File - 13

1290 Kata
Saat ini Zenon sudah berada di halaman belakang rumah Lexi. Dia melakukan teleportasi dari apartemennya ke tempat ini, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke rumah Nymph yang ia lindungi. Matanya menelusuri setiap jengkal halaman belakang, tempat di mana kakinya berpijak tidak ada bedanya dengan hutan belantara.  Sulur-sulur tanaman yang merambat hampir menutup seluruh tembok rumah, seperti melihat tembok yang ditumbuhi lumut hijau. Ada tiga pohon berukuran besar yang memiliki ketinggian seperti pohon-pohon di hutan sss menutupi sebagian atap rumah Lexi. Zenon tidak heran kalau tanaman ini tumbuh subur di atas kontur tanah yang berbukit karena pemiliknya adalah makhluk alam yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Pagi ini dia memang berencana untuk menemui Nymph-nya. Dia akan menjelaskan semua rangkaian kejadian yang disaksikan Lexi, selain itu dia khawatir dengan keadaan Lexi setelah melakukan teleportasi. Pasti semalaman Nymph itu tidak bisa melakukan apa pun kecuali memuntahkan semua isi perutnya. Mata Zenon tidak melihat siapa pun di balik kaca pintu yang membatasi halaman belakang dengan dapur. Dia melangkah perlahan dan mencoba menggeser pintu yang terbuat dari kaca itu, sepertinya Lexi sedang tertidur karena pintunya masih terkunci rapat. Dia memejamkan mata lalu menarik napas dalam-dalam dan secepat kedipan mata, Zenon sudah berada di dapur. Dia menoleh sebentar ke belakang lalu meletakkan telunjuknya di atas bibirnya. Walaupun dia tidak bisa mendengar tanaman itu berbicara, paling tidak dia memberi isyarat kepada tanaman itu untuk tidak memberi tahu pemilik rumah ini. "Dapur yang bersih dan indah. Menurutku ini lebih cocok menjadi ruang tamu atau kamar." Dia berjalan menuju ruang tengah yang masih memiliki nuansa feminin. Sebuah layar televisi tipis diletakkan di atas bufet berwarna toska dan sebuah kursi lantai berada di atas karpet bunga-bunga berwarna hijau tua. Kakinya mulai melangkah menuju ruang tamu, tapi terhenti di depan rak pembatas ketika melihat sebuah pintu berwarna putih tertutup rapat. Dia mendekati pintu itu, lalu menjulurkan leher untuk menempelkan telinga ke pintu itu. Tidak terdengar apa-apa, mungkin Nymph itu masih tertidur. Dia menuju ruang tamu, tempat di mana ia digeletakkan begitu saja oleh Lexi. Ada sebuket bunga aster di atas meja ruang tamu, dia mengambil bunga itu, lalu menempelkan ke hidungnya. "Pasti dari kekasihnya." Tangannya merogoh saku celana, lalu mengeluarkan  ponsel Lexi dan meletakkannya di atas meja. Telinganya mendengarkan sesuatu yang aneh. Pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu yang mencurigakan di pelataran rumah Lexi. Zenon menyibak sedikit korden berwarna hijau toska untuk mengintip dari jendela. Dia menangkap seorang pria berpakaian kasual berdiri di depan pintu rumah sambil membawa buket bunga aster, lalu pria itu meletakkan buket bunga itu di lantai bawah. Zenon mengernyitkan dahi. "Apa dia kekasihnya?" Dia melihat pria itu pergi dari rumah Lexi dengan mengendarai mobil yang memiliki nilai jutaan euro. "Aneh." Belum sempat Zenon melanjutkan gumaman, dia merasakan ada pergerakan di balik punggung. Dia menggeleng. "Jangan mengendap-endap di belakangku." Gerakan tangan Lexi sempat terhenti ketika pria itu mengetahui keberadaannya. Zenon memutar tubuhnya dan belum genap dia menghadap Lexi, kepalanya menerima lemparan dari suatu benda yang berukuran cukup besar. Lexi memukulkan vas bunga mahalnya ke kepala pria misterius itu hingga hancur berkeping-keping. "KAU!" bentak Zenon dengan mata yang menyala-nyala. Sontak Lexi mundur hingga membentur rak pembatas. Jantungnya berdebar-debar tak keruan setelah mendengar pria itu membentaknya. Dia tahu saat ini dia dalam bahaya, tapi dia tidak akan menyerah. Zenon merasakan cairan kental keluar dari dahi. "Astaga ... kau memukul kepalaku lagi hingga berdarah!" Lexi menelan ludah, ternyata vas bunga mahalnya sama sekali tidak berfungsi, lalu tangannya meraba-raba rak yang berisi hiasan berbahan keramik. Dia mengambil salah satu yang berbentuk panjang dan mengacungkannya. "Jangan mendekat atau aku pukul lagi!" Zenon mendengkus kesal. "Kau pikir aku takut denganmu?" Tangannya mengelap darah yang membasahi dahi. "Kau pukul aku dengan apa pun, itu tidak akan bisa membuatku mati." "Kau siapa? Kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapanku?" "Apa seperti ini caramu bertanya pada orang asing?" balas Zenon sambil bertolak pinggang. "Lalu kau sendiri, apa seperti ini masuk ke dalam rumah orang, hah?!" "Dengar, Nona. Aku bukan orang jahat!" "Kalau kau bukan orang jahat lalu kenapa kau masuk rumahku seenaknya?" Zenon mengedikkan dagu ke arah ponsel yang ia letakkan di atas meja. "Aku ingin mengembalikan ponselmu." Mata Lexi mengikuti arah dagu Zenon. "Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?" Zenon berjalan mendekati Lexi. "JANGAN MENDEKAT!" teriak Lexi hingga membuat Zenon berjingkat kaget. "Hei, sudah kubilang kalau aku bukan orang jahat. Bisakah kita bicara sebentar? Letakkan dulu benda di tanganmu itu." Kepala Lexi menggeleng, dia tidak sebodoh itu untuk percaya. Dia meyakini kalau pria yang ada di hadapannya saat ini benar-benar berbahaya. Jadi dia harus waspada dengan segala kemungkinan yang ada. "Tidak, aku rasa itu tidak perlu!" Zenon melenguh panjang sambil menyibak rambutnya, lalu dia melipat tangan. "Kau Nymph yang keras kepala." "Nymph?" tanya Lexi dengan kening berkerut. Dia pernah mendengar nama itu dari buku-buku sejarah yang ia pelajari sewaktu di bangku sekolah. "Siapa?" "Kau!" jawab Zenon dengan sebuah penekanan. Lexi hanya terdiam. "Baiklah ... sepertinya kau akan bertanya banyak padaku hari ini. Aku akan duduk di sofa empuk itu walaupun kau tidak mempersilakanku untuk mendudukinya." Zenon berjalan mendekati sofa berwarna toska, lalu melemparkan pantatnya sambil menghela napas lega. Dia merentangkan tangandi sandaran sofa lalu melipat kaki, layaknya seorang tamu yang menikmati ruangan nyaman milik tuan rumah. "Sofa yang nyaman, tempat yang nyaman dan ... sangat feminin. Apa kekasihmu tidak pernah masuk ke dalam rumah? Melihat semua benda di sini sangat feminin dan tak tersentuh tangan seorang pria." Lexi menarik napas dalam-dalam, kali ini dia benar-benar kesal dengan sikap pria ini. "Kau belum menjawab pertanyaanku!" "Pertanyaan yang mana? Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu." "Siapa yang kau maksud dengan sebutan Nymph?" "Kau," jawab Zenon dengan santai. "Kau bercanda?" Lexi terkekeh lalu bertolak pinggang. "Apa kau kira aku ini anak kecil yang bisa dengan mudah dibodohi? Makhluk itu hanya sebuah dongeng! Lalu sekarang kau bilang kalau aku seorang Nymph?" Zenon mengangguk sekali menanggapi ucapan Lexi yang berapi-api. "PERGI! Keluar dari rumahku?!" "Apa kau tidak ingin mendengarkan hal yang lebih dariku? Asal kau tahu kalau nyawamu dalam bahaya setiap harinya." Kali ini nada suara Zenon terdengar lebih serius. Dia menopangkan kedua siku di atas paha. "Sebentar lagi kau akan melalui malam yang panjang karena Sirenes menginginkan jiwamu." Sirenes? Apa pria ini sedang mendongeng? Lexi begitu kesal dengan semua tingkah pria ini. Lexi merasa kalau dia bukan anak kecil yang harus disuguhi dongeng-dongeng dan semua dongeng itu tidak benar adanya. Dan ... apa? Dirinya seorang Nymph yang dikejar-kejar Sirenes? Oh Lord, Otak pria ini benar-benar sinting! Lexi memutar tubuh untuk melangkah masuk ke kamar. Dia akan mengembalikan kartu identitas pria ini dan mengancamnya untuk tidak kembali menemuinya. "Hei, kau mau ke mana?!" Zenon berdiri dari sofa ketika melihat Lexi memasuki kamar, lalu dia melangkah untuk mengikuti Lexi. "Apa kau marah? Apa kau tidak percaya dengan semua ucapanku. Sungguh, aku serius dengan semua yang kukatakan." Setelah perkataan Zenon selesai, Lexi sudah keluar dari kamar. Dia mendapati Zenon sedang berdiri di depan rak lalu dia menyodorkan kartu identitas milik pria misterius itu. "Aku kembalikan kartumu! Aku rasa kau manusia gila yang mencoba membodohiku?" "Membodohimu? Apa kau masih tidak percaya dengan hal-hal aneh yang telah kau lalui? Aku berkata sebenarnya, Nona." Lexi meneyerahkan kartu identitas Zenon dengan menempelkannya ke d**a bidang Zenon. "Dengar, Tuan Zenon—" "Z, panggil aku Z." "Terserah apa katamu, yang jelas kau ini orang yang sinting! Aku bukan manusia yang bodoh!" "Kau bukan manusia, Nona. Kau adalah Nymph." tegas Zenon sambil meraih kartu identitasnya dari tangan Lexi. "Kalau kau bukan manusia bagaimana bisa kau bisa mengendalikan sulur-sulur tanaman itu hingga membelit tubuhku? Dan kalau aku sinting seperti yang kau katakan, apa kau bisa menjelaskan semua kejadian yang menimpamu? Bagaimana aku bisa keluar dan masuk ke dalam rumahmu yang terkunci? Bagaimana bisa seorang manusia berubah menjadi abu ketika jantungnya sudah tidak bisa berdetak lagi?" Zenon memangkas jarak di antara mereka, matanya menelusuri seluruh lekuk wajah Lexi. "Apa kau baik-baik saja setelah aku memindahkanmu dengan kekuatan teleportasiku?" Lexi membeku mendengar seluruh ucapan Zenon. Mulutnya bungkam dan lidahnya kelu untuk menjawab semua pertanyaan Zenon karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab seperti apa. "Aku adalah pelindungmu. Aku Shades Guardian-mu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN