Prang..
Revan dan Qiara di buat terkejut dan tersadar dari lamunan mereka saat mendengar seorang pelayan terjatuh dan barang yang ia bawa berceceran di lantai. Bukan karena lalai, tapi karena ulah seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Maaf, kaki saya tak sengaja membuat anda tersandung" ucap Natan kepada pelayan itu, namun matanya masih tetap tertuju kepada Qiara dan Revan.
"Pria itu?" ucap Qiara setengah berbisik, namun nadanya terdengar jelas kalau ia sedsng kesal.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Revan yang mendengar ucapan Qiara.
"Ah, apa? Ah tidak, aku hanya kesal saja, bisa-bisanya dia berkata begitu" ucap Qiara gelagapan.
"Oh. Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku tadi?" tanya Revan, pertanyaan yang begitu jelas terdengan oleh Natan.
'Apa-apaan pria ini, bagaimana mungkin dia mengajak wanita itu menikah seperti itu? Apakah tidak ada tempat yang romantis? Atau mungkin, caranya sedikit lebih romantis? Bagaimana bisa dia mengajak seorang wanita menikah sementara bicara saja dia datar begitu?' batin Natan.
'Astaga Revan, di mana akal sehatmu? Bagaimana mungkin kau menanyakannya kembali? Oh otak dan hatiku, tolonglah saling bekerja sama' batin Revan.
"Haha, jangan terlalu serius. Aku hanya ingin membuktikan padamu kalau aku belum menikah. Lagipula, aku yakin kau tidak menganggapnya serius, karena kita juga baru pertama kali bertemu sejal delapan tahun yang lalu." ucap Revan dengan tenang, meski hati dan pikirannya sedang berdebat.
'Apa-apaan ini, apa dia sedang mempermainkanku? Bagaimana mungkin dia memintaku untuk tidak menganggapnya serius? Ah sudahlah, terserah dia saja. Lagipula, aku tidak terlalu berharap untuk itu' batin Qiara.
'Eh tunggu dulu, aku bilang apa tadi? Tidak terlalu berharap? Tidak terlalu? Apa-apaan ini? Itu artinya ada sedikit rasa berharap, meskipun hanya sedikit. Astaga Qia, sadarlah' batin Qiara lagi.
"Tidak, aku tidak menanggapinya dengan serius. Lagipula, bagaimana mungkin itu di sebut dengan keseriusan? Mengajakku untuk menikah dengan kata-kata simpel, haha. Di mana-mana melamar atau mengajak seorang wanita untuk bersanding di pelaminan itu romantis, jadi bagaimana mungkin aku menanggapinya serius" ucap Qiara sambil tersenyum, mencoba untuk tetap tenang, meski hatinya sedikit meronta.
Mendengar itu, Revan terkekeh meskipun ada sedikit rasa malu yang ia tutupi.
'Tapi itulah yang sebenarnya yang ada dalam hatiku Qia, itulah yang sebenarnya ingin aku katakan padamu saat ini. Tapi seperti yang kamu katakan, mungkin ini bukan waktu yang tepat. Untuk saling mengenal, sepertinya aku tidak perlu lagi mengenalmu lebih dalam, karena aku yakin dengan pilihanku, aku yakin kau yang terbaik untukku' batin Revan.
Sementara Natan, hanya menatap kesal kepada Qiara yang tidak memperdulikannya.
"Ayo kita pergi dari sini" ucap Natan dengan nada kesalnya.
"Loh kenapa bro?" tanya Dirgo bingung.
"Ikut aja atau aku tinggal" ucap Natan setengah berteriak, yang mampu membuat Qiara beralih menatapnya.
Namun, tatapan itu hanya sekilas, beberapa detik saja. Natan semakin jengkel terhadap sikap cuek Qiara, dan segera pergi meninggalkan cafe yang di ikuti oleh Dirgo dan Rendra.
"Kamu kenapa sih bro?" tanya Dirgo.
"Tidak apa-apa" jawab Natan ketus.
"Tidak apa-apa atau sedang apa-apa?" tanya Rendra.
"Apa maksudmu Ndra?" tanya Dirgo yang masih tak mengerti.
"Aku melihat Natan sedang memperhatikan wanita yang ada di depan kita tadi" ucap Rendra.
"Sok tau kamu" protes Natan.
"Bukan sok tau Tan, tapi itulah kenyataannya" ucap Rendra.
"Wanita yang mana sih Ndra? Kamu kalau ngomong yang jelas dong, jangan buat aku penasaran begitu" ucap Dirgo kesal.
"Itu Go, yang di depan kita. Wanita yang sedang bersama pria, wanita yang pakai hijab warna hijau" ucap Rendra.
"Oh, yang.." belum selesai Dirgo bicara, Natan langsung memotongnya.
"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi kepo seperti ini sih? Kenapa tidak jadi emak-emak rempong saja sekalian?" ucap Natan lalu melajukan mobilnya.
Sementara di cafe, ada sedikit rasa tidak nyaman yang mengganjal di hati Revan. Entah kenapa, ia merasa ada yang aneh pada Qiara. Ia merasa, kalau Qiara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
'Apa yang sebenarnya Qiara sembunyikan? Sepertinya Qiara kenal dengan pria itu, dan pria itu juga. Apakah pria itu sedang dekat dengan Qia? Atau mungkinkah pria itu mantan kekasih Qia?' batin Revan.
"Sepertinya tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan Van, sebaiknya kita pulang saja. Aku tidak ingin bersantai-santai di sini sementara orangtuaku sedang kewalahan di warung" ucap Qiara.
"Maafkan aku, aku hanya ingin bertemu dan berbincang denganmu. Ya, lain kali mungkin aku akan mengatakan apa yang sebenarnya ingin aku katakan" jawab Revan.
"Ya, dan sebaiknya kau mengajakku keluar lain kali, bukan hari ini" ucap Qiara dengan senyum, namun kata-katanya sangat menusuk hati Revan.
"Yasudah kalau begitu Qi, mari aku antarkan pulang" ucap Revan.
"Sudah sepatutnya, karena kaulah yang membawaku kemari. Tidak mungkin bukan barista di sini yang mengantarku pulang?" ucap Qiara yang membuat Revan seketika mematung. "Aku hanya bercanda, tidak perlu terlalu serius begitu. Jangan semua kata-kata kau anggap serius, karena itu bisa membuatmu lebih tua, atau mungkin akan membuatmu sakit hati" lanjut Qiara sambil tersenyum.
Seolah di hujam dengan pedang yang sangat tajam dan panjang, seketika Revan terdiam dan membulatkan mata tak percaya. Kata-kata yang Qiara lontarkan kali ini benar-benar menusuk hatinya, kata-kata yang terdengar begitu menyindir dirinya, meskipun Qiara tak bermaksud melakukan itu.
'Apa Qiara merasa sakit hati atas ucapanku? Apa dia menanggapi serius dan merasa kecewa? Ah bagaimana ini, ap Qiara akan marah padaku?' batin Revan cemas.
"Masih mau bengong di situ atau mengantarku pulang? Kalau masih ingin bengong, aku akan pulang naik taxi. Atau mungkin, kau ingin aku menunggumu sampai kau tersadar dari lamunanmu yang entah ke mana?" tanya Qiara yang menyadarkan lamunan Revan.
"Ah, aku minta maaf" ucap Revan.
"Tidak bisakah kau tidak minta maaf? Jika di hitung-hitung, entah sudah berapa kali kau minta maaf padaku. Dan kau tau, aku merasa risih akan hal itu Van. Jadi berhentilah meminta maaf." ucap Qiara.
"Baiklah princess, aku akan menutup mulutku dan tidak akan minta maaf padamu walau melakukan kesalahan sebesar apapun" ucap Revan.
"Eh, peraturan dari mana itu? Bagaimana mungkin kau tidak minta maaf setelah melakukan kesalahan?" tanya Qiara kesal.
"Bukankah kau yang memintaku begitu? Aku minta maaf karena aku melakukan kesalahan, tapi kau melarangnya. Jadi sebaiknya aku tidak minta maaf bukan?" tanya Revan balik.
"Aku tidak memintamu untuk tidak meminta maaf saat melakukan kesalahan, hanya saja aku memintamu untuk tidak selalu meminta maaf. Dikit-dikit minta maaf, dikit-dikit minta maaf. Dan itu juga suatu pelajaran untukmu, untuk mengurangi kesalahan. Dengan begitu, kau akan mengurangi permintaan maaf kepada orang lain." jelas Qiara.
"Baiklah buk, saya akan mengingat apa yang ibu ucapkan" ucap Revan yang membuat mereka terkekeh bersama.
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Revan mengantarkan Qiara pulang. Bukan ke rumah Qiara, melainkan ke warung Qiara, karena Qiara ingin langsung membantu orangtuanya. Qiara yakin, orangtuanya sedang kewalahan saat ini.
"Apa kau ingin mampir dulu?" tanya Qiara.
Jika kau tidak keberatan" jawab Revan sambil tersenyum.
"Aku tidak keberatan, hanya saja aku harap kau tidak marah kalau aku tidak menghiraukanmu. Karena kau bisa lihat, warung sangat ramai. Itu artinya aku akan sibuk dan tidak ada waktu meladenimu" ucap Qiara.
"Justru aku ingin membantumu, kau tidak perlu khawatir" jawab Revan sambil tersenyum. Seketika itu juga jantungnya berdetak tak karuan melihat Qiara tersenyum, dengan lesung pipit yang terlihat jelas membuatnya semakin menawan.
"Revan dan Qiara memasuki warung bersamaan, dan benar saja mereka mendapati warung sangatlah ramai. Namun, Revan dan Qiara terkejut melihat apa yang ada di depan mata mereka. Apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan mereka.