Setibanya di kantor, Revan tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya selalu di kelilingi oleh bayang-bayang pria bersepeda motor itu. "Aih, kenapa aku haru melihatnya? Pikirannya kacau karena dia, karena pria menyebalkan itu. Kenapa dia harus ada, kenapa dia harus hadir di dalam kisah hidup ku? Kenapa dia harus hadir di tengah-tengah kehidupanku?" ucap Revan, lalu mengacak-acak rambutnya. Merasa tak tenang, dan pekerjaan tak ada yang tertuntaskan, Revan memilih untuk pergi. Namun sebelumnya Revan menghampiri Guntoro, karena biar bagaimana pun ia tetap harus menghormati sang ayah. Meskipun ia adalah pewaris perusahaan sang papi, dia tak ingin menjadi seenaknya di kantor. "Papi, Revan mau keluar, ada urusan mendadak" ucap Revan. "Tak ada yang lebih mendadak dan lebih penting dari ur

