Natan Pov
Aku duduk termenung di sebuah tempat duduk yang sudah biasa kami tempati di club ini, aku menyalakan rokok sambil menunggu teman-temanku.
'Sungguh cantik dan menyejukkan hati, bahkan saat marahpun dia terlihat manis. Sepertinya aku jatuh hati, tapi sayangnya dia tertutup. Akan sangat sulit untukku mendekati si cantik jelita itu. Sial, kenapa dia seperti menari-nari di fikiranku?' lamunanku buyar saat seseorang menepuk pundakku.
"Hei, melamun aja. Mikirin apa sih?" tanya Dirgo
"Tau nih, tumben-tumbenan" Rendra menimpali.
"Tidak apa-apa" jawabku singkat.
Tiba-tiba ada keributan di depan kami, terlihat jelas oleh mataku seorang pria yang menurutku sangat jelek tengah menggoda wanita sexi di depannya. Awalnya kami tidak menghiraukannya, namun jiwaku meronta-ronta saat pria itu memaksa untuk mencium wanita di depannya.
Bugg..
Satu tinjuan mendarat di wajah pria jelek dan botak itu, ternyata langkah Dirgo sedikit lebih cepat dari dugaanku.
"Aih, sialan. Kenapa kau memukulku hah? Apa kau ingin mati sialan?" kata pria botak itu.
"Aku hanya tidak suka saja kau memaksa wanita cantik ini" sedikit gombalan dari Dirgo. Memang Dirgo tipe orang yang suka menggoda wanita, tapi dia paling anti untuk mempermainkan wanita. Hanya saja, mungkin Dirgo ingin terlihat keren dimata kaum hawa.
"Itu bukan urusanmu sialan, apapun yang akan kulakukan dengan w***********g ini, itu urusanku." pria botak itu melotot sambil menarik tangan wanita itu, namun dengan cepar Dirgo menarik kembali tangan wanita itu.
"Lihat, dia tidak mau denganmu. Jadi pergilah, sebelum kesabaranku habis" wanita itu bersembunyi di balik tubuh Dirgo.
"Dasar b******k" pria itu melayangkan tangannya henda meninju Dirgo, secepat kilat Dirgo menghindar dan menendang perut buncit si botak. Pria botak itu terhuyung ke lantai,
"Argh.." dia melihat kesetiap sudut, "Apa yang kalian lihat, beri pelajaran si b******k ini" nasib baik tak berpihak pada Dirgo yang menjadi pahlawan kesiangan, ternyata pria botak itu memiliki anak buah disetiap sudut club.
"Ah sial, kalian berdua sepertinya turut di undang ke acara ini" canda Dirgo. Aku dan Rendra hanya diam saja tak menanggapi.
Dirgo mulai bertarung melawan anak buah si botak yang jumlahnya kisaran dua puluh orang, entahlah berapa jumlahnya, aku malas menghitungnya tapi jumlahnya banyak. Awalnya Dirgo terlihat keren seperti jagoan, namun tak lama dia terhuyung tepat dimeja di depan kami,
"Uhuk..uhuk.." Dirgo mengeluarkan darah dari mulutnya, "Hei b******k, apa kalian ingin melihat teman kalian mati hari ini? Uhuk..uhuk.." lanjutnya. Salah satu anak buah si botak hendak menendang perut Dirgo, dengan cepat aku menepis kakinya dengan kakiku.
"Mau cari mati?" tanya pria yang lebih jelek dari si botak, sungguh sepertinya akulah yang paling keren, hehe.
"Sekali lagi kau menyentuhnya, kau mati" aku tersenyum devil.
Dirgo tertawa mendengarku,
"Ayo lawan kami b******k" teriak Dirgo.
Pertarungan pun terjadi antara Natan tampan dan botak jelek, heje. Tanpa memakan waktu banyak dan tanpa menguras tenaga, semua anak buah si botak telah terkapar di lantai. Si botak langsung mengarahkan anak buahnya keluar dan pergi meninggalkan kami, sebelumnya si botak berkata,
"Tunggu pembalasanku" lalu pergi.
Kami kembali duduk di tempat kami, melanjutkan minum yang sempat tertunda karena pertunjukan kecil,
"Kalian tidak setia kawan, setelah aku babak belu, baru kalian datang membantuku. Untung saja aku belum mati, kalau tidak mamaku akan menuntut kalian. Kalian tau kan aku anak kesayangan mamaku?" celoteh Dirgo.
"Makanya jadi orang jangan sok jadi pahlawan, eh jadinya pahlawan kesiangan" kata Rendra sambil tertawa. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
Saat kami sedang asyik berbincang, seorang wanita menghampiri kami,
"Terimakasih telah menolongku" kata wanita itu pada Dirgo.
"Tidak apa-apa, itu masalah kecil" itulah Dirgo tetap dengan gayanya yang sok cool meskipun sudah babak belur. Sesekali kami bercanda, namun pikiranku sedang di tempat lain. Aku selalu memikirkan wanita yang ada di warung itu, pikiranku kacau dibuatnya, akhirnya aku memilih untuk pulang.
Revan Pov
Lama tak bertemu dengan Qia, ternyata dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik.
'Apakah dia sudah memiliki pacar? Atau bahkan dia sudah menikah? Sungguh bodoh aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku. Andai waktu itu aku menyatakannya, mungkin aku tidak menjomblo sampai sekarang' batinku. Aku belum pernah membuka hati untuk siapapun semenjak aku mengenal cinta pertamaku, Qiara. Namun aku tak pernah berani mengungkapkannya bahkan sampai saat ini, aku terlalu takut harus menerima penolakan dari Qia. Delapan tahun aku memendam perasaan padanya, dan bahkan menutup hatiku untuk siapapun.
"Van" suara itu mengagetkanku. Dialah wanita tersayangku, mami Agatha.
"Eh mami, mengagetkan saja. Kenapa tidak ketuk pintu dulu mam?" tanyaku dengan wajah sedikit panik.
"Mami sudah ketuk pintu, tapi kamu gak jawab mami. Yaudah mami masuk aja. Lagian kamu lagi mikirin apa sih sampai-sampai mami ketuk pintu gak di dengar? Kamu lagi mikirin calon mantu mami ya?" godanya.
"Mami tau aja" aku tiba-tiba membulatkan mataku, begitu juga dengan mami. "Eh maksudku mami sok tau" kataku sedikit panik.
"Papi.." teriak mami yang membuat telingaku hampir pecah. Dengan cepat papi datang ke kamarku, papi sangat takut jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya.
"Ada apa mi, kenapa teriak-teriak? Mana yang sakit? Apa mami terluka?" itulah papiku, Guntoro. Yang begitu lebaynya jika ada yang menyangkut mami.
"Revan pi, dia sedang dekat dengan gadis. Sebentar lagi kita akan kedatangan menantu dan tak lama lagi kita akan memiliki cucu" mamiku kegirangan, tidak tau saja kalau calon mantu yang sedang di pikirkan anaknya sudah milik orang lain atau belum.
"Beneran mi? Alhamdulillah, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga" kata papi yang membuatku semakin bergidik ngeri.
"Kita harus segera bertemu dengan calon mantu kita pi, mami gak mau nanti ada yang nikung di pengkolan depan. Mami gak mau gagal lagi menjadi seorang mami mertua" kata mami, "Pi, nanti kalau kita punya cucu, mami mau di panggil eyang biar keren. Keren kan pi?" tanya mama.
"Iya mi, keren. Harus gaul dong, hehe. Mami eyang cantik, papi eyang tampan." jawab papi yang membuat aku semakin pusing.
"Udah mi, pi. Bahasnya di luar saja, Revan udah ngantuk" aku mendorong mami dan papi supaya keluar dari kamarku. Jika mereka berlama-lama di kamarku, bisa-bisa aku akan gila.
Aku berbaring di ranjangku, kembali aku memikirkan Qiara.
'Bagaimana nasib cintaku yang telah kusimpan delapan tahun lamanya? Semoga saja besok Qia bisa jalan denganku, dan semoga hasilnya tidak mengecewakan' batinku. Akupun tertidur sambil memikirkan Qiara, sepertinya dia sedang menari-nari dengan kuda dan bintang di kepalaku. Ah seperti orang kejedot saja, ya sepertinya. Makanya otakku sedikit geser tak bisa menghilangkan Qiara dari sana, tak lama aku pulas di alam mimpi.