“Lepasin! apa sih kamu?!” sentak Aya, dia baru saja keluar dari mobilnya. Moodnya masih belum membaik karena terjebak macet, tapi sore ini dia harus berhadapan lagi dengan suatu kesialan, yaitu bertemu mantan. Rico, lelaki yang resmi menjadi mantan suaminya sejak empat bulan lalu, kini kembali menemuinya untuk pertama kalinya. Sungguh jangankan disentuh, melihat wajahnya saja dia teramat jijik rasanya. “Tolong lepasin aku s****n!” maki Aya, ketika pergelangan tangannya dicengekeram sangat kuat oleh lelaki itu. Aya baru turun dari mobil, tapi langsung dihadang oleh Rico, yang memang sudah menantinya sejak beberapa menit lalu.
“Apa? s****n? Aya, sayang… aku benar-benar ingin meluruskan kesalahpahaman kita—“
“Kesalahpahaman apa?!” balas Aya dengan mata mendelik. Pertengkaran mereka terjadi di parkiran mobil khusus dosen, Aya dan Rico berdiri diantara mobil-mobil lain yang terparkir hingga jika tidak ada yang nemeprhatikannya secara detil, tidak ada yang tahu bahwa ada sepasang insan manusia yang sedang bertengkar. “Kesalahpahaman kita, aku nggak seperti yang kamu tuduhkan, aku dan dia hanya teman—“
“Teman tapi kalian tidur seranjang tanpa busana?! menjijikkan. Kamu memang manusia laknat!” maki Aya lagi dengan emosi yang cukup membara.
“Lepasin aku sekarang!” Aya mencoba menarik tangannya yang mulai terasa sakit dan tak nyaman karena genggaman Rico.
“Bu Aya, saya sudah menunggu Ibu terlalu lama.” ada suara asing diantara mereka berdua, membuat keduanya menoleh.
Biru. Gumam Aya dalam hati. “Lepasin, aku banyak urusan!” genggaman tangan Rico pada pergelangan tangannya akhirnya terlepas, Aya lega, karena kehadirian Biru yang menurutnya sebagai penyelamat tanpa sengaja.
“Urusan kita belum selesai, aku tunggu kamu di sini!” ucap lelaki bernama Rico itu lagi.
“Urusan kita selesai sejak putusan hakim di pengadilan agama empat bulan yang lalu!” balas Aya tanpa mau menoleh. Biru masih setia berdiri di sebelahnya. Mereka berjalan perlahan berisisan, Aya belum bisa melangkah cepat karena kedua lututnya masih terasa lemas, kehadiran Rico yang tiba-tiba membawanya kembali pada masa trauma di mana sakitnya dihianati. Sementara Biru di sebelahnya belum mengatakan apa-apa, dia hanya memperhatikan Aya yang sedang mengusap-usap pergelangan tangannya yang kemerahan.
“Maaf Bu, bukannya saya bermaksud kurang ajar. Tapi, dari lantai dua di balkon, saya udah memperhatikan dan memang menunggu kedatangan Ibu. Saya pikir Ibu butuh bantuan agar bisa terlepas dari mantan suami Ibu tadi,” jelas Biru tanpa diminta. “Bukannya saya berniat kurang ajar atau ingin membuat Bu Aya terburu-buru,” lanjut lelaki itu.
Aya menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis. “It’s okay, nggak masalah. Saya justru berterima kasih ke kamu, karena kehadiran kamu, akhirnya saya bebas dari dia.” Hampir seluruh penjuru kampus sudah tahu jika Aya adalah seorang janda yang sudah bercerai sejak beberapa bulan lalu. Namun, tak ada satupun yang tahu apa penyebab perceraiannya, termasuk Biru yang kini malah penasaran.
“Apa kamu terburu-buru?” tanya Aya.
“Sejujurnya sih iya, Bu. Sore ini saya ada keperluan,” balas lelaki itu. Ya, dia memang memiliki janji dengan Lili, mereka akan menghabiskan waktu berdua malam ini, walau hanya sekadar makan-makan dan nonton.
“Oke kalau begitu langsung ke ruangan saya aja.” Sore ini, urusan Aya di kampus memang hanya bertemu dengan Biru, karena lelaki itu berjanji akan menyerahkan skripsinya yang telah direvisi. Sungguh Aya berharap urusannya dengan lelaki itu benar-benar beres hari ini. Aya menoleh ke belakang sebelum menaiki tangga, memastikan apakan Rico sudah pergi meninggalkan kampus atau masih berada di sana. s**l sekali, mobil lelaki itu masih terparkir manis di sana. Entah apa yang diinginkan Rico lagi, Aya juga tidak mengerti.
Dari lantai dua juga, ada yang terus memperhatikan mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Berliana Cassandra alias Lili kekasih Biru. Gadis itu melipat kedua lengannya di d**a, menatap kesal pada kekasihnya yang terlihat bersikap sok manis pada dosen cantik dan janda itu.
Tanpa sadar, Biru menemani langkah Aya hingga di lantai dua dan tepat di depan ruangan wanita itu. “Sayang, sebentar, ya, aku ke dalam dulu,” ujarnya pada Lili yang masih memasang tampang merengut.
Lili mengangguk tipis sebagai jawaban dari ucapan Biru, dia masih duduk dengan tegak dan dagu terangkat, bahkan tidak memasang tampang ramah ketika berpapasan dengan Aya. Meski Lili sudah sarjana dan sudah menyelesaikan urusannya di kampus ini, bagaimanapun Aya tetaplah seseorang yang pernah menjadi dosennya. Tak seharusnya Lili bersikap seperti itu. Tapi hal itu bukanlah suatu masalah bagi seorang Aya. Tidak disukai oleh mahasiswi, sudah menjadi hal bisa baginya. Dia tak mau ambil pusing untuk hal-hal remeh seperti itu.
“Silakan duduk dulu.” Pinta Aya pada Biru, lalu meneguk air putih dari tumbler yang ada di dalam tasnya, kerongkongannya terasa kering dan tercekat sejak bertemu Rico. Selain karena kebencian yang begitu dalam, bertemu Rico lagi benar-benar membuat perasaannya berantakan.
“Ibu baik-baik aja, kan?” Biru menangkapn raut wajah pucat dari wanita di hadapannya.
“Iya saya nggak apa-apa kok,” sahut Aya mencoba menenangkan dirinya.
“Tangan Ibu memar.” Lelaki itu berkomentar saat melihat pergelangan tangannya, yang mulai merah kebiruan, sangat jelas terlihat karena kontras dengan warna kulit Aya.
“Oh, bukan masalah.” Aya langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja. Dia hanya tak ingin dikasihani, apalagi ini masalah pribadinya dengan Rico. “Ya udah, biar nggak memakan waktu lama. Mana hasil revisi kamu?” tanya Aya dengan nada santai. Baru kali ini mereka berdua terlibat obrolan yang lumayan santai, tidak ada emosi atau perdebatan di dalamnya seperti biasa saat Biru melakukan konsultasi.
“Ini Bu.”
“Saya periksa, ya.” Aya mengambil puluhan lembar kertas itu, beralih ke tangannya membukanya satu persatu. “Kalau ada yang masih belum pas, atau belum cocok menurut saya… maaf Biru, kamu tetap harus revisi. Yang saya lakukan ini adalah demi kebaikan kamu. Bukan berarti saya benci atau nggak suka dengan kamu, tapi saya hanya ingin menyelamatkan kamu dari dosen penguji. Kalau skripsi kamu sudah sempurna, tentu mereka nggak punya celah untuk menjengkali kamu, kan?” Aya mencoba memberi penjelasan yang cukup masuk akal.
“Iya benar Bu,” sahut lelaki itu.
Sekitar sepuluh menit sudah mereka duduk diam dalam keheningan tanpa ada obrolan karena Aya masih sibuk dan konsentrasi memeriksa skripsi lelaki itu.
“Nah ini…” Aya tersenyum. “Teori yang kamu tambahkan memang sudah benar, tapi penjelasannya masih rancu, Biru.” Aya menunjuk pada salah satu lembaran yang baru dibacanya. “Bisa kamu sederhanakan lagi?” pinta Aya dengan nada lembut.
Biru mengangguk. “Bisa Bu, ada lagi?”
“Sebentar.”
Biru mengangguk dan menunggu dengan sabar.
“Ini, di halaman ini coba kamu cek lagi, ada beberapa bagian yang typo di sana. Selebihnya udah, semoga pertemuan selanjutnya saya bisa langsung acc ya. Kamu juga pasti bosan ketemu saya terus, begitu juga sebaliknya.” Aya tersenyum tipis.
Sedangkan Biru tersenyum lebar. “Nggak, saya nggak bosan ketemu Ibu.”
“Ya udah, kamu boleh pergi, dan temui saya satu minggu lagi—“
“Apa Bu?! seminggu lagi? nggak bisa dipercepat, Bu? saya sangat berharap kalau saya bisa ikut sesi sidang skripsi di bulan ini, karena setelah sidang, saya akan berangkat ke Singapura—“
“Maaf Biru, nggak bisa. Saya ada keperluan selama beberapa hari ke depan, dan mungkin saya nggak ada di kota ini.” tegas Aya. Ya, dia sudah mulai jenuh dan merasa harus beristirahat sejenak. Walau liburannya bersama dia sahabatanya selalu gagal, setidaknya Aya hanya perlu staycation di kota ini saja. Apalagi setelah bertemu Rico hari ini, membuatnya benar-benar ingin menghilang untuk sementara waktu.
“Oke kalau begitu, Bu. Minggu depan saya temui Ibu lagi.” Meski kecewa dengan keputusan Aya, Biru tetap bersikap santai.
“Sama halnya dengan kamu yang ingin segera mengakhiri urusan dengan saya, saya juga demikian, Biru.” tegas Aya sekali lagi.
“Iya Bu.” Lelaki itu melangkah dengan perasaan kecewa, menghampiri Lili yang masih setia menunggunya di luar ruangan.
“Gimana sayang?” tanya gadis itu.
“Minggu depan masih harus ketemu lagi. Ada beberapa bagian yang masih perlu aku perbai—“
“Gila ya itu dosen, apa dia sengaja—“
“Sstt!” Biru segera membekap mulut Lili dengan telapak tangannya. “Hati-hati, jaga bicara kamu. Orangnya masih di dalam ruangan.” Biru memperingati.
“Udah deh, mending kita senang-senang dulu!” Gadis itu meraih lengan Biru untuk dipeluknya. “Btw kenapa harus minggu depan? nggak bisa besok?”
“Bu Aya ada keperluan.”
“Jadi keberangkatan kamu ke Singapura ketunda lagi dong? kalau kamu bisa Acc dalam minggu ini, tentu bisa ikut sesi sidang bulan ini. Tapi kalau enggak ya, mau nggak mau tetap sebulan lagi.” komentar Lili.
“Ya mau gimana, udah resiko.”
Saat menuruni anak tangga, mata Biru tertuju pada sebuah mobil yang dia ketahui adalah mobil Rico. Lelaki itu membuktikan kata-katanya, masih menunggu Aya di sana. Entah didorong oleh perasaan apa, Biru mendadak khawatir. Mengingat bagaimana sikap kasar lelaki itu pada Aya, hingga meninggalkan luka memar di pergelangan tangannya.
Biru dan Lili berjalan menuju mobil. “Kamu tunggu di sini sebentar, duduk diam di sini jangan kemana-mana, oke?!” tegas lelaki itu pada kekasihnya setelah Lili duduk di dalam mobil sport miliknya.
“Emangnya kamu mau kemana?” tanya Lili sedikit tak terima, karena sifat kekasihnya mendadak aneh hari ini.
“Sebentar!” Biru mencampakkan asal tasnya di bagian jok belakang, lalu melangkah pergi dengan tergesa. Apalagi kalau bukan kembali naik ke lantai dua, menuju ruangan Aya. Bisa saja, dosennya itu butuh bantuan untuk kedua kalinya hari ini?
Sementara Aya masih berdiam diri di dalam ruangannya, padahal niatnya ingin langsung pulang setelah urusannya selesai. Namun, dia tidak berbuat nekat karena takut Rico masih menunggunya. Aya kebingungan, dan yang dia lakukan adalah menjatuhkan air mata sebanyak-banyaknya, berhubung di dalam ruangan itu hanya ada dia seorang. Hingga suara ketukan pintu perlahan, membuatnya tersadar dan segera mengusap air mata yang berderai di pipinya. Tapi tubuh Aya semakin bergetar, mengingat Rico. Bisa saja, itu adalah mantan suaminya. Karena dulu Rico sering menjemputnya sampai ke ruangannya, bukan tidak mungkin lelaki itu melakukan hal yang sama, kan? Aya melirik sekeliling, dia bangun meraih tasnya dan akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di kamar mandi.
Tepat saat dia mengambil satu langkah, pintu terbuka membuat wajahnya kian memucat.
“Bi-biru, ada apa? ada yang ketinggalan?”
Lelaki itu tersenyum manis. Melihat bagaimana wajah panik Aya, dia semakin paham kalau wanita ini memang membutuhkan bantuannya. “Iya, ada yang ketinggalan. Kayaknya saya nggak bisa meninggalkan Ibu sendirian di sini. Ayo saya antar sampai ke mobil, Bu.” Ajakan lelaki itu mengakibatkan Aya mengerjapkan matanya, kebingungan. Lagi, Biru seakan menjadi penyelamatnya sore ini.