Revan melajukan mobilnya menuju sebuah cafe terdekat, mencoba untuk mencari tempat yang menurutnya nyaman untuk Qiara.
"Apa kau keberatan kalau kita ke sini?" tanya Revan.
"Tentu tidak, asalkan kau tidak membawaku ke tempat yang tidak selayaknya kita masuki" ucap Qiara.
"Baiklah, aku lega kau bisa nyaman. Aku takut kalau kau tidak nyaman di tempat yang aku pilihkan" ucap Revan jujur.
"Kau pasti tau tempat yang nyaman untukku, untuk kita" jawab Qiara. "Ayo masuk, atau mungkin kita akan duduk di sini saja?" tanya Qiara.
"Ah maaf, aku sampai lupa" jawab Revan sambil terkekeh. "Harusnya aku yang mengajakmu, eh kamu bertindak lebih cepat" lanjut Revan.
"Aku hanya tak ingin orang lain berpikir jelek karena kita tidak turun dari mobil, lagipula aku tak nyaman jika harus duduk di mobil yang telah berhenti ini bersama dengan pria yang bukan mahramku" jawab Qiara yang membuat Revan terdiam.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk" ajak Revan, karena ia tak tau harus mengatakan apa lagi selain itu.
Hening di keramaian, itulah yang terjadi kepada Qiara dan Revan. Ada kebingungan, entah dari mana mereka akan memulai perbincangan.
"Ehem" Revan berdehem, mencoba untuk mencairkan suasana. Namun, ia tak kunjung bicara, membuat suasana kembali hening.
"Ehem" kini giliran Qiara yang berdehem. "Heem, apa kita datang dan minum ke sini? Kalau begitu, kenapa tidak sendiri-sendiri saja?" ucap Qiara seolah menyindir Revan.
"Eh, maaf. A-aku gimana ya, hehe. Aku merasa sedikit canggung untuk bicara denganmu. Ka-kau benar-benar banyak berubah" ucap Revan.
"Berubah apanya? Aku masih sama dengan aku yang dulu" jawab Qiara.
"Tidak, kau berbeda dari yang dulu. Dulu kau begitu pendiam, tapi sekarang kau begitu cerewet, hehe, aku hanya bercanda" ucap Revan. "Maksudku dulu kau cantik, sekarang kau benar-benar sangat cantik" goda Revan.
"Berhenti membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting, karena itu tidak ada gunanya" jawab Qiara.
"Nah, ini perbedaannya dirimu yang dulu dan sekarang. Dulu kau pemalu, tapi sekarang kau semakin berani" ucap Revan.
"Aku hanya tak ingin membahas apa yang menurutku tak penting, karena hanya akan membuang waktu saja menurutku" ucap Qiara.
"Dan itu juga, kau semakin dewasa" ucap Revan.
"Pergunakan waktu dan bertambahnya umurmu untuk menambah wawasan dan pengetahuanmu, terutama akhlakmu. Semakin bertambahnya umurmu, cobalah untuk semakin menambah kedewasaanmu, jangan justru semakin bodoh. Bukan begitu bapak Revan?" ucap Qiara sambil tersenyum.
"Ya, kau benar. Dan satu lagi yang mau aku simpulkan tentang dirimu, kau semakin tak bisa di kalahkan saat adu mulut. Karena saat aku mengenalmu, kau begitu pendiam" ucap Revan.
"Apa kau sedang mengenang masa lalu?" tanya Qiara.
"Sedikit, aku sedikit mengingat masa itu" ucap Revan. "Saat di mana aku pertama kali mengenalmu" lanjutnya.
Flashback on
Masa putih abu-abu, adalah masa akhir cinta monyet bagi kalangan remaja saat ini, dan itulah yang di rasakan Revan dan Qiara. Memiliki rasa cinta, namun takut untuk mengungkapkannya. Cinta monyet yang berakhir dengan cinta terpendam, harus saling memedam karena tidak adanya keberanian untuk mengungkapkan.
"Qia, kenapa kau selalu melihat ketua OSIS itu?" tanya Adel.
"Eh, siapa yang lihat? Aku tak sengaja melihatnya" jawab Qiara.
"Tak perlu membohongiku Qia, aku tau kau sedang curi-curi pandang padanya" ucap Adel.
"Berhentilah bicara yang tidak-tidak Adel sayang, sebaiknya kita masuk ek kelas" ucap Qiara sambil menarik Adel.
Tanpa mereka sadari, orang yang mereka bicarakan melihat ke arah mereka setelah mereka berbalik badan.
"Kenapa kau selalu melihat ke arah sana Van? Apa kau menyukainya?" tanya Rocky, teman Revan.
"Hei, kenapa kau begitu memperhatikanku? Sebaiknya kau perhatikan saja apa yang sedang kau lakukan saat ini" ucap Revan.
"Tidak perlu menutupinya dariku Van, aku tau kau menyukainya. Aku sudah memperhatikan gerak-gerikmu sejak kita berteman, sejak kita duduk di bangku kelas sepuluh. Jadi tidak perlu berbohong padaku, karena aku benar-benar yakin kau menyukainya. Dari yang aku lihat, sepertinya dia juga menyukai kamu Van." ucap Rocky.
"Berhentilah berasumsi yang tidak-tidak Rocky rock and roll, karena apa yang kau tebak sama sekali tidak ada yang benar. Sebaiknya kita kembali ke kelas daripada aku harus mendengar ocehanmu yang gak jelas" ucap Revan lalu menarik Rocky ke kelas.
Seiring berjalannya waktu, rasa di hati semakin tumbuh dan berkembang. Begitu juga dengan rasa takut dan gengsi mereka. Hingga tiba saatnya kelulusan, bahkan saat itupun tidak ada yang berani mengungkapkan. Jangankan untuk mengungkapkan perasaan, untuk saling bicarapun tidak ada yang berani. Namun, seringkali Revan mengikuti Qiara saat pulang dari sekolah, tapi tak berani untuk menghampiri. Ah cinta monyet, memang rada malu-malu kucing.
Revan yang memutuskan untuk kuliah di luar negeri, harus mengikhlaskan untuk tak melihat Qiara lagi sampai ia mendapatkan gelar sarjananya. Sementara Qiara, lebih memilih untuk kuliah di negeri tercinta dan menikmati kebersamaannya dengan ayah dan bundanya.
Sayangnya, semua di luar dugaan Revan, ia harus melanjutkan gelar S2 nya di luar negeri sesuai permintaan papinya. Hingga sudah tiba saatnya untuk pulang, ia segera mencari Qiara, namun sayangnya Qiara sudah pindah, membuat semangat Revan patah bak burung yang sayapnya patah dan tak bisa untuk terbang.
Flashback off
'Kau tau Qia, sampai saat ini, aku masih tetap mencarimu. Tapi sayangnya aku tak menemukanmu, hingga Allah mempertemukan kita di kata KEBETULAN. Aku berharap, kebetulan ini benar-benar sama seperti apa yang ayah ibumu katakan, kalau kita benar-benar berjodoh' batin Revan.
"Melamunlah sampai malam hari, stau bahkan sampai kau tertidur pulas" ucap Qiara yang membuat lamunan Revan buyar.
"Eh, maaf" ucap Revan malu.
"Entah sampai kapan kau akan minta maaf padaku, bahkan untuk pertama kalinya kai minta maafpun, aku belum menjawabnya" ucap Qiara.
"Kau benar-benar Qia, keberanianmu sudah semakin meningkat." puji Revan. "Oh iya, aku teringat dengan ucapan ayah dan ibumu, kalau pertemuan yang kebetulan.." belum selesai revan bicara, Qiara langsung memotongnya.
"Jangan terlalu menanggapi serius ucapan ayah dan ibuku, karena terkadang mereka berekspresi serius saat bercanda dan berekspresi seolah melawak saat serius. Jadi, apapun yang mereka katakan, cobalah untuk memahami apakah mereka serius atau tidak" potong Qiara.
'Kenapa Qiara seolah tak suka saat aku membahasnya? Apa mungkin Qiara sudah memiliki suami? Atau mungkin dia seorang janda? Tapi, kalaupun dia janda, aku tetap menerimanya. Hanya saja, aku tak bisa terima keadaan kalau dia masih berstatus istri orang' batin Revan.
"Apa kau sudah menikah? Atau mungkin kau sudah janda?" tanya Revan mengungkapkan apa yang sedang mengganjal di hatinya.