"Nymph?" tanya Cleo dengan wajah yang penuh tanya. "Apa benar dia bilang seperti itu?"
Lexi mengangguk sekali sambil menyendok moussaka buatan Cleo. Moussaka adalah makanan khas Yunani yang sekilas mirip dengan lasagna. Moussaka merupakan pasta panggang yang berisi terong, daging cincang dan kentang dibagian bawah. Moussaka juga dilengkapi dengan saus tomat dan taburan keju di atasnya. "Iya, dia juga bilang kalau hidupku sedang dalam bahaya."
Hari ini Cleo pulang lebih awal, karena ia mengkhawatirkan keadaan Lexi. Dia meletakkan gelas lalu berpikir sejenak mengenai semua yang dialami Lexi tadi pagi. Dia sedang mengaitkan beberapa peristiwa lalu dengan peristiwa yang baru saja terjadi. "Apa kau memercayainya?"
Lexi menyelesaikan kunyahan sebelum menjawab, "Aku sedikit percaya, Clee."
Cleo berjalan memutar untuk duduk di kursi yang berada di samping Lexi. "Apa kau yakin bisa berbicara dengan tanaman-tanaman itu?" tanyanya dengan mata yang melirik ke arah tanaman di halaman belakang rumah Lexi.
"Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Aku sama sekali tidak bohong."
Cleo mulai menggigiti ibu jarinya, dia sedang berusaha untuk mengutarakan sesuatu yang selam ini ia pungkiri. "Aku rasa kau harus memercayainya."
"Aku berusaha sedikit memercayainya tapi ... keraguan di dalam diriku sungguh besar. Aku sama sekali tidak merasakan hal yang aneh di dalam diriku, aku seperti manusia, Clee."
"Tapi kau bisa berkomunikasi dengan makhluk selain manusia."
"Aku rasa itu hanya indigo. Ya ... anak-anak indigo pasti mempunyai kemampuan sendiri-sendiri dan mungkin aku mempunyai kemampuan bisa berkomunikasi dengan tanaman."
Cleo menggeleng berkali-kali. "Tidak, Lexi, tidak. Aku rasa kau bukan anak indigo, entah kenapa aku memercayai ucapan pria itu."
Lexi mengembuskan napas kasar sambil meletakkan sendoknya dengan sedikit membanting. Kenapa sekarang pemikiran Cleo berubah 180 derajat? Padahal dulu Cleo sama sekali tidak percaya dengan semua ucapannya, tapi sekarang Cleo berusaha meyakinkan dirinya. Benar-benar konyol!
"Kenapa kau lebih memercayai ucapan pria itu daripada aku? Oh Tuhan ... kau benar-benar menyebalkan!" Lexi beranjak dari kursinya lalu berjalan meninggalkan Cleo.
Lexi benar-benar kesal dengan semua sikap Cleo. Di saat Lexi mencoba memungkiri itu semua, justru Cleo berusaha meyakinkan dirinya hanya karena kehadiran pria misterius itu. Cleo yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan pria itu malah memercayai semua perkataan pria itu, sedangkan perkataannya selama puluhan tahun sama sekali tidak bisa membuat Cleo percaya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Cleo?
Cleo berjalan menuju kamar untuk menghampiri Lexi. Dia berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan, melihat Lexi yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Dengar, Lexi. Aku punya alasan sendiri untuk memercayainya."
Tidak ada tanggapan apa pun dari Lexi yang sedang bersembunyi di bawah selimut tebalnya.
Cleo berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepi. "Aku mendengar semua ceritamu dari awal hingga akhir. Memang aku memungkirinya karena aku sama sekali tidak menemukan bukti apa pun. Tapi, aku memercayai semuanya setelah melihat bercak darah di dapur."
Lexi menyibak selimutnya dengan wajah yang dilipat-lipat. "Kau memercayai orang yang bahkan tidak kau kenal daripada diriku."
"Hei, aku berusaha memercayaimu, Lexi! Dan sekarang aku percaya kalau kau bisa berbicara dengan tanaman-tanaman itu, bahkan aku sama sekali tidak menuduhmu gila atau aneh ketika kau tidak mendapati pria itu di dalam rumahmu, dan aku juga memercayai semua peristiwa aneh yang kau ceritakan di telepon waktu itu."
Lexi menggigit bibir bawahnya, dia melihat wajah Cleo yang kesal karena tersinggung dengan ucapannya. "Apa aku harus memercayainya?"
"Aku rasa kau perlu bicara panjang lebar dengannya."
"Aku takut kalau dia berniat jahat kepadaku."
"Apa dia pernah melukaimu sebelumnya?"
Lexi menggeleng. Pria itu tidak pernah membuatnya celaka, justru pria itu yang melindunginya dari preman-preman berbaju biker itu. "Tidak, dia tidak pernah melukaiku, justru akulah yang selalu membuatnya berdarah-darah."
"Dia bahkan melindungimu dari manusia yang bisa berubah menjadi abu ketika belati menikam jantung mereka."
Lexi bangkit, lalu menyandarkan punggungnya di bingkai tempat tidur. Dia menggosok bagian dalam pergelangan tangannya, di mana tanda lahirnya sudah tidak terlihat lagi.
Mata cokelat Cleo menangkap perbedaan di tangan Lexi, lalu dia merangkak mendekati Lexi dan meraih pergelangan tangan Lexi. "Di mana tanda lahirmu?"
Lexi membalas tatapan penuh tanya Cleo dengan wajah muram. "Aku tidak tahu, tanda ini hilang begitu saja tanpa jejak, dan ... banyak peristiwa aneh yang menimpaku sejak tanda ini hilang."
"Aku rasa kau perlu bicara dengan pria itu. Aku yakin kalau pria itu punya banyak jawaban atas semua ini."
Lexi menggigit bibir bawahnya, dia sedikit ragu, apakah dia harus bertemu lagi dengan pria misterius itu? Apakah pria itu sudi menjawab semua pertanyaannya setelah berbagai macam hinaan ia lontarkan untuk pria itu?
"Tapi ... aku tidak tahu di mana pria itu tinggal."
"Apa kau belum sempat bertanya?"
Lexi menggeleng. "Aku bahkan memaki dan mengusirnya keluar tanpa mengizinkannya untuk menjelaskan semua secara panjang lebar. Aku terlalu takut dengan pria itu."
Cleo mengelus lengan Lexi dengan lembut. Dia tahu keadaan psikologis Lexi yang lemah, Lexi selalu ketakutan dengan semua peristiwa buruk yang menimpanya.
"Tidak apa-apa. Kalau ucapan pria itu benar, maka pria itu akan muncul di hadapanmu lagi."
Lexi merentangkan tangannya untuk meminta pelukan dari Cleo. Tanpa harus dikomando, Celo menyambut rentangan tangan Lexi dengan sebuah pelukan. Pelukan itu dapat menenangkan pikiran Lexi yang sedang kalut.
"Terima kasih, Clee. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak bertemu denganmu," ucap Lexi.
Cleo merenggangkan pelukannya lalu mengembangkan senyuman lebar. "Jangan pernah sungkan denganku. Apa kau sudah izin tidak masuk hari ini?"
"Sudah, aku sudah menelepon Julian tadi pagi."
"Apa bosmu mengizinkannya?"
Lexi mengedikkan bahunya. "Apa peduliku dengan pendapatnya? Terserah dia mau setuju atau tidak."
"Sepertinya kau punya kenangan buruk dengan pria kaya itu?"
"Aku malas menceritakannya, Clee. Dia tidak jauh beda dengan Lori."
"Aku rasa dia berbeda dengan Lori. Dia kaya, berwibawa, tampan, dan dia menyukaimu dengan tulus."
"Jangan sok tahu."
"Aku bu—"
Ucapan Cleo terputus ketika suara bel rumah berbunyi. Mereka berdua saling melempar tatapan penuh tanya.
"Apa kau sedang ada janji dengan temanmu?" tanya Cleo.
"Tidak."
"Lalu siapa?" tanya Cleo dengan lirikan yang penuh curiga. "Kau sebaiknya tunggu di sini, biar aku saja yang keluar." Dia mulai menuruni tempat tidur.
"Tunggu, Clee. Aku juga ikut." Lexi berjalan mengekor di belakang Cleo.
Cleo memutar badannya lalu mendorong tubuh Lexi untuk kembali ke kamarnya. "Biar aku saja yang melihatnya. Kau sedang dalam keadaan yang tidak aman."
"Tapi, Clee ...."
"Tetap diam di situ!" sergah Cleo dengan sebuah delikan.
Lexi mengangguk pasrah menuruti semua ucapan Cleo yang seperti sedang memerintah bawahannya.
Cleo menyibak gorden hijau toska untuk melihat orang yang sedang menekan tombol rumah. Matanya terbelalak dan mengerjap saat melihat pria tampan berpakaian kasual berdiri di depan rumah Lexi. Tanpa berpikir panjang, Cleo langsung membuka pintu rumah. Semerbak harum tubuh pria itu menelisik hidung Cleo sesaat setelah Cleo membuka pintu rumah Lexi. Dia sedikit terlena dengan pesona cassanova milik pria ini.
Pria berwajah tampan itu mengembangkan senyum ramah kepada Cleo. "Selamat malam, Nona."
"Selamat malam, Tuan Felix," balas Cleo.
"Apa kau tinggal serumah dengan Lexi?"
Mendengar pertanyaan itu, Cleo langsung menggeleng. "Ah ... tidak. Kebetulan aku ingin menginap di—" Ucapan Cleo terhenti ketika ekor matanya melihat buket bunga aster di genggaman Felix dan seketika itu matanya terbelalak lagi, tapi kali ini dibarengi dengan mulut yang menganga. "Astaga ... jadi kau yang mengirimi bunga ini untuk Lexi?"
Felix melihat sekilas ke arah bunga yang ada di genggamannya, lalu tersenyum simpul. "Iya, aku yang mengirimkan ini untuknya."
"Clee ...," panggil Lexi yang sudah berdiri di depan rak. Dia tercengang ketika melihat pria yang saat ini sedang tidak ingin ia temui berada di depan rumahnya.
"Bagaimana kabarmu, Lexi?" tanya Felix dengan nada yang menghanyutkan.
Cleo memutar tubuh untuk menghadap Lexi. "Oh ... Lexi. Ada Tuan Felix bertamu ke rumahmu."
"Aku rasa kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan. Panggil saja dengan namaku."
"Baiklah, Felix. Ah ... aku sampai lupa tidak mempersilakan masuk."
"Maaf, Tuan Felix, aku sedang tidak ingin menemui siapa pun!"
Mata Cleo mendelik ke arah Lexi, dia mencoba memberikan isyarat kepada Lexi untuk menjaga sikap, tapi Lexi sama sekali tidak menggubris ucapan Cleo.
"Sebaiknya Anda pulang sekarang!"
"Lexi ...."
Felix masih terlihat begitu tenang dengan sebuah senyuman, walaupun sikap Lexi begitu kasar kepadanya. "Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu. Aku cemas dengan kesehatanmu."
"Terima kasih tapi aku tidak butuh semua perhatianmu."
Felix menarik napas dalam-dalam untuk menahan dirinya agar tidak tersulut emosi. Dia mulai melangkah masuk dan menghampiri Lexi yang masih berdiri di depan rak pembatas ruangan, lalu tersenyum miring. "Aku ingin mengajakmu pergi ke dokter." Matanya menelusuri setiap jengkal tubuh Lexi dari bawah hingga ke atas. "Aku tidak mau kau sakit, Lexi."
Baru saja Lexi akan membuka mulut, tiba-tiba Cleo angkat bicara.
"Lexi, bisa kita bicara sebentar?"
Lexi hanya memelotot ke arah Cleo yang begitu menyebalkan!