Zenon memutar tubuh untuk melihat keadaan Lexi yang jauh tertinggal di belakangnya. Dia menghela napas panjang ketika melihat Lexi berjalan sempoyongan di atas pasir. "Kau yakin bisa berjalan sendiri?"
Lexi menarik napas kasar dengan sebuah delikan. Sesungguhnya dia tidak kuat berjalan saat ini, seluruh tubuhnya terasa nyeri dan kepalanya masih sedikit pusing, tapi dia tidak mau naik ke punggung pria itu. Dia tidak suka tubuhnya menyentuh seorang pria.
"Sebaiknya kau naik ke punggungku," ujar Zenon sambil melangkahkan kaki menghampiri Lexi.
Tangan Lexi memberi isyarat kepada Zenon untuk tidak mendekat. Seluruh tenaga yang ada di dalam dirinya, ia curahkan untuk melangkahkan kaki.
Zenon melipat tangan dan mendengkus kesal. Nymph ini begitu keras kepala dan terlalu menjaga jarak dengannya. Zenon tahu kalau Lexi sama sekali tidak kuat berjalan, bahkan untuk membuka mulut pun susah. Lexi mengibaskan tangan ke arah Zenon, menyuruh Zenon untuk berjalan terlebih dahulu.
"Kau memang keras kepala!" Zenon terus melangkah menghampiri Lexi.
Tanpa banyak bicara dan penawaran, Zenon memutar tubuhnya, setelah berada di depan Lexi dia sedikit membungkukkan badan. Tangan kekarnya meraih kedua kaki Lexi yang berada hingga secara otomatis tubuh Lexi terjatuh di punggung Zenon.
Terkejut? Tentu saja. Lexi terkejut dengan hal yang baru saja terjadi. Kedua tangannya memukul pundak Zenon dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
"Turunkan aku!"
Zenon menggeram pelan, sebal dengan tingkah Lexi yang sok kuat di hadapannya.
Karena pukulannya sama sekali tak membuahkan hasil, Lexi beralih ke rambut Zenon. Dia menjambak rambut hitam arang itu sekuat tenaga.
"Arg!" erang Zenon ketika kepalanya terdongak, spontan ia melepaskan tangannya yang menopang tubuh Lexi.
"Aw!" Lexi merengek ketika pantatnya jatuh ke bawah dengan keras. "Kau benar-benar kasar!"
Zenon memutar tubuhnya sambil bertolak pinggang. "Kau yang kasar, Nona! Aku hanya ingin membantumu. Aku bukan pria yang mudah tergiur melihat wanita cantik sepertimu!"
Kepala Lexi tertunduk, dia membuang mukanya. Wajahnya sedikit memanas ketika Zenon memujinya cantik.
Melihat Lexi yang bergeming membuat Zenon melenguh panjang. Selama berabad-abad lamanya dia tidak pernah berhadapan dengan wanita seperti ini, bahkan Gene tidak keras kepala seperti ini. Dia melemparkan pantatnya ke atas pasir untuk duduk di hadapan Lexi. Sementara waktu dia akan membiarkan Nymph ini berbuat sesuka hati. Dia tidak mau memaksakan kehendak karena dia bukan pria yang kasar dengan seorang wanita.
Suasana di antara mereka terasa begitu lengang selama beberapa menit. Hanya suara ombak yang menderu ketika tiba di ujung pantai. Angin berembus sepoi-sepoi membuat rambut Lexi meliuk-liuk mengikuti arah angin. Dia masih enggan membuka mulut.
Zenon tidak ingin menatap wajah Lexi terlalu lama karen merasakan hal aneh ketika melihat wajah Lexi. Setelah menjadi Shades Guardian, dia tidak pernah merasakan dadanya yang berdebar-debar, walaupun bayangan Nyna sering kali berkelebat—dia tidak pernah merasakan debaran lagi. Tapi entah kenapa, saat melihat wajah Lexi yang begitu mirip dengan Nyna, dadanya merasakan debaran lagi untuk pertama kalinya setelah berabad-abad lamanya.
"Apa kau ingin bermalam di sini?" tanya Zenon yang sudah tidak tahan dengan tingkah bungkam Lexi.
"Tubuhku masih lemas."
"Naik ke punggungku."
Lexi melirik sinis ke arah Zenon. "Aku tidak mau!"
Zenon mengembuskan napas panjang. "Dengar, aku bukan pria yang berbahaya."
"Bagaimana aku bisa memercayai perkataanmu?"
Kali ini Zenon memalingkan wajahnya untuk menatap Lexi. "Apa aku pernah melukaimu hingga kau tidak memercayaiku?"
Tidak, tentu saja Zenon tidak pernah menyakiti Lexi, justru Zenon selalu menyelamatkan Lexi dalam situasi yang berbahaya.
Zenon mendengus kesal saat Lexi hanya bungkam dan membuang mukanya. "Baiklah kalau kau mau bermalam di sini. Aku akan menemanimu."
"Kau bisa pulang sendiri."
"Apa aku terlihat seperti seorang pria yang tega meninggalkan seorang wanita sendirian di tempat sepi seperti ini?"
"Kenapa kau terus muncul di hadapanku? Kenapa kau tiba-tiba berada di sana? Bagaimana kau bisa masuk gerbang rumah Felix?" Lexi menoleh ke arah Zenon dengan tatapan penuh tanya. "Apa kau tidak berbohong tentang semua yang kau katakan kepadaku?"
Zenon termenung sejenak mendengar cecaran pertanyaan dari Lexi. "Aku tidak berbohong kepadamu. Semua yang aku katakan adalah kenyataan. Aku Shades Guardianmu."
"Apa itu Shades Guardian?"
"Pelindung."
Lexi menatap mata hitam Zenon lebih dalam. "Pelindung?"
Zenon memalingkan muka ketika mata hijau terang itu memerangkap pandangannya. Untuk sesaat bayangan Nyna berkelebat lagi. "Iya, aku pelindung yang diciptakan untuk melindungimu dari serangan Sirenes. Aku manusia abadi yang tidak memiliki hawa nafsu dan rasa cinta. Jadi, meskipun kau telanjang bulat di hadapanku ... aku tidak akan tergoda. Kau aman denganku."
Lexi mencerna semua penjelasan Zenon dengan sangat baik. "Berarti kau?" tanya Lexi sambil melihat tubuh bagian bawah milik Zenon.
Kaki Zenon yang sedikit terbuka langsung ia katupkan ketika menyadari pandangan Lexi tertuju ke selakangannya. Zenon sedikit salah tingkah mendapat tatapan seperti itu.
"Kau impoten?"
Mata Zenon langsung terbelalak mendengarnya. "Dengar, Nona. Sebelum aku menjadi Shades Guardian, aku tidak pernah bermasalah dengan hal itu. Apakah kau tahu perbedaan antara impoten dan tidak memiliki nafsu?" Zenon terhenti sejenak untuk melenguh panjang. "Setiap pagi aku selalu mengalami hal yang sama seperti manusia normal lainnya. Apa kau perlu bukti, hah?" Dia masih normal! Hanya saja dia tidak merasakan apa pun bila berada di samping wanita. Rasa seperti perasaan cinta atau berdebar-debar ... tunggu ... sepertinya dia merasakan hal itu saat Lexi berada di dekapannya. Zenon menggeleng berkali-kali untuk menghalau semua itu, meyakinkan dirinya kalau itu bukan sebuah debaran yang berati.
"Maaf ... aku tidak bermaksud menuduhmu seperti itu. Aku hanya memikirkan sesuatu yang logis saja."
"Kau sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan ibumu!"
"Ibuku?"
Zenon menundukdan memainkan butiran pasir dengan tangannya. "Aku pelindung kedua orang tuamu."
Lexi terhenyak mendengarnya, pria ini mengenal orang tua yang bahkan ia sendiri tidak mengenalnya. Lexi langsung merangkak untuk menghampiri Zenon. "Kau mengenalnya?"
Meskipun Lexi sempat muntah-muntah, tapi aroma mawar yang menjadi ciri khas Lexi menggelitik indra penciuman Zenon, aroma itu begitu menggoda. Zenon berdeham untuk menormalkan kondisinya. "Iya, aku yang melindungi orang tuamu selama beratus-ratus tahun."
Lexi langsung terduduk lemas di samping Zenon. "Seperti apa mereka? Apa mereka mirip denganku? Lalu, kenapa mereka meninggalkanku?"
"Mereka meninggal untuk melindungimu," jawab Zenon masih dengan kepala tertunduk.
Jadi ... orang tuanya telah meninggal? Jadi, selama ini pemikiran negatif tentang kedua orang tuanya ternyata salah. Orang tuanya sangat mencintainya hingga mengorbankan nyawa mereka sendiri. Setitik air mata mulai menggelayut. Dia sedang mengutuk dirinya sendiri yang telah menilai jelek kedua orang tuanya. Selama ini dia mengira kalau dia adalah anak dari hubungan terlarang hingga diletakkan begitu saja di depan pintu panti asuhan, tapi ternyata semua salah.
"Apa kau bisa menceritakan tentang mereka?" tanya Lexi dengan suara serak.
Zenon tersentak mendengar suara serak yang memilukan dari Lexi. Dia langsung menolehkan pandangan untuk melihat Lexi. Dan benar saja, dia melihat Nymph ini meneteskan air mata.
"Aku begitu ingin mengenal mereka." Kali ini suara Lexi bergetar, menahan tangis yang akan menjadi. "Apa kau punya foto mereka? Aku sungguh ingin mengetahui mereka. Bagaimana rupa mereka? Bagaimana senyum mereka? Bahkan ...." Ucapan Lexi terhenti ketika napasnya mulai terisak. "Bahkan aku ingin tahu suara mereka."
Lexi sudah tidak dapat membendung kesedihannya lagi, kini dia menangis sesenggukan. Selama ini, dia hidup sendiri dengan memendam sebuah kebencian terhadap kedua orang tua. Namun, perkataan Zenon mematahkan semua dendam dan kebencian yang tertanam di dalam dirinya. Dia telah salah menilai.
Hati Zenon berdenyut sakit ketika melihat Lexi menangis sesenggukan. Dulu ... dia selalu memeluk Nyna ketika menangis. Dulu dia selalu membelai rambut pirang Nyna ketika pujaan hatinya itu sedih. Lalu ... apakah dia harus melakukan hal yang sama dengan wanita ini? Sejak Nyna meninggal dan sejak dia menjadi Shades Guardian, hatinya tidak pernah sekali pun tersentuh ketika melihat seorang wanita menangis. Apa karena rupa wanita ini mirip dengan Nyna-nya? Mungkin, itu bisa saja terjadi.
Tangan Zenon menggantung di udara, dia sedikit ragu dengan apa yang akan ia lakukan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih kepala Lexi. Dia ingin sekali menenangkan wanita ini dengan sebuah pelukan.
Ada sebuah rasa hangat yang merambat di d**a Zenon ketika kepala Lexi berada di atas dadanya. Aroma mawar yang menggoda sanggup membuat Zenon mencium pucuk kepala Lexi tanpa ia sadari. Seluruh yang dilakukan Zenon terlihat alami dan di luar dugaan. Seakan-akan kutukannya sebagai Shades Guardian tak berfungsi lagi.
"Aku akan menceritakan semua setelah keadaanmu membaik." Suara beratnya terdengar menenangkan di hati Lexi.