File - 12

1424 Kata
"Lexi ... Lexi." Cleo mengguncang tubuh Lexi. Dengan memakai blazer hitam dan rok pendek berwarna hitam, Cleo membangunkan Lexi. Pagi ini dia akan berangkat kerja, tapi sebelum itu dia harus berpamitan dengan Lexi. Kalau bisa dia ingin berbincang sebentar dengan Lexi mengenai peristiwa semalam. Kelopak mata Lexi terbuka secara perlahan, pandangannya sudah tidak berputar-putar lagi, sakit kepalanya sudah tidak terasa dan yang terpenting dia tidak merasakan mual lagi. "Pagi, Clee." Rona wajah Lexi sudah terlihat memerah, sepertinya keadaan Lexi sudah membaik. "Bagaimana keadaanmu?" Lexi bangkit dari tidurnya dengan dibantu Cleo. "Lebih enak." Cleo mengembuskan napas panjang, lalu menepuk pelan tangan Lexi. "Syukurlah. Maaf kalau aku membangunkanmu, aku hanya ingin tahu keadaanmu sebelum aku berangkat ke kantor." "Tenang saja, aku sudah agak baikan. Mungkin aku akan kembali segar kalau tidur lagi." "Aku buatkan sup hangat untukmu. Makanlah sebelum kau tidur kembali." Lexi menoleh sekilas ke arah nampan yang berisikan semangkuk sup dan teh hangat kesukaannya. "Terima kasih, Clee. Aku tidak tahu kalau seandainya semalam tidak ada dirimu." "Kau tidak perlu berterima kasih, Lexi." Cleo bangkit dari duduknya untuk mengambil nampan yang ia letakkan di atas nakas. "Kau mau aku suapi?" "Tidak, terima kasih. Aku akan memakannya nanti, sebaiknya kau pergi saja bekerja." Cleo menggeleng dengan mantap. "Tidak, aku akan menyuapimu. Aku ingin memastikan kau memakan sup ini selagi hangat." "Kau bisa terlambat bekerja?" "Aku bisa mencari alasan atas keterlambatanku." Cleo mulai menyendok sup. Sebuah senyum tulus merekah di bibir Lexi sebelum membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Cleo. Dia bersyukur sekali mempunyai sahabat seperti Cleo, walaupun dia sering kali menolak bantuan dari sahabatnya itu. Lexi hanya tidak mau merepotkan Cleo dengan segala permasalahannya. Dia hanya ingin Cleo melihat sisi hidupnya yang bahagia, bukan yang menyedihkan. Pemikiran itu timbul saat dia dan Cleo duduk di bangku kuliah, saat dia disakiti oleh Lori. Saat itu Lexi tengah menangis di anak tangga kampus. Dia menangisi tentang sesuatu yang baru saja ia dengar dari mulut Lori. Setelah peritiwa malam yang penuh gairah antara dirinya dengan Lori, Lexi mendapat pukulan hebat dari ucapan pria itu. Lori bilang kalau dia hanya bertaruh dengan teman-temannya untuk mendapatkan keperawanan Lexi. Dulu Lexi adalah perempuan tercantik di kampus. Dia menjadi rebutan banyak pria dan sulit untuk didapatkan. Akan tetapi, dia malah menjatuhkan hati kepada Lori, pria yang terkenal bergonta-ganti pasangan. Padahal Cleo sudah berkali-kali memperingatkan Lexi untuk berhati-hati dengan Lori, tapi peringatan Cleo sama sekali tidak digubris. "Aku sudah bilang kepadamu kalau Lori itu bukan pria baik-baik!" Cleo berbicara dengan api yang menyala di matanya. "Berengsek!" Lexi hanya diam dan menangis sesenggukan. Dia menyesali semua keputusannya yang telah memilih Lori. Dia menyesali kebodohannya karena tidak mendengar peringatan Cleo. "Aku akan buat perhitungan dengan Lori," sungut Cleo yang langsung melangkahkan kakinya. Lexi bangkit dari posisi dan berlari menghampiri Cleo. "Kau mau ke mana, Clee?" "Aku akan menghajarnya." "Clee, kau bisa celaka!" Lexi berusaha mencegah langkah Cleo dengan menarik lengan sahabtanya. Cleo mengempaskan tangan Lexi dan melanjutkan langkah untuk membuat perhitungan dengan Lori. Setelah menuruni tangga dan melewati koridor penuh siswa, Cleo menemukan Lori sedang membuka loker. Dia menutup pintu loker Lori dengan keras hingga membuat pria itu berjingkat kaget. "Hei, apa kau gila?" Tanpa tedeng aling-aling, Cleo menjatuhkan bogem mentah tepat mengenai pipi Lori hingga membuat tubuh itu terjerembap. Semua siswa yang ada di koridor kampus berdesis kaget melihat kejadian secepat kilat itu. "Oh ... b***h!" maki Lori ketika merasakan darah menetes keluar dari sudut bibirnya. Pukulan Cleo benar-benar keras dan tepat sasaran. Cleo mengacungkan jari telunjuknya. "Jangan mendekati Lexi lagi! Dasar b******n!" Setelah membalas makian dari Lori, Cleo balik kanan untuk meninggalkan Lori. Namun, tangan Cleo ditarik oleh Lori dan .... 'Buk!' Lori mencoba memukul wajah Cleo dengan kepalan tangannya. Tubuh Cleo langsung tersungkur dan kepalanya membentur loker. Seluruh koridor riuh oleh teraikan histeris para asiswa yang menyaksikan kepala Lexi mengeluarkan darah karena pukulan Lori mengenainya. Sejak saat itu, Lexi berjanji kalau akan menyimpan semua masalah beratnya dari Cleo. "Kau lahap sekali," ucap Cleo setelah menyuapkan satu sendok sup terakhir. "Aku tidak tahu kalau tidak ada kau semalam. Mungkin aku akan tertidur di kamar mandi." Cleo tersenyum sambil meletakkan nampan ke atas nakas, lalu mengambil secangkir teh yang juga ia letakkan di sana. "Minumlah." Lexi mengangguk, lalu menyesap teh hangat yang begitu menenangkan pikirannya. "Sudah lebih baik?" "Iya." Lexi menangkap tatapan mata Cleo yang seakan-akan ingin bertanya sesuatu yang lebih dari keadaannya saat ini. "Semalam aku bertemu dengan pria misterius itu lagi." "Kau tidak perlu menceritakan sekarang kalau kau sedang tidak ingin membicarakannya." "Sesuatu yang aneh terjadi lagi semalam." Lexi tidak menggubris ucapan Cleo. "Dan ponselmu dibawa oleh pria misterius itu." Lexi menegakkan duduknya. "Apa dia mengangkat teleponmu?" Cleo mengangguk. "Aku berencana akan menginap di rumahmu untuk sementara waktu, lalu aku mencoba menghubungimu dalam perjalanan menuju rumahmu. Dan pria itu yang mengangkat panggilanku." "Dia mengatakan apa saja? Apa dia akan kembali ke sini?" Cleo menggelengkan kepalanya. "Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya bilang kalau dia bukan orang jahat, tapi bagaimana aku bisa percaya dengan semua itu? Aku benar-benar khawatir denganmu, Lexi. Aku takut dia menyanderamu!" "Semalam banyak peristiwa aneh yang aku lihat. Sulur-sulur tanaman yang entah dari mana asalnya hingga aku tiba-tiba berada di dalam rumah dan muntah-muntah tanpa henti." Kening Cleo berkerut mendengar penjelasan  Lexi. "Kau tiba-tiba ada di rumah?" "Iya, Clee. Aku yakin kalau saat itu aku ada di persimpangan jalan, tapi tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah kabut dan ... aku sudah berada di dalam rumah." Keadaan menjadi hening untuk sementara. Mereka berdua sedang terhanyut oleh pikiran dan praduga masing-masing. "Aku juga menemukan sebuket bunga aster di depan pintumu." "Apa mungkin bunga itu dari pria misterius itu?" "Bisa jadi." "Aku rasa pria itu aneh." "Apa kau yakin kalau dia bukan manusia?" Lexi langsung mendogak ketika mendengar tebakan Cleo. "Kau juga berpikir seperti itu?" "Entahlah. Aku masih ragu dengan semua perkiraanku." "Tapi bagaimana mungkin manusia biasa bisa menghilang dan memindahkanku dari satu tempat ke tempat lain?" "Apa kita harus mencari dukun atau paranormal untuk melindungi dirimu? Mendengar ucapanmu, membuatku semakin khawatir karena polisi tidak akan membantu dalam hal ini." Lexi mengusap wajah lelahnya. Otaknya benar-benar lelah dengan semua ini. "Kita pikirkan nanti. Sebaiknya kau pergi bekerja." "Tidak. Sebaiknya aku izin tidak masuk." "Clee ...." "Lexi, dengarkan aku! Aku yakin kalau pria itu akan kembali! Bagaimana kalau tiba-tiba dia ada di dalam rumah dan membekapmu lalu …." "Clee, aku bisa melindungi diriku sendiri." Lexi memegang kedua lengan Cleo untuk memberi ketenangan kepada sahabatnya itu. "Tapi Lexi, aku tidak ma—" "Tidak mau hal buruk terjadi padaku." Sebelum Cleo meneruskan ucapannya, Lexi memotongnya. "Dengar, percayalah kepadaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Cleo terdiam sejenak dan menatap dalam-dalam mata hijau terang milik Lexi. "Aku—" "Pergilah bekerja." "Tapi ...." "Percaya padaku." "Baiklah, jaga dirimu baik-baik." *** Lexi membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur. Setelah Cleo berangkat kerja, Lexi memutuskan untuk tidur lagi, tapi sudah hampir satu jam dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Pikirannya dipenuhi oleh pria misterius itu. Siapa pria itu? Dan kenapa pria itu selalu muncul di hadapannya? Mata Lexi terbuka lebar dan menatap langit-langit kamar yang ditaburi bunga-bunga. Dia sengaja memasang wallpaper bunga-bunga di langit kamar karena hal itu bisa menenangkan hati. Seperti yang dikatannya kepada Cleo bahwa tanaman bisa membuat dirinya tenang daripada pria-pria di luaran sana. Ah ... mengingat pria membuat Lexi memikirkan atasannya yang telah berbuat kurang ajar. Tangan Lexi mengusap bibirnya sendiri berkali-kali, dia ingin menghilangkan jejak bibir Felix. Gerakan tangan Lexi tiba-tiba terhenti ketika telinganya mendengar suara berisik dari tanaman di belakang rumah. Lexi terdiam sebentar, lalu dia menyibak selimut dan bangkit. Telinga Lexi tidak cukup jelas menangkap ucapan tanaman-tanaman itu, tapi dia yakin kalau ada sesuatu yang aneh di dalam rumahnya. Lexi turun dari tempat tidur, lalu berjalan mondar-mandir. Dia harus mempersiapkan sesuatu bila ada hal yang aneh. Lexi menebak bahwa pria misterius itu pasti sudah berada di dalam rumahnya. Mata Lexi bergulir menatap vas bunga yang berbentuk menggelembung dengan ukuran cukup besar. Lexi berjongkok di depan vas bunga yang ada di sudut kamarnya. "Apa aku harus menggunakan vas mahal ini?" gumam Lexi yang tak ikhlas bila vas bunga ini harus hancur berkeping-keping. Dia baru bisa membeli vas bunga ini setelah menyanyi selama sebulan. Lexi menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan bunga plastik yang ada di dalam vas. Sebelum keluar dari kamarnya, Lexi membuka sedikit pintu kamar untuk memeriksa keadaan. Tidak ada siapa-siapa di ruang tengah yang ada di depan kamarnya. Lexi berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara. Dia mengintip dari rak pembatas yang membatasi antara ruang tengah dengan ruang tamu. Lexi menelan ludah dengan susah payah ketika tebakannya benar-benar terjadi. Pria misterius itu sudah ada di dalam rumahnya dan sedang mengintip di balik gorden hijau toskanya. Pria itu seperti sedang mengawasi sesuatu di luar sana. Lexi mulai menduga-duga kalau pria itu sedang merencanakan sesuatu terhadap dirinya, pasti dia sedang memantau keadaan luar agar tidak meninggalkan saksi yang akan memberatkannya. Dengan hati yang kesal, Lexi berjalan mengendap-endap menghampiri pria itu. Tangannya sudah mengangkat vas bunga mahalnya tinggi-tinggi. Dia akan memukul kepala pria itu. "Jangan berjalan mengendap-endap di belakangku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN