“Cara lo kurang ampuh, Aya si judes yang rumit, nggak akan luluh hanya dengan bunga. Mungkin lo bisa tawarkan yang lain, pedang punya lo misalnya.” Devan dan teman-teman lainnya entah sudah berapa kali menertawakan Biru malam ini setelah lelaki itu curhat dan mengeluh tentang skripsinya yang tak kunjung di ACC oleh dosen pembimbingnya. Kini lelaki itu sibuk menenggak minuman di dalam gelas yang sedang digenggamnya. Alih-alih pulang ke rumah setelah bertemu dosen pembimbingnya yang amat susah ditaklukkan, Biru malah pergi menemui teman-temannya di sebuah club malam.
“Benar banget, dia kan perempuan yang pernah menikah, lalu bercerai. Pasti kesepian. Kali aja lebih butuh pedang tumpul ketimbang bunga,” timpal Mario.
“Bacot lo pada. Bukannya ngasih solusi, malah bikin tambah pusing. Lo aja sana yang pinjamin pedang!” sahut Biru kesal.
“Gue sih mau-mau aja, dia cantik, biar mungil tapi bohay. Masalahnya, gue nggak punya urusan lagi dengan si Aya judes.” Mario tertawa melihat tampang Biru yang semakin geram, karena mereka terus mengejeknya. Bukannya memberi solusi, dua temannya itu malah membuat masalah Biru semakin rumit.
“Oke kalau gitu, solusi dari gue, malam ini happy-happy dulu, lupakan skripsi lo sejenak,” bisik Mario.
“Lo lihat tuh cewek, siap pakai dan siap ngangkang di depan lo, sana samperin!” saran Devan lagi sambil menunjuk ke arah salah satu wanita cantik berpakaian seksi di depan mereka, dengan jarak sekitar lima meter.
Biru tidak peduli dengan bisikan-bisikan setan di sekitarnya. Dia masih fokus menikmati minumannya, dan pikirannya tidak bisa fokus karena memikirkan wajah Aya, dosen judes yang sudah membuat kehidupan kampusnya semakin rumit.
“Eh tapi… mana mungkin mau si Biru nan suci ini, Lili yang sering godain aja dianggurin. apalagi cewek lain,” sahut Devan.
“Kalian udah pada tau kan? gue gimana? jadi nggak usah nyaranin yang aneh-aneh,” balas Biru, setelah meletakkan gelas di genggamannya dengan sedikit membanting. Lelaki itupun akhirnya menundukkan kepalanya, di atas meja.
“Mabuk lo baru dua gelas? lemah!” ejek Mario.
“Gue pusing mikirin skripsi, sebenarnya tadi itu hampir… hampir aja kelar, kalau gue bisa jawab teori mana yang gue pakai. Tapi karena revisi itu Lili yang kerjakan, tanpa infoin apapun ke gue, semuanya malah kacau,” keluh Biru lagi.
“Jadi lo nyalahin Lili?” tanya Devan.
“Iyalah, kenapa dia nggak kasih tau gue teori apa, jadinya gue nggak bisa jawab apapaun waktu si judes nanya-nanya.” Biru kembali duduk tegak, menegakkan kepalanya.
“Btw, kasihan banget si Lili.”
“Kasihan kenapa?”
“Kalian pacaran hampir tujuh tahun, tapi lo belum nyentuh dia sekalipun?” tanya Devan lagi.
Biru berkerut kening. “Lo tau dari mana?”
“Lili curhat ke gue, dia bingung sebenarnya lo cinta dia atau enggak?” Devan malah balik bertanya.
“Justru karena gue cinta, gue nggak mau rusak dia sebelum waktunya,” jelas Biru dengan tegas.
“Lagian, ngapain dia curhat ke lo segala?” tanya Biru tak suka.
“Ya mana gue tau, tanya aja sono ke pacar lo,” balas Devan dengan nada kesal.
“Ntar ya, gue mau nyoba ke cewek itu.” Mario tersenyum, lalu lelaki itu berjalan ke arah perempuan cantik, memakai dress berwarn hitam, memperlihatkan bentuk b****g dan belahan d**a.
“Hobi masuk ke lubang dan nebar bibit sembarangan, lo nggak takut apa kena penyakit?” Biru menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mario. Mario dan Devan hampir sama, diantara mereka bertiga, hanya Biru yang tetap mempertahankan keperjakaannya, hanya untuk istrinya nanti entah Lili atau siapapun itu. Biarpun nakal, dia tetap akan memegang prinsip untuk yang satu itu. Dia tidak akan rela sesuatu yang berharga miliknya itu akan masuk ke sembarangan tempat apalagi pada perempuan-perempuan yang jelas-jelas pekerjaannya cukup hina seperti itu.
“Ah dari pada lo, main sama tangan mulu, mending one nigh stand, ayo dicoba!” ledek Devan lagi.
“Biar, sama tangan juga nikmat kok,” balas Biru, menolak keras one night stand seperti yang pernah dilakukan teman-temannya, lelaki itu memberikan gelasnya pada bar tender untuk menambah minumannya.
*
“Fix liburan kita gagal lagi nih?” Reva menatap Nania bergantian dengan Aya yang duduk di hadapannya siang itu. Aya baru saja bercerita tentang bagaimana malam itu, malam di mana dia dinner dengan Biru.
“Sabar, hari ini gue janjian ketemu si Biru lagi, dia janji revisi dengan sebaik mungkin hari ini,” jelas Aya.
“Cape deh!” sahut Nania.
“Udah deh, lo tinggal liburan aja tuh anak. Biar tau rasa.” saran Reva.
“Nggak bisa. Kita liburan kan dua minggu. Gimana nasibnya ntar kalau kelamaan, dia malah nggak bisa ikut wisuda tahun ini,” balas Aya. Meski kesal dengan Biru, dia masih juga memiliki rasa iba, sebagai dosen. “Dikit lagi kok, dia tinggal nambahin sumber teorinya aja di footnote, setelah itu kelar.”
“Oke, berarti bisa pesan tiket sekarang—“
“Jangan. Gue kan belum izin ke kampus,” tolak Aya. “Dan belum izin ke papa mama juga—“
Reva membuang napas kesal, melihat tingkah salah satu sahabatnya itu. “Hello Aya. Lo tuh bukan remaja lagi, bukan anak kecil, lo udah dewasa, janda, meskipun masih perawan—“
“Perawannya nggak usah dibawa-bawa bisa nggak?” Aya cukup kesal tiap kali Reva atau Nania membahas soal itu.
“Ya gimana, lo tuh unik, Ya. Janda tapi perawan.”
Aya langsung memasang wajah masam, sebenarnya dia muak karena tiap kali mereka berkumpul, pasti selalu saja membahas itu.
“Ya biarin,” sahut Aya sewot.
“Btw, lo nggak mau nyobain one night stand sama cowok? ya… minimal sama berondong gitu?” saran Reva, lalu wanita itu cekikikan.
“Sinting!” umpat Aya kesal.
“Ya, lo wajib cobain—“
“Nggak!” tolak Aya cepat. “Lo pikir hal begituan buat main-main? sorry, gue cuma kasih sesuatu berharga milik gue ini ke orang yang tepat, orang yang benar-benar mencintai gue, dan tentu orang yang gue cintai.”
Reva dan Nania saling tatap dengan seringai mengejek. “Tapi tiap ada cowok yang dekatin lo, pasti lo menghindari—“
“Nggak untuk saat ini.” Aya benar-benar masih trauma dengan masa lalu rumah tangganya yang amat menyakitkan. Maka untuk saat ini, menerima orang baru dan membuka hati lagi, dia cukup berhati-hati. Apalagi hanya untuk bermain-main, Aya sangat tidak punya waktu. Terlebih untuk menyerahkan mahkota yang amat berharga itu secara cuma-cuma dengan sembarang orang, oh tentu saja Aya belum segila itu.
“Oke, gue ke kampus dulu.” tepat dua jam lagi, adalah jadwal mengajar terakhir Aya untuk hari ini. Dia juga memiliki janji dengan Biru dan berharap hari ini adalah konsultasi terakhir mereka.
“Cepetan beresin urusan lo dengan Biru-Biru ya!” pinta Reva.
“Iya-“
“Atau lo sengaja lama-lamain biar sering ketemu dia?” Nania tertawa.
“Kalian ya benar-benar mulai nggak waras, apa karena sering ditinggal suami, LDRan jadi pada stres?” balas Aya kesal, wanita itu juga tak sungkan mengumpat dua sahabatnya. “j****y bikin kalian nggak bisa berpikir waras?”
Bukannya marah, Reva dan Nania malah kompak menertawakan. Tanpa peduli dua wanita j****y yang sering ditinggal suaminya untuk dinas ke luar kota, Aya terus melangkah menuju pintu cafe. “Eh, jangan lupa besok jadwal arisan kita!” teriak Reva.
“Oke!” Aya melambaikan tangannya.
*
Biru melambungkan asap dari mulutnya setinggi mungkin, setelah menghisap vape yang selalu menemaninya selama beberapa tahun terakhir ini. Dari kejauhan, dia memandang ke arah area parkir khusus dosen. Menunggu seseorang dengan perasaan jengkel sekaligus kesal karena khawatir skripsinya akan ada revisi lagi. Dari lantai dua, tidak hanya memandang ke area parkiran, lelaki itu juga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sudut area fakultas. “Tumben banget si judes nggak on time.” lelaki itu menggerutu, sambil menyugar rambutnya ke belakang.
“Iya, lama banget. Udah terlambat lima belas menit, bisanya dia nggak pernah gini, kan?” seseorang di sebelahnya menjawab, dengan nada yang sama kesalnya.
“Nontonnya bisa ditunda besok aja, nggak?” tanya Biru sambil menatap Lili, kekasihnya. Sore ini mereka memiliki janji untuk kencan, sekadar makan bersama dan nonton.
“Nggak mau. Aku kangen banget sama kamu-“
Biru masih mengedarkan pandangannya ke area parkir, dan bergantian ke arah lain. Sebab Aya, dosen pembimbingnya itu tidak pernah terlambat. Apa mungkin wanita itu lupa memiliki janji dengannya? atau ada sesuatu yang terjadi padanya? Biru bertanya-tanya dalam hatinya. “Eum, setiap hari kita ketemu, kamu nggak bosan?” Biru menanggapi kalimat Lili, setelah terdiam beberapa detik.
“Nggak lah. Nggak ada kata bosan kalau buat kamu—“
“Kamu tunggu di sini sebentar!” Titah Biru, meletakkan tas ranselnya tepat di sebelah Lili, lalu dia berjalan tergesa menuju tangga, untuk turun ke lantai bawah.
“Sayang, mau kemana?!” teriak Lili, dengan perasaan heran, kekasihnya pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa mengatakan akan kemana. Lili hanya bisa pasrah, sampai akhirnya dia melihat sosok kekasihnya berlarian menuju area parkir dan menghampiri sebuah mobil berwarna hitam.