Dengan bermodal satu backpack berisi pakaian dan perlengkapannya yang lain, siang itu Aya berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk staycation sesuai rencananya. Suasana hatinya cukup bagus saat ini. Bagaimana tidak, satu minggu saja terbebas lepas dari beban pekerjaan, sudah cukup bagi Aya untuk menenangkan pikirannya yang penat. “Pokoknya jangan lupa kabarin Mama dan Papa setiap waktu, oke?” pinta Miranda pada anaknya sebelum Aya masuk ke dalam mobilnya.
“Iya Ma, tenang aja.” Saat itu hanya ada mama tanpa ada Papa karena Papanya sedang bermain tenis dengan rekan-rekannya. Sebagai seorang pensiunan pejabat BUMN, Ilham mencari kegiatan bermanfaat yang bisa mengisi hari-harinya.
“Bye, Mama. Assalamualaikum.” Mobil honda jazz silver keluaran tahun 2020 itu melesat keluar dari gerbang. Lagu Bruno Mars berjudul Vercase On The Floor menemani awal perjalanan Aya siang itu.
“Oh, I love that dress but you were need it anymore, no you were need it no more, lets just kissed ‘till we’re n***d baby, vercase on the floor.” Wanita itu melantunkan lirik, seirama dengan lagu yang sengaja dia besarkan volumenya. Jari jemari Aya juga menari-nari sambil menggenggam stir. Suasana hati Aya yang begitu baik cukup ditandai dengan suaranya yang mendayu merdu menyanyikan lagu kesukaannya. Lagu Bruno Mars yang liriknya sedikit v****r itu, menjadi salah satu lagu favorite yang sering Aya dengarkan.
Tanpa terasa, sambil mengemudi dengan riang gembira. Aya tiba di area parkir hotel bintang lima di kota itu. Aya memilih harga kamar yang menurutnya masih masuk akal, tapi fasilitasnya tidak perlu diragukan lagi. Mengeluarkan budget sekitar tujuh juta untuk dua malam. Meski terkesan buang-buang uang, tapi menurut Aya ini cukup penting demi menjaga kesehatan mentalnya.
“Atas nama Binar Cahaya Mustika?” dengan ramah, salah satu resepsionis yang melayaninya, bertanya pada Aya.
“Benar,” sahut Aya.
“Baik, Bu. Silakan menikmati fasilitas di hotel kami. Jangan sungkan menghubungi jika butuh bantuan.”
Aya mengangguk. “Terima kasih.” keycard nomor sudah berada dalam genggamannya, wanita itu melebarkan langkahnya karena tak sabar untuk segera tiba di dalam kamar.
“Ampun, viewnya bagus banget.” Aya bergumam ketika langkah kakinya memasuki kamar pilihannya. Dia meletakkan backpack dan tote bagnya di atas meja. Lalu beralih pada jendela lebar di kamar itu. Aya tersenyum puas, sambil berjalan menuju kamar mandi. Mengecek fasilitas apa saja yang ada di sana. “Wow. Bisa berendam sambil memandangi langit Jakarta.” Aya merasa puas, setelahnya dia berbaring di ranjang berukuran king size yang sebenarnya agak mubazir jika dia gunakan sendirian.
Gue di hote ini.
Wanita itu mengirim pesan singkat ke grup chat yang beranggotakan dirinya, Nania dan Reva.
Reva
Oke, ntar malam gue dan Nania ke sana.
*
Dress longgar di bawah lutut berwarna hitam dengan kerah model sabrina, menjadi pilihan outfit Aya malam ini. Memang sedikit terbuka di bagian pundaknya yang putih halus, sangat kontras dengan warna gelap yang dipakainya malam ini. Sesekali Aya ingin berpenampilan girly. Biasanya dia menggunakan jeans, yang dipadu dengan kaos ataupun kemeja, kali ini berbeda. Make up tipis ala-ala natural juga sudah menghias di wajah manisnya. Bibir sexy juga merah, lembab dan merona karena liptint yang dia poleskan di sana. Jika biasanya Aya membiarkan rambut yang panjangnya hanya sebatas bahu itu tergerai, kali ini dia mengikatnya sedikit tinggi, dengan poni tipis menghias di depannya. Penampilan Aya persis seperti anak kuliahan, sama sekali tidak terlihat seperti seorang dosen yang usianya hampir mendekati kepala tiga. “Ah iya, parfum.” Aya tak lupa menyemprotkan parfum di berapa titik tubuhnya termasuk leher. Malam ini, dia janjian dengan Reva dan Nania, bertemu di bar and lounge di hotel itu untuk sekadar makan malam.
Kebetulan bar adn lounge menempati lantai tertinggi di hotel ini, Aya menekan tombol lift yang menandakan panah ke atas dengan sabar dia menunggu lift sampai terbuka.
Ting
Langkah Aya sempat terhenti melihat siapa sosok rupawan yang ada di dalam sana. Dia sempat menelan kasar saliva yang seakan tersangkut di kerongkongannya.
“Bu Aya?” sapa lelaki di hadapannya dengan ramah. Biru sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi hatinya berkilah jika dia terpesona dengan penampilan dosen pembimbingnya malam ini yang sangat jauh berbeda dari biasanya.
Cantik, tapi tetap aura judesnya nggak bisa hilang. Biru memuji dalam hati, lalu setelahnya mengumpat. Dua hal yang dia lakukan secara bersamaan.
“Bi-Biru, kamu duluan aja.” Aya mengurungkan niatnya, cukup enggan berada dalam satu lift dengan lelaki itu.
Tapi bukannya menuruti pinta Aya, lelaki itu dengan beraninya menarik sebelah tangan mungil wanita di hadapannya. Hingga terpaksa Aya ikut masuk ke dalam sana dan kini dia berdiri tepat di sebelah lelaki berpenampilan santai itu. Biru mengenakan kaos polos berwarna hitam, serta celana jeans. Warna outfit mereka juga senada. Aroma parfum khas laki-laki juga mulai terasa di penciuman Aya.
Sial, nggak di kampus. Di luar kampus juga ketemu dia. Apa kota Jakarta yang luas ternyata semakin sempit? Aya mengeluh dalam hati.
“Maaf kalau saya lancang, saya tau Ibu Dosen saya, tapi sekarang kita bukan berada di kampus dan kebetulan bertemu di sini. Lantai berapa?” Lelaki itu berucap cukup santai meski telah meminta maaf pada Aya.
sedangkan Aya berusaha mati-matian menetralkan degup jantung yang berdebar cepat tak meenntu tanpa sebab yang jelas.
“Lantai berapa ya?” Pikiran Aya mendadak blank.
“Ibu mau ke mana?” tanya Biru lagi, menatap lekat pada wanita yang tingginya hanya sedikit melewati pundaknya.
“Bar and lounge,” sahut Aya dengan nada tegas.
“Oke kebetulan, tujuan kita sama.” Biru tersenyum tipis, lalu membiarkan pintu lift tertutup.
Sama? Aya bertanya dalam hati. Lagi dia menggerutu, mengapa bisa sama?
Hening selama beberapa detik.
“Berkencan?” tanya Biru tak tahu diri.
“Enggak, saya mau ketemu teman-teman saya,” jawab Aya dengan nada datar. Sejak tadi, hanya Biru yang terus menoleh ke arahnya seperti tidak bosan ingin terus memandangi sosok cantik di sebelahnya ini, sedangkan Aya hanya menatap lurus memandangi pintu lift berharap mereka segera tiba. Sungguh Aya berharap lelaki di sebelahnya ini tak banyak bertanya lagi.
Ting
Pintu terbuka lagi, Aya bernapas lega. Dengan gerakan cepat dia mengambil langkah, dan langsung belok ke kiri.
“Sebelah sini, Bu. Ke kiri itu ke kolam renang,” ucap Biru mengingatkan. Jangan sampai tangannya kembali lancang menarik wanita itu.
ah s**l. gerutu Aya.
“Iya.” Terpaksa lagi-lagi Aya mengikuti langkah lelaki itu. Dengan sengaja dia tidak mau menyamakan langkahnya dengan Biru.
Dan tanpa berkata apapun lagi, mereka berpisah. Karena sudah memiliki tujuan masing-masing. Aya langsung berjalan ke arah Nania dan Reva berada. Dua wanita itu melambaikan tangan sambil tersenyum jahil ke arahnya. Sedangkan Biru menuju meja yang isinya ada Devan juga Mario. Atas permintaan Devan, malam ini mereka membuat titik pertemuan di tempat ini.
“Diam!” titah Aya, lalu dia duduk di kursi kosong. “Gue tau kalian mau ngomong apa.”
“Kok bisa bareng?” tanya Nania kepo, meski sudah disuruh diam oleh Aya, tapi dia tak juga menurut. Terlalu sulit untuk mengerem mulutnya agar tidak kepo.
“Iya kok bisa? kalian tuh kayak couple tau nggak?” sambung Reva. “Mana bajunya sama-sama hitam lagi.”
“Apaan sih, kebetulan ketemu di lift. Gue juga nggak nyangka bisa ketemu dia di sini. Jangan nagco kalau ngomong. Coba lihat sekeliling, banyak banget yang pakai baju hitam,” sangkal Aya dengan nada kesal, wajahnya langsung cemberut dan tanpa basa-basi dia langsung meneguk segelas minuman yang ada di atas meja.
Reva dan Nania malah menertawakannya. “Jodoh kali.”
“Eum, minuman apa ini? kok rasanya agak aneh? gue kira air putih.” Meski menurutnya aneh, tapi dia sudah menghabiskan segelas air berwarna bening yang persis seperti air putih.
“Gila, lo habisin, Ya? ini tuh minuman gue,” jawab Reva. “Alkohol,” sambungnya lagi.
“Ya… tapi nggak salah gue dong. Letak gelasnya tepat di depan gue, dan di depan kalian masing-masing juga udah ada gelas. Mana gue tau kalau itu minuman lo.” Aya memejamkan matanya sekilas.
Reva dan Nania saling tatap, menaikkan alis, lalu tersenyum iseng.
“Ya nggak apa-apa kali, sesekali lo minum alkohol. Kan papa dan mama llo nggak ada di sini,” ucap Nania.
“Tapi tetap aja, gue nggak mau,” tolak Aya.
“Yah percuma dong lo bilang nggak mau, tapi udah habis segelas,” timpal Reva.
“Ya udah deh, semoga aja gue nggak apa-apa.” Ini untuk pertama kalinya Aya mengkonsumsi minuman beralkohol dan dia sangat berharap tidak akan ada pengaruh apa-apa pada dirinya. Tapi dis mendadak resah karena sudah menghabiskan sebanyak satu gelas. Selain merasa berdosa, dia juga merasa bersalah seperti telah berdusta pada kedua orang tuanya untuk tidak melakukan hal-hal aneh selama di luar rumah. Tapi Aya bisa apa? semuanya sudah terlanjur dan dia lakukan tanpa sengaja.
“Lo pesan apa?” tanya Nania, sambil membolak balikkan menu. Aya belum menjawab, dia malah sibuk menatap sekeliling. Ada banyak pengunjung malam ini, meja di bar and lounge hampir penuh terisi, entah itu pasangan, atau lebih dari dua orang, dan tatapannya berhenti pada satu meja di mana seorang lelaki sedang berbicara bercanda gurau dengan dua temannya, dan sialnya lelaki itu juga sedang melirik ke arahnya hingga tatapan mereka bertemu. Aya cepat-cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain, dia menunduk melihat ponsel, sedangkan Biru? lelaki itu masih betah memandang dosen judes yang mengakibatkan skripsinya tak kunjung selesai.