File - 15

1484 Kata
Deburan ombak melenguh keras ketika gulungan-gulungan itu menyentuh batu dan karang yang mengelilingi sebuah pulau bernama Anthemusa. Hamparan air yang begitu biru terlihat indah sejauh mata memandang, memberi ketentraman bagi siapa saja yang mengunjungi tempat itu. Suara-suara ombak saling susul menyusul seperti sebuah nyanyian yang tengah didendangkan untuk memanggil para pelaut mengunjungi tempat itu, Tanjung Pelorum. Tanjung Pelorum ibarat laut segitiga bermuda yang selalu menelan korban jika berani melewatinya. Para nelayan atau pelaut enggan mengunjungi tempat terindah di pulau Anthemusa ini karena mereka takut tidak akan bisa keluar. Sudah menjadi rahasia umum kalau tempat ini adalah tempat para Sirenes berkumpul dan menyanyikan lagu kematian untuk para pelaut yang melewatinya. Tanjung ini terlihat begitu sunyi dan mistis, keindahannya terkalahkan oleh cerita-cerita menakutkan yang tersebar beribu tahun silam. Hingga saat ini, hanya rombongan Argonaut bersama Orfeus-lah yang mampu menghalau nyanyian Sirenes. Lalu ... apakah hal itu masih bisa disebut cerita jika sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani menginjak tempat ini? Jawabannya adalah tidak, ini bukan sebuah cerita atau isapan jempol belaka. Jauh di kedalaman laut di Tanjung Pelorum, terdapat sebuah bagunan megah yang diselubungi oleh pusaran air laut. Secara kasatmata itu hanyalah pusaran air laut biasa, hanya sebuah fenomena alam, tetapi pusaran itu adalah pusaran magis untuk mengelabui manusia awam. Di tengah-tengah pusaran itu terdapat sebuah bangunan paling megah di dunia bawah laut. Bangunan itu adalah tempat tinggal Sirenes bernama Teles, kakak dari Thelksiope. Bangunan itu berbentuk layaknya istana kuno Yunani yang memiliki pilar-pilar tinggi terbuat dari pualam hitam. Pualam-pualam berwarna gelap itu terlihat mengilat di kedalaman laut yang memiliki cahaya remang-remang. Terdapat dua gerbang pintu berukuran besar dan tinggi sebagai pintu masuk bangunan itu. Di balik pintu yang memiliki ukiran manusia berkaki ikan itu terdapat sepasang penjaga bangunan yang disebut dengan Leviathan. Leviathan adalah iblis laut yang berbentuk seperti naga dan memiliki mulut besar, konon mulut iblis itu merupakan pintu masuk ke neraka. Jadi, bukan sembarang makhluk yang boleh memasuki bangunan megah itu kalau tidak ingin dilahap oleh Leviathan. Seorang pria bernama Erebus memasuki bangunan itu dengan tenang. Rambut panjang hitam yang dikuncir kuda itu terlihat selaras dengan jubah hitam sepanjang lutut yang ia kenakan. Mata biru gelapnya menatap tenang ke arah sepasang iblis Leviathan yang tengah menggeram pelan ketika menyadari kehadirannya. Iblis-iblis itu sudah lama belajar bahwa Erebus merupakan satu makhluk yang diperbolehkan masuk ke dalam bangunan megah itu kecuali anak-anak Teles. Dia mulai melangkah memasuki aula dengan langkah anggun dan tenang. Di dalam aula itu terdapat seorang wanita duduk di atas singgasana yang diapit oleh dua iblis bernama Charon. Iblis yang berdiri di sebelah kiri Teles memiliki rambut berwarna oranye, kulitnya berwarna putih pucat. Mata biru gelapnya tak bergulir sama sekali seperti sebuah pahatan patung iblis yang terletak di sebelah singgasana Teles dan memiliki telinga memanjang yang bertekstur keras seperti sebuah tanduk. Sedangkan iblis yang berada di sebelah kanan Teles memiliki rambut berwarna biru gelap yang senada dengan bola matanya. Dia memiliki kulit bersisik yang berwarna hijau lumut dan satu tanduk di bagian tengah kepalanya. Erebus menatap tajam ke arah dua iblis yang ia benci sejak berabad-abad lalu. Kedua iblis ini yang menghasut Teles agar dia diusir dari dunia bawah laut. Sepasang iblis itu membalas tatapan tajam Erebus tanpa melakukan pergerakan apa pun. Mereka berdua membenci kehadiran Erebus di dalam istana Teles karena Erebus bisa menggeser kedudukan mereka di mata Teles. Erebus mempunyai kekuatan lebih besar daripada dua iblis itu hingga mereka berdua tidak senang dengan kehadiran Erebus. Sedangkan Teles duduk di singgasana dengan mata menerawang, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Mata biru terangnya menatap sebuah bola kristal yang berada di depan jendela. Jendela berukuran besar dengan sekat kaca itu menyajikan pemandangan laut secara langsung seperti sebuah akuarium raksasa. Bola kristal yang berwarna hitam gelap itu mengeluarkan cahaya berwarana jingga di bagian tengahnya. Warna itu bergerak seperti sebuah kibaran api yang akan melahap warna gelap-warna inti dari bola kristal itu. "Ada apa kau memanggilku kembali setelah sekian lama kau mengusirku dari tempat ini, Teles?" Teles hanya bergeming sambil menatap bola kristal itu tanpa jeda. Kedua tangannya ia tangkupkan di atas paha yang berselimut gaun hitam. Warna gaun hitam satinnya itu berbaur dengan warna hitam singgasana hingga membuat orang sulit melihat batas antara keduanya. "Kau lihat warna terang di bola itu?" Erebus menoleh, mengikuti ucapan Teles untuk melihat bola kristal berwarna hitam gelap itu. Dia langsung tahu apa maksud Teles mengundangnya datang ke istana bawah laut ini. Teles hanya memanggilnya di saat membutuhkan tenaganya saja, setelah itu Teles mengusirnya lagi dari dunia bawah laut. Semua yang dilakukan Teles kepadanya adalah hasil dari hasutan kedua iblis yang berada di samping Teles. "Aku membutuhkanmu." Kali ini mata Teles berpindah menatap wajah dingin Erebus. Erebus hanya menyeringai mendengar perkataan Teles. "Membutuhkanku berarti sama saja mengizinkanku untuk tinggal di sini." "Apa kau sedang membuat perjanjian denganku?" "Kau cukup pintar, Teles." Teles hanya bergeming sehingga tampak tidak nyata lalu setelah beberapa detik, dia tertawa. Tawanya begitu lembut dan halus seperti sebuah nyanyian indah dari bawah laut. "Kenapa kau begitu ingin tinggal di tempatku?" Erebus memindahkan pandangannya dari Teles ke arah dua iblis yang mengapit Teles. "Aku ingin menghancurkan kedua iblis itu." Dia mengutarakan semuanya tanpa ditutupi. Dendamnya begitu besar terhadap dua iblis itu. Kedua tangan yang memiliki kuku panjang dari iblis-iblis itu mengepal. Kalau saja tidak ada Teles di ruangan ini, maka bisa dipastikan sebuah pertarungan sengit akan terjadi saat ini juga. "Kau tidak aku izinkan menyentuh mereka. Mereka adalah bidak terakhirku untuk berperang." "Sedangkan aku bidak pertamamu untuk melindungi kedua iblis itu," ujar Erebus dengan senyuman miring. "Aku berani bertaruh kalau kekuatanku lebih besar daripada kedua iblis itu. Mereka hanya iblis bermulut besar yang hanya bisa menghasutmu. Apa kau ingin bukti, Teles?" Teles menggeleng berkali-kali sehingga rambut hitam panjang bergelombangnya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. "Aku sudah cukup tahu itu, Erebus. Maka dari itu aku menggunakanmu karena aku lebih menyayangi dua iblis ini dibanding dirimu." Erebus hanya berdecih mendengar ucapan Teles yang begitu menghinanya. "Tapi ... aku menawarkan sesuatu yang menarik jika kau mampu melaksanakan perintahku." Mata biru gelapnya menatap tajam ke arah Teles. "Apa itu?" "Ildya." Wajah Erebus berubah menjadi sendu ketika nama itu masuk ke lubang pendengarannya. Dadanya begitu hangat ketika mendengar nama itu dikumandangkan. Dia jatuh cinta dengan Ildya sejak berabad-abad silam. Namun Ildya sama sekali tidak pernah membalas cintanya. "Apa kau masih mencintainya?" tanya Teles. Kali ini Erebus yang bergeming. Semua makhluk di bawah laut tahu kalau dia masih mencintai Ildya hingga sekarang. Rasa yang tidak pernah pupus dimakan waktu. Teles tersenyum miring melihat ekspresi Erebus. Cara yang ia pilih kali ini benar-benar tepat, dia membujuk Erebus dengan penawaran yang tidak bisa ditolak oleh Erebus, tapi Teles tidak senaif itu. Dia tidak akan menyerahkan anaknya kepada Erebus sekali pun Erebus berhasil melaksanakan perintahnya. "Aku akan menikahkanmu dengan Ildya kalau kau berhasil melaksanakan perintahku." Bagi Erebus, memiliki Ildya sama saja memiliki seisi dunia. Dia tidak menginginkan harta atau kedudukan jika dia bisa memiliki Ildya seutuhnya. Dia bukan makhluk yang serakah. Teles sedikit memiringkan kepalanya. "Apa kau setuju, Erebus?" "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya tanpa berpikir panjang dan tidak meiliki kecurigaan sama sekali. Teles terkekeh ketika Erebus terlena dengan penawarannya. Dia memang makhluk berotak licik yang sama dengan Dionisos. Dia berdiri dari singgasananya, menuruni anak tangga dengan perlahan sehingga membuat gaun satinnya yang panjang menyapu pualam hitam aula itu. Dia melangkahkan kaki menuju bola kristal yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. "Aku ingin kau membunuh Nymph yang bernama Alexandria Greek. Setelah dua puluh tujuh tahun lamanya aku mencari di mana anak Flavian dan Gene itu berada, kini anak itu muncul dengan sendirinya." Erebus terdiam mendengarkan penjelasan Teles tanpa menyela sedikit pun. "Sepertinya anak itu sudah menemukan pasangannya." "Siapa pasangannya?" tanya Erebus. Teles mengangkat kedua bahunya sekilas lalu memutar tubuhnya untuk menghadap Erebus. "Aku tidak tahu siapa pria itu. Yang aku tahu, dia adalah Nymph yang akan melahirkan seorang anak untuk menghancurkan kaum kita." Erebus mengangkat kepalanya dengan angkuh. "Kaum kita tidak boleh dikalahkan oleh Nymph." Sebuah senyum mengembang di bibir Teles. Inilah yang disukai Teles dari Erebus, tekad Erebus untuk membunuh Nymph begitu besar. "Anak yang pintar." "Apa aku harus membunuh Nymph itu?" Teles memutar bola matanya ke atas, dia sedang memikirkan sebuah rencana yang tidak begitu kentara di mata para dewa. "Aku ingin kau melakukannya secara perlahan." "Aku bisa membunuhnya secara langsung." "Tidak, aku tidak ingin para dewa Yunani itu menghabisi duniaku." "Apa yang ingin kau lakukan?" Teles memutar tubuhnya lagi untuk menatap bola kristal hitam yang memiliki warna jingga di bagian tengahnya. "Warna menyala di bagian tengah bola ini merupakan pertanda kalau anak itu sudah dekat dengan pasangannya. Aku ingin kau menghabisi pria-pria yang mendekatinya. Aku tidak mau pria-pria itu menidurinya hingga terlahir seorang anak yang akan menghancurkan kaum kita." "Kau menyuruhku membunuh manusia?" tanya Erebus dengan sebuah dengusan. Terlihat dari belakang, Teles menganggukkan kepalanya. "Mau tidak mau." "Kita seperti pencundang yang membunuh makhluk tak berdaya." "Kita bukan pecundang lagi jika berhasil membunuh makhluk yang akan menghancurkan kaum kita," elak Teles yang tidak setuju dengan pendapat Erebus. "Kau sungguh pintar berkelit, Teles. Aku harap kau tidak berkelit dengan janjimu." Teles terkekeh hingga membuat pundaknya naik turun. "Aku akan menepati janjiku padamu, Erebus." "Aku akan membunuhmu jika kau mengingkari janjimu." Teles menyeringai licik di balik punggungnya hingga membuat Erebus tidak menaruh curiga kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN