File - 23

1355 Kata
Selama beberapa menit Lexi terperangah mendengar pernyataan Zenon. Dia akan melahirkan seorang anak yang membawa sebuah takdir besar. Lexi benar-benar tidak habis pikir kalau ternyata hidupnya akan menjadi seperti ini. Dia juga tidak pernah menyangka kalau sebenarnya dia bukan manusia, dia adalah makhluk mitologi yang pernah ia pelajari semasa sekolah. Dulu dia mengira bahwa makhluk-makhluk itu hanya sebuah khayalan dan tidak nyata keberadaannya. Jadi inilah alasan kenapa dia bisa berkomunikasi dengan tanaman. Dia adalah salah satu makhluk mitologi yang bernama Nymph. "Tunggu dulu, jadi aku akan mempunyai seorang anak?" Zenon mengangguk. "Dan anak itu memiliki takdir untuk memusnahkan kaum Sirenes?" Zenon mengangguk sekali lagi, membenarkan pertanyaan Lexi. "Bukankan Sirenes juga kaum Nymph? Hanya saja tempat tinggal mereka yang berbeda." Zenon melipat tangan, lalu menyandarkan punggung. "Kau benar. Kau pernah dengar kisah cinta sejati antara Orfeus dan Euridke?" Lexi mengangguk sekali, tentu saja dia tahu kisah cinta antara Nymph dengan manusia keturunan dewa—Orfeus. Seluruh Yunani ... tidak hanya seluruh Yunani, bahkan seluruh dunia tahu bagaimana kisah cinta mereka. Orfeus begitu menyintai Euridke yang telah meninggal hingga dia meminta bantuan kepada Hades dan Persofone untuk menghidupkan istrinya kembali.  Dadanya terasa hangat ketika mengingat cerita yang ia pelajari di dalam pelajaran sejarah. Dulu, dia berpikir kalau masih ada pria seperti Orfeus di dunia ini, tapi nyatanya pria seperti itu tidak akan pernah ada. Mereka punah bersama kematian Orfeus—itu pemikiran Lexi. "Dari situlah awal peperangan ini berlangsung." "Apa hubungannya kisah cinta mereka dengan peperangan ini?" "Euridke meninggal karena Thelksiope, anak kesembilan dari Akheolus." Kening Lexi berkerut tak mengerti. "Kalau tidak salah, Euridke meninggal karena digigit oleh ular?" Zenon mengangguk mantap. "Kau benar, itu yang tertulis di sejarah, tapi mereka tidak menceritakan kalau penyebab kematian Euridke karena diburu oleh Satir. Satir-satir itu adalah suruhan dewa Dionisos yang ingin menuruti permintaan Thelksiope untuk membunuh Euridke." "Dionisos?" "Iya, dewa pemabuk itu mencintai Thelksiope." Mata Lexi menegerjap berkali-kali, dia masih belum bisa percaya. Semua yang diceritakan oleh Zenon tidak tertulis di buku sejarah mana pun. Semua seperti sebuah cerita karangan yang tertulis di novel-novel bergenre roman-paranormal. Seperti cerita milik Sherrilyn Kenyon yang bercerita tentang dewa-dewi Yunani. "Apa kau tidak sedang mengarang?" Lexi menatap tajam ke arah Zenon. Zenon melenguh panjang mendengar pertanyaan Lexi. Perutnya terasa mulas ketika dituduh mengarang sebuah cerita sekali lagi. Dia harus membuktikan seperti apa? "Kepalaku hampir pecah jika berhadapan denganmu, Nona." "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya sedikit tidak percaya." "Sedikit?" Mata Zenon memicing. "Ya ... maksudku aku masih belum bisa memahami semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini." "Ya, aku mengerti. Kau bahkan tidak tahu siapa orang tuamu jadi tidak ada yang bisa menjelaskan semua keanehan dalam dirimu. Hingga kau beranjak dewasa dan logika para manusia sudah berakar di otakmu." Lexi menjentikkan jarinya. "Kau benar, Tuan." "Jangan panggil aku Tuan." "Maksudku ... Z? Benar, kan?" Zenon mengangguk sekali lagi. "Lalu ... kenapa kau baru menemuiku sekarang? Kenapa tidak di saat aku masih kecil?" "Pertanyaan yang bagus. Kau punya tanda lahir yang aneh di tubuhmu?" Lexi mengangguk antusias. Dia langsung mengulurkan tangannya untuk menunjukkan pergelangan bagian dalam. "Dulu ada tanda setengah lingkaran yang seperti matahari terbit di sebelah sini." Tangan Lexi menunjuk di bagian pergelangan tangannya yang pernah memiliki tanda lahir. "Tapi tanda itu hilang di hari kau terjatuh di halaman belakang rumahku." Zenon melihat pergelangan tangan Lexi yang terlihat bersih. Dia berdeham sambil menggosok tengkuk ketika hal aneh sedang mendorong bagian dirinya yang lama tertidur. "Itu adalah tanda yang dibuat oleh orang tuamu dan Dye." Lexi menatap sendu pergelangan tangannya sambil mengusap pelan. "Kenang-kenangan dari orang tuaku sudah tidak ada lagi." "Mereka memberimu mantra lewat tanda lahir untuk melindungimu dari serangan Sirenes sementara waktu. Dan temanku juga ikut menyempurnakan tanda itu agar kau bisa tumbuh dengan aman." "Nama temanmu adalah Dye?" Zenon mengangguk. "Apa dia sama sepertimu?" "Dia pimpinan kami." "Berapa umurmu?" Pertanyaan Lexi terdengar begitu alami, mengingat dia telah mengetahui kalau Shades Guardian adalah makhluk abadi. Zenon terkekeh. "Aku bahkan lupa dengan umurku. Mungkin ... sekitar delapan atau tujuh ribu tahun sebelum masehi." Mata Lexi berbinar kagum dengan mulut yang terus bergumam tidak percaya. Tangannya terulur untuk menyibak anak rambut Zenon, tapi dengan cepat Zenon menghindari tangan itu. "Apa yang kau lakukan?" "Maaf, aku hanya ingin memastikan pengelihatanku. Aku hanya tidak percaya kalau kau sudah kakek-kakek." Zenon berdecih mendengarnya. Baru kali ini dia dibilang kakek-kakek oleh seorang wanita. Bak secepat kilat, tangan Lexi sudah berada di lengan berotot milik Zenon. Tangan itu meremas-remas lengan Zenon. "Hei, kau gila?! Apa yang kau lakukan?" bentak Zenon sambil menyingkirkan tangan Lexi dari lengannya. "Aku hanya ingin memastikan saja. Kau seperti bukan kakek-kakek. Tubuhmu benar-benar kekar." Zenon berjingkat untuk menghindari tangan Lexi yang rerus meremas lengannya. "Singkirkan tanganmu!" "Kenapa? Aku tidak bermaksud macam-macam." "Aku tidak suka disentuh oleh seorang wanita!" "Apa itu membuatmu b*******h?" Zenon mengembuskan napas kesal. Pertanyaan Nymph ini sama seperti pertanyaan yang dilontarkan Attis kepadanya. "Tidak, Nona!" Lexi bangkit dari duduk lalu berdiri di samping Zenon sambil melipat tangan. "Apa kau tidak bohong?" Zenon hanya mendengus kesal menanggapi Lexi. "Berarti kalau aku telanjang bulat di depanmu itu sama sekali tidak mempengaruhimu?" Mendengar kata-kata itu dari Lexi membuat Zenon menelan ludah. Ada apa dengan dirinya? Kenapa hanya mendengar kata itu bisa membuatnya membayangkan Lexi sedang menari di hadapannya tanpa sehelai benang pun? Lamunan kotor Zenon langsung buyar ketika suara ponselnya berdering. Dia langsung mengalihkan perhatian dari tubuh Lexi ke layar ponselnya. Alis Zenon tertukik ketika melihat nama Dye sedang menghubunginya. "Permisi, temanku menelepon," pamitnya dengan menahan napas sejenak. Jujur, saat ini jantungnya sedang melakukan lompatan akrobatik hingga membuatnya susah bernapas. "Hai, Dye," sapa Zenon ketika sudah berada di ruang tengah. "Apa kau sudah dengar berita pagi ini?" tanya Dye tanpa basa-basi. "Tidak," jawab Zenon. Matanya melirik ke arah Lexi yang sedang berjalan menuju kamar. "Kau tahu pria bernama Felix? Anak satu-satunya dari pengusaha terkaya di Naxos Town." Zenon menelan ludah sekali lagi ketika melihat Lexi membuka bajunya hingga menyisakan kaos tanpa lengan di dalam kamar. Batin Zenon memaki kebodohan Lexi yang tidak menutup pintu kamarnya ketika berganti pakaian. Apa wanita ini tidak sadar kalau ada seorang pria di depannya? "Dia meninggal semalam dan kau melakukan kesalahan semalam, Z." Zenon menggigit bibir bawah ketika melihat Lexi mengikat rambut panjangnya hingga ke atas. Dia melihat tengkuk Lexi yang putih dan bersih tersaji tanpa penghalang sedikit pun. Sesungguhnya dia ingin menggigit leher itu hingga memerah. "Apa kau sedang bercinta, Z?!" Zenon tersentak dari lamunannya ketika mendengar nada tinggi dari Dye. "Apa yang kau bilang? Aku ... aku hanya sedikit kepanasan menggunakan jaket kulit ini." "Napasmu terengah-engah dan kau sama sekali tidak menghiraukanku. Apa kau baik-baik saja?" "Maaf, Dye. Aku sedang tidak bisa berkonsentrasi." "Kau aneh, Z." "Entahlah." Zenon teridiam sejenak. "Apa yang kau bicarakan?" "Kau melakukan kesalahan kemarin, Z." "Maksudmu?" "Felix meninggal." "Apa? Tapi bukan aku yang melakukannya, Dye. Aku hanya membawa Nymph itu pergi tanpa menyentuh pria itu sedikit pun. Bahkan pria itu yang menembakku." "Aku tahu, Z. Aku tahu kalau bukan kau yang membunuh, tapi kebaradaanmu terekam oleh kamera CCTV." Zenon memaki dirinya yang telah melakukan sebuah kesalahan. Selama berabad-abad lamanya, dia tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali, tidak ada kata teledor yang tertulis di dalam kamus Shades Guardian. "Kau lupa tidak menggunakan kabut ilusimu." Kaki Zenon terasa begitu lemas hingga dia melemparkan pantatnya ke kursi. "Lalu, apa yang akan terjadi? Apa yang harus aku lakukan?" Terdengar sebuah embusan napas panjang. "Biar aku yang menanganinya, sebaiknya kau fokus untuk melindungi Nymph-mu." "Maafkan aku, Dye." Dari dapur Zenon mendengar suara bel rumah Lexi berbunyi, tapi dia sama sekali tidak menggubrisnya. Dia sedang memikirkan seseorang yang berpeluang menjadi tersangka. "Baiklah kalau begitu. Kau tenang saja. Jaga dirimu dan Nymph-mu." "Tunggu, Dye." "Ya?" "Kau tahu siapa yang membunuh pria itu?" Dye terdiam sejenak. "Aku mencurigai satu orang." Wajah Zenon seketika itu langsung menegang. Dia memiliki kecurigaan pada satu orang. "Apa itu ... Erebus?" "Kau sudah bertemu dengannya?" "Ya, semalam aku bertemu dengannya." "Aku akan mencari informasi. Kau jaga Nymph itu." Zenon mengangguk patah-patah tanpa mengeluarkan suara. Dia yakin kalau Erebus-lah pelakunya, tapi kenapa sampai melibatkan manusia dalam urusan ini? Jika peristiwa ini terus diusut, bisa-bisa keberadaan Shades Guardian terungkap dan secara tidak langsung keberadaan kaumnya akan menjadi kambing hitam. Tangan Zenon menggenggam ketika marahnya mulai memuncak. Dia menyesal telah melepaskan Erebus malam itu. Dia juga mengutuk kecerobohannya malam itu. Kenapa dia tiba-tiba menjadi lemah? Telinganya yang memiliki pendengaran tajam, dapat menangkap pembicaraan Lexi dengan seseorang yang ada di luar sana. Dia bangkit dari posisi, berjalan sepelan mungkin lalu wajahnya tiba-tiba menegang ketika menangkap arah pembicaraan mereka. Dia tahu siapa yang sedang bertamu di rumah Lexi, dia harus segera lari dari tempat ini sementara waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN