Tiga puluh tiga

1997 Kata

Qiara melirik jam yang ada di atas nakas, sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Sebelumnya ia sudah terbangun untuk sholat subuh, hanya saja ia memilih untuk tidur kembali mengingat kalau hari ini warung tutup. Di tambah lagi ia sangat lelah karena kemarin ia naik mobil hampir seharian, di tambah lagi ia harus membantu ayah dan ibunya di warung saat ia kembali. Tok.. Tok.. Tok. Tok.. Ketukan di pintu kamar Qiara membuatnya terpaksa harus bangkit dari ranjangnya, meski sebenarnya ia masih ingin berbaring dan memanjakan tubuhnya di kasur yang emput itu. "Assalamu'alaikum sayang ibu" sapa Sulastri. "Wa'alaikumsalam ibu" jawab Qiara. "Loh, kamu baru bangun sayang? Tumben kamu bangun kesiangan, biasanya juga cepat" ucap Sulastri. "Iya bu, rasanya badan Qiara remuk semua. Mungkin kare

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN