File - 14

1285 Kata
"Aku adalah pelindungmu, aku Shades Guardian-mu." Untuk sesaat Lexi terdiam sejenak."Shades Guardian?" "Aku makhluk yang diciptakan oleh Hades dan Persofone untuk melindungi Nymph." Konyol! Semua ini benar-benar konyol. Lexi merasa kalau pria misterius ini sedang mendongeng di hadapannya. "Apa kau seorang pengarang? Atau kau sedang mengutip sebuah cerita untuk menyaingi film Twilight? Kalau memang benar, ceritamu sungguh menarik!" Zenon mendogak, lalu melenguh panjang setelah mendengar ucapan Lexi. Berbicara dengan Nymph ini sama saja berbicara dengan batu, sulit untuk menerima walaupun telah mengalami rangkaian peristiwa yang aneh. "Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya? Atau aku harus mengajakmu berteleportasi lagi?" Lexi menggigit bibir bawah. Sejujurnya Lexi sedikit memercayai semua perkataan pria yang ada di hadapannya ini, tapi akal sehat Lexi seakan-akan memungkiri itu semua. "Aku mempunyai kekuatan teleportasi sehingga aku bisa berpindah ke mana saja dan sesuka hatiku. Satu lagi yang perlu kau tahu, aku makhluk abadi." Zenon mengambil pisau lipat milik Lexi dari kantong jaket kulit. "Aku harap kau bisa menerima semua yang aku katakan setelah melihat hal ini." Dia menarik lengan jaketnya hingga ke atas lalu menyayat pergelangan tangannya dengan pisau lipat Lexi. "Apa yang kau lakukan?!" Lexi langsung merampas pisau lipat dari tangan Zenon lalu membuangnya ke lantai. Dia tercengang ketika melihat luka di pergelangan tangan pria itu menutup secara perlahan. "Aku makhluk abadi, jadi aku bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat." Wajah Lexi memucat. Apakah yang ia lihat adalah ilusi? Oh tidak ... Lexi rasa semua ini bukan ilusi. Ingatannya mulai membawanya kepada peristiwa kemarin yang sempat membuatnya terheran-heran. Pada waktu pria ini terjatuh dari halaman belakang rumah, dia melihat pria ini mengeluarkan banyak darah. Saat membuka bajunya, dia hanya mendapati luka sayatan, tidak menemukan luka yang begitu parah hingga bisa mengeluarkan banyak darah. Tanpa banyak bicara, Lexi menarik jaket kulit Zenon, dia ingin melucuti baju Zenon untuk memastikan semua keraguannya. "Hei! Apa yang kau lakukan?!" Zenon terkejut ketika Lexi berhasil membuka jaket kulitnya, lalu kaos berwarna biru dongker akan ditarik ke atas oleh Lexi, tapi kedua tangannya berhasil mencegah pergerakan Lexi. "Apa kau sedang b*******h pagi ini? Kau ingin memerkosaku?" Mata Lexi melotot garang. "Dasar pria berotak m***m! Aku sama sekali tidak b*******h melihatmu! Aku hanya ingin memastikan sesuatu!" Zenon mengangkat kedua tangannya. "Baik, aku tahu kau sedang memastikan lukaku waktu itu," ujar Zenon yang pasrah dengan semua perlakuan Lexi. Semoga Nymph ini bisa memercayai semua ucapannya. Mata Lexi terbelalak ketika melihat tubuh bagian depan pria ini terlihat mulus. Dia sama sekali tidak menemukan bekas luka atau sayatan benda tajam di tubuh pria ini. Lexi mulai meraba perut yang memiliki otot keras itu dengan jemarinya. Matanya menelusuri setiap inchi perut kencang dan terbentuk dengan baik sehingga seharusnya menjadi bagian dalam acara binaraga. Kalau saja Lexi tidak dalam kebimbangan, dia pasti sudah meneteskan air liur ketika melihat tubuh pria ini. Jemarinya berpindah menelusuri d**a bidang dan lebar milik pria ini. Lexi menelan ludah ketika jemarinya menyentuh rambut yang berkerumun di bagian tengah d**a pria ini. Menyibak rambut di d**a pria itu sanggup membuat bagian tubuh Lexi berdenyut karena hasrat. Hentikan! Kenapa Lexi malah menikmati tubuh pria ini? Asataga ... ini pasti efek samping mual-mual yang ia alami semalam! Menyadari semua pemikiran kotornya, Lexi langsung menarik tangan dari tubuh Zenon. Sedangkan Zenon, sedang menikmati sentuhan lembut Lexi. Matanya yang semula tertutup, sontak terbuka ketika menyadari tubunya tidak merasakan kehangatan dari jemari Lexi. Mereka berdua saling menatap kikuk setelah menyadari kebodohan yang mereka lakukan. "Kau benar-benar m***m," desis Zenon. Wajah Lexi mulai menegang mendengarkan ucapan Zenon. "Apa? Bukankah kau menikmati jemariku di tubuhmu? Kenapa malah menuduhku? Aku hanya ingin memastikan luka di tubuhmu!" Zenon menurunkan kaos, lalu membungkukkan badan sambil bertolak pinggang. "Kau tahu, seorang pria tidak akan tergoda kalau kau menyentuhnya dengan kasar! Tapi apa yang kau lakukan? Apa kau sedang b*******h?" Rahang Lexi bergemelatu,k lalu secepat kilat tangannya sudah menarik rambut sebahu Zenon. "Argh ... Nymph gila!" Lexi menggeret tubuh Zenon dengan menarik rambut bergelombang milik Zenon. Dia menggiring Zenon menuju pintu rumahnya. Mulut Zenon merintih kesakitan yang diselingi umpatan karena tangan Lexi begitu kuat mencengkeram rambutnya. Dia seperti seekor anjing yang diusir oleh pemiliknya dengan menarik tali pengikat leher. Wanita ini benar-benar kasar! "Sebaiknya kau keluar dari rumahku dan jangan pernah muncul di hadapanku!" bentak Lexi tepat setelah membawa tubuh Zenon keluar dari rumahnya. Lexi membanting pintu rumah dengan kasar. "Sial!” Zenon memegangi kepala yang masih nyut-nyutan. "Nymph gila dan kasar! Apa seperti itu tingkah seorang wanita?" gerutunya sambil menendang tembok rumah Lexi. "Kenapa dia tidak mewarisi kelembutan Gene? Dia jauh berbeda dengan ibunya! Astaga ... setelah terlepas dari Nymph berotak m***m sekarang malah terjebak dengam Nymph wanita yang kasar!" Kalau saja Lexi bukan seseorang yang ia lindungi mungkin dia sudah menarik tangan Lexi dan memelintirnya. Memangnya siapa dia hingga berani menarik rambutnya? Apalagi harga dirinya sebagai seorang pria jatuh begitu saja ketika rambutnya ditarik oleh seorang wanita. Rasa kesalnya semakin memuncak saat mengingat jaketnya masih berada di dalam rumah Lexi. "SIAL!" Zenon menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir amarah yang berkecamuk. Dia mulai mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti ketika menyadari kakinya menginjak sesuatu. Dia mengangkat kaki sambil meringis saat melihat buket bunga aster yang ada di bawah pintu sudah berwarna hitam kecokelatan. "Maaf." "Kau telah merusak bunga seindah itu, Tuan." Zenon langsung memutar tubuh untuk melihat orang yang sedang berbicara dengannya. Dia melihat pria yang tadi meletakkan bunga aster di depan rumah Lexi. "Maaf aku tidak sengaja, Tuan." Dia membungkuk, lalu memungut bunga aster yang sudah berubah warna dan bentuk. "Ini darimu, kan?" Felix terdiam dengan memasang wajah datar. Kedua tangannya ia masukkan ke kantong celana kainnya. "Apa kau mengintai rumah Lexi?" Zenon menyodorkan buket bunga itu kepada Felix. "Tidak, aku melihatmu dari dalam rumah Lexi." Alis Felix tertukik ketika mendengar ucapan Zenon. Ucapan Zenon seperti pemantik api yang dilemparkan ke dalam tong yang berisi bensin. "Kau menginap di rumah Lexi?" Zenon mengangkat sebelah bahunya sekilas. "Sepertinya aku harus tinggal di sini. Mengingat hidupnya tidak akan aman sebentar lagi." "Apa maksudmu?"   Tangan Zenon terulur untuk meraih tangan Felix. Bunga yang ada di genggamannya, ia genggamkan di tangan Felix. "Sebaiknya kau segera putuskan hubunganmu dengan Lexi. Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya." Sebuah senyum miring tersungging di bibir Felix. "Apa kau juga menyukai Lexi?" Menyukai? Kata-kata dari Felix sanggup mengingatkan Zenon dengan sentuhan lembut jemari Lexi di perut dan dadanya. Tanpa disadari, tangannya mengelus perut yang sempat disentuh oleh Lexi. "Dia milikku. Jadi kau yang menjauhi Lexi." Zenon melangkah maju dan berhenti ketika posisinya sudah sejajar dengan Felix. Tangannya menepuk pundak Felix dengan mantap. "Aku harap dia tidak mempunyai anak darimu, mengingat kau begitu posesif dengannya. Sampai berjumpa, Tuan." Felix bergeming, matanya sama sekali tidak mengikuti arah kepergian Zenon. Tangannya mulai meremas buket bunga yang ia letakkan di depan pintu rumah Lexi. Ternyata firasatnya benar, entah kenapa dia mempunyai keinginan yang kuat untuk kembali melihat rumah Lexi setelah meletakkan bunga ini di depan pintu. "Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Lexi." Tangannya meremas buket bunga aster hingga semakin tak berbentuk, beberapa tangkai jatuh di atas tanah. "Aku tidak akan tingal diam. Kau milikku." gumam Felix dengan rahang yang bergemelatuk. Dia tidak akan melepaskan Lexi dari tangannya. Lexi adalah miliknya, siapa pun yang berani merebut Lexi dari tangannya, bisa dipastikan orang itu mati. Ponselnya bergetar di dalam kantong celananya, dia melempar bunga yang hancur itu. Julian. Nama itu yang teretera di ponsel berlayar tipisnya. "Halo," sapanya dengan nada yang begitu tenang. "Kau di mana?" tanya Julian dari seberang sana. "Ada apa?" "Sepertinya malam ini kita harus mencari penyanyi pengganti." Mata Felix menyalang dengan tajam mendengar perkataan Julian. "Kenapa dengan Lexi?" "Aku baru saja mendapat telepon dari dia. Dia izin tidak masuk malam ini, katanya dia sedang tidak enak badan." Tangan Felix meremas ponselnya dengan kuat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Jadi ... dia ditinggalkan Lexi pergi begitu saja saat makan malam hanya untuk tidur dengan pria itu semalaman? "Kau yang cari, aku sedang sibuk." Felix menutup panggilan setelah mengucapkan kata terakhirnya. "Dasar murahan!"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN