Api yang bergelora membubung tinggi hingga menjilati langit gelap bagaikan naga yang tengah mengangkasa. Asap tercium di tengah kegelapan kabut, menyengat dengan aroma dendam dan kematian.
Pemandangan dan aroma itu membuat hati Zenon teriris perih. Dia tidak pernah menginginkan kejadian ini, tapi kenapa sesuatu yang buruk selalu berada di dalam genggamannya. Mencecap kebahagian yang hanya sekadar singgah membuat Zenon merasakan bahwa para dewa tidak pernah adil dengannya.
Penderitaan pahit yang membuncah di dalam dirinya begitu mematikan. Penderitaan yang dirasakan Zenon melebihi batas kesanggupannya hingga dia hampir tertawa ... atau mengamuk. Dia mengutuk penderitaan yang selalu menyiksanya secara bertubi-tubi.
Satu per satu, ia kehilangan orang-orang yang pernah berarti baginya. Semua pergi meninggalkannya dengan sebuah rasa penyesalan. Sebuah rasa yang tidak bisa melindungi orang-orang terkasihnya.
Sejak ia berumur sepuluh tahun, ibunya menghilang entah ke mana, meninggalkan dirinya dan adik laki-lakinya yang masih berumur lima tahun. Saat membuka mata pagi itu, dia mendapati dinding rumahnya dingin, tidak ada suasana hangat dari sebuah perapian yang biasa digunakan ibunya untuk memasak. Dia tidak mencium bau harum makanan melainkan hanya mencium bau kayu yang telah habis terbakar. Dia beranjak dari tempat tidur yang terbuat dari rotan untuk mencari keberadaan ibunya. Namun usahanya sia-sia, dia sama sekali tidak menemukan sosok ibunya di dalam rumah sederhana itu.
Di umurnya yang masih terbilang kecil, Zenon memiliki pemikiran dewasa yang selalu ditanamkan ibunya. Dia langsung bisa mengontrol kepanikan ketika mendapati adiknya menangis. Sejak saat itu, Zenon mati-matian menjaga dan memenuhi kebutuhan adiknya yang masih kecil. Dia rela menjadi b***k para bangsawan demi mendapatkan seiris roti gandum dan roti itu pun selalu ia persembahkan seluruhnya untuk Phoebe—adiknya.
Menjadi b***k sama saja menjadi hewan peliharaan bagi orang yang memiliki tahta, dia sering kali mendapat perlakuan kasar dari majikan jika pekerjaan yang ia kerjakan tidak sempurna. Terkadang dia pernah disiram dengan seember kotoran kuda ketika meninggalkan sebercak noda di bagian kaki kuda milik para bangsawan itu. Namun, bukan hanya itu saja hukuman yang didapat Zenon karena ia tidak becus membersihkan kuda-kuda itu, dua puluh kali pukulan cambuk ia terima sebagai pelengkap kesalahannya. Pukulan itu sanggup membuat Zenon terjaga di malam hari, membuatnya menahan perih dan sakit semalam suntuk. Sekali lagi, dia melakukan hal itu demi adiknya.
Hingga waktu berjalan selama puluhan tahun, dia dan adiknya tumbuh menjadi seorang perampok sejati. Bermula dari sakit hatinya yang telah disiksa oleh majikannya, Zenon memutuskan untuk membalas dendam atas semua yang ia terima. Dia yang dibantu oleh Phoebe berhasil menjarah seluruh harta majikannya, tetapi dia sama sekali tidak pernah menyentuh harta itu. Uang, emas, dan benda-benda berharga hasil curian ia bagikan kepada warga desa untuk membantu keuangan mereka. Setelah rencana mencurinya berhasil, dia mulai berpindah dari satu desa ke desa lain hingga berpindah menjadi pencuri seorang pelaut.
Modus yang digunakan Zenon juga sama. Dia menjadi b***k dari para pelaut itu dan baru beraksi ketika telah menemukan cara untuk merampas harta para pelaut itu. Seperti kata pepatah; sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Begitulah yang terjadi pada Zenon, adiknya meninggal di saat dia akan merampok para pelaut untuk pertama kalinya. Lalu tubuhnya yang tengah pingsan dibuang ke tengah laut bersama dengan mayat Phoebe.
Peristiwa itu membawanya bertemu dengan Erebus. Nyawanya yang terkatung-katung di laut lepas, berhasil diselamatkan oleh Erebus. Kehadiran Erebus sanggup menghibur hatinya yang tengah bersedih karena kehilangan Phoebe. Dia dan Erebus—yang merupakan keturunan Sirenes—menjadi teman baik. Zenon yang merasa berutang budi kepada Erebus berjanji kepada diri sendiri untuk senantiasa membantu Erebus, salah satunya adalah membunuh para Nymph tanpa peduli asal-usul permusuhan itu terjadi.
Dia saling bahu membahu untuk membantu Erebus, tetapi janjinya telah di patahkan ketika ia bertemu dengan Nyna. Seorang Nymph keturunan dewa itu sanggup memikat hatinya dan mengingkari janji yang telah ia buat. Melihat Zenon yang terbuai oleh Nymph, membuat Erebus marah besar. Dia memuntahkan seluruh amarahnya dengan membuka semua rahasia yang telah ia simpan.
"Aku menyesal telah menyelamatkanmu dari lautan yang akan membunuhmu, Z." Mata biru gelap Erebus menyalang tajam. "Kau pengkhianat! Kau sama seperti ibumu yang mencoba melarikan diri dari ayahku! Aku harus berterima kasih kepada ayahku yang telah membunuh ibumu! Dan jika kau tidak ingin bernasib sama seperti ibumu, kau harus membunuh Nyna!"
Kebenaran itu sanggup menggelapkan padangan Zenon. Jadi, ayah Erebus yang telah membunuh ibunya. Zenon bukan orang yang gegabah, hingga dia sanggup mengelabui Erebus. Dia membawa kalung Nyna sebagai bukti untuk ditunjukan kepada Erebus supaya memercayainya. Untuk sesaat Erebus percaya dan kepercayaan Erebus sangat membantu Zenon untuk menyusup masuk ke dalam istana Erebus—membunuh ayah Erebus.
Upayanya untuk membunuh ayah Erebus telah berhasil. Dia pergi ke tempat di mana dewa Dionisos menjadi dewa utama di pulau itu bersama Nyna. Zenon sengaja memilih tempat itu karena ia berpikir bahwa Erebus tidak akan mengira kalau dia bersembunyi di tempat musuh bebuyutan Nymph.
Namun prediksinya salah, dia mendapati Nyna meninggal sepulangnya dari berburu. Dia hanya mendapati baju yang dipakai Nyna pagi itu, bahkan dia tidak bisa menemani Nyna ketika istrinya itu mengembuskan napas terakhir dan berubah menjadi abu. Dia tidak bisa mendekap Nyna-nya sebagai salam perpisahan.
Jiwanya hilang.
Hatinya pergi.
Dan dunianya runtuh seketika.
Nyna tidak akan pernah kembali di dalam pelukannya.
"Itu balasan yang setimpal untukmu yang telah membunuh ayahku!" Teriakan Erebus terdengar hingga membuat tubuh Zenon menegang.
"Kau layak disebut iblis!" maki Zenon.
Erebus tertawa lebar mendengarnya. Dari dulu Erebus selalu mendapat sebutan iblis dari kaumnya karena mengingat sifatnya yang tidak pandang bulu saat membunuh.
Belum sempat Zenon menyerang, Erebus sudah menggunakan kekuatannya untuk mencekik tubuh Zenon. "Yang perlu kau ingat adalah kedudukanku lebih tinggi darimu, manusia. Aku bisa membunuh tanpa menyentuhmu."
Kaki Zenon bergerak-gerak ketika berada di udara, wajahnya memerah saat oksigen tidak lagi menyuplai kantung paru-parunya. Di saat detik-detik terakhir itulah, Zenon mengucap satu permohonan kepada dewa bahwa dia bersedia menyerahkan seluruh nyawanya jika ia diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi.
Rumah sederhana Zenon dan Nyna dibumihanguskan oleh Erebus. Dia benci dengan seorang pengkhianat, dia benci dengan orang yang tidak mengenal balas budi dan dia membenci Zenon yang tidak jauh beda dengan ibu tiri Erebus—ibu kandung Zenon.
Angin berembus kencang ketika sesosok misterius yang memakai jubah hitam muncul di depan rumah Zenon. Mata hitam pekatnya menatap kobaran api yang menjilat, dia telah mendengar sebuah permintaan dari seorang manusia. Permintaan itu mengharuskannya untuk menyusul nyawa itu sebelum mencapai dunia bawah—dunia tempat tinggal para roh. Dia akan mempersembahkan jiwa itu kepada Hades dan Persofone agar jiwa itu bisa menjadi kaumnya.
Bak sebuah sihir, Zenon keluar dari kepulan api dengan terhuyung-huyung. Nyawa yang sempat melayang telah kembali ke dalam tubuh Zenon. Napasnya masih terasa sesak dan pandangannya masih kabur. Matanya melihat sosok berjubah hitam tengah berdiri di hadapannya dengan begitu tenang. Jubah yang terbuat dari kain tenun itu melambai-lambai mengikuti angin yang berembus kencang. Cahaya bulan semburat cahaya api berdansa di rambut hitam pekat pria itu yang memiliki panjang melebihi bahu. Mata hitam pekat pria itu berkilauan seolah-olah memancarkam hal yang mengerikan.
Zenon terseok-seok menghampiri pria itu. "Siapa kau?"
Pria itu tersenyum miring lalu menjulurkan tangannya ke arah Zenon. "Ikutlah denganku, Nak. Aku telah mendengarkan permintaanmu?"
Dahi Zenon berkerut, dia tak mengerti maksud pria ini. Zenon enggan membalas uluran tangan pria ini.
"Aku akan mengajarimu untuk menjalani kehidupan yang baru."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mengajarimu bagaimana melindungi seorang Nymph. Aku akan mengajarimu cara bertarung yang sesungguhnya dan aku akan menunjukkanmu bagaimana rasanya menjadi manusia abadi."
Jalan takdir seperti itulah yang ditempuh Zenon. Dia tidak pernah mengecap kebahagian dalam jangka waktu yang lama. Setiap kebahagiaan yang ia dapat selalu saja memiliki umur pendek, hingga dia memutuskan untuk menjadi manusia abadi.
***
Lexi berjongkok di hadapan Zenon yang tengah tertidur di ruang tengah. Dia melihat keringat sebesar jagung membasahi dahi Zenon dan mendengar pria itu menggeram. Lexi menebak kalau Zenon tengah bermimpi buruk pagi ini. Dengan gerakan ragu-ragu, Lexi mengulurkan jemari untuk menyentuh dahi Zenon yang basah kuyup. Dia menyibak anak rambut yang menutupi dahi untuk mengusap keringat pria itu.
Tiba-tiba mata Zenon terbelalak, lalu tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lexi dengan kuat. Jantung Lexi hampir lepas saat tangannya dihentikan paksa oleh Zenon.
"Nyna, " desis Zenon dengan napas yang memburu.
Mulut Lexi enggan terbuka karena lidahnya terasa kelu. Dia takut melihat tatapan mata Zenon yang begitu tajam, dia tidak mau dicekik oleh pria ini.
Zenon bangkit, kedua tangannya menyibak rambut Lexi lalu menangkupkan kedua tangannya di pipi Lexi. "Nyna."
Kenapa Zenon selalu menyebutnya Nyna? Siapa wanita itu? Apa hubungan Nyna dengannya sehingga ia selalu dipanggil Nyna oleh Zenon?
Baru saja Lexi akan membuka mulut, tiba-tiba bibir Zenon sudah menyapu bibirnya. Mata Lexi terbelalak ketika merasakan napas yang hangat menderu menerpa hidungnya. Mulut hangat beraroma mint milik Zenon terasa begitu nikmat di bibirnya. Zenon tidak memberikan ruang baginya untuk bernapas. Entah sihir apa yang digunakan Zenon hingga Lexi mulai menikmati ciuman yang menggairahkan itu.