File - 26

1405 Kata
Mulut Lexi masih mengunyah pasta terakhir buatan Zenon. Matanya tertutup rapat ketika merasakan cream dan saus melebur di dalam mulutnya. Campuran rasa itu begitu sempurna di dalam mulut hingga Lexi enggan menelan makanan itu. Dia memuji kehebatan Zenon dalam memasak dan mengagung-agungkan rasa makanan yang hampir sempurna. Memang benar kata Zenon bahwa memakan makanan langsung dari penggorengan terasa begitu nikmat. Ini adalah pengalaman pertama Lexi makan menggunakan penggorengan. Ya ... ini bisa menjadi referensi jika suatu saat dia ingin membuka restoran. Zenon terpaksa mengakhiri makannya terlebih dahulu karena Lexi begitu rakus hingga tidak memberikan ruang baginya untuk memakan bagiannya. Lalu sekarang dia sedang menikmati pemandangan yang menggoda, Lexi terlihat begitu menarik ketika menikmati makanan yang ia buat. Matanya menelusuri garis pipi Lexi yang tirus hingga membentuk bulatan oval di bagian dagu kemudian matanya beralih melihat bibir Lexi yang sedang mengunyah dengan sesekali menjilat bagian bibirnya. Zenon menelan ludah ketika membayangkan bibirnya menyapu bibir tipis Lexi yang begitu menggoda. Sendok kayu yang berada di genggamannya terlihat sedikit bergetar mengikuti gerakan tangannya yang gemetar menahan hasrat di dalam dirinya. "Apa kau memiliki profesi sampingan selain menjadi Shades Guardian?" tanya Lexi. Bola mata Zenon bergulir tak tentu arah untuk menghindari tatapan Lexi. Dia seperti seseorang yang tertangkap basah mencuri sesuatu. "Apa maksudmu?" Lexi meletakkan sendoknya di atas penggorengan yang sudah tak terisi apa pun. Semua makanan yang ada di dalam sana sudah habis dilahap Lexi. Dia melipat tangannya. "Misalnya menjadi seorang koki?" Bibir Zenon tersenyum miring mendengarnya. "Sejak aku menjadi Shades Guardian, aku mulai belajar mandiri." Bola mata Zenon berhenti di sudut bibir Lexi yang terdapat noda pasta. Tangan Zenon meletakkan sendok yang ia genggam, lalu secara alamiah ibu jarinya menyapu sudut bibir Lexi yang menyisakan bumbu pasta. Zenon merasakan sengatan yang luar biasa ketika jemarinya secara tidak sengaja menyenggol bibir itu. Jakunnya naik turun menelan ludah ketika merasakan kelembutan bibir tipis itu di tangannya. Bibir Lexi begitu lembut seperti kapas, tapi sensasi yang ditimbulkan oleh bibir Lexi sanggup membuatnya melayang. Lexi menoleh ketika menyadari jemari Zenon menyentuh lama bibirnya. "Kenapa?" Menyadari tingkahnya yang aneh, Zenon menarik napas dalam-dalam lalu menurunkan tangannya. Dia kembali gelagapan, dia merasa kalau dia tidak menjadi dirinya sendiri akhir-akhir ini. "Ada sisa pasta di sudut bibirmu."" "Oh." Lexi tidak berkata-kata lagi. Terus terang, sikap Zenon sanggup membuatnya salah tingkah. Lexi mulai beranjak dari kursi untuk menghindari tatapan Zenon. "Kau mau ke mana?" "Huh?" "Kau mau ke mana?" "A-aku mau tidur." Zenon mendengkus. "Sekali lagi aku ingatkan kepadamu bahwa aku bukan pembantumu." Lexi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Zenon. "Maksudnya?" Tangan Zenon terlipat lalu ia mengedikkan dagunya ke arah penggorengan. "Ini bagianmu?" Kening Lexi mengernyit. "Kau yang mencuci penggorengan ini. Kita harus saling bahu membahu dalam urusan rumah." Lexi berdecih kesal ketika ia disuruh mencuci pengorengan. Seharusnya Zenon langsung saja menyuruhnya bukan menyidirnya hingga terlihat bodoh. Tapi, tunggu dulu ... bahu membahu dalam urusan rumah? Apa maksud dari perkataannya? "Kau bilang seperti itu seakan-akan kau mau tinggal di rumahku," kata Lexi sembari mengambil penggorengan dengan satu sentakan. Dia sedikit kesal dengan Zenon. "Aku memang akan tinggal di tempatmu, Nona." Langkah kaki Lexi terhenti saat mendengar perkataan yang mampu membuat jantungnya melompat keluar. "Apa maksudmu? Kau ...." Zenon beranjak dari kursi lalu memutar tubuhnya. "Iya, aku sudah membawa dua tas yang berisi baju-bajuku. Aku akan tinggal denganmu sementara waktu." Mata Lexi terbelalak, dia tidak percaya dengan semua yang dikatakan Zenon. "Apa kau bercanda?" "Tidak," jawab Zenon enteng. Lexi bertolak pinggang dengan satu tangan. "Memangnya ini rumah siapa hingga dengan seenaknya kau memutuskan tinggal di rumahku?" "Kau tahu kalau aku seorang buronan." "Ah ... dan aku menyembunyikan buronan." "Dan kau lupa siapa yang menyelamatkanmu dari pria psikopat itu." "Kalau begitu aku mengucapkan terima kasih. Jadi ... sebaiknya kau pulang ke tempatmu!" Lexi tidak mau kalau harus serumah dengan Zenon. Dia merasa kalau Zenon adalah pria berbahaya yang harus dihindari. Daya tarik Zenon begitu kuat hingga membuat Lexi kelimpungan. Dia harus menghindar sebisa mungkin. "Kau kira aku akan menuruti perintahmu? Jangan harap, Nona." Tangan Lexi semakin kuat menggenggam gagang penggorengan. Zenon melirik tangan Lexi, dia mengerti kalau Nymph ini sedang tersulut emosi. "Kau mau memukulku dengan gagang, lalu mengusirku keluar? Apa seperti ini caranya membalas budi?" "Kau sangat perhitungan, Tuan." Mata Lexi mendelik. Zenon tersenyum singkat lalu menegapkan tubuhnya. "Kita akhiri perdebatan ini dengan kau menyetujui keinginanku." "Apa?" "Sebaiknya kau mencuci itu dan aku akan berjaga malam ini. Kabut ilusiku tidak bisa mengelabui auramu dalam waktu yang lama." Lexi melenguh panjang kemudian memutar tubuh dan melemparkan penggorengan itu ke dalam watafel. "Aku bisa cepat tua jika menghadapimu setiap hari." "Aku bisa pastikan itu." "Aku menyesal telah memberitahu polisi kalau aku tidak mengenalmu!" Zenon hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Lexi. Dia tahu kalau Nymph ini akan menutupi eksistensinya di dunia, jadi dia tidak perlu bertanya tentang apa yang dikatakan Lexi kepada polisi. Dia percaya kalau Lexi adalah wanita yang pintar. "Dengar, sebaiknya kau tidur di ruang tengah karena aku tidak punya kamar lagi!" "Aku bukan pria manja." "Bagus kalau begitu." "Apa aku boleh pergi? Atau aku harus duduk lagi dan mendengar omelanmu?" "Lebih baik kau pergi dan tidak muncul di hadapanku lagi." "Sayangnya itu tidak mungkin." Kali ini emosi Lexi telah mencapai puncaknya. Pria ini selalu menjawab semua caciannya, dia kesal karena Zenon tidak bisa menutup mulut. "Cepat pergi!" Zenon tersenyum lebar lalu menarik napasnya dalam-dalam dan dengan sekejap tubuhnya menghilang dari pandangan Lexi. Lexi menghela napas panjang saat tidak melihat keberadaan Zenon di depan matanya. Entah ke mana pria itu pergi, yang pasti Lexi bisa sedikit bernapas lega untuk sementara waktu. Lexi menyandarkan p****t di pinggiran wastafel sambil melipat tangan lalu berpikir sejenak. Dia tidak siap kalau harus serumah dengan Zenon karena serumah dengan pria itu bisa membuatnya melanggar prinsip yang telah tertanam; dia ingin melajang seumur hidup dan tidak akan jatuh ke pelukan seorang pria lagi. Zenon termasuk dalam kategori pria yang berbahaya menurut Lexi. Kalau boleh jujur, Lexi selalu merasakan debaran yang luar biasa ketika berada di dekat Zenon, seolah-olah pria itu adalah alat pemacu jantung yang sanggup meningkatkan irama jantungnya. Aura maskulin Zenon sanggup membuatnya meleleh. Benak Lexi seakan-akan menginginkan sentuhan Zenon saat melihat tubuh tegap dan kekar milik pria itu. Belum lagi rahang berbentuk kotak yang menggambarkan ketegasan itu membuat tangan Lexi gatal ingin menyentuhnya. Dan satu yang baru disadari Lexi, pria itu mempunyai p****t yang seksi ketika sedang memasak. Sekarang otaknya dipenuhi pemikiran kotor. Lexi mengusap wajahnya dengan kasar. "Oh Tuhan, aku pasti sudah gila!" ***   Aphrodite tengah duduk di kursi empuk di dalam aulanya. Rambut berwarna cokelat gandum nan panjang ia biarkan tergerai hingga menyentuh pegangan kursi. Dia sedang bersantai sambil menunggu kedatangan anaknya. Dia ingin membicarakan satu hal yang penting dengan anaknya. Sejujurnya dia tidak ingin mengakhiri peperangan antara Nymph dan Sirenes dengan sebuah peperangan. Dia memiliki rencana lain untuk memperbaiki semuanya dengan indah. Dia akan membuat awal takdir ini seperti permintaan Oiagros, tetapi dia menginginkan mengakhiri takdir ini dengan cinta. Seorang pria bertubuh tinggi dan memiliki warna rambut yang senada dengan Aphrodite sedang berjalan mendekati tempat Aphrodite. Sayap yang sempat terlihat di punggung pria itu tiba-tiba menghilang seolah-olah disembunyikan di balik punggunya. Aprhodite mengembangkan senyum ketika melihat Eros datang memenuhi panggilannya. "Apa kau tidak sibuk sehingga kau bisa datang tepat waktu?" Eros tersenyum lalu duduk di atas pualam, tepat di bawah kursi Aphrodite. Dia mengamit tangan Aphrodite dengan lembut, lalu mencium punggung tangan ibunya. "Sedikit ... tapi aku punya anak buah yang bisa mengatasi semua permasalahan di muka bumi ini, Ibu." Aphrodite tersenyum tipis. "Apa kau sudah melepaskan anak panahmu kepada dua insan itu? Sesuai keinginanku?" "Aku jamin kau tidak akan kecewa. Mungkin saat ini mereka sedang merasakan getaran yang hebat." "Aku selalu puas dengan hasil kerjamu, Eros," ucap Aphrodite sambil terkekeh. "Aku ingin semua berlangsung dengan cepat supaya aku bisa menjalankan rencanaku selanjutnya." Eros memalingkan wajah lalu matanya menerawang, dia sedang memikirkan permintaan ibunya. Eros begitu mencitai ibunya sehingga dia berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi keinginan Aphrodite. Cinta yang dirasakan Eros bukan sebuah cinta antara pria dengan wanita seperti dalam cerita-cerita yang diciptakan di zaman Hellenistik dan zaman Romawi kuno, tapi cinta yang dirasakan Eros adalah cinta anak kepada ibunya. Para manusia selalu mengarang sebuah cerita yang mereka sendiri tidak tahu kebenarannya. Terkadang mereka menceritakan para dewa dengan sebuah kisah yang bisa membuat para dewa terlihat kurang ajar. Meskipun begitu mereka tetap memuja para dewa hingga membuat para dewa semakin kuat dan berkuasa dalam mengatur segalanya. Para dewa akan semakin kuat jika manusia di bumi masih memuja mereka, tapi jika para manusia sudah tidak memuja mereka lagi maka kekuatan para dewa akan melemah. Dan jika semua kekuatan para dewa melemah, maka dunia berada di dalam ambang kehancuran. Eros mendongakkan kepalanya saat terbersit sebuah ide. "Aku punya rencana lain untuk mempercepat ini," ucapnya dengan senyuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN