Seiring berjalannya waktu, Revan mulai mengumpulkan keberaniannya. Sudah lama sejak pertemuannya dengan Qiara, sampai saat ini mereka tidak bertemu lagi.
Ingin rasanya Revan menghubungi Qiara, namun ia takut lagi-lagi tak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Ia mencoba untuk menfokuskan diri bekerja, sampai tiba saatnya ia benar-benar berani, bahkan memiliki keberanian untuk melamar Qiara.
"Van, sudah berapa bulan kamu mendekati wanita itu, apa masih belum ada lampu hijau darinya?" tanya Agatha saat sedang sarapan bersama.
"Belum mi" jawab Revan singkat.
"Loh, usaha dong Van. Masa sudah sejauh ini belum ada perkembangan. Kalau begitu, kapan mami sama papi kamu nimang cucu?" tanya Agatha.
"Iya mi, nanti saja. Lagipula Revan masih banyak pekerjaan di kantor, jadi masih belum kepikiran. Nanti kalau pekerjaan Revan sudah beres, Revan akan usahakan untuk segera membawanya bertemu sama mami sama papi" jawab Revan berbohong.
"Jangan jadikan pekerjaan menjadi alasan mu Van, karena papi tidak menyukai alasan mu itu. Kalau memang pekerjaan mu menjadi penghalang, sebaiknya kamu tinggalkan kantor untuk sementara. Kejar cinta mu dan bawa menantu kami, papi akan menghandel semua urusan kantor" protes Guntoro.
"Tidak perlu pi, Revan bisa menanganinya. Hanya saja, Revan masih butuh waktu pi. Papi sama mami kan tau, mengungkapkan perasaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Belum lagi kalau mendapatkan penolakan, yang ada Revan langsung gantung diri" ucap Revan.
Pletakk
Secepat kilat Agatha memukul bibir Revan, sampai-sampai Revan tidak memiliki waktu untuk menghindar.
"Aw sakit mi" ucap Revan sambil menyentuh bibirnya.
"Itu tidak lebih sakit dari kata-kata mu, bagaimana bisa kau berpikir untuk gantung diri. Memikirkannya saja mama tak mampu, apalagi membayangkannya. Makanya kamu harus berusaha dari sekarang, berusaha untuk mendapatkan cinta mu, wanita mu. Masa menyerah sebelum berjuang. Kalau di tolak, pepet terus sampai dapat, jangan kasih kendor dong Van. Jagoan mami, pewaris papi, masa seperti ini. Kalau boleh jujur, mami malu tau Van" ucap Agatha.
"Iya ma, tapi kasih Revan waktu. Sedikit lagi mi, hanya sedikit lagi. Anggap saja Revan sedang memantapkan diri di perusahaan, sekaligus mengejar cinta Revan." ucap Revan setengah memohon.
"Terserah kamu saja Van, tapi ingat apa kata papi mu, kalau kamu tidak bisa mendapatkan cinta mu, terpaksa kamu harus mau di jodohkan" ancam Agatha.
"I-iya mi" jawab Revan terpaksa.
Di jodohkan? Seperti apa yang Agatha katakan, jangankan untuk membayangkan, memikirkannya saja Revan sampai bergidik ngeri.
'Apa-apaan sih si mami, dikit-dikit di jodohin, dikit-dikit di jodohin. Di kira ini zaman Siti Nurbaya apa? Ya kali aku mau di jodohin, yang ada aku kabur dari rumah. Masa iya aku harus nikah sama orang yang gak aku kenal? Terus aku harus selalu tersenyum setiap kali bertemu dengannya? Lebih parahnya lagi, masa aku harus menghu*amkan kejant*nan ku sama wanita yang tidak aku kenal itu? Yang ada kejant*nan ku patah, karena tidak mendapatkan gairah dan tidak bernafsu' batin Revan.
"Yasudah ma, papi sama Revan berangkat dulu. Kalau membahas tentang wanita Revan, sampai kiamat pun tak akan ada habisnya berdebat dengan dia." ucap Guntoro membuat Revan semakin kesal.
Di perjalanan menuju ke kantor, tak sengaja Revan melihat Qiara sedang berjalan menuju warung bakmienya. Tak lekang senyum mengembang di bibir tipisnya, membuat Revan tak mampu menahan gejolak di dadanya.
'Ya Allah, begitu indah makhluk ciptaan-Mu yang satu ini. Entah kapan aku berani mengambilnya dari-Mu, sungguh aku sangat menginginkannya' batin Revan.
Tanpa Revan sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak geriknya, menatapnya dengan tatapan curiga.
"Ada apa Van? Kau melihat apa sampai kepala mu berputar seratus delapan puluh derajat begitu? Atau mungkin kau ingin memindahkan wajah mu di bagian belakang? Kalau iya, papi bisa bantu, jadi papi tidak perlu melihat wajah menyebalkan mu itu saat papi sedang menyetir" Canda Guntoro.
"Papi apa-apaan sih? Sadis banget sama anaknya sendiri. Masa anak papi yang tampan ini wajahnya di belakang, yang ada para wanita takut liat aku pi. Papi tau kan resikonya apa, sampai tua sampai bungkuk papi tidak bisa melihat menantu papi, apalagi cucu papi. Papi mau? Papi mau gak ada penerus perusahaan papi?" balas Revan.
"Memang kamu ya Van, bukan hanya menyebalkan, tapi kamu juga anak yang sangat durhaka pada orangtua. Awas kamu ya, kalau sampai dalam dua bulan ini kamu belum memperkenalkan calon menantu papi sama papi dan juga mami kamu, papi tidak akan kasih toleransi lagi, papi benar-benar akan menjodohkan kamu, biar tau rasa kamu" ancam Guntoro.
'Ya elah, salah lagi kan? Lagi-lagi aku harus mendengar kata di jodohkan, membuatku bosan saja' batin Revan.
'Pi, memangnya papi mau di jodohin?" tanya Revan.
"Kok papi? Kamu tuh yang mau papi jodohin, kok malah papi yang mau kamu jodohin. Lagian mama kamu mau di kemanain?" protes Guntoro.
"Bukan begitu pi, papi selalu bilang di jodohin, di jodohin. Nah, gimana perasaan papi kalau papi yang di jodohin? Papi mau gak?" tanya Revan.
"Ya gak dong Van" jawab Guntoro santai.
"Nah, berarti.." belum selesai Revan bicara, Guntoro langsung memotongnya.
"Karena papi udah nikah Van, papi sudah punya jodoh, jadi tidak perlu di jodoh-jodohkan lagi" lanjut Guntoro.
"Ya Allah pi, maksud Revan bukan begitu pi. Maksud Revan kalau papi belum menikah, memangnya papi di jodohin?" tanya Revan.
"Gak dong Van, kan papi sudah punya pilihan sendiri tanpa harus di suruh cari jodoh sama kakek nenek kamu, jadi papi tidak perlu berurusan dengan perjodohan" jawab Guntoro membuat Revan semakin kesal.
"Papi apa-apaan sih, gak ada nyambung-nyambungnya di ajak bicara. Mending gak usah di bahas deh pi, yang ada aku bisa gila berdebat dengan papi" ucap Revan kesal, sementara Guntoro hanya terkekeh melihat tingkah anaknya yang bak anak kecil itu.
Di tengah kekesalannya kepada sang papi, Revan harus merasakan kekesalah yang teramat dalam lagi. Bagaimana tidak, baru saja ia melihat pria yang sangat ia benci, pria yang ingin ia cari tahu kebenarannya, lewat dari arah yang berlawanan dengan mengendarai sepeda motor.
Mata Revan memperhatikan sepeda motor itu sampai berlalu dari balik mobilnya, lagi-lagi gerak geriknya di perhatikan oleh sang papi.
"Kali ini apa lagi Van? Apa kau sedang melihat hantu? Atau kamu benar-benar ingin wajah mu papi pindahkan ke belakang?" ucap Guntoro.
"Gak ada pi, hehe" jawab Revan berbohong.
Kembali lagi Revan memikirkan pengendara motor itu, yang membuatnya merasa tak tenang.
'Ke mana dia? Apa dia akan ke sana lagi?' batin Revan menerka-nerka.