Zenon terhenyak dari mimpi ketika sebuah tangan lembut menyentuh dahinya, menggurat pelipisnya dengan perlahan. Saat dia membuka mata, dia melihat sebuah tangan tengah bermain-main di wajahnya. Bola matanya menangkap sosok yang sempat singgah dalam mimpinya, mata hijau terang itu menggugah kerinduan yang lama terkubur dalam diri Zenon. "Nyna." Dia terkejut karena Nyna tiba-tiba ada di hadapannya. Sudut matanya melihat sekilas tangan mungil yang berada di genggamannya hingga dia menyadari satu hal; ini bukanlah mimpi. Di hadapannya saat ini adalah istrinya, kekasih hatinya, duanianya, jiwanya dan Nyna-nya. Kedua tangannya menyibak rambut pirang yang tergerai indah itu lalu menangkupkan kedua tangannya di pipi kemerahan itu. Sungguh, dia tidak menyangka kalau Nyna masih hidup. "Nyna." Dia

