Alis Lexi tertukik ketika matanya melihat beberapa orang berseragam polisi di depan rumahnya, dia mengintip di balik korden. "Polisi?"
Dia berdeham sejenak sambil menarik napas dalam-dalam sebelum tangannya memutar kenop pintu.
"Selamat pagi," sapa salah satu dari mereka ketika pintu Lexi baru terbuka setengahnya.
Bola mata Lexi menatap satu per satu orang-orang yang tidak dikenalnya. Wajah mereka terlihat begitu serius dan membunuh, seolah-olah dia seorang kriminil yang sedang bersembunyi. Lexi menelan ludah saat membayangkan hal yang menakutkan, dia tidak mau mendekam di dalam penjara. Seingatnya, dia tidak melakukan kesalahan fatal sedikit pun.
"P-pagi," balas Lexi dengan sedikit tergagap. Dia benar-benar takut dan panik.
Polisi yang berdiri paling depan sendiri menunjukkan kartu identitasnya, kartu yang menunjukkan bahwa ia petugas polisi. "Saya polisi. Apa saat ini saya berbicara dengan Nona Alexandria Greek?"
Lexi mengangguk patah-patah dengan mata yang bergulir ke sana kemari. Lidahnya terlalu kelu menjawab pertanyaan polisi itu.
Lalu petugas itu meraih selembar kertas yang dibawa oleh salah satu temannya. "Saya membawa surat perintah untuk menggeledah dan membawa Anda ke kantor polisi sebagai saksi."
Kening Lexi berkerut ketika melihat lembaran kertas itu dan tentunya perkataan polisi yang akan membawanya sebagai saksi. "Tunggu dulu, aku sama sekali tidak pernah melakukan kejahatan."
Polisi itu tersenyum ramah. "Boleh kami masuk dulu? Aku akan menjelaskan sambil menunggu teman-temanku memeriksa rumahmu."
Pikiran Lexi lari ke mana-mana, dia masih bingung dengan kedatangan polisi di rumahnya. Apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba polisi ini harus menggeledah rumahnya? Dia sama sekali tidak mempunyai narkoba atau senjata api yang tidak memiliki surat ijin.
"Nona?"
Pikiran Lexi kembali terfokus ketika mendengar suara polisi itu memanggilnya.
"Apa kau mendengarku?" Lexi mengangguk. "Apa aku boleh masuk?"
Lexi mengangguk dengan ekpresi bingung. Dia mulai melangkah mundur untuk mempersilakan gerombolan polisi itu masuk.
"Terima kasih, Nona," ucap polisi itu sambil memberi isyarat kepada teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah.
Lexi berjalan menghampiri sofa lalu melemparkan pantatnya ke sana. "Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Apa semalam kau pergi dengan Tuan Felix?"
Wajah Lexi menegang ketika mendengar nama itu. Hatinya seperti diremas-remas ketika mengingat kelakuan Felix yang begitu lancang dengannya. Kenapa Felix tidak menyerah untuk mendapatkannya? Hingga dia harus mengutus polisi untuk mengancamnya.
"Nona?" panggil polisi itu ketika melihat Lexi yang sedang termenung.
"I-iya. Iya semalam aku pergi dengannya. Memangnya kenapa?"
Ekspresi polisi itu berubah menjadi sendu. "Dia meninggal semalam."
"Meninggal?"
"Iya, Nona. Berdasarkan rekaman CCTV yang saya lihat, Anda ada di sana bersama seorang pria berpakaian serba hitam. Apa Anda mengenalnya?"
Mata Lexi terbelalak dan dia langsung bangkit dari sofa. Dia mengingat Zenon masih ada di dalam rumahnya. Otaknya langsung bisa menebak apa yang sedang dipikirkan polisi itu. Ya ... polisi-polisi itu pasti mencurigai Zenon. Dia berlari menuju dapurnya tanpa memedulikan panggilan polisi yang mengajaknya bicara. Lexi berhasil menyusul dua polisi yang akan menuju dapurnya. Semoga Zenon menyadari kedatangan polisi-polisi ini.
Lexi mengembuskan napas lega ketika melihat keadaan dapurnya kosong. Zenon sudah tidak ada di dalam sana. Sepertinya Zenon telah mengetahui kedatangan polisi ini.
"Nona, kau kenapa?" tanya salah satu polisi yang sempat ia tabrak.
Lexi masih belum bisa menjawab, dia hanya menggeleng dengan napas yang terengah-engah.
Lalu polisi yang berada di ruang tamu tadi berhasil menyusul Lexi. "Kenapa Anda berlari?" Lexi menelan ludahnya lalu menggeleng sekali lagi. Dahi polisi itu berkerut, dia mencurigai sesuatu. "Apa kau membunyikan sesuatu, Nona?"
"T-tidak," jawab Lexi tergagap.
"Lalu kenapa kau sepanik ini?"
Lexi menarik napasnya dalam-dalam sambil memegangi kepalanya. "Aku ... tadi seingatku, aku sedang memasak air dan aku lupa tidak mematikan kompornya." Lexi melirik ke arah kompor yang sama sekali tidak menyala dan tidak ada teko di atasnya. Dia tersenyum lima jari saat menyadari alasannya yang begitu bodoh. "Ternyata ... aku sudah mematikannya dari tadi. Aku baru ingat kalau aku sudah memakainya untuk menyeduh teh. Ya ... seperti itu."
Polisi itu mengangguk paham tanpa suatu kecurigaan apa pun. Lexi bisa bernapas lega untuk sementara, selanjutnya dia tinggal memikirkan alasan yang tepat untuk menutupi keberadaan Zenon.
***
Kaki Zenon baru berpijak di atas lantai berwarna hitam mengilat. Dia menarik napas dalam-dalam ketika sampai di tempat tujuannya dengan berteleportasi. Dia melepaskan tas jinjing yang berada di genggamannya hingga jatuh ke atas lantai, lalu berjalan menuju jendela berukura besar yang masih tertutup gorden putih, lalu membukanya untuk melihat pemandangan luar yang menyajikan panorama laut. Tempat tinggal Dye benar-benar menantang maut. Dye memilih tempat tinggal yang dekat dengan kediaman Sirenes—musuh mereka.
Zenon menarik napas dalam-dalam ketika mengingat kebersamaannya dengan Lexi semalam di tepi pantai. Dadanya masih terasa hangat ketika mengingat sentuhan kepala Lexi di dadanya. Sebenarnya, apa yang sedang ia rasakan? Sebenarnya, apa yang sedang berputar-putar di otaknya? Dan sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya? Begitu lama dia tidak pernah merasakan getaran aneh ini sehingga membuatnya bingung setengah mati. Dia belum bisa memahami seluruh perubahan yang ia alami.
Zenon tersentak ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Dengan gerakan cepat, Zenon menarik tangan lentik itu lalu memelintirnya.
"Argh ... hei!" Seorang wanita berambut hitam legam merintih kesakitan ketika tangannya dipelintir ke belakang oleh Zenon. "Lepaskan!"
Zenon langsung mengangkat kedua tangannya dari lengan wanita itu. "Maaf, Arsi, aku tidak tahu kalau itu kau. Aku sama sekali tidak merasakan keberadaanmu."
Arsi meringis sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah. "Apa kau sedang melamun?"
Zenon menggeleng, biasanya dia bisa merasakan sesuatu yang ada di belakangnya. Para Shades Guardian seperti memiliki mata di bagian belakang tubuh hingga mereka bisa mendeteksi siapa yang sedang berada di belakang. Kemampuan itu sangat dibutuhkan di dalam pertarungan melawan Sirenes.
Arsi mengembuskan napas panjang yang melambangkan sebuah kekecewaan. "Apa kau sudah mendengar berita hari ini?"
"Apa hal itu yang membuatmu datang ke sini?" Zenon balik bertanya.
"Kenapa kau selalu balik bertanya jika ada orang yang bertanya kepadamu?" Zenon hanya tersenyum miring menanggapinya. "Iya, Dye membutuhkan bantuanku."
Setelah Arsi menyelesaikan perkataanya, sebuah angin yang cukup besar berembus di dalam ruangan dengan cahaya yang minim. Mereka berdua tahu siapa yang datang kali ini. Sebuah senyum lebar terukir di wajah tirus dan pucat milik Dye. Senyuman itu seolah-olah menunjukkan kalau dia sedang tidak terbebani oleh apa pun. Padahal kalau saja mereka tahu, otak Dye hampir pecah menangani kasus Zenon dan kemauan para dewa egois itu.
"Apa kau menungguku dari tadi?" tanya Dye kepada Zenon.
"Tidak begitu lama, hanya sekitar lima belas menit," jawab Zenon dengan sebuah gelengan.
"Dan dia hampir mematahkan tanganku," gerutu Arsi dengan sebuah lirikan sinis ke arah Zenon.
"Sungguh aku tidak sengaja, Arsi."
Dye tertawa lebar melihat Arsi yang sebal dengan Zenon. Arsi adalah wanita yang memiliki tempramen tinggi. "Apa kau ke sini hanya untuk bertengkar dengan Z?"
Arsi hanya melengos lalu melemparkan pantatnya ke atas sofa. Dia duduk di sana sambil melipat tangan dan kaki.
"Apa yang akan aku lakukan, Dye? Aku yakin kalau berita ini sudah menyebar luas dan rekamanku di dalam CCTV pasti sudah tersiar di mana-mana."
Dye melangkah menyusul langkah Arsi untuk duduk di sofa. Dia tersenyum sekilas ke arah Arsi ketika duduk di sebelah Arsi. "Biar aku dan Arsi yang menanganinya."
"Kau harus mentraktirku jika aku bisa menyelesaikannya dengan rapi," sela Arsi.
Zenon hanya mendengkus kesal mendengarnya. "Apa yang akan kalian lakukan?"
"Mau tidak mau kami akan menggunakan kekuatan kami," jawab Arsi.
"Mencuci otak?"
Dye mengangguk, setuju dengan ucapan Zenon.
"Bagaimana kalian bisa melakukannya? Kalian harus mendatangi satu per satu orang yang melihat berita ini? Penduduk di Yunani ini banyak apalagi kalau berita ini tersebar di luar Yunani."
Dye tersenyum lebar. "Kau pintar, Z."
"Dye, aku serius."
"Kami punya cara sendiri untuk menghentikan isu ini. Walaupun itu membutuhkan waktu yang lama." Dye terdiam sejenak dengan mata yang menatap tajam ke arah Zenon. "Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri dan tentunya Nymph-mu."
Zenon terkekeh mendengar nada khawatir dari Dye. Dia bukan anak kecil yang harus dicemaskan. Dia adalah makhluk abadi yang mempunyai kekuatan luar biasa, jadi untuk apa Dye mengkhawatirkannya. "Tentu saja aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Kami berkata serius, Z. Kau jangan anggap remeh ucapan kami!" Arsi mempertegas perkataan Dye.