Dari tempat berpasir dan sunyi, terdengar nyanyian laut yang berdebur memecah sunyinya malam. Langit sepenuhnya gelap tak menyisakan cahaya sedikit pun hingga batas antara air laut dan pantai tak terlihat jelas. Gulungan ombak saling berkejaran untuk mencapai tepi laut, menggeret butiran pasir agar pergi bersama mereka. Angin sepoi-sepoi membelai dedaunan hingga menari-nari selaras dengan suara ombak yang bergemuruh. Pantai ini terlihat begitu tenang dan sunyi, hanya ada nyanyian peri laut yang menyemarakkan suasana di pantai ini. Tidak ada satu orang pun yang bersantai atau hanya sekedar lewat di pantai ini, karena malam semakin menua.
Angin yang semula sepoi-sepoi kini berubah menjadi ribut. Embusan angin terasa semakin membesar diiringi sebuah kabut putih yang mengambang di tepian pantai. Lexi dan Zenon muncul dari kepulan asap tebal itu. Lexi menarik napas dalam-dalam ketika kakinya mendarat di atas pasir. Pandangan yang semula putih mengilat dan menyilaukan berubah menjadi sedikit gelap. Matanya mengerjap berkali-kali untuk menyesuaikan perubahan cahaya. Pertama kali yang dilihat Lexi adalah mata hitam milik pria misterius itu, tapi tiba-tiba mata yang hanya berjumlah sepasang itu berubah menjadi empat ... enam, dan pandangannya bergoyang-goyang tak tentu arah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Zenon yang masih memegang pergelangan tangan Lexi.
Lexi memejamkan mata ketika rasa mual yang sangat hebat melandanya lagi. Apakah peristiwa semalam terulang lagi malam ini?
"Huek ...."
Zenon langsung melangkah mundur untuk menghindari Lexi, tetapi gerakannya terlambat. Lexi memuntahkan seluruh isi perutnya tepat mengenai baju Zenon.
"Astaga!"
Lexi sama sekali tidak memedulikan rengekan Zenon, karena rasa mual yang hebat benar-benar melandanya.
Zenon mengibaskan kaosnya yang basah, kotor, dan bau. Dia tidak menyangka kalau Lexi akan muntah di bajunya.
Lexi mengalami muntah-muntah lagi seperti semalam. Dia masih belum terbiasa berteleportasi. Melakukan teleportasi sama saja seperti menaiki sebuah kendaraan yang melaju kencang dalam medan yang bergelombang. Tubuh terasa seperti dilempar ke sana-kemari, mata yang hampir tidak bisa dibuka karena silau cahaya dan kaki yang sama sekali tidak berpijak di atas benda apa pun. Jadi, bagi yang belum terbiasa melakukan teleportasi akan mengalami hal yang sama seperti mabuk naik kendaraan darat atau laut, tapi teleportasi lebih parah dari itu.
Zenon menghentikan niat untuk membilas bajunya dengan air laut saat melihat Lexi lari pontang-panting—mencari tempat yang layak untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia berjalan mengikut Lexi yang akan menuju ke sebuah karang.
Lexi merasakan siksaan ini lagi, tubuhnya tidak terlalu kuat menahan semua penderitaan yang menyiksa saat ini. Sebenarnya apa yang dilakukan pria ini terhadapnya hingga dia muntah-muntah seperti ini? Kekuatan apa yang dipakai pria ini hingga dia bisa berpindah dari rumah Felix ke tepi pantai?
Tangan Zenon menyibak rambut panjang Lexi yang beterbangan tertiup angin. Dia memijat tengkuk Lexi. Sesekali dia membuang muka sambil menahan napas ketika isi perut Lexi keluar, dia sedikit jijik melihat itu semua.
"Apa aku perlu membelikanmu sesuatu yang hangat?" tanya Zenon sambil menebarkan pandangan untuk melihat situasi. Dia sama sekali tidak menemukan toko atau cahaya keramaian di sekitar pantai ini. Sepertinya pilihan Zenon untuk berteleportasi sangat tepat, buktinya tidak ada siapa pun di tempat ini. Tapi bagi Lexi, tempat ini bukan pilihan yang tepat. "Sepertinya tidak ada toko di dekat sini."
Lexi menggoyang-goyangkan tangan untuk memberi isyarat kepada Zenon bahwa ia tidak apa-apa.
Setengah jam berlangsung dengan sangat monoton. Lexi memuntahkan seluruh isi perutnya, sedangkan Zenon terus memijat tengkuk Lexi sambil bertolak pinggang. Mata Lexi masih terpejam, tapi perutnya sudah agak membaik. Dia masih enggan untuk membuka mata karena dia tidak mau merasakan pusing yang akan membuatnya muntah lagi. Dia belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Apa agak mendingan?"
Lexi mengangguk dengan mata terpejam.
"Kenapa kau tutup matamu?"
"Bisakah kau diam sebentar? Aku sedang tidak ingin membuka mulut!"
Zenon mengangguk paham, lalu dia merengkuh bahu Lexi dan memapah untuk berjalan menjauh dari karang itu.
"Kau duduk di sini dulu," ucap Zenon sambil mendudukkan Lexi di atas pasir.
"Kau mau ke mana?"
"Aku mau membersihkan bajuku yang terkena muntahanmu," jawab Zenon dengan sedikit kesal.
Kalau saja saat ini tubuh Lexi sedang dalam keadaan bugar, bisa dipastikan dia akan mengomel tak keruan dengan pria ini. "Cepat bersihkan bajumu! Aku tidak mau muntah lagi ketika mencium bau tidak sedap." Lexi mengusir Zenon dengan mengibaskan tangan dan masih dengan mata tertutup.
Zenon mendengkus kesal melihat tingkah Lexi yang terlalu angkuh, dia mulai berjalan ke tepi pantai untuk membersihkan kaosnya.
Udara segar pantai membuat d**a Lexi yang tadinya seperti terhimpit, kini menjadi sedikit longgar. Dia menarik dan mengeluarkan napas secara perlahan dan teratur. Rasa mual yang melandanya sedikit demi sedikit berkurang, perlahan dia memberanikan diri untuk membuka mata—berharap pandangannya tidak berputar-putar.
Matanya yang baru saja terbuka langsung terkunci ketika melihat sebuah pemandangan yang membuat bagian tubuhnya berdenyut. Kerongkongan Lexi seperti mengering ketika melihat tubuh Zenon dari belakang. Punggung Zenon yang kekar dan berotot itu terlihat menggoda. Gerakan Zenon yang mengibaskan baju terlihat begitu alami dan menggiurkan sehingga membuatnya menelan ludah berkali-kali.
Zenon memutar tubuh untuk menghampiri Lexi sambil memakai jaket untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjang d**a. Gerakannya yang sedang memakai jaket terlihat seperti sebuah adegan slow motion bagi Lexi.
Dahi Zenon berkerut ketika melihat ekspresi Lexi seperti keledai dungu. "Kau baik-baik saja?"
Lexi masih mempertahankan ekspresi bodoh itu, kini malah di tambah mulut yang menganga.
Merasa khawatir, Zenon berjongkok, lalu memegang dahi Lexi. "Kau tidak demam."
Secara tidak sadar Lexi meraih tangan Zenon.
"Hei kau kenapa?" Zenon menarik tangannya dari genggaman Lexi.
Secepat jentikan jari, Lexi langsung tersadar dari tingkah konyolnya. Dia berpura-pura batuk untuk mencari alasan.
"Kau seperti orang gila!"
Mata Lexi langsung menatap sinis ke arah Zenon. "Kau yang membuatku seperti ini!" Dia membalas hinaan Zenon.
"Iya ... aku mengerti. Maaf aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini."
Lexi membuang muka dengan mulut yang terkunci, menyesali sikap bodohnya yang mengagumi tubuh pria ini.
"Sepertinya kau sudah agak mendingan. Akan aku antar kau pulang."
"Dengan apa?" Mendengar kata-kata Zenon mengingatkannya akan peristiwa semalam. Lexi bisa menebak kalau maksud dari kata-kata 'mengantarmu pulang' itu berarti 'melemparmu ke rumahmu'.
Zenon terdiam sejenak, dia menyadari kalau Nymph ini tidak akan kuat untuk melakukan teleportasi lagi.
"Dengan kekuatan anehmu itu? TIDAK! KAU PERGI SAJA SENDIRI!" Lexi mulai meledak-ledak. Selamanya dia tidak akan mau melakukan hal itu lagi.
Zenon bangkit, lalu mengulurkan tangan. "Apa kau kuat berjalan?" Lexi hanya membisu menanggapi pertanyaan Zenon. "Apa aku perlu menggendongmu?" tawarnya dengan hati yang tulus dan tanpa maksud apa pun.
Lexi langsung berdiri hingga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Zenon yang selalu sigap dengan pergerakan tubuh Lexi, langsung menarik pergelangan tangan Lexi hingga tubuh itu jatuh dalam dekapannya.
Untuk beberapa detik yang berlangsung begitu lambat, Zenon merasakan sesuatu yang telah lama tidak pernah ia rasakan. Ketika matanya menatap mata hijau terang Lexi, jantungnya mendendangkan detak yang tak berirama. Tubuhnya bergejolak hebat saat mendekap tubuh Lexi. Semua terasa aneh bagi Zenon.
***
"K-kau siapa?" tanya Felix dengan tergagap. Kakinya melangkah mundur dengan cepat hingga tubuhnya jatuh ke atas tanah.
Setelah hilangnya Lexi dan pria itu, tiba-tiba datang lagi seorang pria yang lebih menyeramkan. Pria itu memakai jubah panjang berwarna hitam, mata biru gelapnya mengilat tajam ke arah Felix.
"Kau ... kekasih wanita itu?" tanya Erebus dengan dingin.
"Wanita itu milikku, aku akan membuatnya menjadi milikku selamanya!"
Erebus menyeringai. "Berarti kau bukan manusia yang berumur panjang."
Dengan gerakan tergopoh-gopoh, Felix meraih pistolnya yang sempat terjatuh. "Kau kira aku takut dengan ancamanmu?" ujarnya dengan pistol yang mengacung.
Erebus menjulurkan satu tangannya dan bak sebuah magnet, pistol itu sudah tertarik ke arah Erebus. "Apa aku harus membunuhmu dengan pistol ini?"
Felix seperti mayat hidup, terlihat begitu pucat dan tegang. Wajah tampannya tergantikan oleh raut ketakutan. "Serahkan pistolku!"
Masih dengan sebuah seringaian, Erebus melempar jauh pistol itu lalu tangannya terulur lagi. Kekuatan mistis Erebus sanggup membuat Felix susah bernapas, kaki Felix menendang-nendang dan tangannya memegangi lehernya. Ya ... Felix tercekik dengan kedua tangannya sendiri.