Enam

1081 Kata
Dengan membulatkan matanya, Qiara menyemburkan minuman yang baru saja ia masukkan ke mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang Revan tanyakan padanya, semua sungguh di luar dugaannya. "Astaga, maaf, maaf. Aku tidak sengaja." ucap Qiara. Qiara mengambil beberapa tissue lalu memberikannya kepada Revan, namun Revan bereaksi seolah itu bukan yang ia inginkan, melainkan Qiaralah yang membersihkan wajahnya. 'Astaga, apa yang aku pikirkan? Sebegitu berharapnyakah aku? Sampai-sampai aku lupa siapa Qiara? Seharusnya aku tidak menyamakan Qiara dengan wanita-wanita yang aku temui di luar negeri, karena Qiara benar-benar berbeda' batin Revan sambil tersenyum. "Ah, tidak apa-apa Qia. Aku juga tau kau pasti terkejut" ucap Revan. "Kalau kau tau, kenapa kau bertanya seperti itu padaku?" tanya Qiara. "Maaf, aku hanya ingin tau" ucap Revan jujur. "Tapi rasa ingin taumu benar-benar mengangetkanku, beruntung aku tidak sedang makan daging, bisa-bisa tulangnya langsung masuk ke tenggorokanku" jawab Qiara yang membuat Revan tertawa kecil. "Pertama, aku bukan janda. Dan kedua, aku belum menikah. Kau juga bisa menyimak sedikit apa yang ayah dan ibuku katakan, jangan kau buang semua. Bukankah aku sudah bilang, jangan terlalu menanggapi serius, bukan berarti apa yang mereka katakan tidak serius. Aku hanya minta kmau untuk tidak menanggapi soal jodoh menjodohkan dari ayah dan ibuku, tapi kau juga seharusnya bisa menyimak kenapa mereka menjodohkanku. Tidak mungkin bukan ayah dan ibuku menjodohkanku kalau aku sudah memiliki suami?" ucap Qiara. "Makanya aku bertanya, apakah sudah bersuami atau janda." ucap Revan. "Amit-amit kalau aku harus menjanda di usia semuda ini, meskipun aku tak bisa menentang takdir. Tapi biar bagaimanapun, seharusnya kau bisa melihat ekspresi ayah dan ibuku bukan? Tidak mungkin ayah dan ibuku sebahagia itu jikan menjodohkanku yang sudah berstatus janda." ucap Qiara. "Oh syukurlah" jawab Revan sambil tertawa kecil. "Apa?" tanya Qiara meyakinkan pendengarannya. "Ah, maksudku syukurlah kalau kau tidak berstatus janda. Bukankah kau juga bersyukur akan hal itu?" tanya Revan yang hanya di jawab dengan deheman oleh Qiara, membuat Revan lagi-lagi tertawa, namun ada rasa kecewa di dalam sana. 'Apa-apaan aku ini? Oh hati, sangat sulitkah untuk mengungkapkannya? Sekuat itukah kau menahan dan memendam perasaanmu? Ini sudah delapan tahun, cobalah untuk memberanikan diri mengungkapkannya. Kesempatan sudah ada di depan mata, jangan sampai apa yang ada dalam otakmu sebelumnya benar-benar terjadi, baru kau berani untuk mengungkapkannya. Karena jika itu benar-benar terjadi, kau benar-benar sidah gila' batin Revan. "Hem, bagaimana dengan kuliahmu, Qi?" tanya Revan. "Alhamdulillah lancar, kalau kamu?" tanya Qiara. "Alhamdulillah lancar Qi, dan itu benar-benar perjuangan banget. Awalnya aku hanya ingin menyelesaikan S1 ku di sana, tapi papi memaksaku untuk menyelesaikan S2 ku. Alhasil, aku harus pulang lebih lama ke Indonesia. Dan kau tau, itu sangan membosankan bagiku" tutur Revan. "Kenapa? Bukankah itu bagus? Tidak seperti diriku, hanya menyelesaikan S1 ku, dan itupun tidak aku manfaatkan. Lebih tepatnya aku harus membantu ayah dan ibuku. Tapi aku tidak menyesali itu, karena kalau aku bekerja, itu juga untuk mereka" ucap Qia. "Karena aku tak bisa secepatnya kembali ke Indonesia, sementara di Indonesia ada seseorang yang harus aku temui, dan siaalnya aku tidak bisa menemukannya" jawab Revan. "Oh iya, kau tau? Saat aku tiba di sini, aku datang ke rumahmu, tapi sayangnya kau sudah pindah" lanjut Revan memberi kode. "Kenapa? Apa kau tidak memiliki tempat tinggal makanya datang ke rumahku?" tanya Qia tak memahami maksud pertanyaan Revan, lebih tepatnya menghindar. 'Ya Allah, apa dia benar-benar ingin bertemu denganku? Apa yang dia maksud ingin dia temui di Indonesia adalah aku? Maafkan hamba ya Allah, yang begitu berharap terhadap ciptaanmu' batin Qiara. "Tentu bukan Qia, kau ada-ada saja" ucap Revan sambil tertawa, menganggap kalau Qiara sedang melawak. "Lalu? Eh tunggu dulu, dari mana kau tau rumahku?" tanya Qiara. Pertanyaan yang benar-benar di luar dugaan Revan, ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan menjebak dari apa yang mereka bahas. Seketika Revan gelagapan, tak tau harus menjawab apa. "Ah itu, em aku pernah melihatmu. Iya, aku tak sengaja melihatmu saat kamu pulang sekolah. Jadi aku tau kalau itu adalah rumahmu, karena aku melihatmu masuk ke sana" jawab Revan berbohong. Qiara menatap Rei dengan tatapan menyelidik, namun ia tak ingin membahas itu. Ia lebih memilih meminum minumannya daripada membahas hal yang menurutnya tidak begitu penting. "Oh iya Qi, apa kau tidak ingin bertsnya padaku apakah aku sudah menikah atau tidak?" tanya Revan penuh harap. "Untuk apa aku bertanya padamu? Aku bukan dirimu yang tidak bisa membava keadaan. Tidak mungkin kau mengajakku bertemu di luar seperti ini kalau kau sudah menikah dan memiliki istri ataupun anak, kecuali kalau kau itu pria berengsek yang lupa akan status, ya mungkin itu bisa terjadi." ucap Qiara santai, membuat Revan menganga tak percaya dengan jawaban yang Qiara lontarkan. 'Ah siaal, bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini di depan Qia? Ayolah Revan, kenapa kau begitu bodoh? Kau termasuk orang yang pintar di kampusmu, tapi bagaimana mungkin kau bisa begitu sangat bodoh di depan wanita yang satu ini?' batin Revan. "Ah, begitukah. Ternyata kau lebih pintar dariku, meskipun aku S2 sementara kau S1" canda Revan untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. "Berhenti memujiku yang terdengar mengejek itu, karena itu sangat tidak enak untuk di dengar" ucap Qiara yang lagi-lagi membuat Revan bungkam. 'Apa-apaan ini? Sedewasa inikah dia? Apa dia tak bisa di bercandai? Kenapa kau begitu membuatku penasaran Qia? Belum cukupkah saat kita masih duduk di bangku SMA dulu? Bahkan saat kembali bertemu denganmu, kau justru membuatku semakin penasaran, banyak perubahan yang terjadi pada dirimu. Tapi tak mengapa, aku menganggap semua ini tantangan untukku, untuk semakin mengenalmu lebih dalam' batin Revan. "Baiklah Qia, aku akui kau benar-benar sangat pintar. Tidak seharusnya aku bertanya begitu, seharusnya aku bertanya, apakah kau mau menikah denganku?" tanya Revan. Deg.. Detak jantung di antara mereka, bukan keduanya, melainkan detak jantung Revan. Sementara Qiara, hanya menatapnya penuh tanya. 'Apa-apaan ini, apakah dia sengaja mengatakan itu karena tau saat SMA aku menyukainya? Tidak adakah baginya basa-basi atau rasa ingin mengenal satu sama lain dulu? Awalnta aku senang bertemu dengannya, kenapa semakin ke sini aku merasa kurang nyaman? Di tambah lagi, saat ia melontarkan kalimatnya yang terakhir. Atau mungkin, aku tidak cinta pada Revan, melainkan hannya rasa kagum belaka?' batin Qiara sambil menatap Revan. 'Nah loh, mampus kamu Van, tamat riwayatmu. Bagaimana mungkin kamu bisa memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu kepada Qia? Kau baru saja bertemu dengannya, dan ini pertama kalinya bagimu untuk bicara langsung dengaannya sejak delapan tahun yang lalu, sejak kau megenal dirinya. Apa kau benar-benar sedang cari maki atau cari mati?' batin Revan. Seketika Revan dan Qiara terdiam, saling berdebat dengan pemikiran masing-masing. Tanpa mereka sadari, ada dua bola mata yag sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN