Cleo berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan ponsel yang menempel ke telinga. Saat ini dia sedang mengubungi Lexi. Jarum jam telah menunjukkan pukul dua pagi dan sampai sekarang Lexi belum juga tiba di rumah. Dia takut kalau terjadi kecelakaan atau perampokan yang membahayakan nyawa Felix dan Lexi. Dia tidak bisa tidur nyenyak.
Suara bel berbunyi membuat Cleo terhenyak. Dia langsung berlari menuju pintu, berharap Lexi yang sedang menekan tombol. Mata Cleo membelalak ketika mendapati seorang pria berambut hitam dengan baju serba hitam sedang berdiri di depan pintu. Dan lebih buruknya, Lexi berada di atas punggun pria itu dengan tubuh lemas dan mata tertutup. Wajah Cleo langsung menegang ketika melihat Lexi yang terlihat lemas, dia yakin kalau Lexi sedang pingsan.
"Kau—" Belum sempat Cleo meneruskan ucapannya, Zenon memberi isyarat kepada Cleo untuk merendahkan suaranya. "Apa yang terjadi dengan Lexi?"
"Dia sedang tertidur."
Cleo menatap Zenon dan Lexi secara bergantian. Dia ingin memastikan bahwa perkataan pria ini benar atau tidak.
"Bisakah kau izinkan aku masuk? Kau tahu, aku sudah tidak mampu lagi membawa tubuhnya."
"Masuklah, bawa dia ke kamar." Cleo mundur beberapa langkah untuk mempersilakan Zenon masuk.
Cleo berjalan mengekor, mengikuti Zenon hingga masuk ke kamar Lexi. Setelah meletakkan tubuh Lexi di atas tempat tidur, Cleo langsung menyelimuti tubuh sahabatnya.
"Kita perlu bicara, Tuan," ucap Cleo setengah berbisik.
Zenon hanya mengangguk dan menuruti permintaan Cleo.
***
Dengan penampilan yang acak-acakan, Lexi berdiri di depan ruang dapur. Dia sedang menyaksikan duet koki di dalam dapurnya. Ya ... dia melihat Cleo dan Zenon sedang berkutat di dapur. Aroma harum dan menggoda menelisik hidung Lexi hingga membuat cacing-cacing di perutnya berteriak histeris.
Cleo yang menyadari kehadiran Lexi, hanya menoleh sekilas dengan sebuah senyuman. Zenon hanya tersenyum miring sambil menyibak anak rambutnya dan sibuk menata piring di atas meja. Lexi masih tidak percaya dengan semua yang ia lihat pagi ini. Kenapa Cleo bisa akrab denga pria yang baru ia kenal? Dan kenapa pria ini sama sekali tidak merasa bersalah karena telah menguasai dapurnya.
Dengan mata yang tak lepas menatap Zenon, Lexi melemparkan pantatnya di atas kursi besi yang ada di dapur.
"Pagi, Nona," sapa Zenon dengan senyuman yang membuat Lexi menelan ludah. Senyuman itu sedikit menggoda dan begitu seksi.
Cleo mengangkat penggorengan. "Telur orak-arik sudah siap," ucapnya dengan membagi telur ke piring yang telah disiapkan Zenon.
"Clee ...."
Cleo menoleh sekilas lalu tersenyum lagi. "Sebaiknya kau makan dulu."
Zenon mengambil panci yang berisi mashed potato, lalu meletakkan makanan itu ke atas piring. Sikapnya terlihat sangat normal, seolah-olah tidak terjadi apa pun.
"Kau tahu, dia yang membuat mashed potatonya," ujar Cleo dengan kerlingan mata. "Seksi bukan?"
Mata Lexi terbelalak. "Apa kau sedang bercanda?" Cleo menggeleng menanggapinya. "Apa kalian sedang bersandiwara di hadapanku?"
Mereka berdua terdiam dan melihat Lexi. Cleo tahu kalau Lexi menginginkan penjelasan atas sikapnya. Dia yakin kalau Lexi tidak suka melihatnya akrab dengan Zenon.
Cleo memegang pundak Lexi dengan lembut.
"Clee, bisa kau jelaskan semua?" Lexi sudah tidak sabaran.
Sedangkan Zenon masih melanjutkan kegiatan membagi mashed potato buatannya.
"Tentu saja, Lexi," jawab Cleo dengan lembut.
"Kenapa kau begitu akrab dengan pria ini?"
Zenon hanya melirik melalui ekor mata ketika melihat Lexi yang tidak suka dengannya. Padahal semalam Lexi menangis tersedu-sedu di dadanya hingga tertidur pulas. Sepertinya Nymph ini memiliki kepribadian ganda.
"Aku memercayainya," jawab Cleo.
Lexi menoleh ke arah Zenon yang meletakkan panci ke atas kompor. Dia ingat kalau semalam dia menangisi kedua orang tuanya tanpa mendengar cerita lebih dalam lagi dari Zenon. Dia sempat percaya dengan ucapan pria ini, tetapi kepercayaan itu sedikit hilang ketika dia terbangun pagi ini. Kenapa pria ini tidak menceritakan apa pun tentang orang tuanya semalam?
"Aku tidak."
Zenon menggeram pelan mendengar ucapan Lexi. Dia langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Lexi. "Apa kau punya penyakit kepribadian ganda?"
Lexi menatap Zenon dengan sengit. "Tidak, Tuan. Aku manusia normal."
"Kau bukan manusia!" tegas Zenon.
"Aku tidak menyangka kalau aku berteman dengan seorang Nymph."
Lexi tersentak mendengar ucapan Cleo yang begitu memercayai pria ini. "Clee?"
Cleo meangkup kedua tangan Lexi. "Aku selalu memercayai ucapanmu dari dulu, tapi aku tidak punya cukup bukti untuk meyakinkan diriku sendiri." Bola matanya bergulir ke arah Zenon. "Dan setelah dia menjelaskannya kepadaku panjang lebar serta menunjukkan bukti-bukti yang membuatku terbelalak heran." Dia menatap Lexi kembali. "Aku memercayainya."
Mata Lexi menatap nanar ke arah Cleo. Dia benar-benar keras kepala.
"Sebaiknya kita makan ini dulu. Setelah itu aku berangkat kerja dan kau bisa berbicara dengannya panjang lebar."
Lexi hanya bisa mengembuskan napas panjang. Benar kata Cleo, dia harus bicara panjang lebar dengan pria ini supaya semua terlihat jelas dan dia bisa memercayai pria ini.
Suasana makan berlangsung begitu kaku dan dingin. Hanya terdengar suara benturan piring dengan sendok yang memeriahkan acara sarapan pagi itu. Lexi terus melempar tatapan sinis ke arah Zenon, sedangkan Zenon berkali-kali mengembuskan napas panjang ketika menyadari tatapan itu.
Sarapan pagi berlangsung selama setengah jam dan Cleo sudah berangkat untuk bekerja. Sekarang Lexi sedang melipat tangan di atas kursi, melihat Zenon yang sedang mencuci piring. Dia seperti seorang ratu yang menyaksikan pelayannya mencuci piring. Untuk saat ini, dia tidak membuka mulut sama sekali, dia ingin pria ini yang membuka mulut terlebih dahulu.
"Apa kentang buatanku enak?"
Lexi berdeham. "Lumayan." Kalau boleh jujur, Lexi begitu menikmati mashed potato buatan Zenon. Makanan itu memiliki rasa yang lezat seperti hidangan mewah di sebuah restoran mahal.
Zenon sudah selesai mencuci piring-piring kotor, lalu duduk di sebelah Lexi dan menopangkan kedua sikunya di atas meja. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
Lexi terdiam sejenak, pria ini seolah-olah bisa membaca pikirannya. "Apa ... kau mengenal orang tuaku?"
"Aku mengenal mereka dengan sangat baik," jawab Zenon dengan sebuah anggukan. Matanya menatap Lexi lamat-lamat, menelusuri garis wajah Lexi dengan saksama dan dia tersenyum singkat ketika menyadari kalau Lexi lebih mirip dengan Flavian. "Kau mirip dengan ayahmu."
Kedua tangan Lexi menangkap pipinya sendiri. "Sungguh?"
Zenon mengangguk mantap. "Kau mirip Flavian seratus persen."
"Flavian?" Bola mata Lexi terlihat begitu berpijar ketika mendengar nama ayahnya.
"Dan ibumu bernama Gene."
Sebuah rasa hangat mulai merambat di dalam d**a Lexi. Flavian dan Gene, mendengar dua nama itu sanggup membuat mata Lexi berkaca-kaca. Dua pulu tujuh tahun lamanya, dia tidak mengenal kedua orang tuanya dan siapa nama mereka?
Zenon menelan ludah ketika melihat mata hijau terang itu berkaca-kaca dan juga melihat setitik air menggelayut di ujung mata Lexi. "Sepertinya kau mempunyai sifat lembut dari ibumu." Tanpa disadarinya, dia mengucapkan kata-kata itu tanpa tahu kebenarannya. Padahal selama ini dia selalu menerima sikap kasar dari Lexi, tapi kenapa saat melihat Nymph ini menangis, dia mengatakan kata-kata itu?
Lexi melap matanya yang berkaca-kaca, dia tidak mau menangis di depan pria. Dia tidak mau dicap lemah oleh seorang pria. "Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosi."
Zenon tersenyum singkat. Dia bisa memaklumi semuanya. "Apa kau mau aku meneruskan semuanya?" Lexi mengangguk antusias. "Mereka adalah pasangan yang sangat ideal. Walaupun selama beratus-ratus tahun mereka tak kunjung dikarunia anak, tetapi mereka tetap terlihat harmonis dan romantis. Selama aku menemani mereka, mereka jarang sekali bertengkar ... yang ada hanyalah tawa dan senyum bahagia."
Lexi menopang dagu dengan kedua tangannya. Dia mulai terbawa suasana. Untuk sementara, rasa tidak percaya terhadap Zenon ia enyahkan jauh-jauh.
"Mereka senang sekali ketika mengetahui kau akan datang di dalam hidup mereka." Kepala Zenon tertunduk ketika mengingat peristiwa penyerbuan malam itu. "Tapi ... kebahagian itu begitu cepat berlalu."
Wajah gembira Lexi langsung berubah sendu. "Kenapa?"
Zenon menghela napas, lalu menatap Lexi dengan nanar. "Malam itu, para Sirenes menyerbu rumah Gene dan Flavian. Mereka berusaha mencegahmu agar tidak terlahir ke dunia. Aku mati-matian melindungi ayah dan ibumu, tapi ... usahaku tidak berhasil bahkan aku sempat sekarat saat itu."
Lexi menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia begitu tidak percaya, kenapa orang tuanya harus dibunuh ketika melahirkannya? Secara tidak langsung, Lexi merasa bersalah dan menyesali dirinya yang telah dilahirkan ke muka bumi ini. "Kenapa bisa begitu? Kenapa ... kehadiranku tidak begitu diinginkan oleh para Sirenes?"
"Kau akan melahirkan anak yang akan menghancurkan kaum Sirenes, Nona."