File - 17

1241 Kata
Tubuh Zenon terlempar sejauh tiga meter hingga punggungnya membentur palet kayu yang berada di depan gudang kosong. Kotak yang terbuat dari kayu itu sudah tak berbentuk lagi, semua menjadi kepingan kayu ketika tubuh Zenon jatuh di atasnya. Zenon menggeram pelan saat rasa sakit mulai menjalar, lalu ia mengangkat sikunya yang berdarah. Dia meringis sakit ketika berusaha mencabut paku yang tertancap di siku. Sepasang kaki mendarat dan berdebam di depan Zenon. Seorang Sirenes yang bertarung dengan Zenon berjalan mendekat untuk meneruskan pertarungan. Sirenes itu menarik jaket Zenon hingga membuat tubuh itu berdiri. "Shades Guardian yang lemah," desisnya dengan sebuah seringaian. Harus diakui, akhir-akhir ini Zenon tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Terkadang tubuhnya terasa begitu lemas setelah menerima lima atau sepuluh pukulan dan luka yang tidak cepat menutup. Namun, terkadang tubuhnya merasa prima hingga dia bisa melahap dua puluh lebih Sirenes dalam semalam. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya atau jangan-jangan benar tentang apa yang dikatakan Dye kepadanya; tubuhnya semakin menua. Ah ... persetan dengan semua itu, yang terpenting dia bisa bertarung dengan para Sirenes layaknya seorang pria sejati. Tanpa terlalu banyak berbicara, Zenon menarik lengan Sirenes, memutar badan, kemudian mengangkat tubuh Sirenes yang berada di belakangnya hingga terjungkal di depan Zenon. Sedetik setelah Sirenes itu jatuh, Zenon menginjak d**a Sirenes, lalu mengambil belati yang ia selipkan di samping sepatu boot dan menancapkan belati itu tepat mengenai d**a Sirenes. "Satu hal yang membuat Sirenes terlalu mudah dikalahkan, mereka terlalu banyak mulut," geramnya dengan napas yang terengah-engah. Zenon melenguh panjang lalu mengempaskan p****t di atas jalan beraspal yang sepi. Kali ini dia kehilangan napas dan kelelahan padahal hari baru menginjak malam. Dia tidak tahu apakah nanti dia kuat bertarung semalaman atau tidak. Tangannya menyibak rambut yang menghalangi pandangan, mengusap peluh yang membasahi dahi. Dia ingin sejenak mengistirahatkan tubuh yang letih usai bertarung dengan lima Sirenes. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan Sirenes yang ia hadapai 27 tahun silam. Saat itu dia membunuh Sirenes dengan membabi buta tanpa ada rasa lelah sedikit pun. Dia baru merasa lelah ketika luka tusukan dan lebam melukai sekujur tubuhnya tanpa celah. Itu dulu, tapi ... sepertinya saat ini dia semakin menua, dia sedikit memercayai perkataan Dye. "Apa sebentar lagi aku akan pensiun?" ***   "Oke kalau kau saat ini baik-baik saja, tapi ini adalah kesempatanmu untuk pergi dengan pria kaya itu," ujar Cleo sambil menyisir rambut Lexi. Saat ini, Celo sedang memaksa Lexi untuk menerima ajakan Felix. Sedari tadi Cleo sibuk mengomeli Lexi dan menyuruh sahabatnya untuk segera berganti baju. Lexi berkali-kali mengembuskan napas panjang. "Kau tahu, kau seperti seorang ibu yang sedang menjodohkan anaknya dengan pria kaya agar pria itu bisa membayar semua utang-utangmu." Setelah menyisir rapi rambut Lexi, Cleo berdiri di hadapan Lexi sambil melipat tangan. "Aku tidak peduli kau mengolokku seperti apa. Yang jelas, aku senang ada seorang pria mencintaimu dengan tulus." Cleo mengulurkan tangannya. "Ayo keluar." Lexi bergeming dengan melempar tatapan sinis ke arah Cleo. "Whatever." Dia menarik tangan Lexi lalu membawa Lexi keluar dari kamar. Felix sedang meneliti foto-foto Lexi di rak pembatas ruangan sembari menunggu keputusan Lexi. Sesekali dia tersenyum ketika melihat foto-foto Lexi yang begitu cantik. Baginya, Lexi terlihat sempurna dan nyaris tanpa celah. Dia tidak akan pernah terima jika ada seorang pria mendekati Lexi. Dia adalah pria posesif. Mata Felix berpindah dari foto yang ada di rak untuk melihat ruang tengah. Bibirnya tersenyum miring ketika mengkhayalkan sebuah adegan panas bersama Lexi di tempat itu. Suatu saat dia akan melakukannya. Ah ... bukan suatu saat, tapi malam ini. Tujuannya datang kemari bukan untuk mengantar Lexi ke dokter, melainkan dia punya rencana hebat. Tidak ada salahnya jika menghabiskan malam yang panas bersama Lexi, walaupun dia harus memaksa wanita itu. "Dia sudah siap, Felix," ujar Cleo. Felix memiringkan kepala sembari menelusuri tubuh Lexi dari atas hingga ke bawah dengan matanya. "Apa pun yang kau kenakan, kau tetap terlihat cantik, Lexi." Lexi hanya terdiam dengan memasang ekspresi datar untuk menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Felix. Tangan Felix terulur ke arah Lexi. "Mari aku antar ke dokter." Sekali lagi, Lexi hanya bergeming. Cleo meraih tangan Lexi lalu mengaitkannya dengan tangan Felix. "Selamat bersenang-senang, Lexi," bisiknya. Lexi menoleh ke arah Cleo. "Kau pikir aku senang dengan semua ini? Aku harap kau menyesali sikapmu." Cleo mengangkat kedua bahunya. Untuk saat ini, dia tidak menyesali pemikirannya. "Baiklah, kami pergi dulu, Clee." "Hati-hati di jalan.” Zenon sudah berada di seberang rumah Lexi setelah melakukan teleportasi dari gudang tua yang sepi itu. Mata hitam kelamnya melihat Lexi pergi dengan seorang pria yang ia temui tadi pagi. Entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik hatinya ketika melihat pria itu menautkan tangannya ke tangan Lexi. "Apa mereka berkencan?” Mungkin pria itu adalah pria yang dimaksud Dye. Pria yang akan membuat Lexi melahirkan seorang anak berkekuatan besar. Tapi ... apa istimewanya pria itu? Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh dirasakan Zenon saat ini. Dia merasakan sesuatu yang kuat dan dingin sedang melingkupi dirinya. "Sirenes." Zenon menggeleng ketika prediksinya salah, ini seperti bukan kekuatan dari Sirenes. Kekuatan mistis yang ia rasakan begitu kuat hingga mengimpit dadanya. Dia sedikit terengah-engah ketika mencoba untuk mendeskripsikan kekuatan itu. 'Apa ini?' Mata hitam Zenon mulai menerbarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sesuatu yang janggal, mencari satu makhluk yang sangat mengganggu dirinya. Bola matanya berhenti bergulir ketika melihat aura yang begitu pekat mengelilingi tubuh seorang pria. Pria itu tengah berdiri di ujung jalan rumah Lexi sambil melipat tangan. Jubah hitam panjangnya berkibar mengikuti arah angin yang berembus, rambut hitam legam yang dikuncir ekor kuda juga ikut meliuk pelan. Sepertinya Zenon pernah bertemu dengan pria itu, lebih tepatnya dia pernah berkelahi dengan pria itu. "Erebus," gumam Zenon dengan wajah yang menegang. Erebus tersenyum miring ketika telinganya mendengar Zenon menggumamkan namanya. Dia menoleh untuk menatap Zenon dari kejauhan, lalu memiringkan kepala untuk mengucapkan kata sambutan lewat sebuah isyarat. Dia bertemu lagi dengan Zenon—suami Nyna. Mobil Felix mulai berderu lalu tidak lama kemudian kendaraan yang berharga jutaan euro itu melaju, membelah jalanan rumah Lexi yang lengang. Zenon menarik napas dalam-dalam, lalu berteleportasi ke arah Erebus yang masih bergeming di tempatnya. "Kau merindukanku, teman?" tanya Erebus setelah Zenon sudah berada di hadapannya. "Aku senang kau menyapaku duluan." Zenon terkekeh mendengar ucapan Erebus. "Apa Teles sedang berbaik hati padamu? Atau kau putus asa karena kau tidak dapat menggantikan posisi kedua iblis itu?" Rahang Erebus terlihat menonjol ketika Zenon mengingatkannya dengan kedua iblis yang ia benci selama berabad-abad. "Aku bisa saja membunuh mereka dengan satu tanganku, tapi aku tidak mau menyia-nyiakan kekuatanku." "Kau terlalu sombong, Erebus." "Dan kau terlalu lemah untukku, Shades Guardian." "Kau salah menilaiku kali ini. Aku bukan manusia biasa lagi, aku Shades Guardian." Erebus tertawa mengejek mendengar ucapan Zenon. "Kau tetap lemah di mataku, Z. Meskipun kau berubah menjadi Shades Guardian, kau tetap lemah." Tangan Zenon yang terkepal langsung memukul wajah Erebus hingga membuat tubuh Erebus terhuyung ke belakang. "Bagaimana? Itu hanya sebagian kecil dari kekuatanku." Erebus menyeringai sambil memegangi sudut mulutnya yang ngilu. "Tetap tidak ada apa-apanya." "Oh, ya? Mari kita bertarung sekarang. Aku ingin membunuhmu untuk membalaskan dendamku." Erebus tergelak. "Aku tidak mau menyia-nyiakan kekuatanku hanya untuk sesuatu yang terjadi di masa lalu." "Apa tujuanmu ke sini?" Kedua bahu Erebus terangkat dan diiringi dengan kedua tangannya yang juga terangkat. "Aku tidak mau menceritakan semuanya kepadamu, sekali pun kau temanku." Lalu kabut hitam pekat menyelimuti seluruh tubuh Erebus, Zenon maju selangkah untuk menggapai Erebus yang akan berteleportasi. Tapi, upayanya gagal, Erebus sudah menghilang dari pandangannya. "Sial!" umpat Zenon. Zenon tidak tahu Erebus akan berteleportasi ke mana. Dia ingin sekali membunuh Erebus untuk membalaskan dendam yang ia pendam selama berabad-abad. Erebus adalah Sirenes yang membunuh Nyna-nya dan dirinya juga hampir menyusul ketika dia mencoba membunuh Erebus. Saat itu dia masih lemah, dia bukan makhluk yang mempunyai kekuatan seperti sekarang, dulu dia adalah manusia biasa yang nekad menikahi seorang Nymph. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN