Lexi memperhatikan jalanan yang dilalui oleh mobil Felix. Ke mana Felix akan membawanya? Mobil Felix sudah melewati pusat kota Naxos Town dan menelusuri jalan yang berbatasan dengan laut. Melaju kencang, menyisir tepian pantai. Sepertinya Felix tidak membawanya untuk memeriksakan kesehatan, Felix punya tujuan lain.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Felix menatap lurus ke jalanan berkelok dengan sebuah seringaian. "Kau akan tahu kalau kau sudah sampai di sana."
"Turunkan aku di sini."
"Aku tidak akan melakukan itu padamu, Lexi," ucap Felix dengan nada dingin dan menghanyutkan.
Lexi mendengkus kesal melihat tingkah Felix. Jujur, saat ini dia begitu takut, dia tidak mau kalau Felix berbuat macam-macam dengannya. Dia juga tidak mau kalau Felix menciumnya lagi atau lebih buruknya dia tidak mau Felix menidurinya. Apa yang dilakukan Lori kepadanya begitu membekas hingga sekarang.
Mobil Felix berbelok ke sebuah jalan masuk yang sangat panjang. Saking panjangnya, Lexi sampai tidak bisa melihat ujung dari jalan itu. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menempuh jalan berkelok nan panjang agar bisa sampai di depan pagar besi rumah yang menjulang tinggi. Mobil Felix berhenti di depan pagar itu, lalu jemarinya menekan sebuah tombol yang ada di dashboard mobil lalu pagar besi itu membuka secara otomatis.
Lexi menghela napas lirih dan menggumamkan kata kagum dalam hati ketika melihat rumah ... lebih tepatnya sebuah istana yang berada di pesisir pantai itu. Entah berapa euro yang dihabiskan untuk membangun istana megah ini.
Rumah Felix terlihat menjulang tinggi dari kejauhan, rumah ini seperti sebuah kastil yang dibangun di puncak karang. Namun bedanya, rumah Felix bergaya sangat modern dan memggambarkan keangkuhan si pemilik. Mobil Felix berhenti sejenak di tengah-tengah halaman rumah yang begitu luas. Halaman yang seperti lapangan itu hanya berupa lahan tandus yang ditumbuhi lima batang pohon kelapa. Tempat ini pasti sangat panas di siang hari dan rasanya tempat ini juga cocok dipakai untuk berjemur tanpa harus pergi ke tepi pantai.
Felix menoleh ke arah Lexi yang sibuk mengagumi rumah megahnya. "Apa kau suka dengan tempat ini?"
Lexi tersadar dengan sikap bodohnya ketika mendengar suara Felix. "Tidak, aku tidak begitu suka," jawab Lexi dengan nada angkuh. Dia tidak mau bersikap manis agar Felix jengah dengannya.
Tangan Felix terkepal di setir berbentuk bulat itu. "Kau terlalu jual mahal, Lexi."
Lexi membalas tatapan tajam Felix. Walaupun sedikit takut, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Aku bukan jual mahal, aku hanya menjaga diriku dari pria sepertimu."
"Kau menjaga dirimu dari pria sepertiku? Tapi kau sendiri tidur dengan pria berambut sebahu itu?"
Alis mata Lexi tertukik mendengar ucapan Felix. "Kau ke rumahku tadi pagi?"
"Dia telah menghancurkan buket bunga pemberianku."
"Jadi kau yang meletakkan bunga itu di depan rumahku? Kau seperti seorang psikopat, Felix!"
Felix terkekeh mendengarnya. "Kenapa? Apa dia marah kepadamu? Apa dia mencampakkanmu setelah menidurimu?"
Wajah Lexi merah padam, menahan amarah yang berkecamuk. Perkataan Felix sangat menyinggung. "Apa di otakmu hanya ada pemikiran seperti itu, Tuan Felix? Sungguh disayangkan kalau orang kaya sepertimu hanya memikirkan seks!"
Tangan Felix menarik dagu Lexi dengan kasar, ucapan Lexi sanggup membuat emosinya meluap-luap. "Dengar baik-baik, kau adalah milikku!"
Lexi berusaha menarik tangan Felix dari dagunya. "Tidak akan pernah dan aku tidak a—"
Belum sempat Lexi melanjutkan kata-katanya, Felix sudah membekap mulut Lexi dengan bibirnya. Lexi gelagapan ketika ruang bernapasnya dihabiskan oleh Felix, dia tidak siap dengan semua kejadian yang secepat kilat ini. Bibir Felix melumat bibir Lexi dengan begitu rakus, dia seperti orang yang tengah kelaparan.
Lexi mendorong d**a Felix, tetapi dorongannya sama sekali tidak membuahkan hasil karena saat ini lidah Felix sudah bermain-main di rongga mulutnya. Felix semakin menjadi-jadi. Tanpa merasa putus asa, Lexi menarik rambut Felix ke belakang sekuat tenaga dan berhasil. Kepala Felix mendongak ke atas, mengikuti tarikan tangannya.
"KAU GILA, FELIX!" Dia meninju d**a Felix dengan seluruh tenaga yang ia punya. Pukulanya sanggup membuat tubuh Felix terdorong ke belakang dan melenguh menahan sakit.
Tanpa memedulikan lenguhan Felix, Lexi membuka sabuk pengaman untuk keluar. Dia harus segera melarikan diri dari Felix sebelum semuanya terlambat. Dia bukan seorang wanita kuat yang sanggup melawan seorang pria seperti Felix. Setelah membuka pintu mobil, Lexi langsung berlari menuju gerbang yang menjulang tinggi itu. Tapi sungguh sial, dari kejauhan Lexi melihat gerbang itu tertutup dengan sendirinya. Felix pasti menekan tombol yang ada di mobil untuk menutup pintu gerbang itu.
"TIDAK!" Lexi berteriak histeris saat pintu itu tertutup dengan rapat.
Felix keluar dari mobil dengan senyum penuh kemenangan. Dia yakin Lexi tidak akan bisa berbuat apa-apa di tempat ini, karena dia yang mengendalikan seluruh akses rumah ini. Dia tidak akan melepaskan Lexi. Menyekap Lexi? Itu ide yang sangat bagus. Dia akan sangat bahagia bila Lexi menjadi pemuas hasratnya di rumah ini.
Dari kejauhan, Lexi memutar tubuh. "Buka gerbangnya!"
"Tidak, aku tidak akan membukanya. Aku hanya ingin kau menemaniku malam ini saja."
"Aku tidak sudi!"
Felix berjalan dengan santai menghampiri Lexi.
"Jangan mendekat!"
"Ayolah ... apa salahnya kau menemaniku tidur malam ini! Dan kau bisa menjadi wanita kaya jika kau membalas cintaku. Rumah ini, restoran, hotel dan resort punyaku akan menjadi milikmu semuanya."
Batin Lexi mengumpat tak keruan menanggapi ucapan Felix. Jarak Felix semakin dekat, punggung Lexi sudah membentur pagar yang dingin itu. Posisinya benar-benar terpojok, dia tidak tahu harus lari ke mana? Berlari-lari mengelilingi tempat ini juga bukan suatu ide yang bagus, karena pada akhirnya dia akan kelelahan sendiri dan Felix akan bisa dengan leluasa menikmati tubuhnya.
Tiba-tiba embusan angin yang sangat besar berembus dari arah belakang Lexi hingga membuat Felix menutup mata. Lexi menunduk ketika rambutnya berkibar ke depan mengikuti embusan angina. Matanya terbelalak ketika melihat punggung lebar dan kokoh di hadapannya. Dia melihat sosok yang sangat familier akhir-akhir ini sedang berdiri di hadapannya seperti sebuah perisai.
Lexi melihat tak percaya ketika Zenon menoleh dari balik bahunya. "K-kau?"
Zenon tersenyum singkat ke arah Lexi. "Maaf, aku sedikit terlambat."
Entah kenapa, ucapan pria itu sanggup membuat pipi Lexi memanas, debaran jantungnya seperti tidak bisa dikontrol dan suhu tubuhnya sedikit meninggi. Sepertinya dia terlena dengan pria misterius ini.
"Kau?! Bagaimana kau bisa masuk?"
Zenon memasukkan kesepuluh jarinya ke dalam kantong celana. Dia terlihat begitu tenang. "Kau tidak tahu siapa diriku!"
Felix mengacungkan jari telunjuknya. "Sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku! Wanita itu milikku!"
Zenon menoleh ke belakang. "Apa dia kekasihmu?"
Dengan sigap, Lexi menggeleng untuk menjawab pertanyaan Zenon.
Ternyata benar dugaan Zenon kalau pria ini bukan orang yang bisa menghasilkan anak berkekuatan besar. "Aku tidak mau menyakiti orang lemah sepertimu. Jadi izinkan aku membawanya pergi dari sini!"
Felix tertawa lebar menanggapi ucapan Zenon. Tangannya merogoh kantong celana lalu sebuah pistol sudah berada di dalam genggamannya. "Minggir atau aku tembak?!" gertaknya dengan mata yang melotot.
Kali ini Zenon yang tertawa lebar. Dia sedang menertawai sikap konyol pria ini. Pistol itu tidak akan bisa membunuhnya, kekuatan pistol itu seperti gigitan seekor semut bagi Zenon. "Kau kira aku takut dengan gertakanmu?! Kau salah, Tuan!"
Setelah Zenon menyelesaikan ucapannya, suara desingan peluru menggema di halaman luas itu.
"TIDAK!" pekik Lexi ketika melihat Felix menarik pelatuknya dan tubuh Zenon sedikit terhuyung ke belakang. Lexi berlari ke arah Zenon dan mendapati darah mengucur di d**a Zenon. "Tidak!" Dia menutupi d**a Zenon, tetapi seketika dia panik ketika melihat wajah Zenon memerah dan otot-otot leher yang menonjol keluar seolah-olah sedang susah bernapas.
"Lihat, kekasihmu sudah mati!" Felix mengacungkan pistolnya lagi. "Dan sekarang kau akan menyusulnya!"
Kepala Lexi mendongak ketika tangan Zenon memegang pergelangan tangannya. Mata Lexi terbelalak saat melihat seringaian dari bibir Zenon.
"Aku baik-baik saja, Nona."
Suara pistol berdesing lagi, tapi kali ini pistol itu mengenai pintu pagar rumahnya. Lexi dan Zenon menghilang dari pandangan Felix.
Felix tercengang saat tidak mendapati Lexi dan pria itu di hadapannya. Dia menebarkan pandangan ke sekeliling halaman rumahnya yang megah untuk mencari keberadaan mereka. Tapi ... semua itu sia-sia karena dia sama sekali tidak menemukan siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri.