Rencana Staycation

1568 Kata
“Parah sih, mantan lo itu. Jelas-jelas dia yang salah, bikin kesalahan yang menjijikkan pula. Ampun banget, masih pede lagi ngejar-ngejar lo dengan alasan meluruskan kesalahpahaman.” Nania berkomentar setelah mendengar curhatan Aya di dalam mobil. Binar Cahaya Mustika tidak bisa melewatkan satu hal apapun yang dia alami untuk tidak diceritakan oleh dua sahabatnya itu, termasuk hal menyebalkan yang dia alami dua hari lalu berkaitan dengan lelaki di masa lalunya. “Sampai bikin tangan lo memar pula. Kalau gue ada di sana, udah gue tendang tuh di tengah selangkangannya,” timpal Reva sambil menyetir. Aya hanya terkekeh saja mendengar gerutuan-gerutuan dua wanita itu. Ya, walau sedikit trauma dengan kejadian dua hari lalu, setelah bertemu Reva dan Nania, Aya merasa sedikit lega, seolah bebannya terlepas, walau masih tetap membekas. Kini mereka bertiga sedang berada di mobil yang sama. Kali ini Aya sedang enggan menyetir sendirian, maka wanita itu memilih menjadi penumpang saja. Menggunakan mobil Reva, mereka sedang menuju sebuah cafe, tempat di mana acara arisan akan diselenggarakan. Tempat sudah dibooking oleh beberapa teman mereka yang merupakan panitia acara. “Tapi sebenarnya… Biru loh yang nolongin gue.” Aya akhirnya menyebutkan nama lelaki itu, setelah sempat menutupi siapa yang menolongnya saat Rico hampir memaksanya masuk ke dalam mobil. “What? Biru?” tanya Reva dengab nada tak percaya. “Maksud lo, si Biru-Biru mahasiswa abadi itu?” sambung Nania. Aya mengangguk. “Hm, iya.” “Fix azas manfaat. Pintar tuh anak,” sahut Nania. “Ya, kebetulan sih dia nungguin gue sore itu. Mungkin karena nggak sabar gue terlalu lama, dia nyamperin ke parkiran dan kebetulan gue lagi sama Rico. Secara nggak langsung, dia yang selamatkan gue dari Rico,” jelas Aya. “Tumben ya dia berguna,” seru Reva. “Ya begitulah.” Aya kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Saat ini dia menempati jok bagian belakang, sendirian. “Jadi skripsi dia udah lo acc kan? makanya lo bisa cuti?” tanya Nania. “Belum,” sahut Aya santai. “Aduh, lo nggak bosan apa ketemu dia melulu, Ya?” sambung Reva. “Ya bosanlah. Gue cuma nggak mau nanti saat sidang, malah malu-maluin di depan penguji. Kan gue juga yang malu. Dianggap doping nggak becus. Belum lagi Bu Indira sensi banget lagi sama gue. Nggak ngerti salah gue apa.” keluh Aya. “Yang pasti dia kalah cantik dari lo.” “Jauh lah, cantikan dia,” balas Aya. “Dia tinggi, bodynya bagus, mukanya juga perfect.” “No, no… jauh cantikan lo, walaupun lo mungil. Tapi hot, bibir lo tuh Ya, bikin cowo sange tau nggak?!” Nania dan Reva kompak tertawa. “Ish apa sih?!” protes Aya. “Gue masih ingat banget, teman kantor gue waktu pertama kali ketemu sama lo, masa dia langsung mau ngajak lo kencan. Karena gue tau gimana sifat aslinya, yang paling nggak bisa lihat cewek cantik. Sampai matipun gue nggak akan kasih nomor lo ke dia. Lagian, dia bukan cowok tajir,” cerocos Reva. “Iya bener banget, Ya. orang-orang perlu ngeluarin duit buat filler bibir, supaya makin seksi. Lah lo punya alami sejak lahir,” timpal Nania tak mau kalah. “Udah deh, stop bahas fisik gue. Bahas yang lain aja,” ucap Aya kesal. “Misalnya bahas apa?” tanya Reva. “Gue berharap banget ya, kali ini gue yang dapat arisannya,” ujar Aya penuh harap. “Emangnya lo mau liburan?” “Nggak mesti liburan, sih, paling nggak staycation di Jakarta juga boleh. Penat banget,” curhat Aya. “Hm, jadi rencana jalan-jalan kita benar-benar gagal, ya?” tanya Nania penuh kecewa. “Sorry banget, kayaknya masih harus tertunda,” sahut Aya. “Btw, lo… sebenarnya udah move on belum sih, dari Rico?” “Gue benar-benar ilfeel dan mati rasa sama dia, atau mungkin sama semua cowok, sejak gue nemuin foto selfinya tanpa busana, di atas ranjang, sama teman cowok bulenya itu.” Aya bergidik ngeri. Merinding mengingat hal itu. Betapa sakit hatinya ternyata menjalin hubungan dengan Rico selama tiga tahun, dia hanya dijadikan sebagai tameng saja, padahal lelaki itu memiliki kekasih lain, yang juga seorang pria. “Hiii… jijik ya shay!” Nania pun mengangkat bahunya. “Udah deh, jangan bahas itu lagi. Gue ngerasa jadi cewek nggak berguna sejak tau hal itu. Sakit banget, kenapa dia nggak nyentuh gue padahal udah nikah berbulan-bulan, ternyata…” “Cari brondong yuk?” ajak Reva. “Sinting lo ya? ingat suami,” balas Aya. “Bukan, bukan buat gue. Tapi buat lo.” “Sorry, nggak dulu,” tolak Aya cepat. “Hahaha.” Reva dan Nania saling tatap setelah mereka tertawa lebar. * Sesuai harapan, arisan kali ini dimenangkan oleh Aya. Aplikasi yang menyala pada ponsel salah satu dari peserta arisan, menunjukkan tanda panah pada nama wanita itu. “Emang ya, rejeki janda perawan,” bisik Nania penuh ejekan. “Sesuai harapan lo, Ya. Bisa nih happy-happy.” “Alhamdulillah.” Aya bergumam senang, menganggap apa yang dia dapatkan kali ini adalah rejeki nomplok. Bukan hanya hadiah tiket liburan, ataupun menginap di hotel mewah saja, tapi juga sejumlah uang sekitar dua puluh juta. Jumlah yang cukup lumayan bagi Aya yang profesinya hanya seorang dosen. Ya, hitung-hitung arisan yang dia ikuti bersama teman-temannya semasa kuliah ini dia anggap sebagai menabung, dari pada gajinya habis hanya untuk berfoya-foya tidak jelas. “Berarti lo jadi staycation, Ya, cuma di Jakarta aja, kan?” tanya Reva lagi. Aya mengangguk. “He’em. Benar banget. Kalian mau ikut?” tawar Aya. “Enggak usah deh kayaknya, laki gue minggu ini pulang ke Jakarta,” tolak Reva. “Sama, laki gue juga ngajak ke puncak weekend kali ini. Mumpung dia ada waktu,” sahut Nania. “Oke kalau begitu. Kalian have fun yah.” “Tapi besok kita wajib ketemuan dulu, sebelum kita punya urusan masing-masing.” Saran Reva. “Boleh, besok aku traktir kalian makan malam,” sahut Aya. “Besok sore kalau lo udah check in, shareloc aja lo ada di hotel mana, Ya. Ntar kita nyusul. Kita bisa duduk di bar and loungenya, oke?” “Oke sip. Yang penting… gue izin dulu deh sama Mama Papa.” “Oh iya, itu yang paling penting. Lo kan anak perawan kesayangan mereka.” “Hush. Perawannya nggak usah dibawa-bawa bisa kali, ya?” “Bercanda, cantik.” Reva menyentuh dagu Aya. Dan mereka berpisah karena Aya memiliki tujuan lain setelah ini. * “Oh, jadi ceritanya kamu lagi melakukan suap ke Papa dan Mama, karena kamu mau minta izin staycation?” Sambil membuka paper bag dari Aya, Ilham menatap curiga pada anak perempuannya yang kini sedang duduk di hadapannya. “Iya kamu nih, tumben-tumbenan lho, belikan Papa Mama hadiah, padahal nggak lagi ada hari spesial,” sambung Miranda, juga membuka gift box yang berisi sebuah kerudung segi empat, branded yang baru dibelikan Aya untuknya. “Bukan, bukan suap lho Pa, Ma. Kebetulan aku lagi ada rejeki, dapat uang arisan. Ya, apa salahnya belikan Papa Mama hadiah walau ini bukan hari spesial,” jawab Aya penuh pembelaan. Sambil menyerahkan hadiah untuk kedua orang tuanya, Aya sempat menyinggung soal rencana staycationnya itu. Tapi belum meminta izin secara langsung. “Bagus juga motif batiknya,” gumam Ilham setelah membentangkan kemeja bermotif batik yang Aya pilihkan untuknya. “Papa suka, kan?” Ilham mengangguk. “Suka. Terimakasih, Nak.” Aya tersenyum, sepertinya rencananya akan berjalan mulus. Papa yang overprotective sering kali membuat jejak langkah Aya tertahan. Padahal, andai diberi izin, Aya ingin pergi liburan ke berbagai tempat yang ada di negeri ini. Menginjakkan kaki di Bali saja dia baru satu kali saat berusia sepuluh tahun, itupun karena menghadiri acara keluarga di sana. Selebihnya? Aya hanya berada di kota ini saja, bagaikan katak dalam tempurung. “Kalau Mama, suka nggak sama jilbabnya?” kali ini tatapan Aya beralih pada Miranda. “Suka, bagus ini buat kondangan. Makasih sayang.” “Sama-sama Ma. Aku senang banget Mama dan Papa suka hadiahnya,” sahut Aya. “Jadi… boleh kan, Pa? besok aku staycation di hotel, dua malam, aja?” Aya langsung to the point pada tujuannya, membuat Ilham dan Miranda saling tatapan. “Nah, dugaan Papa nggak salah, kan? kamu lagi nyogok.” “Ish Pa… nggak gitu kok. Ya, mau aku belikan hadiah ataupun enggak, aku kan tetap harus minta izin sama Papa?” “Iya, boleh kok,” sahut Miranda. “Mama ngizinin?“ tanya Ilham yang sebenarnya memiliki pikiran yang tak sejalan dengan istrinya. Membiarkan Aya, anak perempuannya yang berstatus janda tapi perawan, menginap di hotel sendirian, hanya untuk alasan staycation, menikmati fasilitas hotel, rasanya tidak masuk akal. “Aya pasti penat dengan pekerjaannya, biarlah dia menikmati waktunya sendiri, tanpa memikirkan pekerjaan. Kamu harus terus bahagia, Nak. Yang penting jangan lupa salat.” Berbeda dengan Ilham, Miranda justru bisa sedikit memberikan kebebasan tapi tetap berada dalam pengawasan mereka. Apalagi dia ingat, beberapa hari lalu Aya sempat syok dan traumanya kembali lagi karena bertemu mantan suaminya yang tidak berguna itu. “Ya udah, kali ini Papa ngizinin, karena Mama juga ngizinin. Kamu perginya besok, dan akan kembali di hari minggu, kan? hanya dua malam, kan? yang penting tetap beri kabar ke kami, ya? paham, kan, Nak?” pinta Ilham, begitu cerewet jika sudah tentang Aya. “Iya Pa, Ma, tenang aja.” Aya tersenyum senang merasa mendapatkan izin, setidaknya dia bisa merilekskan pikirannya sejenak, melupakan segala hal yang membuatnya pusing akhir-akhir ini, sebelum dia harus kembali dihadapkan dengan sebuah kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN