Qiara berjalan menghampiri ayah dan ibunya, menatap mereka tajam seolah bertanya apa yang terjadi.
"Kamu sudah puang nak?" tanya Suherman yang tak menghiraukan tatapan Qiara.
"Assalamu'alaikum ayah, ibu" ucap Qiara yang baru tersadar kalau dirinya belum mengucapkan salam, sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Begitu juga dengan Revan yang ikut serta melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumsalam nak" jawab Suherman dan Sulastri bersamaan.
"Kalian sebaiknya ke rumah dulu, soalnya di sini masih rame. Ayah dan ibu tidak ada waktu untuk berbincang dengan kalian, ya nak. Maaf sebelumnya ya nak.. Siapa namanya?" tanya Suherman mencoba mengingat-ingat.
"Revan om" jawab Revan.
"Ah iya, maaf om masih belum bisa mengingatnya, hehe" ucap Suherman lalu pergi melayani pelanggan.
"Ibu, itu.." belum selesai Qiara bicara, Sulastri langsung memotongnya.
"Sebentar ya nak, pelanggan sedang menunggu pesanannya. Bawalah nak Revan ke rumah, nanti kita bicarakan kalau memang ada yang ingin di bicarakan" ucap Sulastri.
"Tidak perlu tante, Revan lihat om dan tante sedang kewalahan, sebaiknya kita di sini saja bantu om dan tante. Tidak apa-apa kan tante?" tanya Revan.
"Loh, kok nanya tante si Van? Harusnya tante yang nanya sama kamu, tidak apa-apa kamu melayani mereka? Capek loh Van, sebaiknya kalian ke rumah saja deh" ucap Sulastri.
"Tidak usah bu, sebaiknya kami di sini saja. Tidak baik pria dan wanita yang bukan mahram berduaan di rumah" jawab Qiara.
"Iya tante, lagipula aku tidak apa-apa kok tan, justru aku senang bisa bantu om dan tante" ucap Revan.
"Yasudah kalau begitu, terima kasih ya Van" ucap Sulastri yang di jawab dengan senyuman oleh Revan.
Tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Dua pasang di antaranya melihat dengan seksama, dan sepasang lagi melihat dengan emosi yang berapi-api, ada kecemburuan yang terpancar dari dua bola mata itu.
"Apa yang mereka lakukan di sini, Qia?" tanya Revan.
"Kenapa bertanya padaku? Bukankah sejak tadi aku bersama denganmu? Sudahlah, tidak perlu di fikirkan. Sebaiknya aku membantu ayah dan ibu, karena mereka sedang kewalahan. Jika kau juga ingin membantu, maka sebaiknya kau ikuti aku tanpa harus mengurusi mereka" ucap Qiara lalu pergi membantu ayah dan ibunya.
'Apa-apaan ini? Benarkah mereka tidak saling mengenal? Lalu, kenapa pria itu bisa ada di sini? Dari tatapannya, aku bisa melihat kalau dia sedang marah melihat aku sedang bersama Qia. Apa benar mereka sedang menjalin hubungan?' batin Revan.
Tak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya, Revan memilih untuk mengikuti Qiara.
Masih di tempat yang sama, Natan menghentikan aktivitasnya dan memandangi Qiara yang sedang sibuk melayani pelanggan. Ia menatap tajam Qiara yang sedang berbicara dengan pelanggan pria, tatapan yang sulit di artikan.
"Bro" ucap Dirgo yang membuat Natan tersadar dari lamunannya.
"Ada apa sih?" tanya Natan ketus.
"Oh, jadi ini wanita yang kalian bicarakan? Ini alasan kamu datang kemari dan rela menjadi pelayan di sini?" tanya Dirgo balik.
"Sudah tau masih nanya kamu Go, lain kali kamu harus bisa membaca situasi atau keadaan." celoteh Rendra.
"Namanya juga gak tau Ndra, kan aku lagi nanya biar tau. Eh dengar ya Ndra, gak semua orang itu bisa membaca situasi, sama halnya tidak semua orang itu bisa peka" protes Dirgo.
"Terserah kamu deh Go, memang kalau debat sama kamu gak bisa menang. Jangankan untuk menang, seri aja susahnya minta ampun. Kamu kan sama saja sama emak-emak, selalu saja ada jawaban" ucap Rendra.
"Oh iya Tan, pilihan kamu oke juga. Tapi kamu yakin Tan, dia tertutup loh Tan. Aku gak yakin kalau kamu bisa meluluhkan hatinya Tan, karena menurutku itu sangat sulit. Kamu tau kan maksudku apa?" tanya Dirgo.
"Kenapa tidak, Go? Selagi Natan bisa meyakinkan wanita itu, dia pasti bakalan terima Natan apa adanya kok" ucap Rendra.
"Tapi sepertinya sulit Ndra, kamu sudah lihat sendiri kan? Dia sangat tertutup, sementara Natan?" ucap Dirgo yang membuat Rendra seketika terdiam, sementara Natan lebih memilih untuk menyimak perdebatan kedua temannya.
"Sudahlah, itu semua tergantung Natan. Dan kamu Tan, kalau memang kamu benar-benar menyukainya, kamu harus pertimbangkan resikonya. Kamu ingin memilih dia dan melepaskan semua yang ada padamu atau melepaskannya dan memilih yang sesuai denganmu." ucap Rendra.
"Rendra benar Tan, kamu harus benar-benar memikirkannya. Itu sangat berat Tan, dia benar-benar jauh berbeda" ucap Dirgo menimpali.
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali bekerja. Jika ingin membahasnya, sebaiknya kita bahas di Club setelah selesai dari sini" ucap Natan, lalu kembali bekerja membantu orangtua Qiara.
Tak terasa waktu berputar, semua bakmie habis terjual tanpa sedikitpun yang tersisa. Betapa bahagianya ayah dan ibu Qiara, di tambah lagi mereka di bantu oleh pria-pria tampan. Pria yang menurut mereka salah satunya akan menjadi menantu merek, namun kembali lagi kepada Qiara, mereka tak ingin memaksa apalagi menjodohkan Qiara tanpa adanya persetujuan dari putri kesayangan mereka itu.
"Akhirnya ya bu, semua dagangan kita habis, dan lebih cepat dari sebelumnya. Ayah merasa tak enak kepada pelanggan yang tak kebagian" ucap Suherman.
"Iya yah, tapi mau gimana lagi yah, rezeki menghampiri kita lebih cepat. Di tambah lagi, kita di bantu pria-pria tampan dan baik hati ini, membuat pelayanan kita lebih cepat" jawab Sulastri. "Terima kasih ya nak, kalian sudah membantu kami." ucap Sulastri kepada Natan dan teman-temannya.
"Sama-sama tante" jawab Natan dan teman-temannya bersamaan.
"Kamu juga nak Revan, terima kasih sudah mau membantu om dan tante" ucap Sulastri.
"Tidak apa-apa tante, Revan juga menikmatinya" jawab Revan tulus.
Seketika semua terdiam, tidak ada yang ingin berbicara satu sama lain. Melihat itu, Suherman dan Sulastri saling pandang, mencoba untuk mencerna apa maksud dari anak muda yang ada di hadapan mereka ini.
"Ehem, semua sudah selesai. Om dan tante akan membereskan warung sebentar, dan kalian tidak perlu membantu om dan tante untuk itu, karena om dan tante tau kalian sudah lelah. Atau kalian mau ke rumah dulu sekedar menghilangkan lelah?" tanya Sulastri.
"Ah tidak perlu tante, sebaiknya Revan pulang saja. Kebetulan Revan ada urusan sebentar lagi" tolak Revan yang di jawab dengan anggukan oleh Sulastri, lalu beralih memandang Natan.
"Kami juga tante, sebaiknya kami pulang saja. Kami juga masih ada urusan, jadi lain kali saja ya tante. Tapi sebelumnya, bolehkah saya berbicara dengan Qiara sebentar?" tanya Natan.
Qiara membulatkan mata mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Natan, begitu juga dengan Revan yang masih berada di tempatnya. Sementara Suherman dan Sulastri, saling adu pandang sebelum mengangguk mengiyakan.