Revisi Lagi

1138 Kata
“Ya. Malam.” Aya meletakkan tasnya di atas meja, lalu dia duduk dan menyilangkan kedua kakinya, tentu tanpa menerima buket bunga yang Biru sodorkan padanya. “Bunganya Bu, bunganya,” kata Biru yang masih berdiri layaknya laki-laki yang baru saja diabaikan. Sesak bercampur dongkol, juga malu pada pengunjung lain yang kala itu menatap ke arahnya. Baru kali ini dia merasa tidak berharga di mata seorang wanita. “Loh buat saya?” tanya Aya dengan nada angkuh. Padahal, dia jelas-jelas sadar ketika Biru menyodorkan bunga itu untuknya tapi tentu saja Aya tidak perlu menerimanya. Untuk apa? mau menggoda? oh bukan tipikal Aya seperti itu, mudah tergoda apalagi dengan lelaki sejenis Biru, sudah tengil, berondong pula. Biru tersenyum getir, menyimpan rasa kesal sekaligus gemas. Apa wanita di hadapannya ini buta? atau mungkin terlalu bodoh dan tidak bisa mengartikan? jelas-jelas buket bunga itu Biru berikan kepadanya. “Iya Bu, ini buat Bu Aya—“ “Tapi sayangnya saya nggak mungkin nerima. Soalnya saya nggak bisa nerima apapun pemberian dari mahasiswa, termasuk bunga, itu namanya gratifikasi. Saya nggak mau. Kamu simpan aja buat pacar kamu.” tegas Aya. “Sayang sekali, padahal ini spesial saya pilih untuk Bu Aya—“ “Langsung aja Biru. Kamu mau apa? mengajukan revisi, kan?” Aya melirik arloji di tangan kirinya. “Saya nggak bisa lama-lama.” “Santai Bu. Santai. Kita pesan makanan dulu, oke?” Aya tidak menjawab, dia mengambil ponselnya berpura-pura sibuk, sementara Biru membolak-balikkan buku menu di hadapannya. “Ibu mau pesan apa?” tanya Biru dengan sopan, ya meski dia kesal, tetap harus menyimpannya dalam-dalam rasa kesal itu, sebab saat ini dia sangat membutuhkan Aya. “Saya minum aja, nggak makan.” “Kita lagi dinner Bu, masa nggak makan.” “Terserah saya dong!” “Oke.” Aya memilih lechy ice tea sebagai minumannya, dan memesan itu pada waiters yang menghampiri mereka. Sementara Biru memesan satu porsi pasta dan minuman bersoda. “Diet ya, Bu—“ “Biru Samudera Rajendra. Coba deh kamu langsung aja gitu ke intinya. Kamu mau bilang apa dan mana yang udah kamu revisi? saya benar-benar nggak punya banyak waktu.” tegas Aya langsung memotong kalimat Biru. Selain karena limit waktu yang diberikan papanya, hanya sampai jam sepuluh malam saja, Aya juga merasa cukup enggan berlama-lama bicara dan berhadapan dengan lelaki tengil ini. Memuakkan dan cukup membosankan. Aya merasa waktunya terbuang sia-sia jika dia harus meladeni lelaki ini terlalu banyak apalagi untuk pertanyaan-pertanyaan tak penting seperti barusan. “Oke.” Pantesan lo jadi janda, suami lo pasti kabur karena lo jutek dan angkuh setengah mati. Gue sumpahin lo jadi janda j****y selamanya. Umpat Biru di dalam hati. Kesalnya bukan main. Tangannya yang berada di bawah meja juga mengepal geram. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. “Ibu Bu, udah saya revisi.” Biru menyerahkan beberapa satu bundel kertas yang berisi puluhan halaman. Aya mengambil, dan langsung mencari bagian yang harus lelaki itu perbaiki. Saking seringnya, si dosen judes jadi hafal di halaman berapa. Selama lima menit, Aya dan Biru saling diam, sesekali mereka juga menikmati minuman yang baru diantarkan waiters. Aya fokus pada tulisan-tulisan di lembaran kertas yang sedang dipegangnya. Sedangkan Biru sibuk menggerutu dalam hati. Pasti salah lagi. Pasti ada lagi yang salah. Oh nih dosen judes senang dan hobinya memang bikin orang emosi. “Ini… kutipan ini, kamu ambil di mana?” Nggak salah kan, dugaan gue? Biru tak henti-hentinya bersuara dan mengumpat dalam hati. Tapi dia berusaha untuk tenang layaknya Samudera. “Saya nggak ngutip lho Bu, itu murni kalimat dari pemikiran saya—“ “Biru, saya lebih dulu belajar tentang teori ini daripada kamu. Saya, udah jadi dosen selama kurang lebih lima tahun. Saya hapal teori ini, dan tolong jangan jadikan ini claim kalimat murni dari kamu. Apa salahnya kamu mengakui aja, kalau kamu ambil dari google, dan kamu tinggal tambahkan sumbernya di footnote, kamu nggak salah kalau ternyata kamu memang ngutip. Tapi kamu justru salah kalau mengaku-ngaku ini milik kamu,” sangkal Aya dengan nada tegas tak ingin dibantah. Tak lupa dia tersenyum sinis, lalu meletakkan skripsi milik Biru di atas meja. Masih untung Ayah tidak mencampakkannya layaknya benda tak berharga. Biru terdiam. Masalahnya revisi ini bukan dikerjakan olehnya, tapi oleh Lili, sang kekasih. Dan mana Biru tahu kalau ternyata kekasihnya itu juga mengambil kalimat ini dari sebuah teori. Sial. s**l. s**l. Tangan Biru masih mengepal di bawah meja. “Diam kamu? nggak bisa jawab?” tanya Aya lagi, kali ini dia melipat kedua lengannya di d**a, sambil menatap Biru dengan dagu terangkat. Sungguh Biru kesal dengan wanita mungil di hadapannya ini. “Oh maaf kalau begitu, Bu. Ternyata saya salah, ternyata kalimat itu keluar dari pikiran saya karena saya sering membaca teorinya. Tapi saya lupa teorinya dari mana—“ “Revisi lagi!” titah Aya. “Lagi, Bu?” tanya Biru dengan nada kesal. “Iya, kenapa? jelas-jelas harus kamu revisi karena kamu nggak menambahkan sumbernya di footnote, mau kamu dicap plagiat? dan bukan hanya kamu yang malu, tapi nanti saya juga. Di hadapan dosen penguji ketika kamu sidang, saya harus jawab apa?” tentu Aya tak ingin hal memalukan itu terjadi. “Jadi, kamu revisi lagi, ya?” pinta Aya dengan nada lembut kali ini. Memang cara bicaranya lembut, tapi menurut Biru, wanita itu sedang mencoba mengejeknya. Biru mengusap kasar wajahnya. Bahkan makanan pesanannya yang sudah tiba itu tidak membuat selera makannya tergugah. Dinner yang benar-benar kacau. Biru salah mengira. Dia pikir, Aya akan dengan mudahnya terpengaruh dan tergoda dengan sikap manisnya ternyata tidak. “Baik Bu,” sahut Biru pada akhirnya. “Besok pagi temui saya.” tegas Aya, lalu dia menyedot minumannya lagi yang masih tersisa setengah. Wanita itu juga segera mengambil tas, berdiri lalu memakainya. Lili s****n! bahkan kekasih cantiknya pun ikut kena imbas kekesalan Biru. “Siap Bu. Tapi… setidaknya, bisa nggak Ibu temanin saya dulu sampai saya selesai makan?” Biru mencoba menahan wanita itu lagi, ya… setidaknya dia perlu malu untuk kedua kalinya dengan pengunjung lain di restoran itu karena ditinggal dan harus makan sendirian. Aya menghentikan langkahnya, lalu tertawa sinis. “Atas dasar apa dan apa untungnya buat saya, temanin kamu sampai selesai makan. Lanjutkan aja. Atau kalau kamu nggak mau makan sendirian, panggil salah satu waiters yang cewek, buat temanin kamu, atau… telpon pacar kamu.” Birupun tertawa. Tapi tawanya sungguh penuh keterpaksaan. “Saya heran dengan Bu Aya, kenapa asal kita sedang berdua, Ibu selalu menyinggung soal pacar saya? apa Ibu sebenarnya cemburu.” Biru pikir, sekalian saja. Nasi sudah menjadi bubur, Aya terlalu sulit digoda dan ditaklukkan hatinya sebagai dosen pembimbing, membuat Biru frustasi dan akhirnya memilih memulai peperangan lagi dengan dosennya itu. “Sinting kamu, ya? buat apa saya cemburu?!” Aya menggeleng, lalu tanpa pikir panjang lagi, dia berjalan meninggalkan mahasiswa yang otaknya semakin bergeser itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN