Empat

1029 Kata
Author Pov Pagi yang di tunggu-tunggu Revan telah tiba, di mana ia akan bertemu dengan wanita yang ia cintai. Begitu juga dengan Qiara, ia akan bertemu dengan cintanya yang sudah lama tak berkabar. "Assalamu'alaikum ibu, ayah" sapa Qiara yang melihat ayah dan ibunya sudah stay di meja makan. "Wa'alaikumsalam nak" jawab Sulastri dan Suherman bersamaan. "Wah, cantik sekali putri ibu." puji Sulastri. "Iya bu, putri kita memang tidak ada tandingannya" Suherman menimpali. "Berhenti memuji Qia ibu, ayah. Karena tanpa kalian lihat, kuping Qia udah naik tiga senti" canda Qia yang membuat mereka tertawa bersama. "Sarapan dulu nak" ajak Sulastri. "Atau mungkin kalian berencana untuk sarapan bersama?" goda Suherman sambil mengedipkan sebelah matanya. "Apaan sih ayah, gak ada pembahasan seperti itu. Lagipula Qia lebih memilih sarapan di rumah dari pada sarapan di luar dengannya, karena masakan ibu tidak ada tandingannya." puji Qia. "Elleh, bilang saja kamu malu kalau di ajak sarapan sama pria itu" goda Sulastri. "Kenapa Qia harus malu bu? Qia memakai pakaian sopan dan menutup aurat Qia, jadi untuk apa Qia malu?" tanya Qia yang tak bisa di jawab oleh Sulastri. "Benar nak, selagi kita tidak melakukan kesalahan dan menutup aurat, tidak perlu malu terhadap apapun" Suherman menimpali. "Yasudah kalau begitu, sekarang sarapan karena sebentar lagi mungkin pria itu sudah ada di depan pintu rumah kita untuk menjemputmu" ucap Sulastri. Keluarga kecil yang penuh cinta, yang sangat harmonis meskipun hidup mereka sederhana, menyantap sarapan masing-masing tanpa ada suara sedikitpun. Hingga apa yang Sulastri katakan benar, kalau Revan sudah tiba di depan rumah mereka. "Tepat sekali, dia datang saat kamu sudah selesai sarapan." ucap Sulastri. "Iya bu, kalau begitu, Qia samperin dulu ya bu" jawab Qia. Dengan langkah pasti dan jantung yang sedikit berdetak tak beraturan, Qiara menemui Revan yang sudah menunggu di depan pintu rumahnya. "Assalamu'alaikum, maaf membuatmu menunggu" ucap Qiara. "Wa'alaikumsalam. Ah tidak, aku juga baru tiba" jawab Revan. "Ayo masuk, aku kenalkan pada ayah dan ibuku" ajak Qiara yang di jawab dengan anggukan oleh Revan. Qiara berjalan yang di ikuti oleh Revan, niat hati Qiara ingin membawa Revan bertemu ayah ibunya ke meja makan. Namun, betapa terkejutnya ia melihat ayah dan ibunya yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Sementara Revan, kebingungan melihat tingkah Qiara yang terlihat jelas sedang terkejut. "Sayang, kenapa berdiri di sana? Ayo, ajak teman kamu duduk" ucap Sulastri. "Ah, eh iya. Ayo Van, silahkan duduk" ucap Qiara gelagapan. "Oh iya bu, yah, kenalin ini Revan. Van, ini ayah ibu aku" lanjut Qiara memperkenalkan mereka, lalu Revan dengan sopan menyalami kedua orang tua Qiara. "Mau minum.." Belum selesai Qiara bicara, Revan langsung memotongnya. "Tidak perlu Qia, terima kasih" ucap Revan. "Yasudah kalau begitu, kamu di sini sebentar ya, aku gak lama kok. Ngobrollah dengan ayah an ibuku, dan tidak perlu takut. Ayah dan ibuku tidak menggigit, dan kalaupun menggigit, tidak akan berbisa kok" canda Qiara yang membuat mereka tertawa bersama. Sepeninggalan Qiara, Revan memilih diam, karena dirinya juga tidak begitu banyak bicara. "Kamu pacar Qiara?" tanya Sulastri to the point. "Bukan tante" jawab Revan. "Kami hanya teman sekolah dulu, waktu kami masih SMA" lanjutnya. "Oh, tante kirain calon mantu tante." ucap Sulastri yang membuat Revan sedikit malu. "Sabar ya nungguin Qia, paling juga dia cuma mau sikat gigi. Dia itu kebiasaan kalau habis makan itu gosok gigi, kecuali kalau di luar rumah" lanjut Sulastri. "Iya tante, gak apa-apa kok" jawab Revan. "Oh iya, kalian kan sudah lama lulus sekolah, bagaimana kalian bisa bertemu kembali?" tanya Suherman. "Atau mungkin kalian masih komunikasi satu sama lain sampai sekarang?" lanjut Suherman. "Ah tidak om, kami sudah sejak lama lost contact. Hanya saja kami bertemu kembali kemarin, saat Qia mengantarkan bakmie ke rumah." jawab Revan. "Oh, bakmie yang telat di antar itu ya?" tanya Suherman. "Iya om" jawab Revan sambil terkekeh. "Haha, jodoh memang tak kemana ya. Tapi sebelumnya om minta maaf, Qia sudah mengantarnya tepat waktu. Hanya saja, lift di sana sedang dalam perbaikan, jadi terpaksa Qia harus lewat jalur darurat alias tangga, hehe" ucap Suherman tanpa menyadari kalimatnya. "Tidak apa-apa om, kami juga minta maaf karena sudah mendesak tanpa tau permasalahannya" jawab Revan. Tak lama, Qiara muncul membuat perbincangan mereka terhenti. "Loh, kok diam? Apa kalian tidak membahas apapun dari tadi?" tanya Qiara bingung. "Siapa bilang? Kami sedang bahas tentang jodoh, apakah nak Revan sudah punya pacar atau belum, kan siapa tau.." belum selesai Sulastri bicara, Wiara langsung memotongnya. "Eh bu, ayah, sepertinya kami akan pergi. Iya kan Van?" ucap Qiara yang di jawab dengan senyuman oleh Revan. "Sudah kebiasaanmu Qi kalau ibu bahas tentang jodoh selalu menghindar" protes Sulastri, yang membuat Revan tersenyum. "Apaan sih bu, gak bosan apa bu bahas itu mulu. Yaudah ya bu, yah, Qia sama Revan pergi dulu" ucap Qia mencoba menghindari pembahasan Sulastri, lalu mencium punggung tangan Sulastri dan Suherman. Begitu juga dengan Rei, ia mencium punggung tangan Suherman dan Sulastri. "Assalamu'alaikum" ucap Qiara dan Revan bersamaan. "Wa'alaikumsalam" ucap Sulastri dan Suherman bersamaan. "Lihat ma, sepertinya mereka benar-benar berjodoh. Mereka mengucapkan salam bersamaan, sama seperti kita yang mengucapkannya bersamaan. Bukankah itu benar-benar jodoh?" tanya Suherman yang membuat Qiara semakin kesal. "Ayah, udah deh yah. Jangan menyamakan jodoh dengan kebetulan" protes Qiara. "Jangan salah sayang, pertemuan yang kebetulan itu juga bisa menjadi jodoh. Sama seperti kamu dengan nak Revan, yang kebetulan bertrmu setelah bertahun-tahun berpisah. Justru inilah yang di namakan jodoh, meskipun sudah berpisah lama, namun tetap masih di pertemukan" ucap Suherman. "Sudahlah yah, kalau ayah membahas itu terus, kapan kami akan pergi? Atau mungkin ayah berencana untuk membatalkannya? Kalau benar, ayah harus bertanggung jawab kepada Revan, karena sudah menggagalkan rencananya dan gagal untuk memberitahukan sesuatu padaku" ucap Clarisa yang lagi-lagi membuat Revan terkekeh. "Benarkah? Ayah tidak mau bertanggung jawab soal itu, jadi sebaiknya kalian pergilah. Siapa tahu, yang akan nak Revan beritahu adalah isi hatinya tentang perasaannya padamu. Dan secepatnya akan melamarmu, itu sungguh akan membuat kami bahagia, iya kan bu?" tanya Suherman meminta pendapat istrinya, dan segera di jawab dengan anggukan oleh Sulastri. Mendengar itu, Revan seketika terdiam, pipinya memeran bak kepiting rebus. Apa yang Suherman katakan seolah benar, membuat Sulastri dan Suherman tersenyum bersemangat. 'Apakah Revan benar-benar akan menyatakan perasaannya pada putriku?' batin Suherman dan Sulastri bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN