"Apa kau mau makan malam dulu?"
Lexi hanya menggeleng mendengar tawaran Cleo. Dia sedang tidak bernafsu makan karena sedang memikirkan nyawa Felix yang melayang dengan cara tidak wajar. Melihat dari rekaman CCTV, Felix terlihat mencekik lehernya sendiri dan anehnya lagi pistol yang sempat dipegang Felix melayang dengan sendirinya. Semua terlihat aneh dan janggal di mata manusia awam, tapi baginya dan Cleo peristiwa itu tidak begitu aneh. Dia dan Cle menduga kalau yang melakukan hal itu adalah makhluk yang mungkin sejenis dirinya atau bisa disebut Sirenes. Lexi yakin kalau yang melakukan itu semua adalah Sirenes.
Cleo menoleh sekilas ke arah Lexi yang pikirannya sedang tidak berada di sini. Bukan hanya Lexi yang terheran-heran melihat rekaman itu, tapi dia juga merasakan hal yang sama. Cleo tak habis pikir, kenapa para Sirenes itu begitu tega membunuh manusia yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan peperangan mereka?
"Kau baik-baik saja Lexi?" tanya Cleo yang sedikit khawatir. Sejak dia mendengar kabar bahwa Felix meninggal dengan cara yang tidak wajar, Cleo langsung meminta izin kepada bosnya untuk pulang lebih awal. Dia meluncur untuk menemani Lexi yang ada di kantor polisi. Dia tidak akan tenang jika berdiam diri di dalam kantor tanpa menemani sahabatnya yang sedang mengalami hari-hari sulit.
Lexi menoleh dengan sebuah anggukan. "Aku sedikit ketakutan dan cemas, Clee. Sirenes itu makhluk yang kejam."
"Hem ... kau benar. Aku mengkhawatirkan dirimu dan juga diriku sendiri. Jujur, aku adalah orang yang paling dekat denganmu, aku takut mereka mendatangiku dan meminta informasi dariku tentangmu lalu mereka membunuhku."
Lexi menggeleng. "Tidak ... tidak, Clee. Jangan sampai itu terjadi padamu." Dia terdiam sejenak sambil menggigit bibir bawahnya. "Sebaiknya kau kemasi barangmu dan menjauhlah dariku."
Saat ini, Cleo dan Lexi sedang di dalam mobil. Setelah berada di kantor polisi selama berjam-jam dan dicecar dengan puluhan pertanyaan, akhirnya Lexi diizinkan pulang. Cleo mendampinginya sejak siang tadi hingga malam ini dan mengantarnya pulang ke rumah.
Cleo mengembuskan napas panjang. "Mana mungkin aku tega meninggalkanmu? Aku malah cemas jika jauh darimu setelah mengetahui bahwa nyawamu dalam bahaya. Oke ... mungkin aku bisa mengelak dari makhluk-makhluk yang mencoba menginterogasiku, tapi kau ... mereka pasti akan mendatangi rumahmu dan membantaimu dengan kejam."
"Kau tenang saja, aku punya Zenon."
Cleo termenung sejenak. Lexi benar kalau ada Zenon yang akan melindungi nyawa Lexi. Dia yakin sekali kalau pria yang mengaku sebagai pelindung Lexi bisa melindungi sahabat satu-satunya. Setelah semalam suntuk dia mendapat penjelasan dari Zenon dan juga bukti-bukti kekuatan Zenon disajikan di depan matanya, dia menjadi sangat yakin kalau pira itu adalah orang yang baik. Dia juga yakin kalau pria itu bisa melindungi Lexi dengan seluruh nyawa yang ia punya.
"Sebaiknya kau menurutiku, Clee. Setelah kau keluar dari mobil ini, kau harus segera mengemasi pakaianmu dan pulang ke apartemenmu."
Cleo mengangguk paham.
"Aku tidak mau kau terlibat dalam peperangan ini, Clee. Kau tidak tahu apa-apa tentang mereka dan mereka hanya menginginkan nyawaku."
Wajah Cleo berubah menjadi muram setelah mendengar perkataan Lexi yang terdengar menyedihkan. "Jujur, aku tidak tega melihatmu seperti ini. Aku ingin sekali menemanimu, tapi ... aku merasa kalau aku tidak memiliki andil atas peperangan ini. Aku takut kalau kehadiranku akan tambah merepotkan. Aku sama sekali tidak mempunyai kemampuan bertarung atau hal-hal kecil yang kau miliki."
Lexi menggenggam tangan Cleo yang sedang tidak memegang kemudi. "Aku tahu, Clee. Aku bisa mengerti." Cleo menoleh dengan wajah muram, meskipun Lexi tengah tersenyum lebar kepadanya.
***
Lima hingga sepuluh Sirenes telah dilahap Zenon dalam hitungan menit. Sepertinya tenaganya sudah pulih saat ini hingga dia merasa prima dan sanggup membunuh Sirenes itu dalam hitungan menit. Ketika sampai di rumah Lexi, dia merasakan aura Sirenes yang begitu kuat di sekitar rumah Lexi. Dia keluar dari rumah Lexi untuk mengintai para Sirenes itu, dan memang benar kalau para Sirenes berkerumun di sekitar rumah Lexi. Nymph-nya mempunyai magnet yang besar hingga sanggup mendatangkan belasan Sirenes dalam waktu yang singkat.
Tangan lebarnya berhasil mencengkeram Sirenes terakhir yang ia hadapi sekarang. Sirenes itu memberontak ketika kakinya sudah tidak berpijak lagi dan napasnya tercekat. Zenon menyeringai saat melihat wajah menderita milik Sirenes. Melihat ekpresi itu membuatnya merasa puas dan menjadi suatu kesenangan tersendiri baginya. Cengkeraman tangan Zenon menjadi semakin kuat hingga Sirenes itu berubah menjadi abu beterbangan. Sirenes terakhir sudah mati. Jadi ini yang dimaksud Dye agar ia bisa menjaga dirinya sendiri, karena Nymph itu seperti sebuah magnet yang bisa mendatangkan Sirenes dari sudut mana pun.
Setelah memusnahkan seluruh Sirenes yang mengepung rumah Lexi, Zenon mulai membuat kabut ilusi untuk melindungi rumah Lexi sementara. Dia menarik napas dalam-dalam untuk melakukan teleportasi.
Tepat setelah Zenon sampai di rumah Lexi dengan teleportasi, dia mendengar suara pintu terbuka dan dua orang wanita yang sedang berbincang. Itu pasti Lexi dan temannya.
"Astaga!" pekik Lexi yang terkejut dengan kehadiran Zenon ketika lampu baru saja dinyalakan.
"Maaf."
"Apa selalu seperti ini caramu datang ke rumahku?"
"Lexi sudahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengannya. Kau tahu sendiri kalau sekarang dia sedang menjadi buronan polisi." Cleo menyela omelan Lexi.
"Aku tidak membunuhnya!" tegas Zenon.
"Aku tahu, tapi polisi itu membutuhkan keteranganmu sebagai saksi."
Zenon menanggapi perkataan Cleo dengan sebuah dengkusan.
"Dia tidak akan mengerti karena terbiasa membunuh tanpa mendapat hukuman."
Rahang Zenon bergemelatuk karena tersinggung dengan ucapan Lexi. Dia melangkah untuk mendekati Lexi. "Apa kau bisa menghargaiku sebagai pelindungmu, hah? Atau kau ingin mati sia-sia karena dibunuh Sirenes?"
Lexi maju selangkah dengan kepala terangkat, dia tidak mau terlihat lemah. "Apa kau yakin akan meninggalkanku?"
Mata Zenon menatap tajam ke arah Lexi, wanita ini begitu berani dengannya. Kesabarannya sangat diuji saat ditugaskan melindungi Nymph yang hidup di zaman modern. Seperti Attis yang memiliki otak m***m dan sekarang dia berhadapan dengan Lexi yang begitu garang.
Cleo mengembuskan napas panjang. "Apa kalian akan bertengkar semalam suntuk?" Mereka berdua menatap Cleo secara bersamaan. Dia mengembuskan napas lagi, tapi kali ini disusul oleh lenguhan panjang. "Sebaiknya aku mengemasi barangku dan meninggalkan kalian berdua agar kalian bisa lebih akrab."
***
Lexi menatap mobil Cleo yang mulai berjalan menjauhi rumahnya. Setelah mobil Cleo menghilang dari pandangan, dia melangkah masuk dan seketika itu aroma harum makanan menelisik hidung. Perutnya mulai berbunyi untuk minta diisi. Dia berdiri di ambang pintu dapur dengan melipat tangan, bibirnya tersenyum saat melihat Zenon sibuk memasak. Lexi merasa kalau Zenon semakin terlihat seksi jika berada di dapur. Dia bisa melihat punggung kekar Zenon bergoyang-goyang ketika mengangkat penggorengan, gerakan itu seperti sebuah tarian striptis yang disajikan di hadapannya. Pria ini menawan sekaligus berbahaya bagi dirinya.
"Kau pasti lapar," tebak Zenon sambil membawa penggorengan yang berisi pasta. "Makan ini denganku."
Dahi Lexi mengernyit saat melihat penggorengan diletakkan di atas meja pantry. "Mana piringnya?"
"Kalau kau mau, kau bisa ambil sendiri. Aku bukan pembantumu, Nona."
Lexi berdecih mendengar perkataan Zenon. "Lupakan, aku tidak lapar." Dia balik kanan untuk meninggalkan Zenon.
"Kau pasti rugi karena kau tidak mencicipi makanan paling enak ini." Lexi menelan ludah. "Apa kau tidak lapar setelah diinterogasi oleh polisi-polisi itu?"
Lexi memutar badan untuk menghadap Zenon yang sudah menyeringai.
"Kau menyerah, Nona?"
Terdengar suara lenguhan panjang dari Lexi. Dia terlena dengan harum masakan yang menggoda cacing-cacing di perutnya. "Kau menang, Tuan."
Zenon terkekeh mendengarnya, tangannya sudah menyendok pasta yang masih berada di penggorengan.
"Kau tidak pakai piring?" tanya Lexi.
"Kau belum pernah makan langsung di penggorengan? Aku berani jamin masakan ini akan terasa lebih lezat jika langsung dimakan dari penggorengan."
Lexi melirik sekilas ke arah tumpukan piring lalu dia mengurungkan niatnya untuk mengambil piring. "Sekali lagi aku kalah denganmu."
Kali ini Zenon tertawa lepas karena menyadari kalau Lexi tidak sepenuhnya menyebalkan. Wanita ini sangat menyenangkan. Dia menyodorkan sendoknya ke arah Lexi. "Aku tidak mempunyai penyakit menular."
Tanpa banyak bicara, Lexi meraih sendok yang disodorkan Zenon untuknya. "Aku tahu, kau makhluk abadi yang tidak akan mati meskipun kau mengidap asma."
Zenon tergelak lagi mendengarnya. Lexi hanya tersenyum miring mendengar tawa Zenon yang membahana. Selama ini rumahnya selalu sepi, tapi kali ini rumahnya terasa lebih hidup.