Dye Dikaiosyne adalah seorang pria yang memiliki seribu sifat baik dan bijaksana. Lebih dari sembilan ribu tahun yang lalu, Dye diciptakan oleh Hades sebagai Shades Guardian yang pertama dan bertugas memimpin kaumnya. Dia manusia pertama yang menawarkan diri untuk melindungi Nymph dari serangan Sirenes. Dye merupakan Shades Guardian yang murni mengabdikan diri untuk menjadi pelindung Nymph tanpa tujuan tertentu. Berbeda dengan Shades Guardian lainnya yang memiliki dendam tertentu untuk membunuh Sirenes.
Sejujurnya, menjadi pimpinan Shades Guardian adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Layaknya seorang bocah pesuruh, hidupnya selalu direpotkan oleh permintaan dewa-dewi Yunani. Suatu hal yang mudah jika dewa-dewi Yunani itu memiliki pemikiran dan tujuan yang sama, tetapi dewa-dewi Yunani itu selalu memiliki perbedaan pendapat sehingga hal itu sangat menyulitkan tugas Dye. Andai saja dirinya bisa membelah seperti amoeba, mungkin dia akan memecah menjadi beberapa bagian untuk menuruti semua perintah mereka. Dia tidak akan dibuat pusing oleh perbedaan pendapat mereka. Untung saja Dye orang yang bijaksana dan cerdas sehingga dia bisa memuaskan hati para dewa-dewi Yunani. Dia layak diangkat menjadi pemimpin.
Contoh paling baru yang membuat kepala Dye hampir pecah demi menuruti keinginan dewa-dewi Yunani, yaitu mengatasi kasus Zenon. Dia baru saja turun dari langit setelah bertemu dengan Oiagros, Artemis, dan Aphrodite untuk membicarakan perjodohan salah satu anak buahnya dengan Nymph. Dewa-dewi Yunani itu menginginkan Lexi melahirkan anak Zenon untuk mengakhiri peperangan ini. Dia disuruh untuk menjaga pasangan itu hingga mereka bisa memiliki waktu berdua tanpa ada gangguan dari Sirenes. Mereka ingin anak itu segera terlahir dan mulai menempuh jalan takdirnya untuk membunuh Teles.
Namun, dia melakukan perintah itu tanpa sepengetahuan Hades dan Persofone. Dua pasangan itu tidak akan setuju kalau kaum Shades Guardian menodai kehidupan Nymph. Berabad-abad tahun lamanya, pasangan penguasa dunia bawah itu begitu menyayangi Nymph. Mereka akan murka jika para Nymph itu menikah dengan makhluk yang tidak memiliki garis keturunan dewa. Sepertinya pertikaian mereka dengan Zenon yang berlangsung selama berabad-abad akan terulang lagi. Hades dan Persofone berdiri di barisan utama dalam menentang hubungan Zenon dengan Nyna dan kehadiran Erebus menjadi pelengkap penderitaan Zenon. Kedua sahabat yang bertikai dan saling membunuh orang-orang terkasih mereka.
Melihat kehidupan Zenon yang hanya mengecap sedikit kebahagian, membuat Dye begitu peduli dengan Zenon. Dia ingin sekali menjadi teman dekat Zenon yang selalu menghibur Zenon dikala sedih, tapi semua begitu mustahil, mengingat sifat Zenon yang begitu tertutup dan kaku. Zenon adalah tipe orang yang sangat sulit didekati dan membuka diri, bahkan candaan yang ia lontarkan selalu ditanggapi serius oleh Zenon.
Malam ini Dye tengah berdiri di pinggir jalan raya yang sepi. Dia sedang melihat dari jauh pasangan yang baru saja menyadari getaran aneh dalam diri mereka. Dye mengawasi Zenon yang sedang menggendong tubuh lemas Lexi, menelusuri tepi jalan raya yang begitu sepi. Tangan Zenon berkali-kali melambai untuk meminta tumpangan, tapi sama sekali tidak digubris oleh para pemilik mobil yang melintas. Mungkin mereka takut ketika melihat tampang Zenon yang garang dan dingin, mereka lebih menyayangi diri mereka daripada harus memberi tumpangan untuk Zenon.
Dye menebarkan pandangan ke sekitar untuk mencari Sirenes yang berani mendekat. Entah kenapa, malam ini begitu berbeda dari malam-malam biasanya. Malam ini begitu sunyi dan memiliki aura yang membuat d**a Dye sesak. Firasatnya mengatakan ada satu penggalan yang tidak ia ketahui hingga di detik berikutnya dia memutuskan untuk mencari partner dalam melaksanakan tugas ini. Dia membutuhkan sahabat baiknya untuk menjadi pasangan dalam bertarung.
"Hai, Arsi!" sapa Dye ketika nada panggil terhenti. Dye terdiam untuk mendengar suara-suara dari seberang sana lalu senyumnya terukir ketika mengetahui apa yang sedang terjadi. "Apa kau sibuk?"
"Kau bisa tutup teleponmu dulu ... ugh ... aku sedang berpesta dengan tiga Sirenes di sini." Terhenti sejenak ketika suara gesekan senjata terdengar. "Ini tidak akan memakan waktu yang lama."
"Baiklah, aku tunggu teleponmu."
Dye mematikan panggilan teleponnya. Arsi adalah Shades Guardian wanita yang sangat akrab dengannya. Dia menyukai gaya bertarung Arsi yang terlihat anggun dan mematikan, dia selalu merasa nyaman jika bertarung bersama Arsi. Andai saja dia bukan Shades Guardian, maka dia akan menjadikan Arsi pasangan hidupnya. Hal itu yang selalu ada dipikiran Dye dari dulu.
Tidak lama kemudian, ponsel Dye berbunyi. Dye tersenyum melihat siapa yang sedang menghubunginya. "Apa Sirenes itu hanya sebuah noda kecil yang mudah dihapus?"
Terdengar embusan panjang dari Arsi di seberang sana. "Kau benar, Dye. Mereka tidak ada apa-apanya bagiku."
"Apakah Sirenes betah tinggal di suhu minus derajat?"
Arsi terkekeh sebelum menjawab pertanyaan Dye. "Mereka senang di tempat dingin. Alaska adalah surga mereka."
"Itu berarti Shades Guardian-mu sedang sibuk di sana?"
"Tidak, mereka cukup tangguh. Aku hanya menghabiskan waktu senggang dengan sedikit menghangatkan tubuhku."
Dye terdiam sejenak untuk memastikan satu hal lagi sebelum meminta bantuan kepada Arsi. "Apa mereka bisa menghadapi Sirenes tanpa bantuanmu?"
"Aku sudah mengira kalau kau membutuhkan bantuanku."
Dye tersenyum singkat mendengar Arsi yang begitu mengerti sifatnya. "Apa kau bisa ke sini sekarang juga?"
"Aku belum mengepak semua bajuku." Arsi mulai mengeluarkan candaannya.
"Apa perlu aku pesankan pesawat jet untuk menjemputmu ke sana?"
Arsi tergelak mendengarnya. "Aku akan pergi dengan pesawatku sendiri."
Arsi memutuskan panggilan secara sepihak, lalu satu menit kemudian kabut putih mengepul di hadapan Dye. Senyuman lebar mengembang di bibir Dye ketika melihat sosok Arsi berada di balik kabut itu.
Seorang wanita yang memiliki warna rambut hitam dan diikat dengan gaya ponytail keluar dari kabut itu. Dia memakai mantel khas orang yang tinggal di suhu minus derajat dan sepatu boot yang masih menyisakan salju di sebagian sisi. Tangannya terentang ketika kabut putih itu sedikit menipis.
"Pesawatku tidak kalah hebatnya dengan punyamu."
Dye tergelak mendengar ucapan Arsi. Sekali lagi, dia dan Arsi merupakan partner yang cocok. Mereka bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing dan bisa saling mengimbangi lelucon yang dilontarkan.
"Pakaianmu tidak begitu cocok dengan suhu di Yunani."
"Kau ingin aku kembali lagi untuk mengambil koper-koperku lalu melemparkannya ke mukamu?"
Dye tak henti-hentinya tertawa menanggapi perkataan Arsi. Kedatangan Arsi sedikit menghiburnya.
Arsi membuka mantel tebalnya, benar kata Dye; pakaiannya tidak cocok untuk suhu di Yunani. "Kau membutuhkan partner?" tanya Arsi tanpa basa-basi.
Mulut Dye yang tertawa lebar langsung mengatup ketika Arsi mulai berbicara ke pokok permasalahan. "Iya, aku membutuhkanmu."
"Aku siap membantumu, Dye. Apa yang sedang melanda pikiranmu?"
"Oiagros, Artemis, dan Aphrodite memintaku untuk melindungi Zenon dan pasangan Nymph-nya."
Arsi hanya memasang wajah datar, dia sama sekali tidak terkejut mendengar hal itu. Dia bahkan mengetahui hal yang lebih buruk daripada itu, tapi sebelum dia menceritakan semuanya kepada Dye, dia ingin Dye terlebih dahulu bercerita.
Dye terdiam sejenak untuk membaca ekspresi Arsi yang tidak seperti biasanya. "Kau sudah mengetahuinya?"
Arsi menggeleng pelan. "Tidak sepenuhnya, aku hanya mengetahui sepenggal."
Satu alis Dye terangkat. "Apa isu ini sudah menyebar?"
"Tenang saja, hanya dua orang yang tahu hal ini. Kau dan aku."
"Dari mana kau tahu?"
"Sebaiknya kau teruskan ceritamu. Aku akan menceritakan yang aku tahu setelah kau menceritakan yang kau tahu."
Dye mengangguk paham. "Zenon dan Nymph itu memegang takdir yang begitu besar atas peperangan ini."
"Apa mereka diutus untuk menghancurkan Sirenes?"
Dye menggeleng.
Kening Arsi berkerut. "Lalu?"
"Ketiga dewa itu menginginkan anak Zenon dan Nymph terlahir." Kening Arsi terlipat semakin dalam. "Anak mereka yang akan membawa takdir untuk mengakhiri peperangan ini."
"Kau bercanda?" Mata Arsi terbelalak. "Hades dan Persofone bisa murka jika mengetahui semuanya."
"Kepalaku hampir pecah memikirkan ini. Tapi mereka berjanji akan berusaha membantuku untuk mengelabui Hades dan Persofone."
Arsi menggigit bibir bawahnya. "Lalu kau disuruh melindungi mereka hingga benih bayi itu muncul?"
"Kau cukup pintar untuk mencerna semuanya." Dye tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi. "Kau bisa membantuku?"
Arsi tersenyum miring. "Aku ada dipihakmu, Bung."
"Kau yang terbaik, Arsi." Dye menepuk pelan pundak Arsi. "Lalu ... apa yang kau ketahui akhir-akhir ini?"
Arsi menarik dan mengembuskan napasnya sebelum bercerita. "Apa kau tidak merasakan hal yang aneh ketika menginjak kota ini?"
Ekpresi Dye berubah menjadi datar. "Kau juga merasakan?" Arsi mengangguk, menjawab pertanyaan Dye. "Kau tahu itu apa?" tanya Dye sekali lagi.
"Erebus."
Sendi-sendi Dye melemas ketika nama itu terlontar dari mulut Arsi. Dia langsung bisa mengaitkan semua hal yang akan terjadi nanti. Zenon akan mengalami penderitaan lagi. "Kenapa dewa begitu tega dengan Zenon?"
Arsi menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya. Dia juga ikut kasihan dengan kehidupan Zenon.
"Bukankah Teles sudah tidak sudi melihat Erebus?"
Arsi mengangkat bahunya sekilas. "Aku tidak mengerti jalan pemikiran Teles. Aku hanya mendengar kalau Erebus diutus Teles untuk membunuh pria yang mendekati Nymph itu."
"Apa mereka juga membunuh manusia?"
Kali ini Arsi mengangguk dengan mantap. "Teles tidak pandang bulu."
"Kau tahu dari mana?"
"Kesetiaan seorang iblis patut untuk diragukan," jawab Arsi dengan tawa yang menderai. Dari dulu, seekor iblis tidak ada yang pernah bisa memegang janji. Mereka akan berkhianat ketika suasana hati mereka sedang kesal.
"Sepasang Charon itu?"
"Salah satu di antara mereka yang memberitahuku. Kau tahu, kalau mereka sangat membenci Erebus. Mereka sakit hati ketika Teles memanggilnya lagi."
"Lalu mereka melupakan sakit hatinya dengan menceritakan semua rencana Teles kepada Shades Guardian?" Dye meneruskan perkataan Arsi.
"Kau juga pintar dalam mencerna ini semua," balas Arsi.
Dye mengembuskan napas panjang. "Aku harap kita bisa melindungi Zenon." Arsi mengangguk mantap, menanggapi ucapan Dye.
Mereka hanya bisa berharap agar dewa takdir tidak membuat hidup Zenon menderita. Sudah cukup dia kehilangan Nyna, mereka tidak mau melihat Zenon kehilangan lagi dan menjadi boneka para dewa-dewi Yunani itu.