Dengan langkah berat, Revan memasuki rumahnya. Di sana sudah ada mami papi tercinta, Guntoro dan Agatha, sedang menunggu kedatangan dirinya.
Setelah melihat Revan, dengan cepat Agatha menghampiri dirinya. Menariknya untuk duduk di sofa, sambil tersenyum melirik Guntoro.
"Sayang, bagaimana perjalanan kamu?" tanya Agatha.
"Perjalanan apa mi? Memangnya Revan jalan-jalan?" tanya Revan.
"Bukan itu maksud mami, maksud mami itu perjalanan cinta mu. Bagaimana usaha kamu, apakah berhasil?" tanya Agatha.
"Iya Van, kapan kamu akan kenalkan calon mantu papi sama papi sama mami mu juga?" Guntoro menimpali.
"Semua gagal total mi, pi. Semua kacau, dan lebih kacau dari apa yang Revan bayangkan" ucap Revan, memang dia sedikit lebih terbuka kepada mami dan papinya tentang percintaannya di bandingkan dengan Natan.
"Gagal? Kacau? Maksud kamu apa Van? Jangan buat mami dan papi mu penasaran deh Van" ucap Agatha kesal.
"Iya Van, kenapa bisa gagal? Apa mungkin dia sudah menikah? Sudah menjadi istri orang?" tanya Guntoro.
"Bukan pi" jawab Revan lesu.
"Lalu apa? Apa mungkin dia menolak kamu? Apa dia takut kamu tidak memiliki uang? Apa dia wanita yang matre?" tanya Agatha.
"Bukan juga mi" jawan Revan.
"Lalu apa dong Van? Jangan buat mami dan papi penasaran dong. Kenapa harus menunggu mami dan papi bertanya sih Van?" ucap Guntoro kesal.
"Lebih seru aja pi, hehe" jawab Revan sambil terkekeh. "Sebenarnya dia bukan istri orang lain mah, dan dia juga belum menikah. Saat ini dia belum memiliki status, hanya saja aku melihat sepertinya dia sedang dekat dengan seseorang. Karena saat aku membawanya ke cafe, di sana ada pria yang menatap kami dengan tatapan berapi-api. Dan lebih parahnya lagi, saat aku mengantarnya pulang, pria itu sudah ada di warung bakmie milik mereka" jelas Revan.
"Lalu, kau tidak menanyakan kebenarannya? Kau tidak tanya padanya, siapa pria itu sebenarnya?" tanya Agatha.
"Aku sudah menanyakannya mi, tapi dia bilang kalau dia tidak ada hubungannya dengan pria itu. Tapi dari apa yang aku lihat, sepertinya mereka ada hubungan" ucap Revan.
"Itu artinya dia berbohong dong? Iya kan pi?" tanya Agatha pada Guntoro.
"Iya Van, berarti dia bukan wanita baik-baik dong?" Guntoro menimpali.
"Tidak pi, mi. Aku yakin kalau dia itu wanita baik-baik, aku benar-benar yakin. Hanya saja, aku tidak begitu berani mengungkapkan perasaan ku, akhirnya dia sangat jutek pada ku." ucap Revan.
"Loh kenapa Van? Masa anak papi tidak berani mengungkapkan perasaan? Masa anak papi yang sekolah di luar negeri, kalah hanya untuk mengungkapkan perasaan? Ayolah Van, bagaimana bisa mental mu selemah ini" ucap Guntoro.
"Revan tau pi, Revan tau. Tapi Qiara berbeda, benar-benar berbeda dari wanita yang pernah Revan temui, terutama wanita yang ada di luar negeri. Qia sangat tertutup, bagi Revan dia sangat sempurna. Bahkan sejak delapan tahun yang lalu, dia benar-benar masih wanita paling sempurna yang pernah aku temui. Dan saat ini, dia jauh lebih sempurna, sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Papi tau kan bunga, bunga itu sangat indah, di tambah lagi saat bunganya mekar, akan semakin indah. Begitulah Qiara, sekarang dia sangat indah" ucap Revan sambil membayangkan wajah Qiara.
"Oh namanya Qiara, tapi benarkah dia wanita yang paling sempurna dan paling indah yang pernah kau temui? Jadi, kau tak menganggap mami mu yang sangat cantik jelita ini?" protes Agatha.
"Bukan begitu mi, mami itu berbeda. Mami itu adalah malaikat yang tak ada duanya untuk Revan, dan takkan pernah ada duanya" ucap Revan.
"Beranikan diri mu Van, jangan sampai wanita mu di ambil oleh pria lain. Seperti yang kamu bilang, sepertinya dia sedang dekat dengan pria itu. Sebelum dia mendahului mu, kau harus terlebih dahulu mendapatkan wanita mu. Ingat Van, sebelum jalur kuning melengkung, kejar cinta mu. Kalau pun pria itu sudah mendahului mu, kekar lah secepat mungkin, usahakan untuk bisa menyalibnya di tikungan sebelum tiba di tujuan. Karena kalau sudah tiba, kamu sudah benar-benar kalah" ucap Guntoro.
"Papi apa-apaan sih pi, kok ngajarin anaknya gak benar begitu" protes Agatha.
"Kok gak benar sih mi, apa yang salah coba dengan kata-kata papi? Papi tidak meminta Revan untuk merebut wanita itu dari pria itu, papu hanya meminta Revan untuk berjuang, berusaha. Dari yang kita dengar, sepertinya mereka belum memiliki status. Jadi tidak salah kan kalau Revan berusaha? Sama halnya dengan balapan, sebelum sampai di garis finish, kamu boleh berusaha untuk menjadi pemenang bahkan menikungnya di tikungan tajam sekalipun. Hanya saja, kamu jangan berlaku curang. Kalau mereka sudah memiliki status pacaran atau mungkin menikah, baru Revan salah, karena itu artinya Revan merebutnya. Mami dengar sendiri kan apa yang Revan katakan? Delapan tahun, delapan tahun mi. Delapan tahun Revan memendam perasaannya, dan menjaga hatinya untuk wanita itu. Masa iya sudah di depan mata, Revan akan melepaskannya begitu saja? Gak gentle dong Van, itu namanya pengecut, pecundang. Dan asal kamu tau, papi tidak punya anak pengecut dan pecundang. Kamu mengerti kan maksud papi?" jelas Guntoro.
"Kalau Revan pecundang, bukan anak papi dong?" tanya Agatha.
"Iya dong mi, masa anak satu-satunya papi seorang pengecut. Mau di rarus di mana muka papi, anak papi harus berani, apalagi soal cinta" ucap Guntoro, seolah mengancam namun nyatanya hanya menggertak supaya Revan lebih bersemangat.
"Iya pi, Revan tau. Tapi.." Belum selesai Revan bicara, Guntoro langsung memotongnya.
"Tidak ada tapi-tapian Van, kejar dan bawa calon menantu papi ke rumah ini. Papi dan mami menunggunya, sampai kapan pun. Perjuangan hati mu yang selama ini membeku, selama delapan tahun. Masa kamu kalah sama papi Van, papi saja bisa memperjuangkan mami mu dari pria kaya yang sudah mendahului papi. Tapi karena pesona papi, akhirnya mami mu jatuh ke pelukan papi mu yang tampan ini." ucap Guntoro sembari menggoda istrinya.
"Papi apa-apaan sih, kok bawa-bawa mami?" protes Agatha.
"Memang benar kan mi, mami memilih papi? Tapi dari situ papa bisa menilai Van, kalau mami mu tulus mencintai papi, bukan karena harta" ucap Guntoro yang membuat Agatha tersipu malu. "Yasudah, mami dan papi mu mau istirahat dulu. Pikirkan apa yang papi katakan ya Van" ucap Guntoro. "Ayo mi" ajaknya lagi kepada Agatha, yang di jawab dengan anggukan sambil tersenyum oleh Agatha. "Lihat Van, apa kau tidak cemburu melihat papi dan mami mu bermesraan seperti ini? Apa kau tak ingin seperti ini? Makanya Van, cepat bawa calon menantu papi dan mami mu ini" ucap Guntoro menggandeng istrinya sambil tertawa kecil, membuat Revan semakin kesal. Sementara Agatha, hanya tersenyum sambil geleng kepala melihat kejahilan suaminya itu.