok ... tok ... tok ...
"El ...! Kamu baik-baik aja, kan?"
Hening
"Elisa ...!"
Al membuang napas kasar. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menekan gagang pintu tersebut.
"El, kamu mandi atau tidur, sih? El?!" Setelah pintu terbuka, Al lantas mendapati Elisa tengah duduk di lantai kamar mandi dengan tanpa busana. Air shower masih senantiasa mengalir membasahi tubuh wanita itu. Tapi yang membuat Al panik, Elisa tampak memejamkan mata dengan gelagat orang seperti tengah menggigil.
"Elisa!" Al menghampiri wanitanya. Mematikan nyala air yang mengalir dari shower. Menangkup wajah basah Elisa.
"El, Elisa! Bangun, El." Lelaki itu menepuk-nepuk kedua pipi Elisa secara bergantian. Wanita itu perlahan membuka mata. Ia kembali menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Kamu gila, El?! Kamu ngapain begini? Nanti kamu sakit." Al jelas sangat panik dengan hal bodoh yang wanita itu lakukan. Tanpa Al sadar, Elisa memang sedari dulu sudah sakit karena keegoisannya.
Pria dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh cm itu bergegas meraih handuk guna membalut tubuh Elisa. Ia membopong Elisa keluar dari kamar mandi. Meletakkan wanitanya di atas ranjang. Dengan sigap Al mengambil pakaian Elisa dari dalam koper milik wanita itu.
Elisa hanya menurut saat Al mulai memakaikan baju untuknya. Bahkan detik ini lelaki itu tengah menggosok rambut basah Elisa dengan handuk kecil. Hal ini justru membuat hati wanita itu makin teriris saja. Tiga tahun, Elisa menjadi teman tidur Al. Selama tiga tahun itu pula, ia memendam rasa untuk lelakinya.
Tanpa sadar Elisa menangis lagi tanpa suara. Hanya air mata yang senantiasa mengalir membasahi kedua pipinya.
Al tak sengaja mendapati Elisa yang saat ini tengah menangis. Sesaat, napas pria itu terbuang asa.
"Untuk apa kamu nangisin semua ini? Dari awal, bukannya kita udah sepakat, jangan melibatkan perasaan, dalam hubungan kita. Kita bertemu hanya untuk saling memuaskan, El. Jangan berharap lebih."
Elisa lantas menoleh pada Al. Menatap sendu wajah lelaki yang detik ini tengah menatapnya.
"Apa aku salah, Al? Aku salah, sayang sama kamu? Aku salah, berharap lebih, dan memimpikan suatu saat kamu jadi suami aku?"
"Kamu nggak salah, El. Tapi aku yang salah. Aku dan mantan suami kamu itu nggak ada bedanya. Aku sama-sama b******k seperti Reno. Aku hobi menyakiti perempuan. Kamu bisa lebih dapat yang lebih baik dari aku, El!"
Elisa menggeleng-gelengkan kepala cepat. Ia sama sekali tidak setuju akan ucapan Al. Bagi Elisa, Al adalah lelaki yang terbaik untuknya. Meski sering kali wanita itu dibuat cemburu ketika Al berkencan dengan wanita lain. Tapi, Elisa selalu yakin, suatu saat Al akan berubah.
"Kamu beda, Al. Kamu nggak seperti Reno. Kamu seperti ini karena sekedar melampiaskan dendam pada Mama kamu, kan? Aku percaya kalau kamu bisa berubah, Al."
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Apa yang dikatakan oleh Elisa memang benar. Al menjadi seperti ini karena benci pada ibunya. Sakit hati karena sang ibu tega meninggalkan keluarganya demi pria lain, Al lantas berubah menjadi seorang pria yang membenci wanita. Menjadikan para wanita hanya sebagai teman tidur. Al begitu menikmati kehidupan bebasnya sekarang.
"Al ... apa salahnya kamu mencoba membuka hati buat aku. Kamu tinggalin wanita kamu yang lain. Kita mulai lembaran baru. Nggak semua wanita seperti ibu kamu, Al. Aku sayang sama kamu." Elisa kembali mengungkapkan perasaan pada lelaki itu. Menggenggam salah satu tangan Al. Memeluk prianya dari samping.
Sedangkan Al masih senantiasa mematung dengan kondisi hati yang hampa. Sampai sejauh ini, ia tidak memiliki perasaan apa-apa pada Elisa. Al pun tidak yakin, suatu saat dirinya bisa jatuh cinta atau tidak. Ia begitu menikmati kehidupan yang ia jalani sekarang. Memiliki banyak wanita, tanpa harus terikat, tanpa tersakiti.
********