Sebelas

1214 Kata
Natan memilih untuk tidak minum terlalu banyak, karena ia akan menghadapi singa yang menurutnya akan memangsanya. Dengan langkah pasti, Natan memasuki rumahnya yang minimalis namun elegan itu. Setelah memasuki pintu, ia mengendap-endap supaya tidak ketahuan, berharap singa yang menantinya sudah tidur. "Bagaimana pun kamu berjalan, aku akan mendengarnya, dan aku juga bisa mencium bau mu yang sangat menyengat itu" ucap Pratama, papa Natan. Tak ada yang dapat Natan lakukan, selain menghampiri sang papa yang tengah duduk di ruang tamu bersama mama tersayangnya, Daniati. "Kau tau Tan, papa ini sudah tua, orangtua. Tidak sepatutnya kamu bertingkah seperti ini kepada papa, terlebih papa adalah papa kandung kamu sendiri." ucap Pratama. "Mama kamu sudah menghubungi kamu, dan meminta kamu untuk segera pulang karena papa ingin bicara sama kamu. Tapi lihat, apa yang sudah kamu lakukan? Kamu pulang jam sebelas malam dan membuat papa menunggu sampai selama itu, dan tanpa dosa kamu mencoba untuk menghindari papa" ujar Pratama. "Maaf pa" jawab Natan. "Duduk" perintah Pratama, dengan cepat Natan menurutinya dan duduk di depan papanya. "Dari mana kamu Tan? Kamu pasti sedang bersama teman-teman mu itu kan? Tidak ada lagi tempat lain yang akan kalian kunjungi kecuali club. Tidak bisa kah kamu tidak ke sana? Tidak bisa kah kamu fokus bekerja, dan tidak bisakah kamu mencarikan mama dan papa menantu?" tanya Pratama. "Tidak bisakah kamu mencarikan mama dan papa menantu?" ucap Natan pelan bersamaan dengan Pratama, karena bukan sekali dua kali lagi Pratama berkata seperti itu kepada Natan, sampai-sampai Natan hapal dengan kalimat itu. "Lihat ma, lihat. Anak ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia meledek papanya seperti ini?" ucap Pratama. Daniati mencoba untuk memberitahu anaknya, dengan penuh cinta ia mendekati Natan dan menggenggam tangannya. "Nak, papa kamu benar. Kapan kamu akan membawakan menantu ke rumah ini? Kapan kami akan melihatnya? Setidaknya untuk mengenalkan calon menantu mama dan papa, bawalah dia kemari nak. Mama tidak tau siapa wanita yang sedang mengisi hatimu saat ini, dan mama benar-benar ingin tau. Kau tau, hanya satu kerinduan papa dan mama, yaitu melihat kamu menikah. Kalau Tuhan mengizinkan, mama dan papa ingin menimang cucu dari kalian. Kita tidak tau kapan ajal akan datang, mama ingin pergi dengan tenang dan melihat sudah ada pengganti mama di sisi mu" ucap Daniati. "Mama ngomong apa sih ma? Jangan bicara gitu dong ma, Natan gak suka. Mama akan panjang umur, dan Natan yakin mama dan papa pasti akan melihat Natan menikah dan menimang cucu-cucu mama" ucap Natan. "Iya tapi kapan Tan? Kau selalu mengatakan itu kepada mama dan papa, tapi sampai sekarang kau tidak membawanya untuk bertemu dengan mama dan papa. Apa kau akan menunggu sampai mama dan papa sakit, atau mungkin meninggal? Semua tidak ada gunanya lagi, mama ingin melihat mu menikah Tan" ucap Daniati, air matanya mulai mengalir. Begitulah Daniati setiap kali membahas menantu kepada Natan, ia tak dapat membendung air matanya atas kerinduannya untuk segera memiliki menantu dan menimang cucu. "Kalau begitu, yasudah. Kau tidak perlu membawa mama menantu lagi, mama tidak akan menuntut mu lagi. Mama tidak akan pernah membahasnya lagi, apa kau puas? Mama akan seperti ini, sampai mama mati, mama tidak akan menjadi mertua dan tidak akan menjadi nenek. Biarkan saja, tidak perlu menuruti apa yang mama katakan. Meski pun mama selalu menuruti apa yang kau katakan, mama tidak akan meminta mu lagi. Hanya sekali ini saja mama meminta sesuatu pada mu, tapi itu pun kau tidak bisa kabulkan, hiks..hiks" ucap Daniati. Tak ada yang bisa Natan katakan, ia juga tak tega melihat mamanya menangis seperti ini. "Ma, tidak segampang itu ma. Natan.." belum selesai Natan bicara, Daniati langsung memotongnya. "Kenapa Tan, kenapa? Hanya ini permintaan mama, tidak ada yang lain Tan. Mama juga tidak memaksa mu untuk menikah dengan orang yang tidak kamu suka, mama memberi mu kebebasan untuk memilih. Mama tidak pernah menjodohkan mu bukan? Mama tidak seperti orangtua dalam novel atau sinetron, mama tidak mau kamu tersiksa dan terbebani karena wanita itu bukan pilihan mu. Jadi apa lagi Tan? Apa lagi yang harus mama lakukan? Mama menyerah Tan, mama benar-benar menyerah. Mama pasrah sekarang, terserah kamu mau menikah atau tidak, hiks..hiks" ucap Daniati, namun Natan memilih untuk diam dari pada berdebat dengan sang mama. "Kalau mama menyerah dan mengalah pada mu, tapi papa berbeda Tan. Papa tidak akan mau meninggal sebelum melihat mu menikah, bahkan melihat mu memberikan cucu untuk papa. Jadi, papa sudah putuskan. Papa akan menjodohkan mu dengan salah satu putri rekan kerja papa, dan papa tidak menerima penolakan. Mau tidak mau, kau harus mau di jodohkan" ucap Pratama. "Apa-apaan sih pa, Natan gak mau" protes Natan. "Bukan kah papa sudah bilang tidak ada penolakan?" tanya Pratama. "Ma.." Natan merengek kepada Daniati, namun Daniati tak menghiraukannya. "Mama tidak mau ikut campur, mama tidak mau lagi memikirkan hal itu dan membuat mama sakit. Sekarang, apa yang kau perdebatkan dengan papa mu, itu urusan kalian. Bukan kah mama dan papa sudah memberi mu kesempatan untuk memilih wanita mu? Tapi apa yang mama dan papa dapatkan, kau selalu mengelabui kami. Jadi, ikuti saja apa yang papa mu katakan. Kamu tau kan, apa yang sudah papa mu putuskan, sedikit pun tidak bisa di ganggu gugat." ucap Daniati. "Tapi ma, pa. Natan sudah punya calon, hanya saja Natan belum begitu mengenalnya lebih dalam. Jadi Natan mohon sama mama sama papa, kasih Natan waktu. Natan pasti akan membawanya kemari, kalau waktunya sudah tepat" ucap Natan. Dengan cepat Daniati dan Pratama saling berdekatan, saling adu pandang, lalu kembali menatap Natan. "Benarkan sayang? Siapa namanya? Di mana dia tinggal?" tanya Daniati. "Iya ma, namanya Qiara. Tapi aku masih dalam tahap pendekatan, belum juga mengungkapkan perasaan Natan. Jadi Natan harap mama dan papa sabar menunggu, dan doakan Natan semoga dia benar-benat jodoh Natan, dan menantu untuk mama dan papa." ucap Natan. "Kamu belum menjawab pertanyaan mama mu, di mana calon menantu kami tinggal?" tanya Pratama mengulangi pertanyaan istrinya. "Untuk itu, aku tidak akan beritahu mama dan papa. Aku tidak ingin mama dan papa mengacaukan semuanya, ujung-ujungnya menyalahkan aku karena belum memberikan kalian menantu." protes Natan. "Kenapa kamu bilang mama dan papa mengacau? Mama dan papa hanya ingin mengenalnya, tidak salah kan?" tanya Daniati. " Ya tidak salah, tapi itulah letak masalahnya. Aku yakin mama dan papa akan mencari tahu tentang dia, dan bisa saja mama dan papa mengacaukannya. Jadi sebaiknya mama dan papa sabar menunggu, sampai Natan membawa calon menantu mama dan papa dan memperkenalkan dia kepada kalian. Dan satu lagi, jangan pernah mama dan papa mencari tahu tentang dia, kalau mama dan papa ingin segera memiliki menantu" ancam Natan. "Baiklah, mama dan papa akan sabar menunggu, tapi jangan lama-lama ya" ucap Daniati. "Iya ma, siap. Kalau begitu Natan ke kamar dulu ya ma, pa. Natan sudah mengantuk" ucap Natan. "Yasudah. Oh iya Tan, besok kamu ikut sama papa. Mulai besok, kamu akan bekerja dengan papa" ucap Pratama. "Iya pa" jawab Natan yang tak pernah membantah ucapan Pratama, kecuali tentang jodoh. "Pa, sebaiknya kita cari tau tentang calon menantu kita. Mama tidak sabar menunggu Natan, takutnya dia akan mengulur waktu" ucap Daniati. "Iya ma, mama benar" jawab Pratama. Merasa apa yang menjadi beban pikiran mereka selama ini mulai terselesaikan, Pratama dan Daniati mulai bernapas lega. Lalu mereka menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk beristirahat, berharap hari esok akan membawa berita baik tentang kerinduan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN