Kembali lagi Qiara membulatkan mata tak percaya melihat respon ayah dan ibunya, semua sungguh di luar dugaannya.
'Apa-apaan sih ayah, ibu. Kalian tau bukan kalau pria ini? Bagaimana mungkin kalian mengangguk tanpa meminta persetujuanku?' batin Qiara kesal.
"Kalau begitu, kami permisi dulu tante, om" ucap Natan yang di jawab dengan anggukan oleh Suherman dan Sulastri. Dirgo dan Rendra mengekorinya dari belakang, begitu juga dengan Qiara yang mengikuti mereka dengan langkah berat dan bibir sedikit di manyunkan.
"Revan juga pamit ya om, tante" ucap Revan yang di jawab dengan anggukan oleh Suherman dan Sulastri.
Sulastri dan Suherman kembali membereskan warungnya, namun mereka merasa sedikit tak tenang.
"Yah, apa yang akan pria itu lakukan pada putri kita?" tanya Sulastri.
"Natan bu?" tanya Suherman kembali.
"Iya yah, kok perasaan ibu tidak enak ya" ucap Sulastri.
"Tidak apa bu, mungkin mereka ingin menyelesaikan masalah mereka yang kemarin. Biarkan saja bu, ini urusan anak muda. Kita hanya perlu bertindak jika apa yang mereka lakuka sudah melenceng. Lagi pula, dari apa yang ayah lihat, sepertinya nak Natan pria yang baik" jawab Suherman.
"Semoga saja yah" ucap Sulastri lalu kembali membereskan warungnya.
Tak jauh dari warung, Natan berhenti di sebuah parkiran dekat mobilnya terparkir. Dengan tatapan tajam, ia menatap Revan yang berjalan ke arah mobilnya sambil melihat ke arah mereja.
"Kalian tunggu lah di mobil, aku ingin bicara empat mata dengannya" ucap Natan, dengan cepat Dirgo dan Rendra pergi tanpa adanya penolakan.
Hening mulai menghampiri Natan dan Qiara setelah kepergian Dirgo dan Rendra, dan mata Natan masih saja tertuju kepada Revan yang baru saja berlalu melewati mereka. Qiara yang sangat banyak bicara saat bersama Revan, justru hanya diam seribu kata saat bersama Natan.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Natan. Bukannya menjawab, Qiara justru menatap tajam Natan.
"Kenapa kau menatapku? Tidak bolehkah aku bertanya?" tanya Natan, terlihat jelas kalau dia sedang salah tingkah.
"Apa yang harus aku bicarakan? Bukan kah kau yang meminta izin kepada ayah dan ibu ku karena ingin berbicara dengan ku? Lalu, kenapa kau bertanya kenapa aku diam saja seolah akulah yang ingin bicara dengan mu? Ini kah yang ingin kau bicarakan? Benar kah kau ingin bicara dengan ku atau hanya berpura-pura? Sungguh membuang waktu ku saja" ucap Qiara ketus lalu pergi meninggalkan Natan. Namun, dengan cepat Natan menarik tangan Qiara.
"Tunggu, aku.." Belum selesai Natan bicara, Qiara langsung memotongnya.
"Lepaskan, kita bukan mahram. Jangan menyentuh ku sesuka hati mu, karena kau bukan mahram ku. Jika kau terbiasa menyentuh wanita lain seenak mu, jangan samakan itu dengan ku." ucap Qiara tegas.
"Aku minta maaf, aku hanya ingin berbicara dengan mu" ucap Natan.
"Bicaralah, tapi tanpa menyentuh ku. Karena yang aku tau, bicara itu pakai mulut, bukan pakai tangan" jawab Qiara.
"Aku hanya ingin menghentikan mu, karena kau ingin pergi." ucap Natan membenarkan dirinya.
"Aku tak akan pergi jika kau benar-benar ingin bicara, tapi kau justru mengulur-ulur waktu, dan manurut ku itu tidak penting. Jik kau memiliki banyak waktu yang bisa kau buang, tapi aku tidak memilikinya. Kaena bagi ku, lebih baik waktu itu aku pergunakan untuk membantu ayah dan ibu ku di warung, supaya pekerjaan mereka cepat selesai" ucap Qiara yang sontak membuat Natan bungkam. "Bicaralah, apa kau tak ingin berbicara? Kalau tidak, aku akan pergi" lanjut Qiara.
"Aku minta maaf" ucap Natan tulus.
"Berhentilah minta maaf untuk hal yang tidak penting, kau dan dia sama saja" ucap Qiara.
"Dia siapa?" tanya Natan dengan tatapan tajam, seolah ia tak suka mendengar kata-kata itu keluar dari bibir indah Qiara.
"Itu tak penting" jawab Qiara.
"Tapi aku benar-benar minta maaf" ucap Natan.
"Untuk apa?" tanya Qiara.
"Untuk apa yang terjadi malam itu, aku benar-benar minta maaf" ucap Natan.
"Untuk apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, dan kau baru minta maaf sekarang? Harus kah kau meminta maaf setelah merenungi kesalahan mu beberapa hari? Tidak bisa kah kau minta maaf saat itu juga? Huft, tapi tidak apa-apa, setidaknya kau sudah tau kalau kau bersalah" jawab Qiara.
"Apa kau memaafkan ku?" tanya Natan penuh harap.
"Aku sudah memaafkan mu saat itu juga, hanya saja aku berharap kau mengakui kesalahanmu" jawab Qiara. "Yasudah, sebaiknya kau pulang karena aku ingin membantu ayah dan ibu ku membersihkan warung" lanjut Qiara.
"Baiklah, lain kali aku akan membantu ayah dan ibu mu lagi" ucap Natan sambil tersenyum kegirangan.
"Apa? Jadi kau mencoba untuk menyogok ku supaya memaafkan mu?" tanya Qiara.
"Tidak, tidak. Maksudku bukan seperti itu" jawab Natan.
"Apa pun itu, terserah kau saja. Yang jelas, aku tak suka kau melakukan itu hanya untuk mendapatkan maaf dariku. Aku tulus memaafkan mu, jadi tidak perlu membantu ayah dan ibu ku lagi" ucap Qiara. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum" ucap Qiara.
"Wa'alaikumsalam" jawab Natan sambil terus memperhatikan Qiara sampau menghilang di balik pintu.
"Eh nak, sudah selesai bicaranya?" tanya Sulastri.
"Sudah bu" jawab Qiara. "Masih ada yang perlu Qia bantu bu?" tanya Wia.
"Tidak nak, semua sudah selesai. Ibu hanya ingin mengambil hasil penjualan kita, setelah itu kita pulang ke rumah" jawab Sulastri. "Oh iya nak, apa yang kalian bicarakan nak? Apakah ada masalah?" tanya Sulastri.
"Tidak kok bu, dia hanya ingin minta maaf atas apa yang sudah dia lakukan wantu itu, saat dia menabrak ku." jawab Qiara.
"Oh syukurlah nak, ayah lega mendengarnya. Dia juga datang ke sini berniat untuk minta maaf pada mu, hanya saja, kau tidak ada di sini. Ayah sudah memintanya untuk pulang dan kembali lagi sore nanti, tapi dia tidak mau dan memilih untuk membantu ayah dan ibu mu. Awalnya ayah dan ibu menolak, tapi dia memaksanya. Ayah dan ibu tidak bisa berbuat apa, dan menurut saja" jelas Suherman.
"Yasudalah yah, biarkan saja. Mungkin dia merasa tak tenang sebelum minta maaf. Yang penting, Qia sudah memaafkannya bahkan jauh sebelum dia minta maaf" jawab Qiara.
"Tapi Qi, sepertinya dia menyukai mu" tebak Sulastri.
"Apaan sih bu" protes Qia kesal.
"Iya Qi,itu yang ibu lihat. Tapi ibu tidak tau pastinya, itu hanya sekedar penglihatan ibu saja. Tapi tidak apa kok Qi, sepertinya dia calon menantu yang baik" ucap Sulastri.
"Ibu.." rengek Qiara.
"Sudah, sudah bu. Jangan menggoda putri mu terus-menerus, nanti dia marah" ucap Suherman menengahi.
"Tapi ibu sudah pengen punya menantu yah" kali ini Sulastri yang merengek, membuat Qiara tak dapat melawannya.
"Sudah lah bu, mungkin belum waktunya." jawab Suherman. "Oh iya nak, bagaimana dengan nak Revan?" tanya Suherman.
"Entahlah yah, tidak ada yang di bahas. Mungkin dia hanya sengaja karena igin bertemu dengan ku, jadi sebaiknya tidak perlu di bahas." ucap Qiara.
"Yasudah, kalau begitu sebaiknya kita pulang" ucap Suherman.
Seperti kebiasaan mereka sehari-hari, sebelum membersihkan diri dan makan malam, mereka terlebih dahulu menghitung hasil penjualan, lalu tidur karena besok mereka akan melanjutkan rutinitas seperti biasanya.