“Biru yang suci mulai ngelirik cewek lain.” Devan memetikkan jarinya tepat di hadapan wajah Biru yang sedari tadi terus melirik ke arah jarum jam sebelas. Lelaki itu menyadari ke mana arah pandang Biru yang tak lepas-lepas dari sana, meski sedang berbicara dengannya, tapi Devan sadar sahabatnya itu sedang tidak fokus, hingga mengalihkan perhatian Devan untuk ikut melihat apa yang mengakibatkan sahabatnya itu terlalu asyik memandang ke arah sana. “What?! sebentar.” Devan membulatkan mata, sesekali menoleh ke arah Biru, bergantian lagi menoleh ke kiri di mana sesuatu yang menyita perhatian Biru berada. “Itu si judes, kan?” tanya Devan tak percaya. “Iya,” sahut Biru tak percaya. “Wah… gila sih. Cantik mematikan.” gumam Devan. “Mana, mana?” tanya Mario menimbrung, sedari tadi lelaki it

